Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 107


Bip-bip.


Terdengar nada dering ponsel yang mengisyaratkan sebuah


pesan masuk. Rafka menraih ponselnya yang ia letakkan diatas sebuah meja kecil


yang terletak di samping ranjangnya. Dilihatnya sebuah pesan Watshaap masuk


dari Fikar.


Fikar?


Gumam Rafka.


Tanpa menunggu lama, Rafka lalu membuka pesan video yang


dikirimkan oleh Fikar dan melihat nya. Alangkah terkejutnya dirinya saat


melihat sebuah video dimana Maya menuangkan sesuatu kedalam segelas minuman,


yang kemudian minuman itu diminum oleh Annisa.


Ditambah lagi, Fikar juga mengirimi pesan, jika cairan yang


ditambahkan oleh Maya itu ternyata adalah obat pencegah kehamilan yang dosis


nya cukup tinggi. Yang dijual secara illegal dipasaran. Rafka mengepalkan


tangan nya. Wajah nya mengerut seketika menyatukan kedua alis tebal yang tumbuh


indah di atas kedua matanya. Ia juga menggertakkan giginya, pertanda emosinya


mulai membuncah hebat di ubun-ubun kepalanya.


Annisa kemudian lewat didepan nya. Llau ia melihat wajah


Rafka yang saat ini memerah akibat menahan amarahnya. Lantas, dengan langkah


santai Annisa pun dating menghampiri Rafka dan duduk disamping nya.


“ Bang,” Sapanya lembut seperti biasanya.


“ Hmm,” Rafka menjawab singkat.


“ Abang kenapa?” Tanya Annisa tanpa ragu.


“ Hah, aku?” Rafka menunjuk kearah dirinya sendiri saat ini.


“ Iya, kamu.” Balas Annisa. “ Nisa lihat wajah Abang merah


saat ini. Apa Abang sedang kesal dengan seseorang?” Tanya nya lagi.


“ Oh, tidak, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Mana mungkin


wajahku terlihat merah, apalagi sedang kesal seperti ucapanmu barusan.” Jawab


Rafka seraya mengalihkan pandangan nya. Ia juga menjauhkan ponselnya dari


Annisa dan memasukkan nya didalam saku celananya.


“ Apa Abang sedang kesal dengan Nisa?” Annisa menatap wajah


Rafka dengan tatapan tajam. Berusaha menelisik apa yang sebenarnya terjadi


dengan Rafka.


“ Ah, mana mungkin. Mana mungkin aku kesal kepadamu, tingkah


mu pagi ini saja sungguh membuat ku bersemangat untuk mengawali hari. Sudahlah,


jangan mikir macam-macam. Mungkin itu cuma perasaan mu saja.” Sanggah nya.


“ Baiklah, Nisa percaya. Mungkin ini perasaan Nisa saja ya.”


Ujar Annisa yang membenarkan perkataan Rafka. Namun, entah mengapa hatinya


masih ragu dengan itu. Annisa merasa jika saat ini Rafka sedang menyembunyikan


sesuatu terhadapnya. Tapia apa? Ia justru bertanya-tanya didalam hatinya.


“ Sayang, aku lapar nih. Yuk turun kebawah, kita sarapan


sama-sama.” Ajak Rafka seraya bangkit dari duduknya.


Annisa kemudian juga bangkit dari duduknya. Ia menjulurkan


tangan nya saat Rafka mengulurkan tangan kearah Annisa agar mereka saling


berpegangan tangan. Kini, setelah ia berdiri dari duduknya mereka pun melangkah


keluar sembari bergandengan tangan seperti biasanya. Bahkan sekarang Rafka


mulai merangkul pinggang nya agar Annisa berjalan lebih dekat dengan nya.


Dimeja makan.


Seperti biasanya Annisa menjalani peran nya sebagai seorang


istri untuk melayani suaminya. Dari yang mengambilkan makanan, serta menuangkan


air kedalam gelasnya. Semua itu dilakukan Annisa dengan sangat baik, dan sepertinya


itu sudah menjadi rutinitas favorit bagi Annisa untuk melayani suaminya.


Annisa melakukan semuanya dengan ikhlas. Jujur saja,


disetiap ia menjalani tugasnya sebagai seorang istri. Terselip begitu banyak


kebahagiaan disana, yang tak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Ya, Annisa


merasa sangat bahagia tatkala menjalani peran nya sebagai istri Rafka. Ditambah


lagi saat ini hubungan nya perlahan membaik dengan Rafka bahkan Rafka juga


mulai mencintainya dan menerima dirinya seutuhnya menjadi istrinya.


Sungguh itu adalah kebahagiaan terbesar saat ini didalam


hidupnya. Kini, ia juga berharap agar bisa segera mengandung dan memberikan


Rafka seorang anak. Tentu hal itu akan menambah warna kebahagiaan didalam


Semoga saja Allah


segera mengabulkan do’a ku, amin.


Batin nya.


“ Sayang, kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?” Tanya


Rafka.


Ternyata ia sudah memperhatikan gerak-gerik Annisa sedari


tadi, yang menuangkan minuman seraya senyum-senyum sendiri. Membuat Rafka


menjadi penasaran sendiri pastinya.


“ Eh, benarkah?” Tanya Annisa yang kemudian tertegun sendiri


karena nya. Ia sama sekali tak menyangka, jika bayangan nya yang ingin memiliki


seorang anak dari Rafka bisa membuatnya ersenyum tanpa sadar.


“ Hmm, kamu lagi mikirin apasih! Jangan bilang kamu lagi


mikirin kejadian tadi dikamar mandi, atau jangan-jangan kamu lagi mikirin


percintaan kita tadi malam?” Tanya Rafka yang dirundung rasa penasaran.


“ Eh, mana ada!” Bantah Annisa cepat-cepat. “ Yang benar


saja! Mana berani Nisa mikirin hal itu, malu tau!” Tambahnya kemudian.


“ Kamu malu dengan siapa? Denganku?” Tanya Rafka kembali.


Kali ini ia berniat menggoda Annisa dengan mengingatkan nya tentang kejadian


tadi malam.


“ Aaaa, sudahlah, jangan bicarakan hal itu lagi. Bukankah tadi


didalam kamar Abang mengatakan jika saat ini Abang sangat lapar. Jadi makanlah


sekarang, dan jangan banyak bicara. Karena jika kita bicara selagi makan, maka


setan akan ikut masuk kedalam mulut kita. Begitu yang dikatakan orang tua zaman


dahulu kan.” Ucap Annisa panjang lebar.


Ia lalu mulai mengambil makanan nya sendiri dan kemudian


duduk disebelah Rafka.


“ Hmm, baiklah orang tua zaman dahulu.” Balas Rafka seraya menyentil


kecil hidung Annisa. Lalu setelah itu, ia mulai memasukan makanan kedalam


mulutnya.


***


Pagi itu, setelah selesai menyantap sarapan nya. Annisa


kemudian memita izin kepada Rafka untuk mengurus tanaman nya yang ada di


halaman belakang. Tentu saja dengan senang hati Rafka mengizinkan nya.


“ Pergilah, tapi ingat! Kamu jangan terlalu capek ya, kan


kamu ingin memiliki anak. Jadi kamu harus bisa menjaga tubuhmu untuk tidak


melakukan pekerjaan yang terlalu melelahkan.” Ucapnya meperigatkan istrinya.


“ Iya Bang, Nisa ingat kok. Jadi Abang nggak perlu khawatir


ya.” Jawab Annisa.


“ Hmm, baguslah jika kamu mengerti.” Ujar Rafka seraya


tersenyum.


“ Ya sudah, kalau gitu Nisa pergi dulu ya mengurusi tanaman


Nisa. Abang nggak apa-apakan Nisa tinggal sendirian?”


“ Iya, nggak apa-apa. Aku akan duduk disini sambil menonton televisi,


dan jika aku bosan. Maka aku akan menyusulmu kesana.” Ujar Rafka .


“ Baiklah.” Annisa menganggukkan kepalanya. Ia kemudian


beranjak pergi darisana, namun baru saja ia melangkah. Rafka sudah menarik tangan


nya dan berjalan kearahnya.


Cup.


Sebuah kecupan lembut berhasil mendarat di kening nya.


Ternyata Rafka sengaja menghentikan langkahnya hanya untuk memberikan kecupan


itu untuk nya. Lalu kini, ia kembali duduk disofa seraya menyalakan televisi


nya.


“ Biasakan jika sebelum pergi tinggalkan sebuah kecupan


untukku, atau aku yang akan mengecup mu.” Ucap Rafka.


“ Baiklah, tapi Nisa lebih senang jika itu Abang yang


melakukan nya.” Jawab Annisa tanpa ragu. Lalu dengan segera ia lari darisana.


Mendengar jawaban Annisa, sontak saja membuat Rafka kembali


bangkit dari duduknya. Namun saat ia menoleh kearah kebelakang, dilihat nya


Annisa sedang berlari meninggalkan nya disana.  Yang membuat Rafka tertawa sendiri karena nya. Sungguh, ini adalah sisi


Annisa yang sama sekali tak terlihat olehnya.