
Setelah kepergian Annisa. Kini saat nya bagi Rafka untuk
menghubungi Fikar. Ia lalu kembali mematikan televisinya dan mulai meraih
ponsel yang ia letakkan diatas sofa, tepat disamping nya. Dilihatnya nomor
Fikar, lalu ia memencet panggilan untuk menghubunginya.
Tut tut tut
Telepon mulai tersambung dan tanpa menunggu lam Fikar
menjawab panggilan nya.
“ Assalamu’alaikum.” Fikar memberikan salam.
“ Wa’alaikum salam.” Balas Rafka. “ Fikar, kamu pasti sudah
tau kan kenapa aku menelpon secara langsung.” Ucap Rafka.
“ Ya, saya tau. Tuan pasti ingin menanyakan tentang
kebenaran pesan yang telah saya kirimkan itu kan.” Ucap Fikar.
“ Ya, ceritakan padaku bagaiman kamu bisa mengetahui serta
mendapatkan bukti tentang semua ini.”
“ Baiklah, saya akan menceritakan nya.” Balas Fikar.
Ia lalu menceritakan awal mula saat ia tanpa sengaja
menemukan botol putih tersebut. Hingga bagaimana saat ia memeriksa rekaman cctv
yang ada di Villa. Fikar juga memberi tahukan tentang sikap Maya saat berada
didapur, yang ia anggap kurang ajar karena telah berani menarik jilbab Annisa
hingga tanggal dari kepalanya. Meskipun awalnya ia tak ingin ikut campur dalam
hal tersebut. Namun, karena perbuatan Maya saat ini yang ia anggap sudah sangat
keterlaluan itu pun akhirnya ia beberkan kepada Rafka.
Rafka seketika marah mendengar hal itu. Ia sempat memarahi
Fikar karena tidak memberitahukan nya lebih awal tentang kejadian didapur waktu
itu kepadanya. Namun, Fikar menjelaskan. Jika Annisa saja tidak membeberkan hal
itu kepada suaminya. Bagaimana mungkin ia mengatakan nya. Bukankah itu urusan
diantara kedua wanita. Jadi, tidak mungkin kan ia harus ikut campur dalam hal
itu.
Namun, lain hal nya dengan masalah kali ini. Yang Fikar
anggap ia harus memberitahukan kebenaran nya. Karena ini sudah menyangkut
dengan keutuhan rumah tangga seseorang. Fikar mengetahui dari dokter yang
memeriksa tentang obat yang dibawanya itu, jika seseorang meminumnya dalam
dosis yang amata sangat tinggi. Maka wanita tersebut akan sulit untuk memiliki
anak, karena obat itu berdampak sangat besar terhadap rahim wanita yang meminum
nya.
Maka dari itu ia memutuska untuk memberitahukan hal itu
kepada Rafka. Karena ia yakin kepulangan Rafka yang mundur seminggu dari jadwal
karena masalah Annisa yang tiba-tiba saja pingsan waktu itu, dan Fikar yakin sekali
itu semua terjadi karena reaksi obat yang diberikan Maya kedalam air yang
diminum Annisa.
“ Meskipun aku sedikit kecewa kepadamu karena tidak
memberitahukan ku tentang Maya yang menarik jilbab Nisa secara paksa itu.
Namun, aku mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepadamu karena telah
mau meluangkan waktumu untuk menyelidiki tentang ini semua sekaligus
mendapatkan bukti nya.” Ucap Rafka panjang lebar.
“ Sama-sama Tuan. Sudah seharusnya saya memberitahukan hal
ini kepada anda. Karena saya telah mengetahuinya, terlebih lagi Maya yang ingin
mencelakai Nona Annisa. Maka akan sangat berdosa jika saya tidak memberitahukan
nya. Saya yakin jika saya memberutahukan hal ini kepaada Tuan, maka Tuan akan
bertindak tegas kepadanya.” Ujar Fikar.
“ Ya, kamu benar. Kali ini aku harus bersikap tegas dengan
Maya.” Kata Rafka. “ Baiklah, sekali aku ucapkan terimakasih yang banyak atas
bukti serta fakta yang kamu berikan untukku. Assalamu’alaikum.”
“ Sama-sama Tuan, wa’alaikum salam.”
Rafka kemudian menutup panggilan nya. Ia lalu menyandarkan kepalanya disandaran
sofa seraya merenungi tentang keraguan yang sempat terbesit didalam fikiran nya
dengan Annisa.
Ya tuhan, sungguh aku
sngat berdosa karena sempat meragukan tentang kesetiaan istriku sendiri.
Gumam nya.
***
Waktu telah menunjukkan pukul 09:30 Wib. Setelah selesai
Rafka diruang tengah. Setibanya disana, ia melihat sama sekali tak orang
disana.
Kemana Abang? Apa
mungkin Abang sudah kembali kekamar?
Annisa bertanya-tanya didalam hatinya.
Lalu setelah itu ia kemudian beralih melangkah menuju kearah
anak tangga untuk naik keatas dan menuju kearah kamarnya. Kini tak lama
kemudian Annisa akhinya tiba didepan pintu kamar mereka. Ia kemudian memegang
gagang pintu dan berniat membukanya. Namun, belum lagi sempat ia membukanya.
Tiba-tiba saja Rafka membuka pintu itu dari dalam sehingga membuat Annisa
terdorong masuk dan jatuh kedalam pelukan Rafka.
“ Ehm-ehm, kamu berusaha menggodaku ya.” Ucap Rafka seraya
memeluk tubuh istrinya.
“ Hah! Siapa yang sedang menggoda!” Seru Annisa yang tak
terima dengan pernyataan Rafka.
“ Ya kamulah, terus siapa lagi. Jelas-jelas kamu sendirikan
yang melompat kedalam pelukan ku.” Ujar nya seraya tersenyum. Padahal ia tau
persis jika tadi itu tanpa sengaj mereka membuka pintu secra bersamaan sehingga
membuat Annisa tanpa sengaja jatuh kedalam pelukan nya.
“ Eh, mana ada! Tadi itu Nisa nggak sengaja. Saat Nisa ingin
membuka pintunya Abang malah menariknya sehingga Nisa jatuh begini kedalam
pelukan Abang.” Annisa mencoba menjelaskan kejadian yang sesungguhnya.
“ Jadi, kamu nuduh aku dengan sengaja menarik daun pintu
agar kamu jatuh kedalam pelukanku gitu.” Rafka mengubah tatapan matanya menjadi
dingin seketika.
“ Bukan seperti itu maksud Nisa, tadi itu Nisa..” Suara
Annisa mulai bergetar, wajahnya juga terlihat seperti orang yang merasa bersalah
saat melihat Rafka yang begitu saja merubah ekspresi wajahnya. Sehingga membuat
pria itu tak tega melihatnya.
“ Ssstt! Sudahlah, aku tau. Tadi itu kamu nggak sengaja kan?”
Rafka menaikkan kedua alisnya. “ Aku hanya bercanda kepadamu, kamu jadi
langsung serius gitu.” Rafka menyentil hidung Annisa.
“ Auuww! Sakit tau!” Annisa mengusap lenbut hidung nya. “
Abang tau, saat Abang menunjukkan tatapan dingin seperti tadi ke Nisa. Nisa
takut jika Abang marah.” Ujar Annisa.
“ Oya, kenapa?” Tanya Rafka yang saat ini masih memeluk
tubuh Annisa.
“ Ya, karena wajah Abang terlihat begitu menyeramkan saat
menunjukkan ekspresi seperti itu! Hahahah.” Annisa melepaskan diri dari Rafka.
Ia kemudian lari menuju kearah kamar mandi dan masuk kedalam nya.
Menyeramkan? Apakah
itu benar?
Guman Rafka.
Ia lalu berjalan menuju kearah cermin dan melihat memasang
tatapan dingin nya dan melihat sendiri ekspresi nya.
Apakah seperti ini
menyeramkan? Sepertinya tidak, aku merasa wajahku terlebih lebih keren dengan memasang
ekpresi wajah seperti ini.
Gumam nya seraya menatap dirinya sendiri dihadapan cermin.
Bahkan kini ia tersenyum sendiri disana.
BERSAMBUNG
Hi guys . .
Hari ini Ra crazy up hingga tiga episode nih. Jadi jangan
lupaa tinggalkan jejak kalian dengan cara Vote, Like dan juga komentar
membangun nya ya. Bagi kalian yang sudah belum Like, silahkan scrool kembali
keatas dan Like secara berurut ya. Dan juga bagi kalian yang belum Vote, maka
alangkah baik nya jangan lupa tinggalkan Vote kalian, dan juga bagi kalian yang
sudah Vote jangan lupa juga untuk Vote sebanyak-banyak nya ya. Agar Ra semakin
bersemangat dalam mengupdate cerita sebanyak mungkin. Terimakasih semuanya,
happy reading! ^_^