Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 50


Di sepanjang perjalanan masuk ke rumah sakit. Maya tak henti nya berusaha untuk bisa dekat dengan Rafka, Namun seperti nya usaha nya sia-sia. Sikap Rafka bahkan terlihat sangat dingin kepada nya. Ia seolah tak di berikan kesempatan oleh Rafka untuk bisa dekat dengan nya.


"Mas, bisa tidak kamu melihat ku sedikit saja." Ucap Maya yang masih berusaha mendapat simpati Rafka saat mereka hampir sampai di ruang rawat inap Mama nya.


Rafka masih tak bergeming ia seolah tak perduli dengan ucapan Maya sedari tadi yang menginginkan diri nya untuk bisa dekat dengan Rafka seperti dulu. Karena di dalam hati nya saat ini hanya ada Annisa dan tak ingin menyakiti nya.


"Mas, kenapa sikapmu begitu dingin Mas. Apa itu karena dia?" Ucap Maya lagi sembari menatap sinis ke arah Annisa yang kini ada di hadapan nya.


Mereka saat itu telah berhenti. Karena memang ruang rawat inap Mama nya maya sudah sampai, Namun Maya dengan tidak tahu malu nya masih saja mendekati Rafka disana.


"May, aku kesini buat jenguk Tante. Bukan nya ingin ribut dengan mu." Ucap Rafka sembari menatap wajah Maya penuh kesal.


Ia kemudian membuka pintu kamar ruang rawat inap Rumah Sakit tersebut dan setelah itu Rafka pun melangkahkan kaki nya dan masuk kedalam.


Tap tap tap.


Suara langkah kaki Rafka memenuhi isi ruangan. Di lihat nya Mama Maya yang bernama Retno sedang terbaring lemas dengan di bantu selang oksigen Rumah Sakit tersebut.


Rafka meredam suara langkah kaki nya. Ia tak mau kedatangan nya mengganggu Tante Retno yang sedang tertidur pulas di atas ranjang Rumah Sakit. Ia kemudian duduk di kursi yang tersedia di sebelah ranjang Tante Retno sembari menatap nya penuh cemas.


Hingga tak lama kemudian Bu Retno pun terjaga dari tidur nya.


"Maya.." Panggil Bu Retno saat membuka mata.


"Maya ada di luar Tante." Ucap Rafka sembari menatap Bu Retno.


"Nak Rafka, sejak kapan kamu disini?" Ucap Bu Retno saat melihat Rafka yang kini telah duduk di samping nya.


"Baru saja." Ujar Rafka lembut.


"Raf . . kebetulan kamu ada disini." Ujar Bu Retno dengan nada lemah.


"Ya Tante. Tante mau apa bilang saja sama Rafka." Ucap Rafka seraya memegang tangan Bu Retno.


"Raf . . Tante merasa umur Tante sudah tidak lama lagi." Ujar Bu Retno lemah.


"Tante jangan ngomong gitu, Rafka yakin Tante bakalan sembuh jadi tetap semangat ya Tan." Ucap Rafka menyemangati yang di balas senyum lembut oleh Bu Retno.


"Raf . . jika nanti Tante sudah tiada, Tante mohon sama kamu titip Maya dan jaga dia ya." Ujar Bu Retno sembari menatap Rafka penuh harap.


Bukan tanpa alasan Bu Retno berkata seperti itu menitipkan anak nya Maya kepada Rafka. karena selama ini mereka hanya hidup berdua setelah ayah Maya meninggal dunia Lima Tahun yang lalu. Bu Retno menjalani hari - hari dengan bekerja mengelola usaha Travel yang di tinggal kan Almarhum suami nya. Ia menekuni bisnis itu sendiri sedangkan Maya sama sekali tak peduli. Maya beralasan bahwa itu bukan bidang nya maka dari itu ia sama sekali tak tertarik dalam bisnis Travel yang di bangun Ayah nya.


Bu Retno tau betul sifat anak nya Maya. Ia masih bertingkah manja serta kekanak - kanakan dalam kehidupan sehari - hari nya. Bukan nya mereka tak memiliki kerabat yang bisa menjaga Maya jika kelak ia sudah tiada. Ada Pak Agus adik kandung Bu Retno Ayah nya Feri yang tinggal satu kota dengan nya. Namun istri dari adik nya itu terlihat kurang bersahabat dengan mereka. Jangankan menitipkan anak nya Maya, pada saat Bu Retno sedang kekurangan serta meminjam uang kepada adik nya saja Mama nya Feri terlihat sangat keberatan bahkan berani menyindir nya di hadapan Pak Agus suami nya.


"Jangan lupa di ganti tuh duit nya. Jangan berfikir mentang - mentang ini adikmu jadi kakak bisa seenak nya minjam tanpa mikirin cara ngembaliin nya." Ucap Istri Pak Agus yang bernama Bu Ningsih pada saat itu.


Semenjak kejadian itu Bu Retno tak pernah lagi meminta bantuan adik nya itu. Hati nya sakit jika mengingat kalimat yang di keluarkan Bu Ningsih saat ia meminta bantuan kepada adik nya.


Maka dari itu Bu Retno memilih Rafka untuk menjaga anak nya Maya. karena setau Bu Retno Rafka adalah kekasih dari anak nya. Dan Maya juga pernah bercerita kepada nya jika mereka akan menikah. Maka dari itu Bu Retno pun mantap jika ia harus meninggalkan anak nya kepada Rafka. Karena di mata Bu Retno, Rafka adalah sosok pria yang baik, Dewasa serta tulus dalam mencintai anak nya selama ini.


***


Sementara itu.


Di luar kamar ruang rawat inap Rumah Sakit. Maya berdiri tepat di depan pintu melarang Annisa untuk ikut masuk kedalam dan menjenguk Mama nya.


"Kamu tunggu disini, Nggak usah ikut masuk." Ucap Maya sembari mendelikkan mata nya kepada Annisa.


Ya allah . . berikanlah aku kekuatan dalam menghadapi gadis yang ada di depan ku ini.


Gumam Annisa dalam hati sembari menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan berusaha meredam emosi nya saat melihat sikap Maya yang begitu arogan terhadap nya. Sikap Maya ini sangat berbanding terbalik jika Rafka ada disana.


"Tapi May, aku hanya ingin menjenguk Mama mu." Ujar Annisa yang tetap ingin masuk kedalam.


"Nggak usah.!! Lagi pula kamu itu nggak kenal sama Mama ku jadi nggak usah pura - pura sok baik gitu di depan ku." Ucap Maya dengan nada yang menjengkelkan.


Annisa pun kemudian mengalah dengan mengurungkan niat baik nya. Ia lalu memilih duduk di kursi yang tersedia disana sembari menunggu Rafka suami nya.


Sedangkan Maya masih berdiri di depan pintu seolah mengawasi agar Annisa tak masuk kedalam untuk menjenguk Mama nya.


Tak lama berselang Rafka yang sedari tadi di dalam kemudian keluar dari sana.


"May, kenapa kamu nggak masuk kedalam. Tante manggil kamu tuh." Ujar Rafka saat melihat Maya yang sedang berdiri di depan pintu.


"Loh Nis, Kamu kenapa nggak masuk kedalam tadi?" Tanya Rafka saat melihat Annisa yang sedang duduk di kursi yang ada di luar ruangan kamar.


Bersambung