Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 9


Siang ini matahari begitu terik disana. Membuat para burung-burung kecil memilih berteduh di dahan pohon tanpa terbang kesana kemari seperti biasa nya.


Annisa duduk di teras rumah dengan menatap ke arah layar laptop yang ada di pangkuan nya, ia terlihat serius memeriksa beberapa dokumen yang di kirim langsung oleh fatimah melalui e-mail nya. Fatimah adalah salah satu orang kepercayaan Annisa untuk mengurus beberapa toko kue nya yang ada di pusat kota. Ya Annisa mempunyai beberapa toko kue yang tersebar di beberapa sudut kota. Ia merintis usaha nya itu saat ia masih duduk di bangku kuliah. Sebenarnya Annisa sudah gemar membuat kue semenjak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Namun belakangan semenjak duduk di bangku kuliah ia mulai mengembangkan kemampuan nya untuk bisnis.


Dari yang awal nya ia iseng menitip kue-kue buatan nya di kantin kampus, hingga belakangan banyak orderan yang masuk sehingga ia memutuskan membuka toko kue pertama nya di dekat kampus tempat nya menuntut ilmu. Kini usaha nya semakin maju sehingga sudah ada empat toko kue yang ia buka. Dan masin-masing dari tiga toko kue miliknya mempunyai lima karyawan. Sedangkan toko kue utama nya yang berada di dekat kampus nya mempunyai sembilan karyawan, karena kini toko kue itu merambah menjadi sebuah Cafe tempat para muda-mudi nongkrong mengerjakan tugas kampus mereka.


Tentu saja itu membuat kedua orang tuanya sangat bangga terhadap putrinya. Disamping Annisa yang sangat penurut, kini ia juga telah sukses di usia muda nya dengan mempunyai beberapa toko kue yang sangat hits di kalangan milenial. Meskipun ia sudah di kategorikan sebagai anak muda yang sukses, namun itu tidak membuat Annisa besar kepala dengan posisinya. Ia masih seperti biasanya, tetap menjadi seorang gadis lembut yang penurut serta terkadang masih bersikap manja terhadap kedua orang tua nya.


Kembali ke masa yang sekarang.


Annisa sengaja duduk di teras rumah karena ingin menikmati tiupan angin segar yang terbawa langsung oleh rindang nya pohon cermai yang ada di halaman rumah nya.


Ia masih serius dengan laptop nya hingga sesaat kemudian sebuah kendaraan bermotor memasuki halaman rumah nya sehingga kefokusannya terhadap pekerjaan nya menjadi buyar.


Annisa menoleh ke arah tersebut, melihat siapakah yang datang saat itu, dan ternyata itu Winda adiknya yang baru saja pulang kuliah.


Winda adalah gadis yang cantik, tubuh serta tinggi nya sama seperti kakak nya Annisa. wajah mereka juga hampir mirip, namun Winda memiliki tahi lalat di sudut bibir nya. Ada sebagian orang melihat nya manis dengan tahi lalat tersebut, namun ada juga yang menilai ia terlihat judes dengan tahi lalat nya itu. Winda tidak pernah mempermasalahkan tentang penilaian orang, baginya setiap orang bebas memiliki pendapat nya masing-masing dalam menilai oran-orang disekitar.


"Dah pulang dek?" Sapa Annisa lembut.


"Udah kak, hari ini nggak begitu banyak pelajaran sehingga Winda bisa pulang cepat."Jawab nya sembari duduk di kursi yang ada di seberang meja tempat Annisa duduk dengan memangku laptop nya.


"Oya tadi Winda juga sempat mampir ke toko kue kakak untuk bantu-bantu dan mengecek keadaan disana dan alhamdulillah semuanya aman terkendali karena para karyawan kakak sangat cekatan dalam melakukan segala hal." Timpal nya lagi menceritakan keadaan di toko kue kakak nya sembari menyeruput teh yang ada disana.


"Dek . . teh kakak itu." Seru Annisa saat melihat teh nya yang sudah dihabisi oleh adik nya Winda.


"Hmm, enak kak." Ujar nya tanpa rasa bersalah seraya mengembangkan senyum.


"Ya enak lah, tinggal minum." Ucap Annisa sedikit kesal dan kini ia memilih kembali menatap laptop tanpa ingin berdebat dengan adik kesayangan nya itu.


"Kak, kok dirumah terus sih?" Tanya Winda sembari menatapi Annisa yang kembali serius dengan pekerjaan nya.


"Emang nya kakak mau kemana dek." Jawab Annisa santai, karena kini ia sudah tak mengingat lagi saat Winda menghabiskan teh nya.


"Jalan-jalan, kan sebentar lagi kakak bakalan nikah." Ujar Winda.


"Emang nya mau jalan kemana?" Ucap nya sembari terus menatap laptop nya.


"Hmm," Annisa hanya berdehem saat mendengar apa yang di ucapkan oleh adik nya.


"Jalan? Mana mau dia mengajak ku jalan. Dia saja sudah punya pacar.


Gumam Annisa.


"Kak, Winda serius tau." Menutup laptop dengan seketika saat melihat tak respon apapun dari Annisa.


"Apaan sih dek, kakak lagi serius tau." Ucap nya sembari menatap kesal.


"Tapi kakak nggak ngerespon pertanyaanku." Timpal Winda yang merasa Annisa tak menggubris pertanyaan nya.


"Pertanyaan mana yang enggak kakak gubris?" Tanya Annisa seraya menghela nafas panjang berusaha meredam kekesalan nya terhadap sikap Winda yang terkadang masih seperti anak kecil.


"Tentang jalan sama kakak ipar." Ujar Winda menyampaikan lagi pertanyaan nya.


"Oh, itu, mungkin nanti setelah nikah." Jawab nya santai.


"Kak.!! Winda serius loh." Protes nya lagi saat mendengar jawaban Annisa yang baginya tidak masuk akal. Mengingat pernikahan kakak nya yang sebentar lagi namun Winda tak pernah melihat kakak nya keluar rumah bersama calon suaminya seperti kebanyakan pasangan jaman sekarang.


"Kakak dua rius malah. Kan kita belum resmi jadi untuk apa menghabiskan waktu bersama di luar." Ujar Annisa yang membuat Winda semakin kesal dengan jawaban nya.


Kini Winda memilih masuk kedalam tanpa ingin bertanya lagi kepada Annisa, karena percuma saja bertanya ataupun memberi saran, karena Annisa tetap akan pada pendirian nya yang tak ingin berlama-lama di luar rumah menghabiskan waktu dengan pria yang bukan mahram nya.


Annisa pun tersenyum saat melihat raut wajah adiknya yang seketika berubah kesal saat mendengar jawaban darinya. Setelah Winda memilih pergi untuk masuk kedalam rumah, kini Annisa pun melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda sebelum nya karena adiknya Winda.


Saat tengah serius memeriksa laporan yang di kirim Fatimah. Tiba-tiba saja fikiran nya melayang memikirkan Rafka.


"Sedang apa ya dia sekarang, semenjak pertemuan kemarin dia sama sekali tak pernah menghubungiku lagi. Apa dia sibuk dengan pekerjaan nya atau jangan-jangan dia sibuk dengan kekasihnya yang dia ceritakan kepadaku. Aaaa . . . . kenapa aku jadi mikirin dia sih, jelas-jelas dia sudah punya kekasih bahkan kemarin dia juga sama sekali tidak meminta nomor ponsel ku, jadi mana mungkin dia menghubungiku. Ya Tuhan . . bagaimana kehidupan ku selanjutnya karena saat ini saja pria yang dijodohkan denganku sama sekali tak mengharapkan kehadiran ku.


Gumam nya sembari termenung membayangkan kehidupan selanjutnya setelah ia menikah.


BERSAMBUNG