Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 16


Sejenak Annisa melupakan kesedihan nya. Kini ia segera bergegas mengganti pakaian nya dengan setelan gamis favorit nya yang berwarna peace. Tak lupa ia juga memakai hijab yang berwarna senada dengan motiv abstrak.


Annisa juga berdandan. Ia memoles wajahnya dengan sedikit taburan make up serta lipstik yang berwarna natural sesuai dengan warna bibirnya.


Ia kemudian bergegas keluar dari kamarnya dan melihat Rafka sedang menunggunya di ruang keluarga dengan duduk santai di atas sofa sembari memainkan ponselnya.


"Bang, Nisa sudah siap." Ucapnya yang saat ini sudah berada tepat disamping Rafka.


Rafka menoleh. Ia menatap kearah Annisa yang saat ini berdiri disamping nya.


"Dia terlihat berbeda . .


Gumam Rafka.


Entah apa yang berbeda, Rafka sendiri bingung. Ia berpikir keras sembari melangkah kedepan berjalan menuju arah pintu. Lalu, setibanya di depan mobil, Rafka kembali berdiri menunggu kedatangan Annisa yang berjalan sedikit lamban di belakang nya.


Tak berapa lama menunggu. Akhirnya Annisa tiba disana. Ia melihat kearah Rafka yang berdiri di depan mobil menunggunya. Dengan sedikit menunduk ia kemudian melangkah perlahan kearah mobil dan berlalu di depan Rafka menuju pintu belakang mobil.


Sedangkan Rafka yang memperhatikannya sedari tadi mulai menyadari perbedaan penampilan Annisa saat ini.


"Ternyata malam ini dia memakai make up. Pantas saja penampilan nya berubah gitu, terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.


Gumam Rafka.


Ia kemudian masuk kedalam mobil nya. Setelah memastikan Annisa sudah duduk dengan rapi disana.


Ia kemudian menghidupkan mobilnya dan setelah itu melajukan kendaraan nya keluar dari halaman rumah menyusuri area komplek perumahannya. Kali ini Rafka tak perlu lagi membuka pintu gerbang nya. Karena disana sudah ada penjaga yang biasa menjaga rumahnya. Rafka menghubunginya tadi saat ia berada di dalam kamarnya.


Suasana mobil terlihat hening. Tak ada yang bicara ataupun memulai pembicaraan. Rafka lalu melirik kearah Annisa yang duduk di belakang.


"Ehm, Nis, kamu nyaman duduk di belakang ya?" Ucap Rafka memecah keheningan saat itu.


"Ya." Jawab Annisa polos.


"Oh," Ucap Rafka singkat.


Tak ada lagi pembicaraan setelah itu. Sehingga suasana hening kembali tercipta. Rafka kembali fokus mengemudikan mobilnya yang kini telah menyusuri jalan raya pusat kota, dan tak lama kemudian sampailah mereka disebuah restoran.


"Kita sudah sampai. Ayo turun." Ucap Rafka seraya membuka pintu mobil nya.


Setelah mendengar ucapan Rafka, Annisa kemudian segera membuka pintu mobil lalu ia pun turun dari sana.


Melihat Annisa yang sudah turun. Rafka kemudian langsung berjalan dan Annisa bergegas mengikutinya dari belakang. Tak Ada yang romantis disana, mereka melangkah masuk kedalam restoran dengan berjalan sendiri-sendiri. Sehingga jika orang awam melihat, mereka seperti tak mengenal satu sama lain.


Restoran itu adalah restoran keluarga yang di desain dengan paduan alam yang membuat suasana disana sangat asri.


Rafka memilih duduk di pinggir kolam ikan


yang dihiasi lampu-lampu kecil di setiap tiang serta dahan-dahan pohon buatan. Sehingga tercipta suasana yang romantis disana.


"Deg . .


Jantung Annisa berdegup kencang saat tiba disana. Ditambah lagi dengan suasana yang tercipta, sehingga membuat hatinya semakin tak karuan.


"Ada apa denganku. Kenapa aku jadi tak tenang begini sih. Aaaa.. Jantung ku juga berdegup sangat kencang sekarang.


Gumam Annisa.


Ia terlihat salah tingkah disana. Annisa selalu menggeser tubuhnya kesana dan kemari terlihat seperti tak nyaman.


"Ehm, Nis, kamu kenapa?" Ucap Rafka yang merasa aneh dengan sikap Annisa.


"Kamu tidak nyaman Nis?" Tanya Rafka.


"Eh, enggak kok, Nisa nyaman sekali disini." Seru Annisa.


Disela-sela pembicaraan mereka. Tiba-tiba pelayan restoran datang dengan membawa membawa begitu banyak makanan, yang membuat Annisa tertegun. Itu disebabkan karena mereka belum memesan makanan sebelumnya.


"Loh, Bang. Bukankah kita belum memesan apapun." Ujar Annisa. Ia terlihat sedikit bingung saat melihat para pelayan resto yang kini tengah menyajikan begitu banyak makanan di atas meja mereka.


Namun Rafka hanya tersenyum saat melihat Annisa yang kebingungan saat itu.


"Tuan, apa ada yang kurang?" Ucap salah satu pelayan setelah selesai menyajikan makanannya.


"Hmm, tidak ada. Sekarang kalian bisa pergi dan lanjutkan pekerjaan masing-masing." Ujar nya seraya memberi isyarat dengan tangan nya. Agar para pelayan resto segera pergi dari sana.


Annisa semakin bingung. Ia kini menatap kearah Rafka sembari memgerutkan dahinya, seolah mencari jawaban disana. Dan sepertinya Rafka juga menyadari itu.


"Ini restoran ku. Jadi tak perlu memesan, karena mereka sudah tau masakan kesukaan ku." Ucap Rafka menjawab kebingungan dari raut wajah Annisa.


"Makanlah. Nanti keburu dingin jadi kurang nikmat." Ujarnya lagi.


Annisa mengangguk mengerti. Ia kini paham kenapa para pelayan begitu tunduk kepadanya. Ternyata itu karena dialah pemilik restoran itu.


"Pantas saja mereka begitu sigap melayani kami. Ternyata Abang bos nya.


Gumam Annisa seraya melirik kearah Rafka yang mulai menyantap makanannya. Melihat itu membuat Annisa tak tinggal diam. Ia kini mencoba untuk melayani suaminya disana. Namun ditolak oleh Rafka.


"Jangan melayaniku disini. Makanlah makanan mu sendiri." Ujar Rafka seraya melahap makanan nya.


"Tapi Bang," Ujar Annisa yang terlihat keberatan.


"Sudahlah Nis." Ujar Rafka yang tak ingin berdebat.


Annisa pun kemudian mengalah. Ia kini mulai menyantap makanan nya. Dilihatnya kearah Rafka yang kini sangat lahap menyantap makanan nya. Ia juga memperhatikan makanan yang di pilih Rafka dan sepertinya itu masakan kesukaan nya.


***


Malam ini tidak seperti yang di bayangkan. Meskipun suasana yang begitu romantis. Namun tak ada keromantisan disana, seperti bayangan Annisa sebelumnya.


Selesai menyantap makanan nya serta mengisap sebatang rokok disana. Kini Rafka bangkit dari duduk nya dan mengajak Annisa untuk segera pergi dari sana.


"Sudah selesai? Mari kita segera pulang." Ujar Rafka yang kini sudah berdiri di depan Annisa.


Annisa mengangguk. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Rafka yang sudah lebih dulu berjalan di depan saat melihat nya yang mulai bangkit dari tempatnya.


Mereka meninggalkan restoran dan menuju kearah parkiran dimana Rafka memarkirkan mobilnya. Tiba-tiba seseorang menghampiri dari belakang saat Rafka hendak membuka pintu mobilnya.


"Mas.!!" Panggil seseorang dari belakang.


Rafka menoleh kebelakang dan melihat.


"Maya!!" Ucap Rafka saat melihat sosok yang berdiri disana.


Maya kemudian berlari memeluk Rafka yang saat ini sedang berdiri didepan mobilnya.


"Mas, aku sangat merindukanmu." Ujar nya sembari mempererat pelukan nya.


"Maya, lepas." Ucap Rafka seraya melepaskan tangan Maya dari tubuhnya.


BERSAMBUNG