Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 140


Hari itu Annisa dan Rafka telah bersiap-siap untuk pergi. Koper yang sudah di persiapkan terlihat berjejr rapi didepan pintu kamar. Gamis modern ia kenakan lengkap bersama hijab nya. Sedangkan Rafka berdandan casual seperti biasanya.


Hari ini mereka akan berlibur ke luar negri. Berbulan madu untuk yang kedua kalinya. Yang pastinya akan jauh lebih indah dari sebelumnya, karena taka da bayang-bayang Maya sang mantan kekasih dari Rafka.


Dari lantai atas, Annisa melihat suda ada kedua anggota keluarga dari Annisa dan juga Rafka. Mereka terlihat sedang berbincang-bincang, entah apa yang mereka perbincangkan. Namun yang pasti dari raut wajah mereka tersirat kebahagiaan disana.


“ Lihat, mereka terlihat begitu senang. Pasti saat ini mereka sedang membicarakan tentang kita.” Kata Rafka.


Annisa menoleh.


“ ih, sok tau.” Ucap Annisa manja.


“ Iya benar, ntar ya jika kita sudah tiba di lantai bawah. Kamu pasang telinga kamu untuk mendengar perbincangan mereka.” Ujar Rafka.


Annisa tak menjawab, dengan berpegangan pada tangan Rafka. Perlahan ia terus menuruni anak tangga hingga tak lama kemudian tibalah mereka di lantai bawah, tepat di ruang keluarga. Dipasang nya telinga seperti yang di bilang Rafka tadi, lalu ia berusaha mendengar dengan jelas perbincangan apa yang tengan kedua orang tua mereka bicarakan.


“ Hahahaha! Besan benar, dulu di zaman kita bulan madu ya di kamar aja.” Kata Ibu Annisa.


Seketika wajah Annisa merona saat mendengar nya. Sementara Rafka kini tampak tersenyum disamping nya.


“ Benar kan yang aku bilang.” Bisik Rafka, yang membuat wajah Annisa semakin bersemu merah.


“ Ehm.”


Dengan langkah pasti kini Rafka memantapkan langkahnya mendekat kearah area ruang keluarga itu.


“ Rafka, Nisa. Kalian sudah siap?” Tanya Bunda.


“ Udah dari tadi Bunda.” Ucap Rafka sembari tersenyum.


“ Annisa, sini Nak!” Tangan Bunda terlihat melambai mengisyaratkan agar Annisa mendekat kearah nya.


Annisa masih berdiri di samping Rafka pun kini melangkah kearah Bunda.


“ Ini, nanti kamu jangan lupa minum disana ya.” Terlihat Bunda menyerahkan sekotak kapsul obat kepada Annisa.


Annisa menerima nya.


“ Ini apa Bunda?” Tanya nya tak mengerti dengan apa yang di berikan mertua nya.


“ Ini tuh obat penyubur kandungan, Bunda sengaja memesan nya khusus dari Dokter kenalan Bunda untuk kamu.” Kata Bunda.


“ Ooo.” Annisa menganggukkan kepalanya pelan.


“ Ehm, Bunda ini ya. Sungguh tidak sabaran menimang cucu dari kami.” Timpal Rafka.


Mendengar kalimat itu membuat Annisa terdiam.


Bagaimana ini? Bagaimana jika aku tidak bisa memenuhi keinginan mereka? Mengingat dulunya aku pernah meminum obat pencegah kehamilan yang di berikan Maya.


Di tatap nya wajah Rafka, Ibu, Bunda, Ayah serta Abi Rafka. Terlihat wajah sendu setelahnya.


“ Sayang, kamu kenapa?” Tanya Rafka.


Seketika Annisa tersadar.


“ Eh, eng-enggak kenapa-napa Bang!” seru nya kemudian. “ Ayah, Ibu, Nisa kangen.” Kata nya sembari menoleh kearah kedua orang tuanya. Lalu memeluknya secara bergantian.


“ Ayah sudah tidak sakit lagi kan?” Tanya nya kepada Ayah.


Membuat Ayah tersenyum kepadanya.


“ Kapan Ayah sakit? Ayah selalu sehat kok, yak an Bu.” Toleh nya kearah Ibu.


Ibu tersenyum.


“ Hmm, iya.” Kata Ibu. “ Nisa, kamu yang baik ya disana. Layani suamimu dengan baik, meskipun saat ini kalian sedang berada diluar negri.” Ucap Ibu kepada putrinya.


“ Iya Bu.” Sahut Annisa lembut.


“ Ibu nggak usah khawatir. Anak Ibu selalu melayani serta merawat Rafka dengan baik, makasih ya Pak, Bu sudah mau memberikan Annisa kepada Rafka.” Timpal Rafka dengan tutur katanya yang sopan.


Membuat Ayah dan Ibu tersenyum di buat nya.


“ Jaga anak Ayah baik-baik ya Nak.” Kata Ayah sembari menepuk pelan bahu Rafka. Semntara Ibu terlihat memegangi lengan putrinya.


“ Tentu saja Pak Besan, jika Rafka tidak menjaga nya dengan baik. Maka dia sendiri yang akan rugi, mau di cari kemana lagi istri sebaik Annisa ini. Sudah cantik, baik, sholeha pintar pula.” Kata Bunda.


Seperti biasanya, mendengar pujian yang dilontarkan kepadanya. Membuat Annisa tertunduk malu.


“ Kalau Rafka tidak menjaga mantu ku ini dengan baik, maka dia akan berurusan langsung denganku.” Sambung Abi.


Mendengar kalimat Abi tersebut membuat wajah Annisa yang sedari tadi sudah merona kini kian bersemu. Rona di wajah nya kian terpancar jelas dari wajahnya yang putih, apalagi saat ia hanya memakai make up seadanya.


“ Sudah-sudah, jangan di puji lagi. Anak Ibu jadi malu nih.” Sambut Ibu seraya mengusap lembut bahu putrinya.


“ Hmm, kita berhubung tak lama lagi pesawat yang kita berdua tumpangi akan berangkat. Maka sekarang kita berangkat sekarang ya, nanti didalam mobil di sambung lagi pembicaraan nya.” Ujar Rafka menyela dengan sopan.


Kini mereka pun bersiap-siap beranjak dari sana. Berjalan keluar dari rumah Rafka, lalu setibanya disana terlihat sebuah mobil yang berwarna hitam memasuki area pekarangan rumah. Terlihat dua orang turun dari sana, dan itu ternyata Dedi dan juga Winda.


Mereka datang secara bersamaan sehingga membuat kedua orang tuanya yang ada disana tampak terkejut seketika. Terlihat saat ini kedua orang tua itu mengerutkan dahinya menatap kearah putrinya dan juga lelaki yang bersamanya.


BERSAMBUNG


Assalamu'alaikum semuanya. Sembari menunggu Annisq dan Rafka up, mohon sekiranya untuk mampir ke karya yang ada di bawah ini👇 Ceritanya recomended banget. Ra jamin pasti kalian suka👍🏻 Jangan lupa mampir ya, happy reading.