Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 22


Pria yang berdiri tepat di hadapan Annisa dengan memakai setelan jeans dan kemeja berwarna cream yang di padu padankan dengan jas yang berwarna coklat tua menatap Annisa dengan hangat.


"Dia masih mengingat ku ternyata


"Assalamu'alaikum Nisa." Ucap Dedi sembari tesenyum manis kearah Nisa.


"Wa'alaikum salam." Balas Annisa lembut dengan mengangguk pelan kepala nya,, di sambut senyum hangat yang merekah dari bibir nya.


"Ini benar kak Dedi kan?" Tanya Annisa kembali untuk sekedar memastikan apakah benar pria tampan itu kakak kelas nya sewaktu Sma dahulu.


Dedi mengangguk seraya senyum.


"Iya." Jawab Dedi lembut.


"Kak Dedi, maaf kan Nisa karena hampir saja tak mengenali mu." Ujarnya meminta maaf.


Pasal nya adalah, Dedi dulunya tidak seperti ini. Karena sewaktu Sma badan nya gemuk dan juga wajah nya bulat serta pipi nya juga terlihat seperti bakpao yang baru masak. Sungguh sangat menggemaskan melihat nya waktu itu.


Namun sekarang teman nya yang gemuk sudah menjadi sosok pria tampan dengan tubuh atletis tegap dan juga sekarang sudah berdiri tepat di hadapan nya.


Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Karena semenjak Dedi lulus dari Sma, mereka berpisah. Karena saat itu Dedi harus menekuni pendidikan nya di luar negri.


Tak ada nya komunikasi, membuat hubungan pertemanan mereka kandas di tengah jalan.


Annisa dulu nya adalah adik kelas yang sangat di kagumi oleh Dedi. Mereka sempat berteman, namun setelah lulus Dedi pergi tanpa memberi kabar atau pun mengucapkan selamat tinggal.


"Nggak apa-apa kok Nis, aku maklum jika kamu tidak mengenali ku. Karena jika di ingat dari tubuh ku yang dulu nya gemuk dan pipi ku yang bulat. Hehehe." Ucap Dedu seraya tersenyum santai.


"Kak Dedi ada benar nya sih. Oh ya, kapan kak Dedi pulang ke negara ini? kok nggak pernah ngabarin Nisa?" Tanya Annisa polos.


"Udah beberapa tahun yang lalu Nis, dan sekarang aku sudah menetap di kota ini." Ujar Dedi menjelaskan.


Mendengar itu lantas Annisa mengangguk pelan. Sedangkan Dedi kini menatap nya dengan lembut.


"Semakin dewasa kamu jadi semakin lebih cantik ya Nis." Ucap Dedi memuji.


Sehingga membuat Annisa tersipu malu saat mendengar nya. Kini wajah nya juga terlihat merona, sehingga Dedi pun tersenyum-senyum sendiri di buat nya.


"Nisa-nisa, ternyata kamu belum berubah sama sekali. Meskipun sudah dewasa, sikap mu saja polos seperti dahulu.


Gumam Dedi.


"Haha, Nisa . . Nisa . . kamu itu ternyata masih saja polos seperti dulu ya." Ucap Dedi seraya tersenyum menggoda.


Mendengar ucapan Dedi membuat wajah Annisa semakin merona saja. Sehingga kini ia memilih untuk segera masuk kedalam tanpa ingin melanjutkan kembali perbincangan mereka.


"Kak, Nisa masuk kedalam dulu ya mau belanja." Ucap Annisa bermaksud mengalihkan pembicaraan seraya berniat pergi dari sana.


"Oh gitu, kebetulan aku juga mau masuk kedalam sih! barengan aja yuk." Ajak Dedi yang tak ingin ditinggal Annisa begitu saja. Karena saat ini ia masih ingin bicara banyak terhadap nya.


"Ya sudah kak, yuk." Jawab Annisa.


Kini mereka pun masuk kedalam supermarket tersebut secara bersamaan.


Sehingga saat ini Dedi dan Annisa mulai berjalan beriringan bahkan sudah berdampingan.


Dedi menatap lembut ke arah Annisa. Perasaan yang dulu sempat terpendam seolah kini perlahan muncul seiring dengan pertemuan mereka.


"Nis, kamu mau beli apa?" Tanya Dedi memulai kembali pembicaraan.


"Kalau begitu kita sama, karena aku juga ingin membeli beberapa keperluan ku disini." Sahut Dedi.


"Kalau gitu aku temani kamu milih barang-barang keperluan mu. Terus kamu juga bantuin aku milih barang keperluan ku ya." Ucapnya lagi.


"Tapi kak, Nisa kan nggak tau apa yang kak Dedi butuhin." Ucap Annisa seraya menatap ke arah Dedi.


"Pokok nya kamu temani aja ya." Ucap Dedi sembari tersenyum menatap kearah Annisa.


Annisa hanya mengangguk setuju. Sehingga kini mereka pun saling berdampingan memilih barang-barang yang mereka butuhkan.


Setelah memilih beberapa barang. Tanpa terasa kini tangan Annisa kini mulai penuh dengan berbagai keperluan sehari-hari. Begitu juga dengam Dedi, ia kini juga sudah menenteng satu kantong penuh belanjaan nya.


"Nis, kok kamu belanja banyak sekali sih?" Tanya Dedi yang sedikit heran seraya menatap ke arah Annisa.


"Apa kamu belanja semua keperluan keluarga mu?" Tanya nya lagi penasaran.


Annisa pun kini tersenyum saat mendengar pertanyaan Dedi.


"Iya kak, Nisa belanja semua kebutuhan untuk keluarga kecil Nisa." Jawab nya lembut.


"Maksud mu?" Dedi seolah tak mengerti dengan kalimat yang baru saja di ucapkan Annisa. Sehingga kini ia menatap serius ke arah Annisa yang saat ini berada disamping nya.


"Maksud nya adalah, saat ini Nisa sudah menikah kak." Sahut Annisa.


"Apa! Kamu sudah menikah!" Seru Dedi seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengar nya.


"Iya kak, Nisa udah nikah." Ucap Annisa sembari tersenyum.


"Deg


Jantung Dedi kini berdetak lebih kencang. Saat mendengar wanita sholeha yang kini berada di depan nya saat ini sudah membina rumah tangga.


"Sejak kapan kamu menikah? Kenapa kamu tidak mengabari ku sebelum nya?" Tanya Dedi


"Nisa nikah nya satu minggu yang lalu. Cuma kerabat terdekat aja yang hadir, karena pernikahan kami cukup sederhana." Ucap Annisa.


"Lagi pula bagaimana Nisa mengundang kakak. Jangankan alamat, nomor ponsel aja Nisa nggak punya." Ucapnya lagi.


"Maaf kan aku ya Nis, karena selama ini pergi tanpa memberi kabar untuk mu." Ucap Dedi dengan raut wajah yang tampak menyesal.


"Nggak apa-apa kok kak. Nisa paham, lagipula bukankah sekarang kita sudah bertemu kembali." Ujar nya lembut.


"Oya kak, Nisa haus nih. Cari minum yuk disebelah sana." Ucapnya lagi sembari menunjuk kearah sebuah frezeer yang terletak di dekat pintu kasir.


"Kamu haus? Kalau gitu kita mampir ke Cafe dekat situ aja, sekalian biar bisa santai. Pegel juga tau bawa barang ginian." Ucap Dedi yang kini menunjuk kearah luar supermarket. Karena disana ada sebuah Cafe tempat para muda-mudi berkumpul ria.


"Boleh deh kak." Jawab Annisa.


Kini mereka pun berjalan menyusuri supermarket tersebut.


Namun saat mereka hendak keluar, tanpa sengaja mata Annisa tertuju kepada sosok pria yang tak asing bagi nya. Pria itu berjalan dengan seorang wanita yang kini menggandeng tangan nya dengan mesra.


"Deg


Entah mengapa jantung Annisa tiba-tiba saja berdetak sangat kencang saat menyadari bahwa pria yang kini sedang berjalan sembari bergandengan tangan dengan wanita lain itu adalah suaminya Rafka.


Bersambung