Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 89


Setelah menutup panggilan telepon dari Dedi, kini Rafka berdiri dari ranjang menghampiri Annisa. Terlihat disana Annisa telah selesai memakai hijabnya. Kini ia berdiri seraya merapikan gamis dan juga hijabnya. Sedangkan kini dari arah belakang Rafka datang lalu memeluk pinggul Annisa.


 


" Sayang . . apa kamu sudah siap?" Tanya nya lembut.


Annisa tersenyum sembari menatap wajah Rafka dari depan cermin.


" Sudah . ." Sahut nya sembari menganggu pelan.


" Hmm, kalau begitu mari kita turun. Perut ku sudah lapar sekali." Rafka menggandeng tangan Annisa.


Kini merekapun berjalan sembari terus bergandengan tangan.


Betapa bahagia nya Annisa saat ini. Semua kesabaran serta do'a nya seperti terjawab sudah. Semakin hari Rafka semakin bersikap romantis dengan nya.


Semoga saja keromantisan ini selalu terjaga hingga akhir hayat, Amin...


Kini mereka mulai menuruni anak tangga. Dari kejauhan Annisa melihat Fikar yang telah berpakaian rapi layaknya seseorang yang ingin pergi pengajian. Pagi ini Fikar terlihat mengenakan baju koko beserta peci yang menutupi sebagian kepalanya. Ia berjalan kearah dapur searah dengan Annisa dan juga Rafka.


 


Setibanya dilantai bawah Annisa dan Rafka kini berpapasan dengan Fikar. Annisa yang melihat setelan Fikar yang tampak berbeda pun tak tahan jika tak menyapanya.


 


" Hai Fikar !" Seru Annisa dengan wajah ceria.


" Selamat pagi Tuan dan Nona." Balasnya formal.


Sedangkan Rafka yang melihat Annisa yang mulai ramah kembali dengan Fikar semakin mempererat gandengan nya.


" Bang tangan Nisa sakit." Ringis Annisa seraya berusaha melepaskan tangan Rafka.


 Sedangkan Fikar tampak tersenyum melihat wajah Rafka yang tiba-tiba saja terlihat berubah kesal.


 


" Hai Fik, pagi-pagi begini kamu sudah rapi aja, emang nya mau kemana?" Tanya Annisa penasaran.


" Oh, ini, rencananya sih setelah sarapan saya akan kerumah duka yang ada diujung sana." Ujarnya.


 


" Ada yang meninggal di desa ini?" Suara Annisa terdengar khawatir.


" Iya." Sahut Fikar. " Oya Nona, para pelayan disini semuanya sedang pergi melayat. Tadi sebelum pergi mereka berpesan jika sarapan sudah disiapkan di meja makan." Ujar Fikar.


" Ooo, gitu, pantas saja. Tadi selepas subuh sewaktu aku pergi kedapur, tak ada satu pun pelayan disana." Ujar Annisa.


" Ya, tadi pagi selepas subuh mereka pamit kepada saya untuk pergi melayat, dan juga mereka berpesan jika sarapan sudah dihidangkan diatas meja makan." Timpal Fikar.


 


" Sayang, sudah selesai kan ngobrol nya. mari kita pergi." Ajak Rafka.


" Fik, kami duluan ya." Pamit Annisa.


" Ya, silahkan." Ucap Fikar.


Annisa dan Rafka pun akhirnya pergi meninggalkan Fikar disana. Karena posisi Rafka yang sudah sangat lapar, maka kini mereka pun bergegas keruang makan. Sedangkan Fikar meilih santai menikmati perjalanan nya.


 


Di meja makan. Maya duduk dengan santai sembari menunggu yang lainnya datang. Setibanya Rafka dan Annisa disana, Maya lalu tersenyum kearah keduanya.


 


" Selamat pagi Mas Rafka dan juga Nisa." Sapanya.


 


" Pagi juga May." Balas Annisa sembari membalas senyum Maya.


" Pagi May." Sahut Rafka.


Rafka dan Annisa pun lalu duduk secara berdampingan.


Disana semua minuman telah terisi penuh. Maya yang mengisinya. Kini Annisa pun tak perlu lagi repot-repot hanya untuk mengisi air. Ia tinggal mengambilkan Rafka nasi beserta lauk-pauknya. Setelah selesai ia pun memberikannya kepada Rafka.


" Terima kasih."


Rafka lalu mengambil makanan nya dan mulai menyantapnya. Begitupula dengan Annisa, ia lalu mengisi oiring nya dengan makanan nya, lalu menyantap nya. Disana terlihat Maya mengerling kearah Annisa sembari mengulas senyum licik.


 


Silahkan nikmati kesenangan mu


Maya terus melanjutkan aktivitas makan nya.


Setelah selesai menyantap sarapan pagi. Kini Fikar beranjak pergi dari sana. Tak lupa ia menyapa semuanya untuk pamit lebih dulu.


" Tuan, Nona, sekarang saya akan segera kerumah duka. Jika ada sesuatu yang kalian butuhkan silahkan hubungi saya, maka saya akan kembali untuk anda." Ujar Fikar.


" Fik, apa kami boleh ikut?" Tanya Annisa sembari menatapnya.


" Boleh saja jika anda berkenan. Tapi bagaimana dengan Tuan Rafka?" Fikar menatap kearah Rafka.


" Abang juga akan ikut, ya kan Bang?" Annisa menoleh.


Rafka mengangguk setuju. Walau bagaimana pun ia tak mungkin membiarkan Annisa pergi berdua saja dengan Fikar. Bisa gila dia dirumah karena terus memikirkan mereka berdua.


" Ya sudah, kalau begitu saya akan menunggu Tuan dan Nona diruang tengah." Ujar Fikar. " Oya, kamu ikut juga kan May?" Fikar menoleh kearah Maya.


" Oh, aku, aku sepertinya tidak ikut. Kalian pergi saja." Sahutnya.


" Tapi nggak apa-apa jika kamu tinggal sendirian disini?" Tanya Fikar.


" Enggak apa-apa kok, lagipula aku sudah terbiasa sendiri." Balas nya.


" Hmm, ya sudah, aku akan keruang tengah menunggu Tuan Rafka dan juga Nona Annisa.


Fikar lalu pergi meninggalkan ruang makan. Sedangkan Annisa dan Rafka sudah terlebih dahulu pergi disana setelah percakapan dengan Fikar tadi. Mereka segera bersiap karena tak ingin jika Fikar menunggunya terlalu lama. Setelah selesai merekapun turun menghampiri Fikar diruang tengah.


" Sudah, yuk kita pergi." Ajak Annisa.


Kini merekapun pergi meninggalkan Vila. Karena perjalan kerumah duka yang tak begitu jauh, Fikar mengajak Annisa dan Rafka untuk pergi dengan berjalan kaki saja. Yah, hitung-hitung olahraga sembari menikmati udara segar pedesaan. Di perjalan menuju kerumah duka terlihat jalanan sepi tiada orang. Kemana semua penduduk desa? Pikir Annisa.


" Kamu kenapa?" Tanya Rafka saat mendapati wajah Annisa yang terlihat kebingungan.


" Oh, ini, Abang merasa agak aneh nggak sih? Disepanjang perjalan ini bukankah kita tidak terlihat warga desa. Yang ada cuma anak-anak yang berlarian serta bermain kesana-kemari. Tapi para orang tua tidak ada." Ujar nya.


" Itu semua karena para orang tua mereka sedang berada dirumah duka." Timpal Fikar.


" Ooo, begitu." Annisa mengangguk pelan. Kini mereka terus berjalan menelusuri desa hingga tak lama kemudian mereka pun tiba dirumah duka.


Terlihat dari kejauhan para warga telah berkumpul. Sebagian diantara mereka ada didalam rumah, namun sebagian besarnya lagi ada diluar. Mereka bergotong royong menyiapkan segala persiapan untuk pemakaman dan juga untuk tahlilan. Seperti mendirikan tenda dan juga memasang bangku panjang dan juga meja panjang yang dibuat secara khusus agar lebih rapi dan juga meminimalisir kurang nya bangku.


Meja panjang dan juga kursi panjang itu biasa dipakai warga jika ada acara-acara tertentu seperti acara pernikahan, berdoa bersama, dan juga kemalangan seperti ini. Semua nya masih serba tradisional, karena warga disini bergotong royong untuk membuatnya agar bisa dipakai bersama.


 


Kini mereka melangkah masuk kerumah duka. Disana Ainun dan Rani telah menunggu kedatangan mereka, karena sebelum berangkat tadi Fikar terlebih dahulu mengabarkan mereka untuk menemani Annisa jika sudah tiba disana. Karena adat warga disana jika ada kemalangan seperti itu dan juga acara apapun lainnya. Para lelaki dan juga wanita dibiarkan terpisah. Mengikuti jalur masing-masing.


" Silahkan Nona Annisa pergi bersama mereka. Sedangkan Tuan Rafka akan disini bersama saya." Ujar Fikar sopan.


" Bang, Nisa pergi kut mereka ya." Pamit Annisa.


" Ya." Sahut Rafka.


 


Annisa pun pergi mengikuti Ainun dan Rani. Mereka masuk kedalam rumah duka bersama-sama. Sedangkan Rafka dan juga Fikar memilih bergabung dengan para lelaki untuk mendirika tenda serta memasang bangku dan meja panjang.


 


***


Hari mulai siang. Acara pemakaman pun telah usai, kini mereka pun berjalan kaki kembali ke Vila. Di sepanjang perjalanan pulang, Fikar membahas kemana tujuan wisata mereka selanjutnya. Annisa hanya mengangguk setuju menuruti keinginan Rafka. Karena yang menentukan harus pergi atau tidaknya hanyalah dia. Sedangkan Fikar hanya memberikan rekomendasi pemandangan alam disana.


Setibanya di Vila. Terlihat Maya sedang duduk diteras sembari menikmati segelas Es Teh dan juga Mie Instan. Cuaca siang ini cukup panas, maka Es Teh adalah salah satu cara yang tepat untuk melepaskan dahaga.


" Assalamu'alaikum." Ucap ketiganya serentak.


" Wa'alaikum salam." Balas Maya. " Hmm, kalian sudah pulang?" Tanya nya.


" Ya." Jawab Fikar.


Sedangkan Rafka dan Annisa segera masuk kedalam. Mereka segera menuju kearah kamar untuk segera beristirahat.


 


Sore ini setelah menjalankan kewajiban mereka sebagai umat muslim. Kini Annisa dan Rafka bersiap untuk segera pergi bersama Fikar. Fikar sudah menunggu mereka berdua di teras rumah. Ia sudah rapi, dengan kemeja dan juga jeans nya. Sungguh tampan dengan rambut yang disisir menyamping kekanan. Sewaktu keluar dari dalam kamar tadi, Maya memperhatikan Fikar. Lalu dengan segera ia bersiap untuk segera ikut dengan Fikar. Karena Maya yakin saat ini Fikar akan mengajak Annisa dan Rafka pergi bersama.


 


Kini Maya telah bersiap dan membuka pintu kamarnya. Dilihatnya Rafka dan Annisa hendak menuruni anak tangga. Ia lalu berjalan menyusul mereka dari belakang. Setibanya mereka diteras, Maya pun muncul dihadapan mereka.


 


" Ehm, udah rapi aja nih. Mau kemana?" Tanya nya sembari memperhatikan Fikar dan Rafka. Sedangkan Annisa, menoleh pun ia malas. Karena saat ini musuh terbesar baginya adalah Annisa.


 


" Aku mau bawa Tuan dan Nona Rafka menikmati waktu sore di atas bukit." Ujarnya.


" Oh, kalau gitu aku ikut ya." Pinta Maya. " Mas, bolehkan aku ikut bersama kalian?" Maya memohon pada Rafka.


Ia juga tak segan memegang tangan Rafka sembari memohon agar Rafka mengizinkan nya untuk ikut bersama mereka.


" Bagaimana Tuan?" Tanya Fikar.


Rafka memalingkan muka. Ia juga menepis tangan Maya agar menjauh darinya.


" Tidak!" Seru Rafka.


" Mas, please!" Maya kembali memohon. Tangan nya juga kembali meraih tangan Rafka mencari perhatian darinya.


" Sudahlah Bang, izinkan saja. Lagipula nanti disana ada yang nemanin Fikar." Annisa berusaha membujuk suaminya.


" Tapi sayang, aku nggak mau jika ada yang mengganggu kita. Ini bulan madu kita dan aku ingin menghabiskan setiap waktu ku dengan mu." Rafka masih tak rela.


" Ya sudah, gini aja. Setibanya disana nanti kita duduk berdua saja. Sedangkan Maya dan Fikar, biarkan mereka menikmati sore mereka berdua." Annisa berusaha meyakinkan suaminya. Walau bagaimana pun didalam hatinya ia mengasihani gadis itu. Tak tega melihatnya memohon seperti itu.


" Ya sudah terserah kamu saja." Rafka mengerutkan dahinya. Ia lalu menarik tangan Annisa untuk ikut bersamanya menuju kearah mobil.


Fikar pun juga melangkahkan kakinya menuju kearah mobil. Begitu juga dengan Maya, meskipun kesal karena sikap Rafka yang kian dingin terhadapnya. Namun ia tetap merasa senang karena bisa ikut bersama mereka.


 


Setelah para penumpang mobil telah masuk semuanya. Kini Fikar mulai menjalankan mobil nya meninggalkan Vila. Fikar mengemudi dengan kecepatan sedang membelah jalanan Desa yang tak terlalu lebar itu. Mereka berjalan menuju kearah bukit.


 


Dari arah spion depan Maya dapat melihat dengan jelas bagaiamana kemesraan Annisa dan juga Rafka. Ia menyenderkan kepalanya di bahu bidang Rafka. Jalanan yang berkelok membuat Annisa merasa sedikit pusing, sehingga kini ia memilih untuk memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di bahu Rafka.


 


Cih! Seharusnya sekarang yang duduk disana itu adalah aku bukan gadis kampung itu.


Maya terlihat kesal. Tangan nya mengepal merasa geram dengan sikap Annisa yang ia nilai terlalu manja terhadap Rafka.


Sekarang aku tau, kamu sengaja membujuk Rafka agar mengizinkan ku ikut dengan kalian. Karena sebenarnya kamu ingin memamerkan kemesraanmu kepadaku kan. Dasar wanita ******!


Rutuk Maya.


Matanya tak lepas memandangi bagaimana lembutnya Rafka terhadap Annisa. Bagaimana cara Rafka mengusap lembut bahu Annisa, memegangi perutnya, bahkan sesekali Rafka mencium kepalanya. Sungguh membuat Maya merasa panas dengan api cemburunya.


 


Kini Annisa pun tidur didalam pelukan Rafka.


BERSAMBUNG