Istrinya Ustadz?

Istrinya Ustadz?
Eps 61. Lihat Aku! Tatap Aku!


Masih Di dalam perjalanan,


Kali ini, Afnan mengemudikan mobil nya dalam kecepatan sedang. Ia berfikir cukup bermain main nya. Afnan merasa tidak tega sebetulnya telah bermain main dengan nyawa bersama Istrinya.


Namun sudah kepalang tanggung, jadi ia teruskan saja permainan istrinya itu, sekalian ia menguji kembali adrenalin nya. Kalau tidak begitu, kapan lagi? Karena Afnan sudah berjanji tidak akan menginjak pedal gas mobil balap lagi.


"By....," Hasna berusaha memecah keheningan.


"Uummm," Afnan hanya bergumam.


"Makan dulu, Nana bantu suapi yah!" tawar Hasna.


"Kamu saja!"


Nada datar dan tetap dingin yang Hasna dengar.


"Tapi .... By?!" ujar Hasna Pelan. Afnan tetap diam dan fokus menyetir.


"Byby! maafkan Nana, By." ucap Hasna.


"Iya, sudah!"


"Koq, bicara sudah nya begitu?" tanya Hasna takut takut.


"Lalu, harus bagaimana?" tanya balik Afnan.


Hasna tidak menjawab. Mata nya mulai berkaca-kaca, ia merasa bersalah dan serba salah. Suami nya yang hangat kini menjadi dingin.


Burger yang baru saja ia keluarkan, kembali ia masukan kedalam paper bag kecil, ia memilih menahan lapar Karena suaminya juga begitu.


Afnan pun tahu apa yang Hasna lakukan. Namun ia memilih diam! walaupun sebetulnya perasaan nya merasa sakit, melihat istrinya harus menahan lapar.


Hasna merasa tidak enak hati, serba salah menyelimuti nya, hingga kini kelakuan nya sedikit tidak terkontrol.


Karena ia tak tahan harus menerima sikap dingin Afnan, lalu ia mencoba meraih tangan kiri Afnan dan ia meng genggamnya, mengangkat nya, lalu ia mulai mengecupi nya berkali-kali dengan lembut. Berharap hati Afnan luluh.


"Jangan coba merayu ku! kalau sampai aku terbuai bagaimana? Lalu .... jika aku tidak tahan dan ingin membuka segel milik mu,apa kamu sudah siap?"


Tanya Afnan dengan melirik Hasna melalui lirikan tajam memastikan. lirikan yang membuat Hasna bergidik ngeri.


"Ekkhhheemm.... uhuk.. Uhuk..," mendengar ucapan Afnan, Hasna merasa tersedak oleh saliva ya sendiri.


Kali ini ia memilih cari aman dengan tidak bertingkah aneh. Hingga tidak berapa lama, Hasna pun tertidur.


Saat ini Mobil yang di kemudikan Afnan sudah keluar dari jalan tol dan memutar sebentar lalu masuk jalan tol kembali, menuju arah pulang ke ponpes, ia menambah kecepatan nya agar cepat sampai tujuan, namun tidak segila seperti sebelum nya.


Lima puluh lima menit kemudian,


Afnan telah sampai di gerbang utama ponpes, Hasna masih tertidur di bangku penumpang yang berada di samping nya.


Kini waktu menunjukan pukul dua puluh satu tiga puluh malam. Ketika melewati pos siskamling, Afnan melihat beberapa pria dan Anak-anak muda tengah melakukan ronda malam.


Afnan memutus kan berhenti sejenak untuk menyapa mereka, sebelum turun ia menatap wajah Hasna.


Hasna terlihat begitu kelelahan, tak lama pandangan nya teralih pada bagian bawah Hasna, pandangan nya jatuh pada paha Hasna yang terpampang nyata dan sedikit menganga lebar, Afnan menelan ludah dan ber istighfa. Ia masih terngiang kata SEGEL di benak nya.


Lalu Afnan membuka kemejanya, yang ia gunakan tadi sebagai luaran t-shirt, untuk menutupi bagian bawah Hasna.


Saat ini Afnan hanya menggunakan t-shirt berwarna putih sebagai dalaman kemeja. Lalu ia turun dari mobil.


"Assalamu'alaikum warahmatullah." Sapa Afnan kepada mereka.


"Wa'alaikum salam Warahmatullah."Balas salam para pria itu serempak.


"Ustadz! dari mana malam malam begini?" tanya salah satu pria.


"Biasa pak! anak muda. Hehe." jawab Afnan dengan tertawa kecil Khas nya, yang membuat nya makin terlihat tampan.


"Lagi pada ronda nih pak?" tanya Afnan.


"Iya Ustadz. Biasa kan sudah mau panen, banyak mo*yet dan **** hutan yang pada berkeliaran turun dari arah perbukitan." Jawab salah satu Pria.


"Oh begitu!" ucap Afnan


"Ustadz, seperti nya sudah beberapa jum'at, kita tidak mendengar Ustadz khotbah jum'at?" tanya pria lain nya.


"Iya pak! saya sedang sibuk di luar ponpes." jawab Afnan.


"Oh begitu! loh itu ada perempuan di dalam mobil Ustadz, siapa?" tanya pria itu kembali.


"Itu istri saya Pak! ia kelelahan, habis perjalanan jauh, jadi tertidur." Jawab Afnan dengan tenang.


"Seperti itu, Ustadz mau minun kopi?" tawar pria lain nya lagi.


"Terima kasih pak! lain kali saja, saya hanya menyapa, sudah lama tidak mengobrol dengan warga sini. Untuk saat ini saya butuh istirahat, rasa nya lelah juga habis perjalanan jauh, Kalau begitu saya pamit dulu pak!"


"O silakan Ustadz! selamat beristirahat." Ucap pria tadi.


"Terima kasih, selamat bertugas juga bapak-bapak! Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikum Salam" ucap mereka serempak.


Afnan kembali ke dalam mobil, lalu Afnan mengemudi menuju ponpes. Setelah sampai ia memasukan mobil Hasna ke dalam garasi khusus yang berada dekat tempat tinggal para Ustadz/ Usatdzah dan Guru pembimbing.


"Na! Nana, sayang .... bangun! sudah sampai," Afnan menepuk nepuk bahu Hasna.


"Di ponpes, kita kembali ke rumah utama." jawab Afnan.


"Tapi By, aku lebih suka di rumah kecil." Rajuk Hasna.


"Ya sudah kalau tidak suka, tidur saja di mobil." Ucap Afnan, lalu ia keluar dari dalam mobil.


"Byy tunggu! Nana ikut." Hasna mengekor langkah Afnan dari belakang, kali ini Afnan memilih lewat jalan belakang, agar tidak menjadi perhatian para santri yang masih sibuk di area Mesjid, untuk bertadarus, mendalami Kitab Kitab , murotal Al,Qur'an dan Lain nya di luar pelajaran sekolah.


Setelah sampai rumah utama, Afnan masuk melalui tangga spiral yang menghubungkan langsung ke arah balkon kamar nya.


Ia melihat mobil hitam nya sudah berada di rumah utama ini, berarti Ubaydillah sudah berada di rumah utama.


"By! koq kita lewat sini? memang nya tidak menemui Abi dan Umi dahulu?" tanya Hasna.


"Tidak perlu. Jam segini, biasa nya mereka sudah beristirahat."


**


Kini mereka sudah berada di dalam kamar pengantin mereka, beberapa hari yang lalu. Kini terlihat sudah bersih, Karena waktu terakhir mereka tinggalkan dalam keadaan berantakan penuh bunga bunga dan hiasan lain nya.


Afnan merebahkan tubuh nya di Atas kasur. "Aaagghhhhh... uuuggghh." Terlihat ia merenggangkan tubuh nya, lalu ia membalikan tubuh nya pada posisi tengkurap. "Kemarilah," ucap nya pada Hasna.


Hasna yang sedari tadi berdiri mematung, Karena merasa suasana yang canggung,


lalu ia menghampiri Afnan.


"Ada apa By?" tanya Hasna.


"Naiklah kepunggung ku!" pinta Afnan.


"Byby mau apa?" tanya polos Hasna.


"Menagih hutang." Jawab enteng dari mulut Afnan.


"Hutang apa By?" tanya Hasna dengan posisi berdiri dan masih tertegun, ia tidak mengerti dengan ucapan Afnan.


"Loh kamu lupa? hutang Karena kalah bermain Basket! lalu hutang untuk kekalahan dari tantangan kamu hari ini, belum aku tentukan!" seru Afnan.


Hasna mulai naik ke Atas tubuh Afnan bagian belakang. Lalu Ia duduk di antara pinggang Afnan.


"Pijat!"


Pinta Afnan datar. Lalu Hasna mulai menekan nekan bahu Afnan dengan lembut dan perlahan.


"Tidak terasa!" ucap Afnan kembali. "Coba berdiri, pijat menggunakan kakimu!" pinta Afnan, terdengar lebih ke memerintah.


"Baik By!"


Hasna mulai berdiri di atas tubuh Afnan bagian belakang. Lalu ia mulai berjalan di Atas nya. "Maaf ya by."


"Huum." Afnan hanya bergumam.


Tidak berapa lama, Afnan mengerakan tubuh nya ia bergeser sedikit agak menghentak, Hasna yang berada di atas nya hilang keseimbangan, lalu Hasna terjatuh di atas kasur.


Bruughh!


"Awwsshhh." Terdengar Hasna meringis. Walaupun jatuh di atas kasur, tetap saja lumayan ngilu Hasna rasa pada Tubuh nya, terutama pada lengan nya.


Melihat istrinya jatuh dan meringis, Afnan mengulum senyum, lalu bersuara dalam keadaan tubuh nya sudah terlentang .


"Naiklah ke Perutku!" Pinta Afnan


"Berdiri By?" tanya Hasna terdengar konyol namun nampak polos.


"Ya kira-kira dong! Kamu segitu dendam nya padaku? hingga ingin me nginjak-injak perut ku?!" tanya Afnan terdengar sedikit sarkas.


"Mmmm .... ti-tdak begitu By, maksudnya!" jawab Hasna dengan terbata.


Lalu hasna duduk di atas perut Afnan, menghadap wajah Afnan. Hasna menunduk.


Afnan yang kala itu melipat kedua tangan nya sebagai bantalan kepalanya.Menatap wajah Hasna dengan intens.


"Lihat aku, tatap aku!"


Pinta Afnan. Lalu Hasna dengan sedikit gugup mengangkat wajahnya perlahan dan menatap wajah Afnan.


"By!!" Hanya itu yang keluar dari mulut Hasna.


Tanpa berucap apapun, Afnan menarik tubuh Hasna hingga menempel pada tubuh nya. Lalu ia memeluk nya erat. Kini posisi Hasna bertelungkup tepat di atas tubuh Afnan menindih perut dan dadanya tanpa jarak.


"By! Byby mau apa?" pekik Hasna.


"Kamu fikir? saat laki-laki dan perempuan sudah dengan posisi seperti ini, apa yang mereka lakukan?" tanya Afnan dengan seringai nya di ujung bibir.


"By! jangan bilang, hukuman kekalahan ku hari Ini....," pertanyaan Hasna terhenti.


"Heehhmm," Afnan terdengar sedang tersenyum dengan nada ejekan di telinga Hasna.


"Membuka segel mu, maksud nya?" tanya Afnan tanpa tedeng aling-aling dengan berbisik, tentu saja membuat


Hasna terkesiap dan terkejut.


Bersambung ....