
"Kak Dedi apaan sih, senang sekali menggoda ku." Lirih nya sembari melangkah kan kakinya menuju kearah ruang depan.
Namun belum lagi sempat ia keluar dari sana. Tiba-tiba saja Rafka masuk dengan raut wajah yang sangat dingin.
"Abang! Berarti dia sudah pulang dari tadi kerumah. Tapi kenapa dia lama sekali turun kebawah untuk makan malam? Aaaa . . . Nisa, kamu yang bodoh. Kenapa juga tidak mengecek ke kamar nya dulu tadi. Jadinya kan nggak mesti repot begini nelpon kak Dedi hanya untuk menanyakan keberadaan nya.
Gumam nya sembari mengikuti langkah Rafka menuju kearah meja makan.
Disana Rafka duduk di kursinya. Annisa pun kemudian datang menghampiri untuk melayani Rafka seperti biasanya. Diraih nya piring yang ada di depan Rafka, berniat untuk mengambilkan nya nasi beserta lauk-pauk yang sudah di masak nya. Namun piring tersebut di rebut kembali oleh Rafka dengan kasar.
"Aku bisa mengambil nya sendiri." Ketus Rafka.
"Deg,
Jantung Annisa berdetank kencang saat Rafka memperlakukan nya secara kasar. Namun ia berusaha untuk tetap tenang dalam menghadapi semuanya.
"Sabar Nis, mungkin saja saat ini Abang sedang ada masalah.
Gumam nya.
Ia lalu mencoba menawarkan lauk-pauk yang dimasak nya tadi.
"Abang mau lauk yang mana? Biar Nisa ambilkan." Ucap Annisa dengan lembut.
"Nggak perlu! Aku bisa sendiri!" Ketus Rafka lagi.
"Oh, ya sudah. Kalau gitu biar Nisa isiin aja air kedalam gelas Abang." Serunya seraya meraih teko yang berisi air diatas meja.
"Bukankah sudah ku bilang, aku bisa sendiri!!" Bentak Rafka.
"Seerrr
Deg . .
Darah Annisa mengalir deras. Jantung nya pun berpacu dengan begitu cepat. Ia tak pernah menyangka jika Rafka akan bersikap sebegitu kasar terhadap nya.
Sehingga kini tanpa terasa air matanya hampir menetes membasahi pipinya.
Dengan cepat Annisa segera menunduk dan berpaling dari Rafka. Disapu nya air matanya agar tak terlihat oleh Rafka. Ia kemudian
berjalan kearah bangku yang ada di seberang meja, Lalu kini ia duduk disana.
Dilirik nya kearah Rafka yang kini sudah mulai menyantap makanan nya. Tak terlihat sedikitpun rasa bersalah di raut wajah nya.
Annisa merasa sangat sedih. Hatinya sakit saat mendapat perlakuan kasar dari Rafka. Didalam hati, ia berfikir keras kesalahan apa yang telah diperbuat nya sehingga membuat Rafka bersikap seperti itu kepadanya.
Ia berusaha mengingat-ingat semuanya. Namun tak berhasil menemukan apapun, karena ia merasa tak ada satu pun sikapnya yang pernah menyinggung Rafka.
Kini ia kembali melirik kearah Rafka dan melihat ia sudah selesai dengan makanan nya. Sedangkan dirinya, sedari tadi hanya duduk termenung memikirkan kesalahan nya.
Rafka kemudian bangkit dari duduk nya. Lalu ia berbalik tanpa ingin menatap kearah Annisa. Hatinya sudah gelap karena ditutupi rasa kekesalan nya saat mendengar percakapan antara Annisa dan juga sahabat nya. Betapa akrabnya mereka, sehingga kini mulai berbagi perhatian satu sama lain. Begitu pikirnya.
Ia kemudian melangkahkan kaki kearah ruang depan dan meninggalkan Annisa disana sendirian dengan rasa penasaran nya.
Di meja makan. Annisa masih terduduk dengan kebingungan nya. Kini ia menatapi kepergian Rafka dari sana. Sedangkan air mata, tak terasa mulai jatuh dengan sendiri nya. Ia merasa sangat sedih manakala mengingat perlakuan kasar yang baru saja di lakukan Rafka terhadap nya.
***
Hari ini mentari pagi bersinar sangat cerah. Sehingga cahaya nya menembus kedalam kamar melalui celah jendela. Hari ini Rafka tidak melakukan rutinitas olahraga nya. Ia kini sedang bersiap-siap untuk segera pergi ke restoran nya. Karena hari ini ada rapat bersama klien untuk pembahasan pemasokan makanan kedalam perusahaan mitra.
Rafka bergegas berjalan menuruni anak tangga, dan setelah sampai di lantai dasar. Ia kemudian menuju kearah ruang makan untuk mengisi perut nya sebelum memulai aktivitas.
Melihat kedatangan Rafka, dengan cepat Annisa menjauh pergi dari sana. Itu semua karena ia masih mengingat kejadian tadi malam. Bagaimana saat Rafka memperlakukan nya dengan sangat kasar.
Annisa kemudian beralih menuju kearah wastafel untuk segera mencuci beberapa peralatan makanan yang kotor. Sedangkan Rafka kini mulai menyantap makanan nya. Sesekali ia juga melirik kearah Annisa yang kini tengah membelakangi nya.
"Hah, dasar wanita
Gumam nya seraya terus melanjutkan menyantap makanan nya.
***
Pagi ini dijalan raya, Rafka mengendarai mobilnya tanpa ada hambatan. Sehingga kini ia dengan cepat bisa sampai ke restoran milik nya.
Dengan segera Rafka turun dari mobil dan bergegas berjalan menuju pintu masuk restoran nya. Saat Rafka mulai mendorong pintu masuknya, tiba-tiba saja dari arah belakang seseorang menepuk bahu kiri nya.
"Selamat pagi bro!" Sapa Dedi dari arah belakang.
Rafka menoleh kebelakang dan melihat ternyata Dedi yang ada disana.
"Hmm, pagi." Sahut nya dingin.
Kini mereka masuk kedalam restoran secara bersamaan, dan berjalan bersama kearah ruang kerja masing-masing.
"Kamu kenapa Raf? Jutek amat." Ucap Dedi yang menyadari jawaban dingin Rafka.
"Nggak kenapa-kenapa. Aku hanya sedang tidak ingin bergurau pagi ini." Jawab Rafka dengan raut wajah datar.
Dedi mengangguk mengerti.
"Oya, tadi malam kamu kemana?" Tanya Dedi.
Ketika mengingat kejadian tadi malam saat Annisa menelpon nya.
"Nggak kemana-mana. Setelah pulang dari sini aku langsung pulang kerumah dan tidak pergi lagi." Jawab Rafka.
"Oh . ." Ucap Dedi.
"Kenapa tiba-tiba kamu jadi kepo gitu menanyakan keberadaan ku tadi malam?" Rafka kembali melontarkan pertanyaan kepada Dedi. Karena tidak seperti biasanya Dedi menanyakan keberadaan nya setelah pulang dari resto.
"Oh, itu. Tadi malam Nisa nelpon aku nanyain kamu." Ujar Dedi menjelaskan.
Rafka seketika menghentikan langkah nya. Saat mendengar ucapan Dedi yang mengatakan bahwa Annisa menanyakan dirinya.
"Apa yang dia bilang?" Ucap Rafka sembari menatap Dedi dengan tatapan serius.
"Uih . . santai bro." Seru Dedi saat melihat reaksi Rafka yang tiba-tiba saja berubah.
"Cepat beritahu aku apa saja yang di katakan nya." Ujar Rafka penasaran.
"Kita nggak ngobrol banyak sih, dia cuma nanya apakah kamu ada bersamaku, dan aku jawab nggak ada. Emang nya kamu kemana sih! Sampai Nisa sebegitu khawatir nya nanyain kamu." Ucap Dedi memberitahukan isi obrolan mereka malam itu.
"Apa! Jadi tadi malam Nisa telponan sama Dedi karena sedang mengkhawatirkan ku. Ya tuhan . . betapa bodoh nya aku karena sudah menilai Annisa gadis yang sama seperti Maya. Seharusnya aku tau jika Nisa dan Dedi tidak akan pernah melakukan itu. Terlebih lagi Dedi yang notabene nya adalah sahabat ku sendiri.
Gumam Rafka.
Sejenak ia terdiam memikirkan kebodohan nya.
"Woi Raf, kamu ngelamun? Wah-wah . . Aku tau nih, pasti sekarang kamu lagi mikirin Annisa kan." Ucap Dedi yang membuat Rafka tersadar dalam lamunan nya.
BERSAMBUNG