Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Bab 39. Aku Berdarah Ustaz!


"Ustaaazzz ...."


"Ada apa istri ku?" tanya Afnan dengan nada sedikit khawatir.


"Aku berdarah Ustaz!" pekik Hasna.


"Apanya yang berdarah?" tanya Afnan lagi, "perasaan, belum aku apa-apakan," batin Afnan.


Namun, setelah berpikir sejenak. Afnan setengah berlari menghampiri Hasna yang terlihat panik.


"Ya, maksud kamu berdarah bagaimana?" tanya Afnan bingung, setelah berdiri di depan Hasna.


"Ituuu ...." Tunjuk Hasna pada alas tempat tidur di bagian sisi tempat tidur yang terdapat noda merah dan itu darah.


"Hehehe .... ku pikir apa, hanya darah di atas seprei," kekeh Afnan dengan santai, "eum ... tapi tunggu, itu darah apa yah? mungkin kah itu ....?" Afnan mengernyitkan dahi tanda berpikir antara yakin atau tidak.


"Coba, aku lihat bagian belakang tubuh kamu," pinta Afnan. Hasna membalikan tubuhnya dan benar saja ada noda darah di bagian belakang tubuh Hasna, tepat di bagian bokong. Itu yang baru saja Afnan pikirkan.


"Apakah, ini sudah waktunya kamu datang bulan?" tanya Afnan. Karena walaupun belum pernah yang namanya mengenal perempuan sebagai pacar atau teman dekat. Dengan usianya saat ini, tentu Afnan faham akan siklus bulanan pada perempuan.


"Tidak! Maksud Nana, belum Ustaz. Biasanya masih lima hari kedepan dari tanggal ini, makanya aku tak mengenakan pembalut sebagai persiapan," jawab Hasna.


Mendengar jawaban Hasna yang polos namun malu-malu, Afnan malah tertawa kecil dengan nada cukup renyah.


"Ikh, kok Ustaz malah tertawa sih!" seru Hasna dengan memanyunkan bibirnya. Tentu saja Afnan tidak melihat akan bibir istrinya yang di majukan, karena Hasna masih memakai niqab atau cadar.


"Lucu saja, mungkin haid kamu ikut bahagia, atas pernikahan kita. Maka dari itu, dia muncul sekarang," jawab Afnan.


Hasna yang mendengar Jawaban Afnan pun menjadi tersipu malu lengkap dengan rona merah di pipi saking malu yang menjadi salah tingkah, Hasna lalu berlari dan masuk ke kamar mandi tanpa berpamitan kepada Afnan.


Sungguh debaran jantung Hasna tidak aman kali ini, bahkan di saat ia memacu adrenalin Ketika balapan liar, ia belum pernah merasakan degup jantung yang bergaduh seperi ini. Akan tetapi mengapa hanya dengan perkataan Afnan, Hasna hampir saja oleng dan ia lebih memilih menghilang dari hadapan Afnan dengan masuk ke kamar mandi tanpa salah pintu, padahal ia baru saja masuk kedalam kamar suaminya, namun bersyukur feeling Hasna tepat dengan letak kamar mandi yang kini ia masuki.


Afnan yang nampak tenang malah kembali tertawa kecil melihat tingkah lucu istrinya itu. "Lucu sekali," ucapnya.


"Ustaz ... Ustaz Afnan," Hasna kembali membuka pintu dan kini ia memanggil Afnan dengan suara di kecilkan.


Afnan yang masih merasa gemas dengan tingkah lucu istrinya, mendengar Hasna memanggil namanya, ia pun menoleh pada sumber suara, lalu ia menghampiri Hasna yang menyembulkan kepalanya saja di balik pintu kamar mandi.


"Ya, ada apa istri ku? ada yang bisa aku bantu?" tanya Afnan dengan tersenyum.


"Lebih dekat," pinta Hasna.


"Begini?" tanya Afnan dengan memajukan langkahnya satu langkah.


"Lebih dekat Ustazz!" seru Hasna namun dengan intonasi suara rendah.


"Begini?" tanya Afnan lagi dengan tetap maju satu langkah.


Afnan sengaja menggoda Hasna, maka ia berjalan selangkah demi selangkah dengan tangan yang di lipat ke belakang. Akhirnya Hasna yang sadar sedang di goda Afnan.


"Ikh Ustaz, jangan ngeselin deh!" rengek Hasna. Ia merasa gemas melihat tingkah Afnan, Hasna mencebik dengan kembali memajukan Bibirnya, namun lagi Afnan tidak melihatnya, karena Hasna belum membuka cadar.


"Hehe ... lagi pula, mengapa harus berkata dengan bisik-bisik sih? biasanya kalau bicara, seperti bertoa tanpa aba-aba," tukas Afnan sembari menyeringai.


"Um ... Ustaazzz!!" pekik Hasna dengan menutup pintu kamar mandi.


"Ahahah." Kali ini Afnan benar-benar tertawa melihat kelakuan istri labilnya itu, "aish, dasar si bidadari gemes," gumamnya.


Lalu Afnan merasa bersalah karena telah menggoda istrinya hingga ia kesal dan menutup pintu kamar mandi. Afnan mengetuk pintu dan meminta Hasna membukakan pintu kamar mandi.


"Istriku, tolong buka pintunya. OKe, Aku minta maaf, sekarang buka pintunya ya," panggil Afnan.


"Enggak mau! Ustaz jahat! ngeselin ...." teriak Hasna dari balik pintu.


"Maaf ya, ayolah buka pintunya istriku." Afnan kembali mengetuk pintu kamar mandi, akan tetapi Hasna tidak juga membukanya, "hai bidadari hatiku, tolong buka pintunya dong," rayu Afnan kembali.


"Hih, bidadari hatiku. Sejak kapan?" gerutu Hasna di dalam.


Afnan masih saja senyum-senyum sendiri.Ia merasa gemas melihat tingkah lucu istrinya yang terlihat manja itu. Padahal sebelumnya Hasna nampak gahar, persis seperti yang di katakan Ubaydillah.


Ceklek!


Wajah Hasna muncul dari balik pintu kamar mandi. Kali ini ia sudah melepas cadar dan hijabnya.


"Astagfirullah," ucap Afnan dengan mengerjapkan matanya. Afnan merasa terkejut melihat wajah istrinya tanpa hijab dan cadar, sehingga terlihat jelas pancaran kecantikannya.


Jantung Afnan mulai berdetak tak beraturan.


Hawa panas mulai mengalir di seluruh tubuhnya. Untuk sesaat, ia tak bekedip menelusuri pandang wajah Hasna yang begitu cantik di matanya.


Mata Hasna yang sedikit sayu. Namun, memiliki daya tarik tersendiri dan memancarkan kecantikan yang alami, wajah yang sempurna. Membuat Afnan sedikit tremor. Belum lagi, rambut Hasna yang masih di gulung sanggul, jelas memperlihatkan leher mulus nan jenjang milik Hasna, pikiran kotor Afnan sebagai laki laki normal mulai ikut menghasut, "sepertinya nyaman kalau bermain main di area itu! aish Astagfirullah," Afnan mengusap kasar wajahnya.


Afnan menghela napasnya panjang lalu mengembuskannya dari hidung, ia sedang berusaha menekan getaran getaran dalam jiwa dan qolbunya.


"Istriku, kamu cantik!" ucap Afnan. Hasna hanya tersenyum malu dan merunduk.


"OMG senyuman nya bikin mabluk klepek klepek. Tidak ... tidak ... tidak ... Kuasai dirimu Afnan. Lihat dia begitu lucu, mungil dan tatapan matanya terlihat berbinar jernih." batin Afnan.


"Ustaz, juga tampan!" Wajah Hasna mengangkat sesaat lalu merunduk kembali dan tersipu mqlu. "come on Hasna! Kamu kenapa coba?" celoteh Hasna dalam batinnya.


Tentu saja hati Afnan merasa berbunga-bunga. Ingin sekali ia memeluk Hasna. Namun, Afnan tak ingin memaksakan kehendak. Ia ingin membuat Hasna nyaman dan ia harus mendekati Hasna terlebih dahulu dengan caranya, agar Hasna mau berada dekat dengannya tanpa terpaksa.


"Ustaz, bisakah membelikan aku pembalut?" pinta Hasna.


"Ah, aku?" Afnan terperangah tentu saja semua lamunannya buyar.


"Ya, ya ... i-iya, la-lalu siapa lagi?" ucap Hasna pelan dengan gugup, karena ia pikir Afnan akan marah, sebab Hasna meminta membelikan pembalut.


"Maaf! tapi ... aku belum pernah berkenalan dengan yang namanya pembalut, bagaimana dong?" canda Afnan dengan menyeringai. Ia sedang menetralkan suasana hatinya yang bergejolak.


Hasna kembali merasakan debaran di dalam rongga dadanya saat melihat Afnan tidak marah, bahkan malah membercandainya. "Ikh, Ustaz. Please jangan bercanda," balas Hasna jengkel dan memajukan bibir nya. Kali ini Afnan melihat bibir istrinya dengan jelas, bibir tipis nan pink segar itu terlihat lucu dan menggemaskan.


"Baiklah, nanti aku minta tolong Ubay. Kamu tunggu sebentar ya," ucap Afnan sambil melangkah dan kini ia dengan sengaja menyentuh ujung hidung Hansa dengan jari telunjuknya.


Hasna yang baru saja merasakan sentuhan dari suaminya, darahnya berdesir, tubuhnya meremang. Baru kali ini ia di sentuh pria selain ayahnya, dengan sengaja dan lembut pula.


"Jangan minta tolong ke kak Ubay, Ustaz. Aku malu!" ucap lirih Hasna.


"Loh! lalu minta tolong pada siapa?" tanya Afnan.


"Ustaz, saja," jawab Hasna enteng.


"Ya, aku sih mau saja. Tapi 'kan hari ini adalah hari spesial kita, gak lucu dong, kalau para santri dan pengurus ponpes lainnya melihat aku berkeliaran, membeli pembalut pula," ujar Afnan dengan Kembali mengekeh.


"Tapi ...."


"Sudah, maksud aku, agar Ubay yang meminta tolong kepada Santri Putri, untuk membelikanya," ucap Afnan.


"Oh seperti itu toh Ustaz. Baiklah, jangan lama ya Ustaz, rasanya sudah tidak nyaman," tukas Hasna.


"Iya Istri ku, sayanng," ucap Afnan dengan nada lembut seraya tersenyum. Membuat Hasna ingin pingsan sejanak.


Deg ... Dag ... Dug ... Dugg ... Der ... irama jantung Hasna di panggil sayang oleh Afnan.


Lalu Afnan mengambil ponselnya di Atas meja rias dan menelpon Ubaydillah. "Bro, tolong, ke kamar Ana sebentar," suara Afnan, tak lama ia memutuskan sambungan teleponnya.


***


Tak berapa lama Ubaydillah tiba di depan kamar Afnan. Sebelum masuk ia tak lupa mengetuk pintu dan Afnan pun membukakan pintu, lalu mempersilakannya masuk.


"Iya A'a Bro, Ada apa?" tanya Ubaydillah setelah berhadapan dengan Afnan.


"Itu, anu ... ada yang berdarah, eh!" Afnan seketika membekap mulutnya sendiri, merasa telah salah bicara.


***


Bersambung.