
Di tengah perbincangan Dedi dan juga Winda. Tiba-tiba saja ponsel Dedi bergetar lalu disusul dengan nada dering milik nya. Dedi kemudian dengan segera meraih ponsel yang ia letakkan di saku celana sebelah kiri nya. Dilihat nya kearah layar dan ternyata itu adalah Rafka yang saat ini tengah memanggil nya. Tentu saja tanpa menunggu lagi Dedi dengan segera menjawab panggilan tersebut. Ia lalu berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari Winda, mencari tempat yang nyaman untuk berbicara dengan Rafka. Karena disana begitu ramai pengunjung, sehingga menimbulkan sedikit keriuhan dan itu membuat Dedi kurang merasa nyaman jika ia berbicara disana.
" Assalamu'alaikum Rafka.." Sapa nya setelah memberi salam terlebih dahulu.
" Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh." Balas Rafka. " Ded, kamu sekarang sedang berada dimana?" Tanya Rafka tanpa berbasa-basi lagi.
" Tumben kamu nelpon, terus pake acara nanyain aku sekarang lagi ada dimana. Emang nya kamu mau apa Mas bro?" Tanya Dedi dengan sedikit guyonan.
" Jemput aku sekarang di bandara." Tukas Rafka.
" Apa! Jemput kamu di bandara!" Seru Dedi. " Bukankah kalian seharusnya pulang sekitar satu minggu lagi ya!" Tambah nya kemudian.
" Ya, memang. Namun, ada sedikit problem disini. Jadi aku memutuskan untuk segera pulang." Ujar Rafka.
" Problem? Problem apa? Tunggu..tunggu.. hubungan mu dengan Annisa baik-baik saja kan?" Tanya Dedi merasa khawatir jika Rafka dan Annisa kembali memulai konflik, dan ujung-ujung nya pasti Annisa lah yang akan tersakiti nanti nya.
" Kamu tenang aja, hubungan ku dan Annisa baik-baik saja kok. Bahkan lebih baik dari yang sebelum nya." Rafka memberikan penjelasan.
" Oya, syukurlah.." Dedi mengusap lembut dadanya. Ia juga terlihat bernafas dengan lega saat mendengar jika hubungan sahabat dan juga wanita yang sangat di cintai nya itu ternyata baik-baik saja.
" Udah nanya nya? Kalau sudah jemput aku dan Annisa sekarang, nggak pake lama. Kasihan jika Annisa menunggu terlalu lama." Ucap Rafka.
" Oke..oke.. siap ndan! Saya akan segera meluncur kesana!" Ucap Dedi dengan candaan khas nya. Ia lalu mematikan ponsel nya dan kembali menghampiri Winda yang masih duduk menanti nya disana.
" Apa kamu sibuk sekarang?" Dedi kini sudah berdiri tegak di hadapan gadis tersebut.
" Kalau di tanya tentang kesibukan, pasti aku, Winda akan sangat sibuk jika sudah memulai pekerjaan." Sahut Winda seraya tersenyum.
" Baiklah, karena sekarang kamu belum memulai pekerjaanmu. Berarti kamu tidak sibuk sekarang, jadi kamu harus ikut bersamaku sekarang!" Ucap Dedi.
Ia lalu tanpa enggan meraih tangan gadis tersebut dan menarik nya untuk ikut bersama nya.
" Kak Dedi! Mau di bawa kemana Winda? Winda masih banyak pekerjaan!" Suara Winda terdengar protes saat Dedi menarik nya dengan paksa.
" Udah.. kamu tenang aja. Jika kamu ikut bersama ku, aku jamin kamu pasti bakalan senang." Ujar nya tanpa ingin memberitahu alasan yang sebenar nya.
Winda tak punya pilihan. Mau tidak mau ia akhirnya ikut bersama Dedi dan masuk kedalam mobil nya. Di dalam hati Winda sempat berfikir, mungkinkah Dedi akan menculik nya? Atau jangan-jangan Dedi akan membawa nya ke sebuah tempat sepi untuk memaksa nya? Ah. tidak-tidak.. Kak Dedi tidak mungkin mempunyai pikiran bejad seperti itu, pikir nya. Winda membuang jauh-jauh prasangka buruk nya itu. Kini ia memilih duduk di samping Dedi dengan baik, sembari sesekali memperhatikan wajah Dedi yang terlihat lebih tampan jika ia sedang fokus mengemudikan kendaraan nya.
10 menit berlalu.
Namun mereka tak kunjung tiba di tempat tujuan. Membuat Winda mulai risau dalam diam nya. Kini ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Dedi dengan perasaan yang agak sedikit gugup kala ia menatap kearah Dedi.
" Ehm, Kak Dedi.." Suara Winda terdengar pelan. Namun cukup mampu memecah keheningan yang tercipta selama 10 menit tersebut.
" Sebenar nya kita mau kemana? Kenapa dari tadi kita nggak sampai-sampai?" Tanya Winda sembari terus memperhatikan kearah Dedi, berharap jika pria yang sedang duduk di samping nya itu akan segera memberitahukan nya.
" Kita akan tiba disana sepuluh menit lagi. Kamu tenang aja, pokok nya aku jamin kamu bakalan senang jika kamu melihat apa yang ada disana." Ujar Dedi, sembari terus fokus mengemudikan mobil nya.
" Baiklah.." Sahut Winda. Setelah pertanyaan itu, ia kini memilih diam dan menikmati saja perjalanan nya.
Kini tanpa terasa sepuluh menit pun kembali berlalu. Mobil Dedi juga mulai memasuki area bandara. Dedi kini menepikan mobil nya di pinggir jalan. Setelah itu ia meraih ponselnya dan menghubungi Rafka. Tak butuh waktu lama, begitu panggilan nya tersambung. Rafka langsung mengangkat telpon nya.
" Kamu dimana?" Tanya Rafka begitu menerima panggilan dari Dedi.
" Kamu yang dimana? Aku sudah tiba di area bandara nih!" Tukas Dedi.
" Aku dan Annisa ada di Cafe sebelah kiri dari jalan. Kamu langsung kesini aja." Kata Rafka.
" Hmm, baiklah.." Dedi kemudian kembali mematikan ponsel nya. Setelah itu ia kembali menghidupan mesin mobil nya dan berjalan agak pelan sembari melihat-lihat dimana Cafe yang Rafka maksud.
Tak lama kemudian. Dedi menemukan keberadaan Rafka dan juga Annisa. Kebetulan saat itu mereka duduk di pinggir dinding kaca. Jadi Dedi bisa dengan mudah menemukan nya. Dedi kini memutar mobil nya menuju ke Cafe tersebut. Setelah selesai memarkirkan mobil nya, Dedi pun turun dan mengajak Winda untuk ikut bersamanya.
" Win, ayo.." Ucap nya setelah membuka pintu untuk Winda.
" Kita mau kemana Kak?" Winda tampak mengerutkan dahinya.
" Kita akan masuk kedalam, dan disana kamu akan melihat sesuatu yang akan membuat mu senang." Uja Dedi sembari mengulas senyuman.
Winda lalu mengangguk setuju. Ia kemudian segera turun dari mobil dan berjalan mengikuti Dedi di samping nya.
Kini mereka mulai memasuki Cafe tersebut, lalu Dedi membawanya menuju kearah meja dimana Annisa dan Rafka berada.
" Kak Nisa!" Seru Winda begitu melihat Annisa yang sedang duduk disana.
Mendengar nama nya di panggil. Tentu saja Annisa langsung menoleh kearah tersebut, dan betapa terkejut nya dia saat melihat Winda yang datang bersama Dedi sahabat nya.
" Winda!" Annisa langsung berdiri dari duduk nya. Sedangkan Winda mulai berjalan cepat menuju kearah nya. Setibanya disana Winda langsung memeluk Kakak nya yang juga di balas hangat pelukan oleh Annisa.
" Kakak, Winda kangen.." Ucap nya dengan nada manja.
" Sama, Kakak juga kangen sama kamu.." Balas Annisa.
Saking bahagia nya dengan pertemuan itu, membuat Annisa dan juga Winda mengabaikan orang-orang di sekelilinga nya. Terutama Rafka dan Dedi. Kedua pria itu tampak senyum-senyum sendiri melihat adegan pertemuan antara kakak-beradik itu.
BERSAMBUNG