
Malam itu. setelah perdebatan yang terjadi kini annisa memilih untuk memantapkan hati nya agar tak terlalu berharap kepada rafka suami nya. sedangkan rafka ia hanya menyesali setiap apa yang telah ia lakukan terhadap nisa.
entah mengapa kini perasaan rafka begitu tak karuan setiap kali ia mengingat akan sikap nya yang begitu dingin terhadap nisa. terlebih lagi perasaan nya kini menjadi tak menentu saat ia berhadapan langsung dengan nya.
rafka kini membaringkan tubuh nya sembari menatap langit - langit kamar yang ada di atas nya. fikiran nya melayang tak tentu arah, kini bayangan nisa selalu muncul saat ia mulai memejamkan mata. rafka tak bisa tidur, fikiran nya terganggu oleh perbuatan nya sendiri. bagaimana tidak, jika dia tidak melakukan itu. mungkin sekarang ini ia tak harus mengalami kejadian seperti ini.
***
pagi ini cuaca mendung dan suasana di luar rumah pun mulai lembab saat gerimis mulai turun secara perlahan.
seperti biasa nya annisa memasak makanan kesukaan rafka dan kini semua nya sudah tersedia di atas meja.
rafka kemudian muncul saat nisa berniat ingin memanggil nya ke kamar nya dan kemudian dia mengurungkan niat nya saat melihat suami nya yang kini sudah berada disana.
rafka berusaha tersenyum saat berhadapan dengan annisa namun mulut nya terasa kelu saat ia bertatapan langsung dengan nya. sehingga kini ia pun mengurung kan niat nya.
annisa berjalan mendekat menghampiri suami nya yang kini sudah duduk di kursi nya. seperti biasa ia menjalankan kewajiban nya namun pagi ini ada yang berbeda.
annisa hanya diam tanpa suara sewaktu ia melayani suami nya sehingga suasana canggung pun tercipta pagi itu.
" kenapa dia begitu dingin kepada ku? apakah ia masih marah kepada ku?
gumam rafka dalam hati.
setelah selesai menyantap sarapan nya rafka berdiri dan kemudian ia berinisiatif mengumpulkan semua piring - piring kotor dan membawa nya ke wastafel sehingga membuat annisa merasa bingung.
" tumben abang berinisiatif seperti ini.
gumam annisa sembari berjalan ke arah wastafel dan berniat mencuci piring - piring kotor nya.
" biar aku yang mencuci nya." ucap rafka sembari menatap ke arah istri nya.
annisa mengerutkan dahi nya saat mendengar kata - kata yang keluar dari mulut rafka.
emang nya apa dia bisa?
gumam nya sembari berjalan menjauh dan memperhatikan dari jauh pekerjaan yang kini di lakukan suami nya sambil mengelap meja makan.
ternyata abang bisa cuci piring juga.
gumam nya lagi sembari terus mengelap seluruh meja makan. setelah pekerjaan nya selesai kini annisa kembali ke arah wastafel berniat membantu suami nya namun ternyata rafka juga sudah selesai dengan pekerjaan nya.
" huufft sudah siap nih." ucap rafka sembari menyapu keringat yang ada di kening nya.
" nisa," ucap rafka yang kini menatap annisa lekat - lekat.
annisa hanya diam tanpa menjawab
" nis, kamu masih marah sama aku?" ucap nya yang kini menatap sayu.
" marah? untuk apa?" jawab nisa
" karena aku telah menyakiti hati mu." ujar rafka menatap lekat - lekat wajah istri nya itu.
" nisa, abang minta maaf ya." ujar nya lembut sembari memegang tangan annisa
jantung annisa berdegup kencang saat rafka menyentuh tangan nya dengan lembut. namun ia kemudian menarik tangan nya saat mengingat kejadian tempo hari di depan rumah sakit.
" maaf, nisa belum bisa bang." ujar nya ringkas namun cukup untuk mewakili semua nya.
setelah dilihat nya semua nya telah bersih dan rapi. ia pun kini memilih pergi meninggalkan tempat itu.
maaf bang karena untuk saat ini nisa belum bisa maafin abang.
gumam nya sembari berlalu pergi meninggalkan rafka sendirian disana.
***
ting tong ting tong
bel berbunyi menandakan ada seseorang yang sedang menunggu di luar. annisa yang sedang menyapu halaman belakang kemudian bergegas dengan sedikit berlari menuju ke arah pintu masuk berniat membuka kan pintu kepada tamu yang datang.
siapa ya? apa itu kak dedi?
gumam nya sembari terus berjalan ke arah depan.
" ceklek "
pintu terbuka dan disana sudah ada dua orang yang sedang menunggu yaitu pria dan wanita. annisa menatap kedua nya dengan silih berganti dan seperti nya wajah itu sangat tidak asing bagi nya.
" maya , feri " ucap nya saat pertama kali melihat kedua nya.
" hai nis, apa kabar." sapa feri yang kini sedang berdiri di sebelah kanan maya.
" alhamdulillah baik." jawab nisa singkat
" hai nisa, kenalin aku maya." ujar maya tersenyum tipis sembari mengulurkan tangan nya.
" hai maya." sahut nisa seraya membalas uluran tangan maya dan menggenggam nya dengan lembut.
" hah, ternyata ini saingan ku. mas rafka sengaja menikahi gadis seperti ini hanya untuk membalas ku. sungguh tidak sepadan jika aku di sandingkan dengan nya. kalau melihat nisa yang seperti ini sih seperti nya tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk bisa mendapatkan kembali hati mas rafka.
gumam maya sembari menatap sinis ke arah nisa yang kini berdiri di hadapan nya.
nisa dan maya sebelum nya memang sudah pernah bertemu. namun mereka belum pernah berkenalan secara langsung seperti ini. itu di sebabkan karena nisa yang memilih menghindar karena ia tak mau merusak suasana pertemuan kedua insan yang ia ketahui saling mencintai dan juga karena maya yang tak ingin tau tentang nisa yang kini ia anggap sebagai saingan nya.
hingga sampai hari ini mereka berdua di pertemukan secara langsung oleh keadaan yang memaksakan maya harus datang kerumah yang dulu nya menjadi impian nya bersama rafka.
" oya nis, apakah kami tidak di perbolehkan untuk masuk kedalam?" tanya maya sembari menengok ke dalam rumah melalui pintu yang sedikit terbuka.
" oh ya, silahkan masuk." ujar nisa lembut sembari membuka lebar pintu rumah nya.
maya kemudian masuk kedalam rumah dengan di ikuti feri di belakang nya. dan nisa kemudian ikut masuk setelah melihat maya dan feri masuk kedalam. maya kemudian berjalan menyusuri setiap ruangan yang di lewati nya yang kini berarah ke area ruang keluarga dan seperti nya ia sangat tahu sekali letak seluk beluk rumah ini.
bagaimana tidak, rumah yang sekarang annisa dan rafka tempati ini kan sebelum nya adalah impian rafka bersama maya dan juga sebagian interior rumah nya sendiri adalah maya yang mendesain nya.
maya kini sudah sampai di ruang keluarga rumah itu. ia pun kemudian duduk di sofa yang ada disana tanpa di persilahkan terlebih dahulu oleh sang penghuni rumah. sedang kan feri masih berdiri di hadapan nisa sembari menatap ke arah maya.
bersambung