Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 98


Di sepanjang perjalanan pulang menuju Vila. Rafka terlihat diam. Namun, tangan nya masih merangkul Annisa dan membiarkan gadis itu bersandar di bahunya. Wajahnya terlihat menatap kearah kaca mobil dan terlihat seperti melamun. Entah apa yang dilamunkan nya, hanya dia lah yang tau.


Fikar mengemudikan mobilnya dengan sangat hati-hati. Meskipun sesekali ia melirik kearah spion depan, memastikan keadaan di belakang. Namun, ia tetap memilih fokus dalam kemudinya. Suasana di dalam mobil hening dan sepi, tak ada percakapan disana. Hingga akhirnya tibalah mereka di Vila.


Rafka turun dengan memapah tubuh Annisa. Meskipun saat ini ia masih tak menerima tentang obat penunda kehamilan itu. Namun, ia tetap bersikap lembut terhadap istri nya. Kini mereka pun masuk kedalam Vila secara bersamaan. Melangkah bersama meskipun dalam suasana hening.


 


Ada apa dengan Rafka? Semenjak keluar dari ruangan dokter Siera. Wajah nya terlihat suram, sebenarnya apa yang terjadi? Apakah Annisa mengidap penyakit yang mematikan?


Fikar, mulai menerka-nerka. Namun, ia tak ingin larut dalam fikiran nya yang tak mendasar itu. Sehingga kini ia lebih memilih untuk segera masuk kedalam dan menuju ke kamar nya.


 


 


 


Sementara itu.


" Huuaah!! Akhirnya aku kembali lagi ke kota ini." Maya mulai mengepakkan sayapnya turun dari pesawat.


Dengan menarik koper yang ada di tangannya. Ia berjalan berlenggak-lenggok seperti biasanya. Rambutnya kembali terurai, tak ada lagi hijab disana. Toh, kini ia telah tiba di kotanya bukan. Jadi tidak perlu lagi repot-repot mengenakan hijab yang menurut nya sedikit ribet itu.


" Hai Fer.." Sapa nya begitu melihat sosok Fery yang ada disana. Senyum nya lalu merekah bagaikan kerupuk yang tersiram minyak panas. Sungguh merekah bukan? Bahkan jauh lebih merekah dari sebelumnya. " Sedang apa kamu disini?" Tanya nya kemudian.


" Aku datang kesini khusus untuk menjemputmu." Sahut nya.


" Benarkah? Wah, kebetulan sekali. Jadi aku tidak lagi perlu lagi bersusah payah untuk mencari taksi sekarang." Ucap nya.


" Heh!" Fery tersenyum sinis. " Ku lihat kau sangat bahagia. Apa kau telah behasil mengacaukan hubungan Rafka dengan Annisa?" Tanya nya dengan nada sinis.


" Aku memang tidak berhasil mengacaukan hubungan mereka. Tapi setidaknya untuk sementara ini aku bisa bernafas dengan lega karena sepulangnya dari sana. Mereka tidak akan membawa hasil apa-apa. Hahaha..!!" Ucap Maya. Tawa nya bahkan terdengar sangat nyaring menandakan ia sangat senang karena hal itu.


" Kenapa kau begitu yakin? Sebenarnya apa yang telah kau lakukan kepada mereka?" Tanya Fery.


" Mereka? Oh tidak.." Maya mengayunkan jari telunjuknya. " Bukan mereka, tapi lebih tepatnya Annisa." Katanya kemudian.


Fery lantas mengerutkan dahinya begitu mendengar nama Annisa.


" Apa yang kau lakukan kepadanya?" Tatapan nya mulai tajam.


" Apa yang kulakukan? Bukan urusanmu!" Maya tersenyum. Sedangkan Fery, kini merasa jika Maya sedang mengolok-olok dirinya. Dengan menunjukkan ekspresi seperti itu.


" Jangan membuatku marah May!" Tatapan nya semakin dingin.


" Hehe, marah? Kenapa kau mesti marah kepadaku?"


" Jawab pertanyaan ku! Apa yang telah kau lakukan terhadap Annisa?" Suara Fery semakin menekan.


" Ke..kenapa? Kenapa kau jadi marah seperti itu! Apa kau perduli kepadanya? Ingat Fer, aku sepupumu bukan dia!" Nyali Maya mulai menciut. Hatinya juga berdecak kesal dengan sikap sepupunya itu.


" Kau memang sepupuku! Aku juga peduli kepadamu. Tapi, jika kau berani bertindak kriminal kepada Annisa! Maka aku juga tak akan segan-segan untuk menghukum mu!" Tatapan Fery semakin mengerikan. Ucapan nya juga terdengar tegas sehingga membuat nyali Maya semakin menciut. Ia tak menyangka jika sepupunya sendiri juga lebih memilih berada di pihak Annisa.


Sehingga kini ia lebih memilih menyimpan rapat-rapat perbuatan nya. Tak ingin jika Fery mengetahui nya.


" Hmm, apa kau memihak kepadanya?" Tanya Maya.


" Ya," Jawab Fery singkat.


" Heh, tidak kusangka. Ternyata gadis bodoh itu berhasil menarik banyak simpati dari laki-laki, termasuk sepupuku sendiri." Maya tersenyum sinis. " Kau tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal yang melampaui batas. Aku tau batasanku." Tambahnya lagi.


" Hmm, syukurlah kalau begitu." Ujar Fery.


" Oya, aku ingin berterima kasih kepadamu karena telah mengizinkan kau untuk menginap di Villa mu. Btw, ternyata Rafka dan Annisa lah yang telah menyewa Villa mu untuk berbulan madu. Jadi aku berterima kasih banyak kepadamu karena kamu aku jadi nggak perlu repot-repot mencari keberadaan mereka." Ucap Maya.


Apa! Jadi anak yang di maksud oleh penyewa kemarin itu adalah Rafka! Ya tuhan.. betapa bodohnya aku yang membiarkan Maya untuk tinggal disana.


Sesal Fery.


 


 


Di Villa yang terletak di pulau XX.


Setelah menikmati makan malam bersama. Rafka menyuruh Annisa untuk naik keatas terlebih dahulu. Sementara, dia sendiri memilih untuk berbicara sebentar dengan Fikar di halaman belakang.


 


 


" Fikar, atur kepulangan kami besok." Pinta Rafka.


" Kenapa buru-buru sekali Tuan? Bukankah anda masih mempunyai waktu satu minggu lagi disini?" Tanya Fikar.


" Ya, tapi sepertinya aku sudah tidak bersemangat lagi." Ujarnya.


" Kenapa? Apakah pelayanan saya kurang memuaskan?"


" Oh, bukan! Pelayanan mu sungguh memuaskan. Cuma ada hal lain yang membuat ku tak bisa terlalu lama lagi disini."


" Hal lain? Apa ini menyangkut tentang kesehatan Nona Annisa?" Tanya Fikar. " Apa Nona mengidap penyakit yang begitu parah Tuan?" Tambahnya lagi.


" Hmm, tidak. Dia baik-baik saja, cuma.." Rafka kemudian terdiam sejenak. " Ah, sudahlah! lagi pula ini urusan pribadiku. Jadi tidak seharusnya aku terlalu banyak menceritakan nya kepadamu." Lanjut Rafka. " Sekarang aku akan kembali ke kamar. Kamu jangan lupa untuk mengurus semuanya besok." Tambahnya lagi.


Fikar mengangguk mengerti. Sedangkan Rafka kini bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kedalam menuju kearah kamarnya.


Setibanya di kamar.


Rafka melihat Annisa sedang menyandarkan tubuh nya disandaran ranjang. Matanya mentapa siaran televisi yang berada tepat di depan nya. Ia sesekali tersenyum saat melihat anak kecil yang bertingkah lucu di acara tersebut sembari mengelus perut nya.


" Kamu lagi lihat apa? kok jadi senyum-senyum gitu?" Tanya Rafka sembari duduk disamping Annisa.


" Nisa lagi lihat anak kecil yang ada di acara itu Bang." Tunjuk nya. " Bukankah anakkecil itu lucu sekali, menggemaskan pula.." Ujar nya.


Mendengar hal itu, membuat Rafka langsung menujukan pandangan nya kearah televisi dan melihat sendiri anak kecil yang di maksud oleh Annisa. Anak lelaki yang berusia lima tahun, berkulit putih dan bertubuh gempal. Membuat penampilan nya sangat menggemaskan ditambah lagi tingkah lucunya yang bisa membuat orang lain tertawa saat melihat nya.


" Benar kan Bang? Anak itu lucu dan menggemaskan kan?" Tanya Annisa kepada Rafka.


" Hmm.." Sahut Rafka singkat. Ia lalu merebahkan tubuhnya disana, tepat disamping Annisa. Mata nya juga tak luput memandangi acara yang di bintangi anak kecil tersebut.


Annisa kemudian kembali memegangi perutnya. Matanya kini menatap kearah Rafka yang masih menonton acara tersebut. Kemudian ia juga mensejajarkan tubuhnya dan berbaring di samping Rafka. Lalu dengan perasaan yang masih malu-malu ia meraih tangan Rafka dan meletakkan nya di perut nya. Membuat Rafka kini mengalihkan pandangan nya dan menatap kearah nya.


" Kamu kenapa? Apa perut mu sakit?" Tanya nya sembari mengerutkan dahinya. Yang membuat wajah Annisa mulai merona karena pertanyaan nya.


" Bu..bukan begitu,"


" Lalu apa? Apa kepalamu kembali pusing?" Rafka lalu meletakkan tangan nya di kepala Annisa.


" Ti..tidak." Annisa menggeleng pelan.


" Terus?" Rafka menatap serius kearah Annisa. Berusaha mencari tau apa yang sedang terjadi terhadap istrinya itu.


Namun, Annisa menunduk malu. Ia tak berani melihat wajah Rafka yang terlalu serius menatap nya. Lalu secara perlahan ia kembali meraih tangan Rafka dan meletakkan nya di perutnya. Sembari berkata.


" Bang.. Ni...Nisa ingin se...segera mempunyai bayi." Ucap nya dengan nada yang sedikit gemetar.


 


BERSAMBUNG


Assalamu'alaikum..


Hi guys, jangan lupa Like dan Vote karya Author ya. Serta berkomentar lah yang positif dan juga sepantasnya. Dukungan dari kalian sangatlah berarti buat Author, Terima kasih.