
Afnan meletakan 1 pack pembalut pada meja kecil yang ada di samping tempat tidur, lalu ia hendak bergegas untuk turun ke lantai utama, ia bertujuan membuat kopi.
Afnan tidak lupa menatap Istrinya sejenak. Terlihat Hasna masih terlelap, Afnan merasa bahagia, kini ia seperti waktu kecil habis di belikan sebuah mainan oleh Abi nya, rasa senang, sayang, semangat dan tanggung jawab untuk menjaga Hasna, campur menjadi satu.
*******
Di lantai utama..
"Eh Den Afnan, biar Ambu atuh yang membuatkan nya," tawar Ambu yaitu Art nya.
"Oh tidak apa-apa Ambu, biar Afnan saja, masih bisa kok kalau hanya buat kopi saja mah," ucap Afnan tersenyum. Afnan memang orang yang sangat santun.
"Loh A, Nana mana?" tanya Umi yang baru saja menghampiri nya.
"Tidur, Umi," jawab Afnan dengan tangan nya tetap sibuk membuat kopi.
"Oh begitu, tapi dia belum ma'em, dari tadi sayang," ucap Umi kembali.
"Ia Mi, nanti biar ma'em sama-sama A'a saja," ucap Afnan.
"Baiklah! ya sudah, Umi nyusul Abi ke Asrama tamu, untuk menemani keluarga Nana." pamit Umi.
"Baiklah Umi, maaf A'a tidak dapat menemani," ucap Afnan.
"Oh tidak apa-apa sayang, temani Nana saja, pastikan Nana makan sebelum dia di makeup ya A," pesan Umi.
"Iya Mi, Insha Allah," sahut Afnan.
"Ya sudah, Assalamu'alaikum," ucap Umi.
"Wa'alaikum Salam," jawab Afnan.
Umi pun berlalu dari hadapan Afnan, sedangkan Afnan masih saja sibuk. Selain membuat kopi, Afnan Juga membuat jus untuk Hasna, dan tidak lupa ia meyiapkan nasi beserta lauk pauk nya untuk Hasna makan, sesuai pesan umi nya tadi.
**
Setelah hampir tiga puluh menit, Afnan kembali ke kamar nya. Sesampai nya di kamar, ia melihat Hasna sudah tidak ada di tempat tidur. Berarti Hasna sudah terbangun dan Afnan mendengar suara gemercik air di dalam kamar mandi, Afnan menyimpulkan berarti Hasna ada di kamar mandi dan mungkin sedang mandi.
Afnan menuju balkon kamarnya sambil membawa kopi yang tadi ia buat, ia menyalahkan sebatang rokok, lalu menghisap nya seraya menyeruput kopi nya perlahan, rasa damai saat ini menerpa perasaan nya. Tak henti nya Afnan bersyukur di dalam hatinya, ia kembali menghisap rokok nya lalu menyeruput kopi nya. Memang sesekali Afnan merokok itupun di tempat yang tersembunyi.
"Ustadz! Sedang apa?"
Afnan menoleh ke arah sumber suara, Hasna sedang berdiri di ambang pintu menatap nya,
ia telah mengganti pakaian nya dengan gaun tanpa lengan ber warna soft pink berbahan brokat, yang menjuntai sebatas lutut dan bagian belakang nya lebih memanjang menutupi betis, rambut nya terurai rapih, ia terlihat manis dan segar, memang seperti nya habis mandi, ia hanya memoles tipis make up di wajah nya yang terlihat pink merona, bibir nya hanya ia olesi lipgloss pink muda, terlihat begitu menggoda di mata Afnan.
"Sedang minum kopi, o iya jus untuk mu ada di meja, biar aku ambil kan," ucap Afnan seraya berdiri.
"Tidak..tidak perlu Ustadz, biar Nana yang ambil sendiri," ucap Hasna merasa tidak enak.
"Oh baiklah, minum di sini, temani aku," pinta Afnan.
"Baiklah Ustadz," sahut Hasna.
Tak berapa lama, Hasna kembali ke balkon sembari membawa jus nya.
"Waaahh Ustadz..indah dan sejuk sekali udara serta pemandangan nya," ucap Hasna kagum saat ia betul-betul berdiri di balkon, mata indahnya langsung tertuju pada suguhan pemandangan asri alam sekitar ponpes.
"Hehemm.. Kamu suka?" tanya Afnan.
"Apalagi kalau di pagi Hari, di sebelah kanan sana akan terlihat indah nya pemandangan gunung menjulang tinggi dan indah," ucap Afnan.
"O yaahh," balas Hasna.
Hasna mendengar Afnan berbicara setengah berbisik di telinga nya, dan hembusan hangat nafas nya pun begitu terasa menyapu lembut telinga Hasna. Lalu ia merasa ada yang merapatkan tubuh nya dari belakang.
Saat Hasna membuka mata, Afnan sudah melingkar kan tangan nya pada perut Hasna dan dagunya tertumpu pada bahu Hasna, ia sedang memeluk Hasna dari arah belakang. wajah Hasna seketika merasa panas, saat bersentuhan nya antara pipinya dan pipi milik Afnan.
Dag..dig..dug.. detak jantung Hasna mulai tidak teratur, ada gelitikan asing di dalam tubuh Hasna.
"Tolong, tetap begini," ucap Afnan kembali, sambil berbisik di telinga Hasna, membuat persaan Hasna tambah tidak karuan. Rasanya merinding dan seakan-akan kini tubuh nya mengambang.
Hasna Hanya diam dengan gelas jus yang mulai tidak stabil di tangan nya, tidak hentinya desiran dan gelitikan kecil di dalam tubuh nya kini, dada nya berdebar, detak jantung nya sudah tidak beraturan, bahkan rasa debaran saat balapan liar pun kalah kencang.
Hawa panas terasa di wajah nya dan mengalir ke ubun ubun nya, ia berusaha mengontrol nafas nya agar Afnan tak mengetahui kalau ia sangat gugup. Afnan makin memper erat pelukan nya dan membenamkan wajah serta bibir nya di leher samping Hasna, ia tahu Hasna sedang menahan kegugupan nya dan ia ingin menikmati kegugupan istrinya tersebut.
"Ustadz," Hasna Akhirnya bersuara dengan sedikit bergetar.
"Euummm" Afnan Hanya menggumam
"Apakah, Ustadz merokok?" tanya Hasna.
"Iya, hanya sesekali saja, jika sedang ingin, itupun di tempat tersembunyi, tidak sampai menghabiskan 1 bungkus rokok dalam satu bulan. Kenapa, kamu tidak suka?" tanya balik Afnan.
"Oh, tidak Ustadz, terserah Ustadz saja kalau itu sih," ucap Hasna.
Lalu afnan melepaskan pelukan nya, Hasna merasa lega. Namun kelegaan Hasna hanya beberapa detik saja, Karena Afnan sudah berputar di hadapan nya, kini ia saling berhadapan.
"Jika ada sesuatu hal yang tidak kamu setujui dari perbuatan ku, atau kamu tidak suka, kamu berhak protes, kamu berhak melarang ku," ucap Afnan tegas.
Lalu Afnan menarik dagu Hasna lembut, hingga Hasna mendongak saling bertatap mata, lalu ia tersenyum dan menyentuh ujung hidung Hasna. Jangan di tanya perasaan Hasna, rasa melonjak-lonjak. untung saja ia masih dapat menguasai dirinya.
Lalu Afnan mengambil gelas jus dari tangan Hasna, meletak kan nya di tembok pagar balkon, selanjutnya ia menarik Hasna ke dalam pelukan nya. Hasna dapat merasakan detak jantung Afnan yang juga tak beraturan, kini wajah nya berada di dada beton Afnan.
Hasna merasakan hembusan hangat nafas Afnan yang keluar dari hidung Afnan, jakun nya naik turun sesekali terasa menyapa dahi hasna. Lalu Afnan mengecup kening nya agak lama dan memejamkan mata, sepertinya Afnan Sedang berdoa di ujung kepala Hasna.
Hasna merasa darah di dalam tubuh nya berdesir, baru kali ini ia di peluk seorang pria selain Ayah dan Kakek nya. Tentu saja rasanya berbeda.
Tok... Tok.. Tok... tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di luar kamar.
Afnan melepas pelukan nya. "sebentar, princess" ucapnya sambil tersenyum. Lalu masuk ke dalam untuk melihat siapa yang datang.
Haaahh.. haaahmh.. haaah... Nafas Hasna terengah engah seperti baru saja lari marathon, ia menelan ludah nya, tangan kirinya mengusap usap dada nya agar tenang, lalu ia menarik dan menghembuskan nafas dari mulut nya, tangan kanan nya mengambil jus nya, lalu meneguk nya tanpa tersisa.
"Pelan-pelan minum nya, nanti tersedak!"
*******
.
.
.
.
. Next👉