Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 72


"Abang kok bengong? Katanya mau pulang?" Annisa menengadah kearah Rafka.


"Eh, iya. Yuk masuk." Rafka tersadar dalam lamunan nya saat mendengar suara Annisa.


Kini merekapun masuk kedalam mobil secara bersamaan.


Sebelum menjalankan mobilnya. Rafka menoleh terlebih dahulu kearah Annisa. Menatap paras cantik milik istrinya dari arah samping. Merasa di perhatikan, membuat Annisa mulai salah tingkah di tempat nya.


"Ada apa dengan Abang. Kenapa sedari tadi dia terus memperhatikan ku. Apakah ada yang salah denganku. Penampilan ku mulai kusut, atau ada noda di wajah ku?


Annisa bertanya-tanya didalam hati. Ia kemudian memperhatikan penampilan nya sendiri, namun tak ada yang salah disana. Lalu apa yang terjadi, kenapa Rafka terus memandangnya. Annisa kemudian menurunkan jendela pintu mobil. Ia lalu bercermin melalui spion samping. Dilihatnya disana, tak ada apa-apa diwajah nya. Noda, bahkan bekas-bekas yang lain nya tak tampak disana, wajahnya masih cantik dan berseri seperti sebelumnya ia berangkat dari rumah.


"Diwajah ku tidak ada apa-apa kok. Penampilan ku juga nggak ada masalah. Terus kenapa Abang memandangi ku seperti itu. Apa yang salah dengan ku.


Annisa masih bertanya-tanya didalam hati. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Rafka.


"Abang kenapa? Kok dari tadi Nisa ngerasa Abang itu merhatiin Nisa terus deh. Apa ada yang salah dengan Nisa?" Ucap Annisa seraya mengerutkan dahinya.


Deg.


"Hah," Rafka menaikkan kedua alisnya."Nggak kok," Sanggah nya. Kini ia merasa bodoh, seperti anak kecil yang sedang ketahuan mencuri mangga oleh pemilik pohon. Sehingga ia buru-buru memalingkan wajah nya menghadap kearah depan. Lalu tanpa menunggu lagi, ia kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan bergegas pergi dari sana.


"Kenapa aku jadi deg-degan gini ya, saat Annisa memergoki ku sedang menatap dirinya. Perasaan ini hampir sama seperti yang ku alami dulu kepada Maya. Namun kali ini jauh berbeda. Jantung ku berdetak lebih tak karuan dari biasanya. Mungkinkah aku.. Aaa sudahlah, jalani saja dulu. Toh Nisa juga istriku, cepat atau lambat aku juga harus mencintainya.


Gumam Rafka.


"Bang!" Panggil Annisa, sehingga membuat Rafka membuyarkan bayangan nya.


"Ya.." Sahut Rafka singkat.


"Kita mampir ke penjual sate itu dulu ya." Ujar Annisa sembari menunjuk kearah penjual sate.


"Kamu masih mau sate?" Tanya Rafka.


"Enggak sih, tapi Nisa ingin beli." Ujar Annisa.


"Mau makan dirumah?" Tanya Rafka kembali.


"Enggak,"


"Loh, terus untuk apa sate nya?" Rafka mulai mengerutkan dahinya seraya menatap kearah Annisa dengan tatapan bingung.


"Nisa ingin beli untuk Pak Sofyan, Bik Yam dan juga anak nya." Jelas Annisa.


Mendengar hal itu membuat Rafka kemudian tersenyum. Ia masih tak menyangka jika istrinya itu bisa memiliki hati yang begitu lembut.


"Ya sudah terserah kamu." Ucap Rafka sembari tersenyum.


Mendapat persetujuan dari Rafka. Membuat


Annisa pun kemudian turun dari dalam mobil dan membeli sate yang diinginkan nya.


Sedangkan Rafka menunggu nya didalam mobil.


"Nisa.. Apakah kamu seorang peri yang berbalut manusia. Kenapa hatimu lembut sekali, masih bisa mengingat membelikan makanan untuk para pekerja dirumah yang bahkan kamu belum kenal.


Melihat sikap Annisa yang begitu lembut, membuat Rafka semakin ingin dekat dengan nya. Agar ia dapat mengenal nya lebih jauh lagi, dan bisa memantapkan hatinya disana.


***


"Pak Sofyan, nih ada sate. Tadi beli di Taman Kota, dimakan ya pak." Annisa menyerahkan sebungkus sate kepada Pak Sofyan.


"Makasih Non, bapak jadi nggak enak nih ngerepotin Non sama Aden."


Pak Sofyan sedikit canggung.


"Enggak kok pak. Tadi Nisa sama Abang lagi makan disitu. Sekalian deh disuruh bungkus buat Bapak sama Bik Yam dan juga anak nya." Ujar Annisa lembut.


Mereka pun kemudian masuk kedalam rumah. Sedangkan Pak Sofyan mulai membuka bungkus sate lalu memakan nya.


"Lumayan nih buat ganjel perut. Mereka berdua memang pasangan yang serasi. Sama-sama baik hatinya." Ucap Pak Sofyan sembari menyantap satenya.


Ketika sudah masuk kedalam rumah.


"Abang duluan saja ya." Ujar Annisa.


"Loh, emang nya kamu mau kemana?" Tanya Rafka sembari menatap bingung.


"Nisa mau nganterin ini ke Bik Yam dan juga Anaknya. Kira-kira jam segini mereka masih ada di dapur nggak ya?" Tanya Annisa.


"Nggak tau. Coba cari aja, kalau nggak ada kamu langsung kekamar nya saja. Tuh arah sana." Ujar Rafka sembari menunjuk kearah kamar asisten rumah tangga mereka.


Bik Yam dan Annisa belum pernah bertemu sebelumnya, karena tadi sore setelah Bunda dan Ibunya pulang. Annisa langsung masuk kedalam kamar. Hingga akhirnya saat Bik Yam dan Ranum datang, Rafka lah yang menyambut nya.


"Oh, ya sudah. Nisa kesana cari Bik Yam dulu ya." Ujarnya sembari berlalu meninggalkan Rafka.


Setibanya di ruang tengah. Annisa berjalan menelusuri lorong tengah. Karena disana letak kamar yang ditempati Bik Yam dan juga anaknya. Terlihat, pintu halaman belakang terbuka, sehingga membuat Annisa beralih pergi kesana. Mungkin saja sekarang bik Yam dan juga Ranum sedang bersantai disana pikirnya. Benar saja, saat ini ternyata Ibu dan anak itu tengah asyik mengobrol disana.


"Bik Yam," Sapa Annisa dengan lembut.


Bik Yam menoleh kearah Annisa.


"Ya," Jawab nya singkat.


"Perkenalkan saya Annisa." Annisa tersenyum lembut.


"Nona Annisa.." Lirih nya.


Dengan sedikit canggung ia kemudian berdiri dari duduk nya, serta sedikit menundukkan kepalanya saat menghadap kearah Annisa. Sedangkan Ranum masih duduk di lantai sambil terpatung melihat kearah Annisa.


Gumam Ranum seraya mendongak kan kepalanya menatap kearah Annisa.


Namun kemudian Bik Yam mencolek bahu anaknya hingga membuat nya tersadar.


"Ada apa Bu?" Tanya nya polos.


"Ayo berdiri seperti Ibu." Bisik Bik Yam.


Ranum pun kemudian bangkit dari duduk nya dan melakukan seperti apa yang di perintahkan Ibunya. Melihat itu, Annisa kemudian tersenyum kearah keduanya sehingga membuat Ibu dan anak itu menjadi sungkan.


"Bik, nggak usah formal seperti itu. Nisa jadi nggak enak. Masa Bibi yang umurnya jauh lebih tua harus menunduk di hadapan Nisa." Annisa menatap lembut. Sedangkan Bik Yam masih merasa malu serta canggung di tempat nya.


"Hai.. ini pasti Ranum ya." Sapanya sembari mengalihkan pandangan nya kearah Ranum. Ranum pun kemudian membalas tatapan Annisa.


"Iya Non.." Jawabnya singkat.


"Manis sekali. Oya, nih ada dua bungkus sate. Dimakan ya." Ujar Annisa lembut. Lalu ia menyerahkan kantong plastik yang berisi dua bungkus sate tersebut kepada Ranum.


Dengan perasaan senang, Ranum kemudian menerima pemberian Annisa.


"Terima kasih, Nona baik sekali." Ucap Ranum seraya tersenyum gembira.


"Sama-sama." Sahut Annisa."Ya sudah kalau gitu Nisa tinggal ya Bik. Jangan lupa di habiskan satenya." Ujar nya lembut seraya berlalu dari sana.


"Alhamdulillah Bu, dapat sate." Ranum tampak gembira. Sudah lama ia menginginkan sate dan baru sekarang ia bisa mendapatkan nya. Itupun karena kemurahan hati sang majikan.


"Iya nak alhmdulillah." Ucap Bik Yam.


"Ternyata majikan kita orangnya baik sekali ya Bu, lembut lagi." Ucap Ranum sembari membuka bungkus satenya.


"Iya, makanya kita harus selalu bersyukur karena Allah sudah memberikan kita majikan yang baik seperti Non Annisa dan juga Tuan Rafka. Udah gitu bisa tinggal disini tanpa perlu mikirin sewa kontrakan." Ucap Bik Yam.


Ranum baru berusia 15 tahun. Namun ia sudah tidak lagi bersekolah karena kendala biaya. Ibunya yang janda serta pekerjaan nya yang seorang buruh kasar, hanya mampu menghasilkan sedikit uang untuk makan mereka sehari-hari saja. Hari itu mereka hampir diusir dari kontrakan karena tak bisa membayar uang sewa. Lalu Pak Sofyan datang membawa kabar, jika Rafka ingin mereka tinggal di rumahnya dan bekerja disana sebagai asisten rumah tangga.


Bak seperti terselamatkan. Tak hentinya Bik Yam mengucapkan syukur hari itu. Hingga kini ia bersama anaknya bisa ada disana. Itu semua mereka anggap sebagai kemurahan hati dari Tuan Rafka.


Kini mereka berdua pun mulai menyantap satenya dengan rasa bahagia.


Didalam kamar.


Rafka membuka kancing kemeja yang dipakai nya. Lalu melepasnya dan melempar nya di atas sofa. Kini ia mulai melangkahkan kakinya menuju kearah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sementara itu.


Annisa yang kini telah tiba disana kemudian berjalan kearah ranjang. Saat melewati sofa, dilihatnya disana ada kemeja Rafka yang tergeletak begitu saja. Annisa kemudian mengambilnya, dan menggantung nya di tempat gantungan baju.


Kini Rafka sudah keluar dari dalam kamar mandi. Ia melihat Annisa sudah ada didalam kamar nya sedang menggantung pakaian nya.


Kemudian ia berjalan menuju kearah ranjang nya hanya dengan bertelanjang dada. Kini ia sudah duduk disana sembari terus memperhatikan istrinya.


"Nisa.." Panggil Rafka.


Annisa menoleh kearah Rafka.


"Ya Bang," Sahut nya.


"Sini duduk bersamaku." Ucap Rafka sembari menepuk-nepuk ranjang disebelah nya.


"Sekarang?" Tanya Annisa yang masih berdiri di tempat nya.


"Nisa-nisa.. Kamu ini lucu sekali ya.


Rafka menggelengkan kepala saat mendengar jawaban Annisa. Ia kemudian berdiri dari duduk nya. Lalu berjalan kearah Annisa dan meraih tangan nya.


"Apa kamu ingin berdiri disini hingga besok. Enggak kan," Ucap Rafka sembari menuntun Annisa menuju ke ranjang nya.


"Aku ingin kamu duduk disini sekarang." Ujar nya sesaat Annisa telah duduk disana.


Sedangkan Annisa menunduk malu saat mendapat kan perlakuan yang menurutnya sangat istimewa itu.


Ia tak berani bertanya apapun hingga akhirnya Rafka kembali membuka percakapan mereka.


"Nis, sebenar nya ada yang ingin aku bicarakan dengan mu." Ujar nya dengan nada lembut.


"Apa?" Sahut Annisa.


"Sebenar nya tadi sore sebelum pulang, Bunda ngasih aku 2 buah tiket." Ucap Rafka menatap tajam.


"Tiket?" Annisa menatap heran.


"Ya, tiket." Ujar Rafka.


"Tiket apa?" Annisa kembali bertanya.


"Tiket liburan ke sebuah pulau yang ada di negara ini." Ucap Rafka.


"Untuk apa?" Annisa masih tak mengerti dengan ucapa Rafka. Sehingga kini ia menatap bingung.


"Nisa, apa kamu masih tidak mengerti. Haruskah aku menjelaskan keinginan Bunda yang menginginkan kita berbulan madu kesana.


Gumam Rafka.


Mungkin Annisa memang benar-benar gadis yang sangat polos. Sehingga dia masih tak mengerti dengan maksud semua ini. Sehingga kini Rafka memilih untuk menerangkan nya secara detail.


"Nisa, maksud Bunda ku adalah. Dia ingin kita berdua berbulan madu kesana. Karena dia sudah tak sabar ingin menimang seorang cucu darimu." Ucap Rafka.


Ia akhirnya menjelaskan sejelas-jelas nya kepada Annisa sehingga kini membuat Annisa tertegun di tempat nya.