Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Bab 38. HALLALnya, Afnan dan Hasna.


Akhirnya hari itu tiba, hari bersejarah untuk Afnan dan Hasna. Tangan Afnan di genggam oleh Ayah Hasna dan Ayah Hasna mengikuti Pak penghulu untuk melafalkan Ijab.


Ankahtuka wa Zawwajtuka Makhtubataka Binti .... HASNA AULIA ZAHRANI alal Mahri SATU UNIT MOBIL SPORT MERK *******


Artinya: “Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu HASNA AULIA ZAHRANI puteriku  dengan mahar SATU UNIT MOBIL SPORT MERK *******


Qobul,



قَبِلْتُ نِکَاحَهَا وَ تَزْوِيْجَهَا عَلَي الْمَهْرِ الْمَذْکُوْرِ وَ رَِضِْیتُ بِهِ وَ اللهُ وَلِيُّ التَّوْفِیْقِ


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq"


Artinya: Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah.


"Apakah, SAH???" tanya Pak Penghulu


"SAH!." ucap saksi.


Di ikuti dengan yang lain nya.


"Saaaaah!"


"Saaaaah!"


" HALLAL."


"Alhamdulillah Hirobbal A'lamiin," ucap pak Kyai dan yang lainnya.


Kini mereka telah HALLAL yaitu Halalnya, Afnan dan Hasna. Afnan sukses melafalkan ijab qobul di dalam Masjid lingkungan ponpes, dengan satu kali tarikan napas.


Penghulu malanjutkan dengan doa yaitu do'a sesudah Qobul terlafalkan dengan baik dan dinyatakan Sah.


***


Sedangkan Di sisi lain ponpes. Tepatnya didalam Mobil A****** yang sedang melaju, memasuki gerbang utama pondok pesantren.


Seorang pengantin wanita yang cantik jelita mengenakan hijab bercadar, kini memancarkan kekaguman dari mata indahnya kala ia menyaksikan hamparan hijau di sisi kiri dan kanan jalan.


Sepanjang jalan menuju ponpes mereka di suguhkan pemandangan hamparan hijau perkebunan organic, berbagai jenis sayuran, setelahnya warna menguning keemasan dari hamparan persawahan yang luasnya berhektar- hektar.


Pada barisan terakhir menuju gerbang area Masjid, berwarna warni hamparan bunga, lalu di sambut gedung-gedung minimalist seperti asrama putra dan putri, serta ada juga bangunan mirip apartemen terlihat sederhana namun rapi.


Di tengah area gedung-gedung itu berdiri megah sebuah Masjid yang terdapat kolam ikan cukup besar di sisi kanan dan kiri Masjid, dan terdapat kolam air mancur yang cantik di pekarangan depan Masjid megah itu.


Di sebelah kanan Mesjid terdapat bangun sekolah yang berbaris rapih dari mulai PAUD, TK, SD, SLTP, SLTA, Dan sebuah UNIVERSITAS yang tak kalah megah berdiri kokoh di depan lapangan basket, volleyball, badminton dan taman kecil yang indah.


Ada sebuah mini market juga, serta koperasi pesantren di sebelahnya, sedangkan di sebelah kiri Masjid terdapat sebuah aula pesantren serba guna, yang cukup luas.


Wanita itu Menyaksikan sebuah video call pelafalan ijab qobul oleh seorang pria yang di tujukan untuk dirinya dan baru saja ucapan SAh terdengar di telinganya. Kini laki-laki di dalam layar tablet tersebut telah SAH sebagai suaminya.


***


Tepat di pekarangan Masjid, seorang pengantin pria yang begitu tampan berdiri dengan gagah. Kopiah putih berpayet tersemat di kepala dan ia mengenakan stelan pengantin pria berwarna putih kontras dengan gaun si pengantin wanita serta melingkar kalung bunga di lehernya. Ia sudah berdiri untuk menyambut pengantin wanitanya dengan senyuman.


"Assalamuala'ikum, wahai istriku," ucap si pengantin pria yaitu Afnan.


"Wa'alaikumus salam, wahai suami ku" sambut si pengantin wanita yaitu Hasna.



Lalu Hasna mencium punggung tangan suaminya. Hasna bak Princess, Afnan menggenggam tangan Hasna dengan lembut, dengan langkah anggun Hasna mengiringi langkah Afnan masuk ke dalam Masjid.


Afnan mendudukan Hasna di hadapan penghulu, para saksi dan kedua orang tua mereka, lalu Afnan menyematkan cincin perkawinan di jari Hasna, begitupun sebaliknya Hasna pada Afnan.


Di lanjutkan penandatanganan buku nikah dan pembacaan kewajiban dan hak suami atau istri yang ada di buku nikah.


Sebelum sungkem kepada kedua orang tua mereka, Afnan membimbing Hasna untuk berhadapan dengannya, lalu Afnan meletakan tangan kanannya pada ubun- ubun Hasna untuk melafalkan doa ba'da nikah dan tangan kirinya di genggam Hasna seraya mencium punggung tangannya,


اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَاجَبَلْتَهَا عَلَيْهِ


Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya."



Setelah selesai, Afnan mengecup pucuk kepala Istrinya, lalu keduanya menengadahkan telapak tangan, mengucap syukur.


Berlanjut sungkeman, pada Orang tua kedua belah pihak, mendapat wejangan dan nasihat, Hasna dan Afnan sama-sama menitikan air mata haru.


Acara Ijab qobul pun selsai.


***


"kamu istirahat saja dulu, ba'da ashar sudah mulai sibuk menerima tamu undangan," ujar Afnan pada Hasna.


kala itu mereka sudah berada di kamar pengantin mereka yang bertabur mawar merah dan hiasan lainnya, tepatnya itu kamar Afnan yang ada di rumah utama pondok pesantren.


Hasna terduduk di sisi tempat tidur, masih berpakaian lengkap. Sedangkan Afnan dengan santai mulai melepas pakaiannya, agar lebih nyaman saat istirahat. Ia hendak menggantinya dengan t-shirt dan celana pendek.


"Ustaz," panggil Hasna lirih.


"Ya," jawab afnan lembut.


"Apakah, kita akan tinggal di rumah ini


untuk waktu yang lama?" tanya Hasna.


Mendengar pertanyaan Hasna, Afnan menghentikan aktifitasnya, lalu menghampiri Hasna dan duduk menghadap Hasna dengan jarak hanya beberapa centimeter saja.


"Em, lihat saja nanti, memang kenapa? apakah kamu tidak kerasan di sini? belum pun satu jam berada di rumah ini," jawab Afnan.


Suara Afnan lirih dengan tersenyum, jantung Hasna berdebar, ia pernah duduk sedekat itu dengan pria tapi rasanya berbeda. Cuek dan biasa saja, namun kali ini berbeda, ia merasa canggung. Di tambah lagi kancing pakaian Afnan yang sudah terbuka semua dan sedang menonjolkan dada beton serta perut datarnya.


"Ustaz, maaf. Itu ....," ucap Hasna terhenti dan hanya telunjuknya yang naik turun mewakili suaranya menunjuk ke arah dada dan perut Afnan.


"Maaf, Aku lupa! hehe ... oke, aku ganti baju dulu kalau begitu," ucap Afnan menyeringai salah tingkah.


Afnan pun berlalu ke kamar mandi. Beberapa waktu kemudian Afnan pun selesai mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian, Afnan keluar dari kamar mandi dan melihat Hasna masih memakai pakaian lengkap.


"Istriku, apakah kamu tidak mau mengganti bajumu? menanti berganti pakaian resepsi 'kan masih lama," ucap Afnan.


"Eum, ti-tidak perlu Ustaz. Aku mau tidur saja," jawab Hasna.


Hasna merasa terkejut, ia menjawab terbata. Selain terkejut mendengar kata ISTRIKU, Ia juga sedang mengamati Afnan yang baru keluar dari kamar mandi, terlihat tampan dengan T-sirt putih, berpadu celana pendek dan yang menambah terlihat sexy rambutnya yang setengah basah itu, terlihat begitu menggoda di mata Hasna.


"Dalam keadaan begitu?" tanya Afnan. Afnan yang mengetahui istrinya sedang mencuri pandang maka ia hanya tersenyum tipis.


"Iya ... memang kenapa?" tanya balik Hasna.


"Ya sudah, senyaman kamu saja," ucap Afnan. Padahal Aku mau mengajaknya Salat sudah dua rakaat setelah pernikahan, ya sudahlah. Mungkin nanti setelah istirahat," batin Afnan.


Aku mau ke bawah membuat kopi, apakah kamu mau di buatkan sesuatu? teh, jus atau yang lainnya?" tanya Afnan kemudian.


"Tidak perlu Ustaz, terima kasih," jawab Hasna.


"Oh ya sudah!" tukas Afnan, ia tahu istrinya masih canggung dan belum terbiasa dengannya.


Hasna beranjak dari sisi tempat tidur, ia hendak membenarkan posisinya untuk merebahkan diri, namun ...


"Ustaaazzz!" pekik Hasna setengah berteriak kepada Afnan yang baru saja menggenggam handle pintu kamar hendak keluar.


"Ada apa istriku?" tanya Afnan, secepat kilat berbalik badan, sedikit panik mendengar Hasna terpekik kencang.


"Aku berdarah Ustaz!" Seru Hasna, membuat Afnan menganga, bingung.


***


Okeh, Thor istirahat dulu ya. kan nanti mau ke acara resepsi mnya Afnan dan Hasna, hehe.


Please, jangan bully author yaaa, kalau sekiranya salah atau kurang berkenan, maaf Author hanya memperkirakan seperti itu dengan Ijab qobulnya, hiii.