
"Nisa, sebenarnya malam ini aku ingin mengakui sesuatu padamu." Ucap Rafka seraya menatap lekat-lekat wajah Annisa.
Deg
"Apa maksud nya ini, mungkinkah Abang ingin .. Aaa.. Nisa jangan berpikir yang macam-macam dulu. Jika itu diluar ekspektasi mu nanti kamu bakalan kecewa.
Annisa menahan diri untuk tidak berpikir terlalu jauh. Meskipun belakangan ini mereka sudah mulai dekat tapi itu kan tidak bisa menjamin jika Rafka akan begitu saja menerimanya.
"Abang mau bilang apa? Katakan saja." Annisa membalas tatapan Rafka.
"Aku mulai jatuh cinta kepadamu Nis." Ucap Rafka.
Seketika Annisa tertegun dalam diam nya. Ia tak menyangka akhirnya kata-kata itu bisa keluar dari mulut Rafka. Meskipun mulai jatuh cinta, tapi bukankah berarti Rafka sudah mempunyai perasaan khusus terhadapnya.
"Nis, aku ingin kamu bisa menjaga cinta ini. Merawatnya sepenuh hatimu hingga akhirnya aku tidak bisa lepas lagi darimu. Karena aku yakin kamu bisa melakukan nya dan aku percaya jika kita memang ditakdirkan untuk bersama." Rafka semakin mempererat genggaman tangan nya. Berharap Annisa juga memiliki pemikiran yang sama dengan nya.
"Abang yakin?" Annisa sedikit ragu. Mengingat kedekatan Rafka dengan Maya. Meskipun belakangan ini Rafka terlihat ketus kepadanya. Tapi walau bagaimanapun mereka pernah menjalin hubungan bersama, bahkan saat itu Rafka juga sangat mencintainya. Jadi menurutnya tidak menutup kemungkinan jika Rafka akan berpaling darinya.
"Ya, aku yakin." Rafka mempertegas perasaan nya.
Annisa menatap lekat-lekat wajah Rafka. Ia melihat dari sudut mata Rafka sepertinya ia sangat bersungguh-sungguh dengan ucapan nya. Sehingga membuat Annisa luluh dengan perasaan nya.
"Baiklah," Jawab Nisa singkat.
"Baiklah, apakah itu berarti sekarang kita sudah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah?" Ucap Rafka. Perasaan nya begitu gembira, sehingga ia kini ia sendiri tak mengerti dengan apa yang baru saja diucapkan nya.
"Apa maksud Abang? Jadi selama ini Abang menganggap pernikahan kita tidak sah?" Annisa mulai mengerutkan muka. Awal bahagia yang baru saja dirasakan nya seketika hilang disaat mendengar kalimat terkahir yang diucapkan Rafka.
"Ma-maaf, bukan begitu maksud ku." Ucap Rafka. Kini ia berusaha membujuk Annisa yang mulai membalikkan badan.
"Dasar bodoh! Rafka seharusnya kamu mengatakan jika saat ini kalian sudah resmi menerima perasaan masing-masing. Bukannya sudah sah jadi suami istri. Lihat saja Nisa nya jadi salah paham kan.
Rafka merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia mengatakan itu batin nya. Sungguh sangat memalukan.
"Nis, maaf. Bukan begitu maksud ku." Ulang nya lagi.
Namun sayang nya Nisa tak mengindahkan nya. Kini ia malah berjalan cepat meninggalkan tempat itu.
"Nis, tunggu!" Rafka berusaha mengejar. Dengan tertatih-tatih kini ia mulai mendapatkan Nisa dan menarik tangan nya.
"Lepas Bang, tangan Nisa sakit!" Ringis Annisa karena memang tangan Rafka menggenggam erat pergelangan tangan nya.
Melihat Annisa yang tampak kesakitan, membuat Rafka seketika memeluk tubuh Annisa dan melepaskan pegangan tangan nya.
"Nisa maaf," Lirihnya " Aku janji ini setelah hari ini aku tidak akan lagi menyakitimu." Ucap Rafka penuh kelembutan.
Mendengar ucapan Rafka yang begitu lembut serta sarat akan ketulusan. Membuat Annisa luluh dan tak bisa berkata apa-apa. Kini ia hanya berusaha menerima Rafka dengan hati yang tulus.
Sementara itu. Fikar yang memperhatikan mereka di balik pepohonan mulai memberi kode kearah tiga orang lelaki yang berdiri tak jauh darinya. Mereka yang mendapat kode dari Fikar kemudian mengeluarkan beberapa kembang api lalu menyalakan nya.
Duaaarrr!!
Dibawah bulan purnama kembang api tersebut merekah dengan indah. Sehingga membuat Annisa yang sempat terkejut dengan suaranya kini mulai tersenyum saat melihat keindahan nya.
"Loh Bang, siapa yang main kembang api disini?" Ucap Annisa polos sehingga membuat Rafka tersenyum.
"Coba kamu lihat keujung sana," Ucap Rafka seraya menunjuk kearah Fikar dan kawan-kawan nya. Annisa kemudian melirik kearah yang ditunjuk Rafka.
"Ternyata dari tadi disini ada orang lain selain kita?" Ekspresi Annisa tampak terkejut.
"Iya." Sahut Rafka seraya tersenyum lebar.
"Ya tuhan.. Memalukan sekali.
Annisa merungut kesal.
"Bang Nisa mau pulang sekarang!" Pinta nya. Ia merasa malu sekali sekarang karena telah menjadi tontonan bagi khalayak umum.
"Baiklah," Rafka menuruti. Kini mereka pun kembali ke Vila.
Setibanya didalam kamar. Wajah Annisa masih saja menunjukkan ketidaksenangan nya terhadap kejadian tadi di pantai. Sehingga membuat Rafka bekerja keras untuk kembali membujuk nya. Maksud hati ingin memberikan kejutan kepada Annisa dengan menyalakan kembang api setelah mereka bersama. Eh malah sebaliknya, bukan nya senang. Annisa justru semakin kesal terhadapnya.
"Nis, kamu masih marah?" Tanya nya sembari menatap Annisa lekat-lekat.
Namun Annisa tak menjawab.
"Nisa baiklah, aku minta maaf. Lain kali aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Ucapnya seraya terus menatap Annisa.
Namun masih tak ada respon dari Annisa.
"Nis, ku mohon." Rafka mulai memasang raut wajah se-memelas mungkin agar Annisa luluh padanya. Sepertinya malam ini sifat angkuh yang biasa ia tunjukkan hancur seketika.
Annisa kemudian sedikit melirik kearah Rafka. Melihat wajahnya yang merasa sangat bersalah, membuat Annisa luluh karena tak tega.
"Baiklah, Nisa maafkan" Lirih nya.
"Benarkah?" Raut wajah Rafka berubah seketika.
"Ya," Sahut Annisa singkat. Kini ia mulai merebahkan tubuhnya dan berbalik membelakangi Rafka. Ia juga mulai memejamkan matanya karena ingin segera tidur. Sebenarnya ia sudah mengantuk sedari tadi waktu di pantai. Namun ditahan nya dan kini ketika sudah berada didalam kamarnya maka rasa kantuk itu tidak bisa lagi dibendung, sehingga membuat nya ingin segera beristirahat.
"Nisa," Panggil Rafka dari belakang.
"Hmm,"
"Bukankah kita sudah baikan." Ucap Rafka.
"Ya," Jawab Annisa singkat.
"Kalau begitu bisakah kita melakukan nya sekarang?" Rafka mulai mendekati Annisa.
"Melakukan apa?" Annisa terdengar lugu dan polos.
"Melakukan apa yang seharusnya suami dan istri lakukan." Rafka mulai mendekap.
Deg
Annisa mulai membuka mata.
"Apa maksudnya Abang ingin.. Aaaa..... Bagaimana ini
Annisa mulai gelisah. Sedangkan Rafka dengan segera membalikkan tubuh Annisa sehingga kini membuat mereka bersitatap dengan jarak yang sangat dekat.
"Nis, kamu bersedia kan?" Ucap Rafka dengan jarak yang sangat dekat.
Annisa tak menjawab. Dengan jantung yang berdebar kencang serta tubuh yang mulai gemetar ia tak berani memandang wajah Rafka dengan jarak yang sangat dekat itu. Ia menundukkan pandangan nya, namun Rafka tak membiarkan nya. Diraihnya dagu Annisa lalu diangkat nya sedikit keatas agar Annisa kembali menatap nya.
"Nisa, maafkan aku karena pernah menjadikan mu sebagai pengantin yang tak dirindukan dan Mulai malam ini aku berjanji akan menjadikan mu sebagai pengantin yang selalu ku rindukan." Ucapnya lirih.
Kini ia mulai membelai lembut wajah Annisa dan kembali membisikkan sesuatu disana.
"Nisa, bersediakah kamu menjalani kewajiban mu sebagai seorang istri malam ini? Memberikan hak ku dan aku juga memberikan hak mu." Bisik Rafka.
Annisa hanya diam, namun perlahan ia mengangguk kan kepalanya yang berarti
menyetujui ucapan Rafka. Sehingga tanpa menunggu lagi dengan segera Rafka mendaratkan ciuman nya tepat di bibir Annisa.
"Cup"
Deg
Terdengar dengan jelas jantung mereka berdua mulai berpacu dengan cepat. Annisa terlihat pasrah, dibandingkan malam sebelumnya kali ini Annisa terlihat jauh begitu menikmati. Mungkinkah karena Rafka telah mengakui perasaan nya sehingga membuat Annisa menerima apa yang diinginkan suaminya. Entahlah, yang pasti malam ini kedua insan itu telah menyatu menjadi satu dalam balutan kehangatan yang indah.
BERSAMBUNG
Untuk adegan yang selanjutnya kalian bisa mendeskripsikan sendiri dong pastinya. Happy readingπππΉπΉπππ