
Diruang dimana Ibu Maya dirawat.
Ketika melangkah masuk kedalam, Maya melihat Ibunya yang setengah tak sadarkan diri melawan penyakitnya. Semakin hari kondisi Ibunya kian memburuk, tubuhnya semakin lemah. Bahkan untuk bernafas saja harus dibantu
dengan alat pernafasan yang ada disana.
“ Mama!”
Maya seketika berlari menuju kearah ranjang Ibunya, dimana saat ini wanita tua itu terbaring lemah disana. Sementara Reno melangkah pelan menyusuri ruangan itu, lalu kini ia memilih duduk disalah kursi yang ada disana
membiarkan Maya dan Ibunya bersama.
“ Ma, Mama!” Seru Maya yang sama sekali tak direspon oleh Ibunya. “ Ma, ini Maya Ma.” Di raihnya tangan Ibunya lalu kini ia terlihat mengenggam lembut tangan itu.
Perlahan jari-jari tangan Ibu Maya bergerak, menandakan jika ia merespon kehadiran Maya. Mata nya juga perlahan terbuka dan menoleh kearah Maya.
“ Ma-maya.” Suara itu terdengar begitu lemah.
“ Mama, Maya disini Ma!” Serunya sembari mengelap air matanya.
Melihat kedatangan putri semata wayang nya itu membuat Bu Retno tersenyum.
“ Kamu kemana saja Nak?” Ucap nya lemah.
“ Maya ada Ma, beberapa hari belakangan ini Maya sedang mengurus pernikahan Maya dengan Reno.” Katanya tak ingin memberatkan fikiran Ibunya.
“ Pernikahan? Re-reno?”
Bu Retno terlihat bingung.
“ Ma, sebenarnya hubungan Maya dan Mas Rafka sudah lama berakhir. Bahkan Mas Rafka sudah menikah beberapa bulan yang lalu.” Kata Maya menjelaskan. “ Mama tau istrinya? Wanita itu Annisa yang kemarin datang kesini bersama Mas Rafka.” Jelas nya.
Bu Retno menutup matanya perlahan, lalu kembali membukanya.
“ Syukurlah jika Rafka sudah menikah, dan juga gadis itu terlihat sangat baik dan cocok dengan nya.” Kata Bu Retno.
Bahkan Mamaku sendiri saja yang baru sekali bertemu dengan Annisa memujinya seperti ini dan terlihat merestui pernikahan meraka. Annisa, sebenarnya ilmu pemikat apa sih yang kau gunakan sehingga membuat orang-orang memandang mu dengan sempurna.
Gumam Maya.
Terlihat jelas raut ketidaksukaan dari wajahnya saat mendengar Mamanya sendiri memuji Annisa.
“ Oya Nak, katanya kamu akan menikah dengan Reno. Siapa pria itu?” Tanya Bu Retno.
Reno yang saat ini ada disana kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kearah calon mertuanya.
“ Assalamu’alaikum Ma, perkenalkan saya Reno calon suami anak Mama, Maya.”
Reno memperkenalkan diri dengan sopan, suaranya juga terdengar sangat lembut kala itu. Membuat siapaun yang mendengar nya seketika menaruh simpatik terhadapnya.
Lelaki sialan! Pintar sekali kau mencari muka dihadapan Mamaku.
Gerutu Maya.
“ Mama, sebentar lagi kami akan menikah. Hari ini secara langsung saya Reno meminta restu dari Mama untuk merestui pernikahan kami. Reno janji akan menjaga Maya dan membahagiakan nya.” Ucap Reno.
Bu Retno yang mendengar itu perlahan menyungginggkan senyumnya.
“ Alhamdulillah akhirnya anak Mama akan menikah juga.” Kata Bu Retno. “ Maya adalah anak yang sangat manja, bahkan tingkah nya juga sangat kekanak-kanakan. Terlebih lagi dia juga sering melakukan suatu tindakan diluar nalar, yang membuat dirinya sendiri dirugikan.”
Bu Retno menghentikan kalimat nya. Ditariknya nafasnya dalam-dalam sebelum ia kembali melanjutkan perkataan nya. Mungkin itu karena kondisinya yang saat ini sangat lemah, sehingga ia membutuhkan jeda dalam setiap pengucapan kalimatnya. Sementara Reno terlihat sabar menunggu ucapan nya.
“ Reno, meskipun ini kali pertama kita bertemu. Namun Mama yakin kamu pasti adalah pria yang baik.” Bu Retno kembali menarik nafas nya dalam-dalam lalu mengeluarkan nya secara perlahan. “ Tolong jaga Maya untuk
Mama ya, bimbinglah dia kejalan yang lebih baik. Jadikan dia pribadi yang lebih dewasa lagi, agar kedepannya dia tidak lagi melakukan sesuatu di luar nalar.” Kata Bu Retno.
“ Tentu, pasti, Reno janji.” Reno kini terlihat memegang tangan Bu Retno. Sementara Maya terlihat tidak suka dengan kedekatan diantara mereka.
***
Di kediaman Rafka.
“ Ibu sedang buat apa?” Tanya Susi sembari melirik kearah minuman yang sedang diaduk Ibunya.
“ Oh, ini.” Kata Bik Yam. “ Ini tu ramuan jamu yang di berikan Nyonya besar buat Non Annisa.” Sambung Bik Yam.
“ Ramuan? Ramuan apa?” Susi semakin penasaran.
“ Katanya sih ramuan penyubur kandungan.” Tukas Bik Yam.
“ Penyubur kandungan? Berarti jika minum jamu ini maka Nona Annisa akan segera mempunyai bayi?” Dengan polos Susi bertanya.
“ Iya, Nyona besar sepertinya sudah tidak sabar lagi untuk mempunyai cucu. Makanya dia suruh Ibu bikini ramuan ini setiap malam untuk Nona.” Jelas Bik Yam.
“ Ooo begitu.” Susi mengangguk pelan.
Bik Yam kini terlihat sudah selesai mengaduk minuman nya. Lalu kini ia mengarahkan minuman buatan nya itu kearah Susi anaknya.
“ Nih, tolong kamu bawakan segera kekamar Nona. Nggak pake lama dan awas tumpah.” Wanti Bik Yam.
“ Baik Bu.” Sahut Susi.
Dengan patuh kini ia menjalankan tugasnya membawakan minuman buatan Ibunya itu menuju ekarah kamar Tuan nya.
Didalam kamar.
Terlihat Annisa yang kini sudah mengganti pakaian nya dengan piyama tidur. Lalu setelah itu ia tampak menuju kearah ranjang dan perlahan duduk disana.
“ Sayang, kok kamu pakai pakaian yang ini sih?” Rafka terlihat mengerutkan dahinya sembari melirik kearah piyama lengan panjang yang dikenakan Annisa.
“ Loh, emang nya kenapa? Biasanya juga Nisa pakai ini untuk tidur.” Kata Annisa.
“ Iya, tapi aku….”
Belum lagi sempat ia menyelasaikan kalimatnya tiba-tiba saja suara ketukan terdengar dari luar.
Tok! Tok! Tok!
“ Siapa ya malam-malam begini?”
“ Entahlah Bang, mungkin Bik Yam.” Kata Annisa.
Lalu kini ia berdiri lagi dan hendak melangkah membukakan pintunya.
“ Sayang, kamu disini saja. Biar aku saja yang membukanya.” Rafka menarik tangan Annisa dan menahan nya.
“ Enggak apa-apa Bang, biar Nisa saja.” Ujar Annisa.
“ Kamu kan baru duduk, jadi biar aku saja ya.” Pinta Rafka yang dengan segera bangkit dari tempatnya.
Lalu kini ia tampak merapikan sedikit pakaiannya, lalu bergegas segera pergi menuju kearah pintu untuk membukanya.
Ceklek!
Pintu terbuka, dilihat Susi sudah berdiri disana dengan sebuah nampan yang berisikan secangkir minuman diatas nya. Melihat Rafka yang membukanya seketika Susi menundukkan pandangan nya atak berani menatap.
“ Tuan, ini ramuan yang dibuatkan Bik Yam untuk Nona.” Katanya sembari menyerahkan nampan yang berisikan air tersebut.
Rafka lalu menampan itu dari tangan Susi.
“ Hmm, makasih ya.” Ucap nya lembut.
“ sama-sama Tuan. Kalau begitu saya permisi.” Ujar Susi sembari berlalu pergi dari sana.
BERSAMBUNG
Assalamu'alaikum🙏
Hi guys... hari ini Ra mau promo sebuah karya yang menurut Ra top markotop banget deh. Dari segi tulisan dan juga alur yang Ra yakin kalian juga pasti akan suka. Jangan lupa mampir ya di novel yang ada di bawah ini.👇