
Braakkk!!!
"Awwwsh! Ya Allah," ucap Hasna dengan meringis karena lengannya lumayan berdenyut linu.
"Astagfirullah." ucap Santri Putri. Dua orang santri putri saling bersenggolan dengan Hasna.
"Teh hapunteun (maaf), hapunteun." Ucap kedua santri wati tersebut.
Hasna yang tidak mengerti bahasa mereka, hanya mengangguk sopan. Hasna memperkirakan permintaan maaf lah yang mereka lontarkan, itu terlihat dari cara mereka merunduk serta tersenyum takjim.
"I-iyaa sama-sama," ucap Hasna, sepertinya balasan Hasna memang tepat.
"Teh maaf, teteh anak baru di ponpes ini ya?" tanya salah satu dari mereka.
"Eeuumm... heee, i-iya" ucap Hasna dengan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Assalamua'laikum teh! Nama saya alfia dan ini teman saya Risma," santri putri yang bernama alfia memperkenalkan diri serta Nama sahabatnya.
"Nama teteh siapa?" tanya santri putri Risma.
"Wa'alaikumussalam," balas Hasna menerima uluran tangan mereka berdua. "Nama saya Hasna," Hasna pun memperkenalkan diri.
"Istrinya Ustadz?" pekik bahagia mereka secara bersamaan. seperti sedang melihat artis.
"Maaf maksud kami, Ustadz Afnan," ucap santri wati Alfia, meralat kata-katanya.
"Oh... mmm, i-iya." Hasna mengangguk dan bersuara pelan. "Lho koq, mereka bisa tahu, aku istrinya ustadz?" batin Hasna.
"Baiklah, saya duluan,
Assalamu'alaikum." Pamit Hasna.
"Na'am Ustadzah. tafadholiy, Wa'alaikum Salam," jawab salam santri putri itu serempak.
"Ya ampun, Ustadzah?" berbagai pertanyaan dan pemikiran berkecamuk di dalam kepala dan batin Hasna. Hasna berlalu untuk mengambil mobilnya dan segera berangkat sekolah.
"Ya Allah ukhti, itu betul istrinya Ustadz Afnan kan?" tanya Risma pada Alfia.
"Iya, tadikan Hiya (dia) bilang namanya Hasna, terus anti lihat kan tangannya penuh hiasan hena yang masih nampak. Lalu, walaupun tidak begitu jelas ia membenarkan, Ana mendengar nya koq!" jawab Alfia
"Uuunnncchhh... Ustadzah Hasna! style-nya mirip artis korea. Pasti cantik deh! hihi... sayang sekali, tidak dapat melihat wajahnya."
ucap Risma.
"Sepertinya!"
.....................
Hasna baru masuk parkiran, lalu ia memarkirkan mobilnya dan bergegas Karena sudah hampir terlambat
"Pak! Tunggu... jangan ditutup dulu gerbangnya!" pinta Hasna pada satpam sekolah.
"Ayo cepat Neng, sudah bel masuk," ucapan satpam tersebut masih memberikan toleransi.
"Terimakasih, Pak!" Hasna berlari menujukelasnya.
Sampai kelas...
"Na... lo, koq terlambat?" tanya Adrian yang memang duduk di belakang bangkunya.
"Iya, rumah gue sekarang agak jauh dari sekolah,Yan!" jawab santai Hasna.
"Memang, lo tinggal di mana sekarang?" tanya Adrian penasaran.
"Di pondok pesantren," ucap Hasna cuek. membuat Adrian terkejut.
"What?"
"Ssst!! Guru datang tuuhh." Hasna memperingatkan Adrian.
"Ok! gua butuh penjelasan."
"Berisik!" pekik Hasna.
Setelah Guru duduk di mejanya, lalu pembelajaran berlangsung.
Saat istirahat tiba...
"Na... Ke kantin yuk!" Ajak adrian. "Dan gue masih minta penjelasan dari elo."
"Yuk! gue traktir lo yan!" ucap Hasna. "Untuk penjelasan yang Lo minta, besok lagi yah! sekarang gue lagi nggak mood menjelaskan apa-apa."
"Wah boleh banget tuh! thanks Na! okelah gue juga nggak bisa maksa kan!" raut kekecewaan dari Adrian yang semula antusias.
"Ma... amma, Hihi. sorry Yan!" ucap Hasna dengan wajahnya di buat seimut mungkin.
"Ok! heee."
Trrrrttt... Trrrrttt... ponsel Hasna bergetar tanda ada panggilan masuk.
"Yan, lo duluan aja, pesenin siomay sama es jeruk, kalo lo terserah mau pesen apa! gue terima telepon dulu." pinta Hasna.
"Okke, Na!" Adrian pun berlalu ke kantin. Hasna menerima telepon.
"Ya, Assalamu'alaikum. Ustadz!" jawab Hasna setengah berbisik. Yang menelpon rupanya Afnan.
"Wa'alaikum Salam sayang. lagi istirahat kan?" (suara lembut Afnan di seberang sana.) "Sudah makan belum?" /Afnan.
"Iya Ustadz, ini baru saja keluar kelas untuk istirahat. Sedang menuju kantin untuk makan." /Hasna.
"Ustadz...sudah pulang? terus sudah makan belum?"
/Hasna.
"Aku masih di luar kota, ini sedang makan bersama kak Ubay!" / Afnan.
"Ya sudah! kamu jangan sampai telat makannya ya, sayang!" /Afnan.
"Iya Ustadz! terima kasih. Nana ke kantin dulu!" / Hasna.
"Iya sayang... Assalamu'alaikum." /Afnan.
Hasna menutup telepon nya dan bergegas menuju kantin.
Tiba tiba saja, di pintu masuk kantin, Hasna di hadang siswi resek bernama Kristine.
Kristine ini pindahan dari Jakarta juga, satu bulan sebelum Hasna. Usut punya usut Kristine ini pindah ke kota yang sama dengan Hasna Karena orang tuanya bangkrut di Jakarta.
Namun gayanya itu selangit, hobbynya ngajakin siswi lain berantem, padahal Anak baru, tapi dia sombong. Jika melihat ada siswi yang lebih cantik darinya apalagi kelihatan kaya, maka dia pasti cari masalah. (sirik sepertinya)
"Hai preman sekolah, minggir! geng kita mau lewat." Bentak Kristine pada Hasna
"Loh, kalian dong yang mundur, gue kan yang duluan sampai pintu ini," ucap Hasna dengan berani, sekalian juga dia di sebut preman oleh Kristine.
"Oohh... lo berani sama gue?" Kristine berjalan mendekati Hasna sembari bertolak pinggang.
Hasna tidak gentar, apalagi dirinya lebih tinggi dari Kristine. Hanya saja Hasna sedang malas meladeni.
"Cuma manusia kaya lo, gue takut? uuuu... gak level. minggir!" bentak lantang Hasna.
"Untung gue lagi gak mood buat duel! Kalau enggak, habis lo!" ucap Hasna kembali sambil mendorong dada Kristine dengan telunjuknya.
Lalu masuk ke dalam kantin, meniggalkan Kristine yang masih ternganga, tak percaya ada yang berani melawannya.
"Aaahh sial*n. Awas aja ya lo, gue belum selsai sama lo!" teriaknya.
Hasna yang mendengar itu, ia hanya menyunggingkan bibir tanpa menoleh. "Yakin lo? cheehh!" batin Hasna.
"Yan, mana siomay gue?" tanya Hasna pada Adrian, ketika sudah sampai di dekat meja dan bangku yang Adrian duduki.
"Nih! lama amat si lo Na?" tanya Adrian
"Biasa ada kerikil tajam mencoba menahan jalan Ku! Hihi,"
"Kerikil tajam?" Andrian tertegun dan berpikir dalam benaknya, apa yang dimaksud dengan Hasna. Namun ia tidak mau ambil pusing, Hasna juga pasti tidak akan mau menjawab nya. "Ya sudah makan deh, nanti keburu gak enak."
"OK! thanks Yan," Mereka pun,akhir nya makan tanpa bersuara.
_______
Sepulang sekolah. Tepatnya di parkiran mobil area sekolah.
"Weedeeehhh... keren Na!" kagum Adrian. Wiuuu.... ( Adrian bersiul panjang). mobil siapa Na?" tanya Adrian ketika melihat mobil Hasna.
"Ini Mobil minjem!" jawab Hasna
"Yakin Lo? minjem punya siapa?" tanya Adrian lagi.
"Yakinlah! minjem sama Om gue!" jawab Hasna santai.
"Ooohh jadi selain preman, lo juga simpanan om-om haah?" rupanya percakapan Adrian dan Hasna ada yang mendengar, yaitu Kristine.
"Hai teman teman lihat nih, ada simpanan Om-om di sekolah kita. Sekali pakai bayaran nya pakai mobil L******* cuuii!" ucap Kristine sambil teriak-teriak.
"Eh, songong! jangan fitnah lo ya! ini hadiah dari orang yang spesial." ucap Hasna kesal.
"Na... sudah biarin aja. Jangan di ladeni, malu Na! orang gila, lo ladeni." Bujuk Adrian.
"Gak yan! orang macam ini, kalau di diemin ngelunjak,"
Ucap Hasna pada Adrian.
"Alaah kalo per*k ya ngaku aja, jangan munafik lo, pura pura suci gak tau nya lo penuh lumpur, sebutin lo mau lelaki macam apa nanti gue yang bookingin buat lo." Kristin malah tambah memancing emosi Hasna.
"Ahahaha... Sok-sok an mau bookingin gue Om-om. Memang nya lo punya duit berapa?" cibir Hasna.
"Eehh kurang ajar lo ya! lo fikir gue gak mampu bookingin Om-om buat elo?"
Kristine mengangkat tangan kanan nya, hendak menampar Hasna. Namun Hasna menahan tangannya Kristine dengan kuat, hingga ia meringis kesakitan.
"Lepas per*k!"
Lalu Hasna melepaskan genggaamannya, dengan setengah melempar tangan Kristine.
Namun ....
Brukk... Kristine terjatuh dan ambruk tidak sadarkan diri.
"Kristinee...!"
Teriak satu gengnya. Yang Lain lari ke kantor Guru untuk melapor bahwa ada yang pingsan.
"Na... lo gak apa-apa kan?"
tanya Adrian menghampiri Hasna.
"Enggak yan! tapi kenapa dia tiba-tiba pingsan? padahal enggak gue apain-apain koq!" ucap Hasna pada Adrian.
"Iya na, gue juga liat koq, lo gak ngapai2in dia."
Satu sekolah pun ramai,
Kristine di bawa ke UKS namun tidak juga sadar. Lalu pihak sekolah menghubungi orang tuanya. Tak berapa lama, Orang tua Kristin tiba di sekolah dan mereka membawa Kristine ke rumah sakit.
"Pak siapa yang melakukan ini pada anak saya? Pokok nya saya tidak mau tau, harus lapor polisi!" ucap ibunya Kristine sebelum naik ambulance.
Lalu ia menelpon polisi untuk melaporakan Hasna Atas dugaan kekerasan. Pihak sekolah tidak bisa berbuat apa apa.
Tak selang berapa lama, polisi datang membawa Hasna beserta Adrian dan beberapa siswa lain sebagai saksi.
Bersambung...
____
Like
Komen
Rate
Trima kasih. 🤗