Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 34


" kring kring kring "


Alarm bergetar serta membunyikan suara nya. annisa kemudian terjaga saat mendengar suara alarm yang sengaja di setel oleh rafka untuk membangunkan kan nya di subuh hari. namun sayang nya sang pemilik belum terjaga dari tidur nya.


saat membuka mata, annisa melihat wajah rafka yang begitu dekat dengan nya, ia sedikit terkejut saat itu namun seketika rasa keterkejutan nya berubah menjadi senyum manis.


ada rasa senang serta bahagia yang menyelimuti hati nya kala ia menatap wajah suami nya saat itu.


seandainya setiap aku membuka mataku aku bisa menatap wajah mu seperti ini, maka pasti hari - hari yang kujalani saat ini akan terasa lebih indah dan bahagia.


gumam annisa


ia masih terus memandangi wajah suami nya itu dari jarak yang sangat dekat hingga sekarang membuat jantung nya berdegup kencang. dari segi wajah rafka memang terlihat sangat tampan di tambah lagi bulu - bulu tipis yang tumbuh di area sekitar wajah nya, hingga membuat ia terlihat sangat macho.


annisa perlahan mengusap pipi rafka dengan lembut sembari terus memandangi nya. ia kini mulai semakin mendekatkan wajah ke wajah rafka hingga akhir nya " cup "


annisa mencium kening rafka saat itu.


maafkan nisa bang, karena nisa sudah dengan lancang nya mencium pipi abang tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu dari abang.


gumam nya dalam hati.


alarm terus berbunyi karena tadi nisa juga tidak mematikan nya. rafka kemudian terjaga dari tidur nya, saat ia mulai membuka mata ia melihat annisa dari jarak yang sangat dekat dan sedang menatap nya saat itu hingga membuat nya sedikit terkejut.


" nisa " ucap nya lirih


annisa tersadar dari lamunan nya saat mendengar sayup - sayup suara pria yang tak lain adalah suami nya itu, ia kemudian secara refleks ingin segera bangun dan bangkit dari tidur nya, namun tubuh nya yang mungil itu tertahan oleh kaki dan juga tangan yang sama sekali bukan milik nya.


ia tampak terkejut karena sedari tadi ketika ia mulai terjaga ia tak menyadari sama sekali bahwa tangan serta kaki rafka melingkar di atas tubuh nya.


rafka pun terlihat sangat panik saat mendapati tangan serta kaki nya yang kini melingkar di atas tubuh annisa. ia pun segera memindahkan nya dan kemudian bangkit dari tidur nya.


bagaimana bisa seperti ini, wahai tangan dan kaki ku, kenapa kalian bisa dengan begitu tidak tau malu nya melingkarkan diri di tubuh annisa yang sama sekali tidak kucintai.


gumam nya.


kini wajah rafka mulai memerah akibat menahan malu. ia kemudian bangkit berdiri dari ranjang nya dan berjalan menuju ke arah kamar mandi tanpa berbicara ataupun menoleh ke arah annisa.


" ada apa dengan abang? kenapa ia sama sekali tak mau menatap ku atau sekedar menyapa begitu, dan lagi wajah nya memerah begitu, apa dia marah kepada ku, atau jangan - jangan tadi sewaktu aku mencium kening nya ia sudah terjaga. ya tuhan dia pasti marah padaku..


gumam annisa


di dalam kamar mandi.


rafka berdiri di bawah shower dengan air yang mengalir dari atas shower yang kini mulai membasahi tubuh nya.


rafka berdiri dengan membayangkan kejadian yang baru saja terjadi saat tangan dan kaki nya yang tanpa meminta izin dari nya itu berani melingkar di tubuh annisa, ia juga memikirkan tentang mimpi yang baru saja di alami nya.


ia bermimpi tentang annisa istri nya.


di dalam mimpi nya itu annisa datang menghampiri nya dan kemudian mengecup kening nya dengan sangat lembut serta membisikkan kata cinta di telinga nya.


bagaimana bisa aku bermimpi seperti itu tentang nya. aaa.. ini pasti aku terbawa emosi ku tentang kejadian semalam yang tanpa sengaja mencium kening nya, maka dari itu aku kemudian bermimpi tentang nya.


rafka kemudian mematikan ai shower nya. ia kemudian berjalan mengambil handuk yang ada disana dan kemudian ia lilitkan di pinggang nya secara asal. ia kemudian beralih menuju keran yang ada di ujung kamar mandi nya dan membuka nya, setelah itu ia pun kemudian menyucikan diri dengan air yang mengalir tersebut.


setelah selesai.


rafka kemudian melangkah keluar dari dalam kamar mandi menuju ke dalam kamar nya. ia berjalan menyusuri kamar nya dan mengambil sarung beserta baju koko yang akan ia kenakan subuh itu. rafka melirik kearah annisa yang masih terduduk di atas ranjang dengan raut wajah pucat pasi.


" kenapa wajah nya tiba - tiba pucat seperti itu? perasaan tadi sebelum aku ke kamar mandi aku lihat wajah nya biasa - biasa saja. apa jangan - jangan ia sakit ya


gumam rafka dengan mengerutkan dahi nya.


annisa menyadari kalau rafka sedari tadi melirik ke arah nya, namun ia tidak berani menatap wajah rafka karena merasa bersalah atas apa yang di lakukan kan nya barusan. annisa kemudian memilih bangkit dari duduk nya dan berjalan perlahan menuju ke kamar mandi berniat menyucikan tubuh nya disana.


saat rafka melihat annisa yang sudah masuk kedalam kamar mandi, ia kemudian segera memakai baju koko beserta sarung nya dan tak ketinggalan pula peci hitam kesayangan nya. ia pun kemudian menjalankan perintah dari sang pencipta pagi itu.


setelah selesai menjalankan kewajiban nya. rafka kemudian bangun dan merapikan sajadah yang ia pakai tadi. ia juga mengganti baju koko dan juga sarung nya dengan pakaian santai saat itu.


sedangkan saat itu.


tak berapa lama kemudian annisa keluar dari dalam kamar mandi dan kemudian masuk kedalam kamar. ia melangkahkan kaki nya perlahan menelusuri ruang kamar tanpa berani menatap wajah rafka yang kini sedang duduk di atas ranjang nya sambil membaca buku.


annisa mengambil perlengkapan shalat nya yang ia letakkan di atas meja kecil yang berada di samping ranjang dan setelah itu ia pun kemudian menjalankan perintah sang khalik.


tak berapa lama kemudian.


setelah annisa selesai menjalankan perintah dari rabb nya. kini ia pun telah usai merapikan perlengkapan shalat nya, ia kemudian melangkah perlahan mendekati meja kecil yang berada di samping ranjang berniat meletakan mukenah nya disana. perasaan takut kembali hadir menyelimuti hati nya. saat rafka yang masih duduk di atas ranjang nya kembali menatap ke arah nya, kaki nya gemetar seakan tak mampu lagi berjalan walaupun cuma beberapa langkah dan akhir nya " Bruuk " ia pun jatuh di pinggir ranjang.


Bersambung