
" Nisa!" Rafka setengah berteriak memanggil nama Annisa. Melihat wajah Annisa yang kini terlihat pucat membuat nya panik seketika.
Bagaimana tidak, wanita yang kini sangat dicintainya itu tiba-tiba saja ambruk di hadapan nya. Entah apa penyebabnya, padahal sedari tadi Annisa masih terlihat baik-baik saja. Namun entah mengapa kini ia ambruk seketika.
Rafka lalu menggendong tubuh Annisa. Ia lantas membawa tubuh gadis itu menepi dari sana. Disana di bawah pohon cermai Rafka meletakkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati. Fikar yang menyaksikan Annisa yang terkulai lemas kini berlari menuju kearah mereka. Wajah panik nya juga terlihat. Namun, ia tak berani mnyentuh tubuh Annisa karena disana ada seseorang yang lebih berhak dari dirinya.
" Nona Annisa kenapa Tuan?" Tanya Fikar dengan nada suara yang begitu panik.
" Entahlah Fikar, tiba-tiba saja ia pingsan saat tadi kami berdiri disana." Tunjuk Rafka kearah tempat dimana ia dan Annisa tadi berdiri.
" Apa kamu membawa sesuatu yang bisa berguna untuk saat ini?" Tanya Rafka kemudian.
Fikar mulai berfikir. Kira-kira apa yang saat ini bisa ia pakai untuk membuat Annisa sadar dari pingsan nya.
" Kenapa kamu diam saja! cepat! bawakan aku sesuatu yang berguna sekarang!" Teriak nya.
Mendengar teriakan Rafka. Tidak membuat Fikar marah, ia justru segera bergegas dari sana menuju kearah mobil dan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sekarang. Sementara itu, Rafka mulai menggosok-gosok tangan Annisa dan juga kakinya. Ia juga memeluk nya, berusaha memberinya kehangatan. Rafka berfikir, mungkin saja Annisa pingsan karena terlalu lama bermain air sehinggat membuat tubuh nya kedinginan dan tak tahan hingga jatuh pingsan.
Namun, sayang nya sepertinya semua itu tampak sia-sia. Annisa masih terlelap dalam tidurnya. Tubuhnya tak menunjukkan tanda-tanda apapun yang menandakan jika ia akan siuman. Sementara Fikar masih tak terlihat, sedangkan Rafka sudah sangat panik disana. Tanpa ingin menunggu lama lgi, ia lalu kembali menggendong tubuh istrinya dan berjalan dengan tertatih-tatih menuju kearah mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
" Fikar!" Teriak nya.
" Ya Tuan.." Wajah Fikar masih terlihat panik.
" Bukakan pintu nya. Aku ingin kita membawanya ke klinik terdekat sekarang!" Rafka berjalan tergesa-gesa menuju ke pintu mobil.
Sementara Fikar. Begitu ia mendengar perintah dari Rafka. Dengan segera ia membukakan pintu mobilnya lalu membantu Rafka untuk membawa Annisa masuk kedalam mobil. Kini Rafka duduk sembari memangku kepala Annisa. Dibelainya pucuk kepala Annisa secara perlahan, ia juga tak hentinya menatap wajah Annisa dengan raut wajah penuh dengan kekhawatiran.
Fikar segera melajukan mobilnya meninggalkan area Air terjun Seulanga menuju kearah klinik terdekat. Sesekali ia juga memperhatikan kearah belakang melalui kaca spion depan nya. Sungguh sangat terlihat kecemasan dari raut wajah Rafka.
Tak lama kemudian. Setelah mereka berpacu dengan waktu. Kini tibalah mereka di sebuah klinik yang ada disana. Rafka dengan segera membopong tubuh Annisa masuk kedala klinik. Dengan ditemani Fikar ia masuk kedalam secara bersamaan.
***
Sementara itu.
Maya kini telah berada di bandara. Setelah menempuh perjalan selama lebih dari dua jam didalam sebuah kapal. Kini akhirnya ia tiba di bandara dengan selamat dan sedang menunggu penerbangan nya. Disana ia tak terlalu khawatir lagi, karena sebelum kepergian nya. Maya sudah berhasil menambahkan obat agar Annisa tidak mengandung anaknya Rafka untuk sementara ini. Setidaknya, bulan madu Annisa dan Rafka kali ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Jadi ia masih mempunyai begitu banyak kesempatan untuk kembali dekat dengan Rafka. Begitu pikirnya.
Drrt,drrt.
Ponselnya bergetar, lalu sesaat kemudian mengeluarkan alunan lagu yang sengaja ia setel ketika adanya panggilan masuk. Reno, Maya kembali meletakkan ponsel nya saat melihat nama kontak yang saat ini tengah menelpon nya.
Ia begitu malas mengangkat panggilan tersebut. Karena baginya saat ini hubungan nya dengan Reno telah berakhir. Jadi tak ada lagi yang perlu di bicarakan bukan. Begitu pikirnya.
Namun, sepertinya Reno sama sekali tak putus asa. Ia terus menghubungi Maya meskipun berkali-kali Maya menolak panggilan itu. Hingga akhirnya setelah Maya merasa bosan menolak nya. Kini dengan terpaksa ia pun mengangkat panggilan dari Reno.
" Hallo ada apa?!" Ketus Maya begitu menerima panggilan Reno.
" Maya.. syukurlah akhirnya kamu menjawab panggilan dariku." Ujar Reno dengan nada lembut.
" Tapi, bukankah sekarang akhirnya kamu menjawab panggilanku?" Ujar Reno. " Nah, itu berarti kamu juga masih peduli denganku bukan?" Tambahnya lagi.
" Reno! Apa kamu tau? Aku mengangkat panggilan mu, bukan karena aku mempunyai perasaan terhadapmu! Tapi, itu semua karena aku merasa terganggu karena kamu terus saja menelpon ku!" Seru Maya. Suaranya terdengar meninggi kali ini. Namun, Reno masih saja tersenyum saat mendengarnya.
" Aku tak perduli dengan itu. Yang pasti sekarang kamu mengangkat panggilan ku kan!" Ujar nya. " Kamu sedang berada dimana sekarang?" Tanya Reno kemudian.
" Bukan urusanmu!"
" Sepertinya kamu sedang berada di tempat umum ya? Aku tau karena saat ini terdengar begitu banyak suara disana." Ujar Reno.
" Sudah berapa kali aku katakan! BUKAN URUSAN MU!!" Tegas Maya dengan nada yang agak tinggi. Ia lalu menutup panggilan tersebut dan mengganti nada dering nya dengan mode diam. Agar ia tak lagi mendengar jika Reno kembali menelpon nya. Ia juga memasukkan ponselnya kedalam tas. Sehingga, ia juga tak akan lagi melihat jika Reno kembali menelpon nya.
" Huffft! Gila! Aku masih tak menyangka, kenapa juga aku bisa memiliki hubungan dengan pria seperti itu. Sungguh pria yang tak tahu malu!" Gumam nya pelan. Ia kemudian bangkit dari duduknya saat mendengar suara pemberitahuan jika sebentar lagi pesawat yang ditumpanginya akan segera berangkat.
Sementara itu di pulau XX.
Annisa masih terbaring lemah diatas ranjang kecil di sebuah klinik yang ada di desa itu. Ia masih tak sadarkan diri saat ini. Namun, dokter yang ada disana sudah mendapat analisa, apa penyebab yang membuat Annisa tak sadarkan diri saat ini.
" Jadi apa penyebab istri saya tiba-tiba pingsan seperti ini Dok?" Tanya Rafka dengan penuh rasa kekhawatiran.
" Jadi begini, sebelumnya saya mau bertanya terlebih dahulu kepada anda." Dokter wanita yang menangani Annisa kini mulai membuka suara. " Apa anda tau jika Nona Annisa meminum obat, lebih tepat nya obat pencegah kehamilan?" Tanya Dokter wanita yang bernama Siera.
" Apa? Obat pencegah kehamilan?" Rafka mengerutkan kening nya. Ia tak mengerti mengapa dokter itu menanyakan hal ini kepadanya. Karena setaunya ia dan Annisa sama sekali tak menunda masalah momongan.
" Setau saya, istri saya sama sekali tak pernah meminum apapun yang berbau dengan obat yang dokter maksud." Ujar Rafka.
Sementara Dokter Siera tampak menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari Rafka. Ia lalu menaikkan kedua tangan nya keatas meja dan menerangkan apa yang telah di ketahuinya.
" Menurut pemeriksaan saya. Nona Annisa pingsan karena hari ini ia terlalu banyak mengonsumsi obat pencegah kehamilan. Itu membuat kondisi tubuh nya menurun, sehingga saat Nona Annisa merasa lelah tubuhnya menjadi ambruk seketika, hingga membuatnya tak sadarkan diri sekarang." Tutur Dokter Siera mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
Jeeeedddeeerrr!!
Bagaikan di sambar petir Rafka seketika teetegun begitu mendengar ucapan yang baru saja di katakan Dokter Siera. Selama ini setaunya ia sama sekali tak menyuruh Annisa untuk mengonsumsi obat tersebut. Bahkan menurutnya, Annisa juga tau itu. Tau jika ia tak boleh mengonsumsi itu, karena harapan terbesar kedua orang tua mereka saat ini adalah menimang seorang cucu dari mereka. Bahkan Bundanya Rafka dengan sengaja merencanakan bulan madu ini agar mereka segera memberinya seorang cucu begitu pulang dari sana.
BERSAMBUNG
Hi guys . .
jangan lupa Like dan Vote karya Author ya. Karena dengan seperti itu Ra akan lebih bersemangat lagi dalam mengupdate episode selanjutnya. Terima kasih.