Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 108


Setelah kepergian Annisa. Kini saat nya bagi Rafka untuk


menghubungi Fikar. Ia lalu kembali mematikan televisinya dan mulai meraih


ponsel yang ia letakkan diatas sofa, tepat disamping nya. Dilihatnya nomor


Fikar, lalu ia memencet panggilan untuk menghubunginya.


Tut tut tut


Telepon mulai tersambung dan tanpa menunggu lam Fikar


menjawab panggilan nya.


“ Assalamu’alaikum.” Fikar memberikan salam.


“ Wa’alaikum salam.” Balas Rafka. “ Fikar, kamu pasti sudah


tau kan kenapa aku menelpon secara langsung.” Ucap Rafka.


“ Ya, saya tau. Tuan pasti ingin menanyakan tentang


kebenaran pesan yang telah saya kirimkan itu kan.” Ucap Fikar.


“ Ya, ceritakan padaku bagaiman kamu bisa mengetahui serta


mendapatkan bukti tentang semua ini.”


“ Baiklah, saya akan menceritakan nya.” Balas Fikar.


Ia lalu menceritakan awal mula saat ia tanpa sengaja


menemukan botol putih tersebut. Hingga bagaimana saat ia memeriksa rekaman cctv


yang ada di Villa. Fikar juga memberi tahukan tentang sikap Maya saat berada


didapur, yang ia anggap kurang ajar karena telah berani menarik jilbab Annisa


hingga tanggal dari kepalanya. Meskipun awalnya ia tak ingin ikut campur dalam


hal tersebut. Namun, karena perbuatan Maya saat ini yang ia anggap sudah sangat


keterlaluan itu pun akhirnya ia beberkan kepada Rafka.


Rafka seketika marah mendengar hal itu. Ia sempat memarahi


Fikar karena tidak memberitahukan nya lebih awal tentang kejadian didapur waktu


itu kepadanya. Namun, Fikar menjelaskan. Jika Annisa saja tidak membeberkan hal


itu kepada suaminya. Bagaimana mungkin ia mengatakan nya. Bukankah itu urusan


diantara kedua wanita. Jadi, tidak mungkin kan ia harus ikut campur dalam hal


itu.


Namun, lain hal nya dengan masalah kali ini. Yang Fikar


anggap ia harus memberitahukan kebenaran nya. Karena ini sudah menyangkut


dengan keutuhan rumah tangga seseorang. Fikar mengetahui dari dokter yang


memeriksa tentang obat yang dibawanya itu, jika seseorang meminumnya dalam


dosis yang amata sangat tinggi. Maka wanita tersebut akan sulit untuk memiliki


anak, karena obat itu berdampak sangat besar terhadap rahim wanita yang meminum


nya.


Maka dari itu ia memutuska untuk memberitahukan hal itu


kepada Rafka. Karena ia yakin kepulangan Rafka yang mundur seminggu dari jadwal


karena masalah Annisa yang tiba-tiba saja pingsan waktu itu, dan Fikar yakin sekali


itu semua terjadi karena reaksi obat yang diberikan Maya kedalam air yang


diminum Annisa.


“ Meskipun aku sedikit kecewa kepadamu karena tidak


memberitahukan ku tentang Maya yang menarik jilbab Nisa secara paksa itu.


Namun, aku mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepadamu karena telah


mau meluangkan waktumu untuk menyelidiki tentang ini semua sekaligus


mendapatkan bukti nya.” Ucap Rafka panjang lebar.


“ Sama-sama Tuan. Sudah seharusnya saya memberitahukan hal


ini kepada anda. Karena saya telah mengetahuinya, terlebih lagi Maya yang ingin


mencelakai Nona Annisa. Maka akan sangat berdosa jika saya tidak memberitahukan


nya. Saya yakin jika saya memberutahukan hal ini kepaada Tuan, maka Tuan akan


bertindak tegas kepadanya.” Ujar Fikar.


“ Ya, kamu benar. Kali ini aku harus bersikap tegas dengan


Maya.” Kata Rafka. “ Baiklah, sekali aku ucapkan terimakasih yang banyak atas


bukti serta fakta yang kamu berikan untukku. Assalamu’alaikum.”


“ Sama-sama Tuan, wa’alaikum salam.”


Rafka kemudian menutup panggilan nya.  Ia lalu menyandarkan kepalanya disandaran


sofa seraya merenungi tentang keraguan yang sempat terbesit didalam fikiran nya


dengan Annisa.


Ya tuhan, sungguh aku


sngat berdosa karena sempat meragukan tentang kesetiaan istriku sendiri.


Gumam nya.


***


Waktu telah menunjukkan pukul 09:30 Wib. Setelah selesai


Rafka diruang tengah. Setibanya disana, ia melihat sama sekali tak orang


disana.


Kemana Abang? Apa


mungkin Abang sudah kembali kekamar?


Annisa bertanya-tanya didalam hatinya.


Lalu setelah itu ia kemudian beralih melangkah menuju kearah


anak tangga untuk naik keatas dan menuju kearah kamarnya. Kini tak lama


kemudian Annisa akhinya tiba didepan pintu kamar mereka. Ia kemudian memegang


gagang pintu dan berniat membukanya. Namun, belum lagi sempat ia membukanya.


Tiba-tiba saja Rafka membuka pintu itu dari dalam sehingga membuat Annisa


terdorong masuk dan jatuh kedalam pelukan Rafka.


“ Ehm-ehm, kamu berusaha menggodaku ya.” Ucap Rafka seraya


memeluk tubuh istrinya.


“ Hah! Siapa yang sedang menggoda!” Seru Annisa yang tak


terima dengan pernyataan Rafka.


“ Ya kamulah, terus siapa lagi. Jelas-jelas kamu sendirikan


yang melompat kedalam pelukan ku.” Ujar nya seraya tersenyum. Padahal ia tau


persis jika tadi itu tanpa sengaj mereka membuka pintu secra bersamaan sehingga


membuat Annisa tanpa sengaja jatuh kedalam pelukan nya.


“ Eh, mana ada! Tadi itu Nisa nggak sengaja. Saat Nisa ingin


membuka pintunya Abang malah menariknya sehingga Nisa jatuh begini kedalam


pelukan Abang.” Annisa mencoba menjelaskan kejadian yang sesungguhnya.


“ Jadi, kamu nuduh aku dengan sengaja menarik daun pintu


agar kamu jatuh kedalam pelukanku gitu.” Rafka mengubah tatapan matanya menjadi


dingin seketika.


“ Bukan seperti itu maksud Nisa, tadi itu Nisa..” Suara


Annisa mulai bergetar, wajahnya juga terlihat seperti orang yang merasa bersalah


saat melihat Rafka yang begitu saja merubah ekspresi wajahnya. Sehingga membuat


pria itu tak tega melihatnya.


“ Ssstt! Sudahlah, aku tau. Tadi itu kamu nggak sengaja kan?”


Rafka menaikkan kedua alisnya. “ Aku hanya bercanda kepadamu, kamu jadi


langsung serius gitu.” Rafka menyentil hidung Annisa.


“ Auuww! Sakit tau!” Annisa mengusap lenbut hidung nya. “


Abang tau, saat Abang menunjukkan tatapan dingin seperti tadi ke Nisa. Nisa


takut jika Abang marah.” Ujar Annisa.


“ Oya, kenapa?” Tanya Rafka yang saat ini masih memeluk


tubuh Annisa.


“ Ya, karena wajah Abang terlihat begitu menyeramkan saat


menunjukkan ekspresi seperti itu! Hahahah.” Annisa melepaskan diri dari Rafka.


Ia kemudian lari menuju kearah kamar mandi dan masuk kedalam nya.


Menyeramkan? Apakah


itu benar?


Guman Rafka.


Ia lalu berjalan menuju kearah cermin dan melihat memasang


tatapan dingin nya dan melihat sendiri ekspresi nya.


Apakah seperti ini


menyeramkan? Sepertinya tidak, aku merasa wajahku terlebih lebih keren dengan memasang


ekpresi wajah seperti ini.


Gumam nya seraya menatap dirinya sendiri dihadapan cermin.


Bahkan kini ia tersenyum sendiri disana.


BERSAMBUNG


Hi guys . .


Hari ini Ra crazy up hingga tiga episode nih. Jadi jangan


lupaa tinggalkan jejak kalian dengan cara Vote, Like dan juga komentar


membangun nya ya. Bagi kalian yang sudah belum Like, silahkan scrool kembali


keatas dan Like secara berurut ya. Dan juga bagi kalian yang belum Vote, maka


alangkah baik nya jangan lupa tinggalkan Vote kalian, dan juga bagi kalian yang


sudah Vote jangan lupa juga untuk Vote sebanyak-banyak nya ya. Agar Ra semakin


bersemangat dalam mengupdate cerita sebanyak mungkin. Terimakasih semuanya,


happy reading! ^_^