
Hari semakin sore. Pemandangan pantai semakin indah. Diujung sana terlihat langit mulai memerah. Annisa tak ingin beranjak, seperti sore kemarin. Ia ingin menikmati pemandangan sore menjelang magrib disana. Menikmati indah nya sang alam saat hendak berganti malam.
"Bang, kita bentar lagi pulang nya ya." Annisa berharap. Dengan suara manja ia memegangi bahu Rafka.
Disana masih ada Maya yang selalu siap memperhatikan tingkah keduanya.
"Aku sih terserah kamu sayang. Tapi coba tanya Fikar dulu deh. Dia keberatan nggak?" Rafka memalingkan wajah nya kearah Fikar. Mencari jawaban darinya.
"Terserah Nona Annisa saja." Jawab Fikar.
Namun sepertinya tidak dengan Ainun dan Rani. Mereka sepertinya ingin segera kembali kerumah nya masing-masing.
"Mba, Mas. Maaf, Ainun dan Rani pamit pulang duluan ya. Soalnya nggak enak sama Emak dan Bapak dirumah." Ucap Ainun.
"Ya sudah, kalian duluan saja. Oya Fikar, tolong lamu antar Ainun dan Rani ya." Annisa menoleh kearah Fikar. Namun saat Fikar ingin segera berdiri diatas putih nya pasir Ainun menyela.
"Nggak usah Mas, Ainun dan Rani bisa pulang berdua. Lagi pula rumah kami dekat dari sini." Ucap Ainun," Yuk, Ran "Ajak nya seraya meraih tangan Rani yang ada disamping nya.
"Assalamu'alaikum." Ucap keduanya sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
"Wa'alaikum salam," jawab Annisa, Rafka, dan juga Fikar secara serentak. Sedangkan Maya hanya tersenyum melihat kepergian mereka.
"Hmm, akhirnya mereka pergi. Setidaknya sekarang aku bisa duduk dekat dengan Fikar. Agar tidak terlalu jengah melihat Rafka dan Annisa yang semakin mesra dihadapan ku.
Ia lalu menggeser tempat nya. Yang awalnya duduk diatas bongkahan kayu yang usang, kini merapat diantara Fikar dan juga Rafka. Ia duduk ditengah-tengah mereka, diatas pasir putih yang menghiasi bibir pantai.
"Ya tuhan May, mesti sebegitunya kah kamu harus mendekatiku. Sehingga membuat rendah dirimu sendiri.
Rafka menatap Maya dengan tatapan sinis. Terlihat sekali ia tidak suka saat Maya duduk di sebelahnya. Lalu ia semakin mendekatkan tubuhnya disamping Annisa. Memeluk pinggang nya hingga membuat wajah Maya memerah melihat kemesraan nya.
"Tega sekali kamu Mas. Bahkan saat aku rela merendahkan diriku dengan mengganti posisi duduk ku diantara kamu dan Fikar. Kamu bisa-bisa nya bermesraan seperti itu didepan ku.
Maya akhirnya memalingkan muka akibat tak tahan melihat kemesraan mereka. Lalu kini ia mencoba untuk berbicara dengan Fikar.
"Hai Fikar," Sapanya.
"Ya Maya, ada apa?" Tanya Fikar.
"Enggak ada kok. Aku hanya ingin sedikit berbincang-bincang dengan mu." Ujar Maya seraya mengembangkan senyum nya.
"Oh, silahkan." Fikar juga membalas senyum Maya.
"Kamu sejak kapan disini?" Tanya Maya.
"Oh, dua tahun sejak lulus SMA aku pindah kesini. Yah karena aku tidak sanggup membayar biaya kuliah waktu itu. Jadi aku memutuskan untuk pulang kekampung halaman orang tuaku." Ujar Fikar.
"Oh, sayang sekali ya. Padahal kamu itu murid yang cukup pintar loh disekolah. Oya, kenapa kamu nggak cari kerjaan di kota S saja." Maya kembali melemparkan pertanyaan.
"Waktu itu susah sekali mendapat pekerjaan disana. Jika pun ada gaji nya hanya cukup untuk makan sehari-hari aja. Itupun belum dihitung dengan biaya transportasi ketika pergi kesana." Fikar menjelaskan.
"Oh, gitu ya. Sayang sekali sih padahal kamu udah sempat kuliah," Ujar Maya.
"Oh.. jadi gitu. Oya, kamu kan sudah lulus kuliah nih, kenapa nggak nyari kerja kantoran gitu. Kenapa kamu lebih milih jadi tour guide seperti ini." Maya kini menatap Fikar dari samping.
"Karena aku sudah mencintai pekerjaan ku. Aku sedang nyaman menjalani pekerjaan ini, dimana aku bisa membawa orang lain bersenang-senang ketempat yang tak pernah mereka kunjungi sebelumnya. Apalagi jika orang-orang itu merasa bahagia dengan pasangan nya saat menikmati keindahan alam yang tersajikan seperti saat ini. Aku juga ikut turut merasa bahagia karena nya." Ungkap Fikar panjang lebar. Saat ini ia juga melirik kearah Annisa dan Rafka yang tampak begitu menikmati pemandangan alam senja itu. Jelas sekali kebahagiaan begitu tersirat diantara keduanya, sehingga membuat Fikar yang ada disana tersenyum melihat nya.
***
Hari sudah mulai gelap. Adzan magrib sudah selesai berkumandang. Annisa, Rafka dan Fikar buru-buru pergi dari sana. Sedangkan Maya sudah pamit duluan pulang ke Vila milik Feri sepupunya. Sebenarnya ia tak rela meninggalkan Annisa dan Rafka tanpa pengawasan nya. Namun ia sudah mendapatkan nomor ponsel Fikar sewaktu berbincang tadi. Sehingga akan mudah baginya menanyakan alamat mereka nanti dan juga tujuan akan pergi kemana mereka keesokan harinya.
Setibanya di Vila.
"Tuan, Nona, saya masuk duluan ke kamar ya." Ujar Fikar seraya tersenyum.
"Ya Fikar, makasih ya karena sudah menemani kita jalan-jalan mengitari desa sore ini." Balas Annisa.
"Ya Fik, makasih ya." Tambah Rafka.
"Iya sama-sama, lagi pula ini sudah tugas saya melayani Tuan dan Nona selama disini." Ujar Fikar.
"Ya, ya sudah, sana buruan masuk. Salat magrib nya jangan sampe ketinggalan," Timpal Annisa.
"Ya sudah, ayo kita pergi." Ajak Rafka seraya menarik tangan Annisa dari sana.
Fikar pun masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Annisa dan Rafka berjalan menuju kearah kamar nya. Entah mengapa tiba-tiba saja kini wajah Rafka terlihat kesal. Sehingga membuat Annisa bingung karena nya.
Setibanya didalam kamar.
"Bang, kenapa tadi Abang menarik tangan Nisa kasar begitu sih!" Protes Annisa seraya memegangi pergelangan tangan kirinya yang tampak memerah.
"Sana pergi bersihkan tubuhmu. Waktu magrib tidak lama lagi," Ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Annisa.
Annisa kemudian berjalan kearah kamar mandi.
"Ada apa dengan Abang, sebelumnya ia tampak biasa saja. Tapi setelah Fikar masuk kedalam kamar nya, wajahnya langsung terlihat kesal seperti itu.
Kini ia mulai menghidupkan shower dan berdiri dibawah nya. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Annisa pun kemudian kembali kedalam kamar dengan memakai jubah handuk nya.
Ia berjalan melangkah memasuki kamar. Terlihat disana Rafka duduk diatas sofa sembari memainkan ponselnya. Saat melihat Annisa yang sudah memasuki kamar dan berjalan kearah kamar mandi. Tanpa menunggu lagi Rafka pun segera masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya disana.
Beberapa menit kemudian.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia segera keluar dari sana dan kembali masuk kedalam kamar.
Terlihat Annisa sudah memakai mukena nya dan duduk menunggu diatas ranjang. Sedangkan Rafka kini berjalan mendekati lemari untuk mengambil pakaian nya.
"Bang, disini baju nya udah Nisa siapin." Ucap Annisa lembut.
Tanpa menjawab sepatah kata pun dari Annisa. Ia lalu mengambil pakaian nya dan mengenakan nya. Setelah selesai memakai baju dan sarung nya. Rafka lalu berdiri diatas sajadah yang sebelumnya telah di bentangkan oleh Annisa. Lalu kini merekapun kembali melakukan salat berjama'ah.