
Bip-bip.
Terdengar nada dering ponsel yang mengisyaratkan sebuah
pesan masuk. Rafka menraih ponselnya yang ia letakkan diatas sebuah meja kecil
yang terletak di samping ranjangnya. Dilihatnya sebuah pesan Watshaap masuk
dari Fikar.
Fikar?
Gumam Rafka.
Tanpa menunggu lama, Rafka lalu membuka pesan video yang
dikirimkan oleh Fikar dan melihat nya. Alangkah terkejutnya dirinya saat
melihat sebuah video dimana Maya menuangkan sesuatu kedalam segelas minuman,
yang kemudian minuman itu diminum oleh Annisa.
Ditambah lagi, Fikar juga mengirimi pesan, jika cairan yang
ditambahkan oleh Maya itu ternyata adalah obat pencegah kehamilan yang dosis
nya cukup tinggi. Yang dijual secara illegal dipasaran. Rafka mengepalkan
tangan nya. Wajah nya mengerut seketika menyatukan kedua alis tebal yang tumbuh
indah di atas kedua matanya. Ia juga menggertakkan giginya, pertanda emosinya
mulai membuncah hebat di ubun-ubun kepalanya.
Annisa kemudian lewat didepan nya. Llau ia melihat wajah
Rafka yang saat ini memerah akibat menahan amarahnya. Lantas, dengan langkah
santai Annisa pun dating menghampiri Rafka dan duduk disamping nya.
“ Bang,” Sapanya lembut seperti biasanya.
“ Hmm,” Rafka menjawab singkat.
“ Abang kenapa?” Tanya Annisa tanpa ragu.
“ Hah, aku?” Rafka menunjuk kearah dirinya sendiri saat ini.
“ Iya, kamu.” Balas Annisa. “ Nisa lihat wajah Abang merah
saat ini. Apa Abang sedang kesal dengan seseorang?” Tanya nya lagi.
“ Oh, tidak, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Mana mungkin
wajahku terlihat merah, apalagi sedang kesal seperti ucapanmu barusan.” Jawab
Rafka seraya mengalihkan pandangan nya. Ia juga menjauhkan ponselnya dari
Annisa dan memasukkan nya didalam saku celananya.
“ Apa Abang sedang kesal dengan Nisa?” Annisa menatap wajah
Rafka dengan tatapan tajam. Berusaha menelisik apa yang sebenarnya terjadi
dengan Rafka.
“ Ah, mana mungkin. Mana mungkin aku kesal kepadamu, tingkah
mu pagi ini saja sungguh membuat ku bersemangat untuk mengawali hari. Sudahlah,
jangan mikir macam-macam. Mungkin itu cuma perasaan mu saja.” Sanggah nya.
“ Baiklah, Nisa percaya. Mungkin ini perasaan Nisa saja ya.”
Ujar Annisa yang membenarkan perkataan Rafka. Namun, entah mengapa hatinya
masih ragu dengan itu. Annisa merasa jika saat ini Rafka sedang menyembunyikan
sesuatu terhadapnya. Tapia apa? Ia justru bertanya-tanya didalam hatinya.
“ Sayang, aku lapar nih. Yuk turun kebawah, kita sarapan
sama-sama.” Ajak Rafka seraya bangkit dari duduknya.
Annisa kemudian juga bangkit dari duduknya. Ia menjulurkan
tangan nya saat Rafka mengulurkan tangan kearah Annisa agar mereka saling
berpegangan tangan. Kini, setelah ia berdiri dari duduknya mereka pun melangkah
keluar sembari bergandengan tangan seperti biasanya. Bahkan sekarang Rafka
mulai merangkul pinggang nya agar Annisa berjalan lebih dekat dengan nya.
Dimeja makan.
Seperti biasanya Annisa menjalani peran nya sebagai seorang
istri untuk melayani suaminya. Dari yang mengambilkan makanan, serta menuangkan
air kedalam gelasnya. Semua itu dilakukan Annisa dengan sangat baik, dan sepertinya
itu sudah menjadi rutinitas favorit bagi Annisa untuk melayani suaminya.
Annisa melakukan semuanya dengan ikhlas. Jujur saja,
disetiap ia menjalani tugasnya sebagai seorang istri. Terselip begitu banyak
kebahagiaan disana, yang tak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Ya, Annisa
merasa sangat bahagia tatkala menjalani peran nya sebagai istri Rafka. Ditambah
lagi saat ini hubungan nya perlahan membaik dengan Rafka bahkan Rafka juga
mulai mencintainya dan menerima dirinya seutuhnya menjadi istrinya.
Sungguh itu adalah kebahagiaan terbesar saat ini didalam
hidupnya. Kini, ia juga berharap agar bisa segera mengandung dan memberikan
Rafka seorang anak. Tentu hal itu akan menambah warna kebahagiaan didalam
Semoga saja Allah
segera mengabulkan do’a ku, amin.
Batin nya.
“ Sayang, kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri?” Tanya
Rafka.
Ternyata ia sudah memperhatikan gerak-gerik Annisa sedari
tadi, yang menuangkan minuman seraya senyum-senyum sendiri. Membuat Rafka
menjadi penasaran sendiri pastinya.
“ Eh, benarkah?” Tanya Annisa yang kemudian tertegun sendiri
karena nya. Ia sama sekali tak menyangka, jika bayangan nya yang ingin memiliki
seorang anak dari Rafka bisa membuatnya ersenyum tanpa sadar.
“ Hmm, kamu lagi mikirin apasih! Jangan bilang kamu lagi
mikirin kejadian tadi dikamar mandi, atau jangan-jangan kamu lagi mikirin
percintaan kita tadi malam?” Tanya Rafka yang dirundung rasa penasaran.
“ Eh, mana ada!” Bantah Annisa cepat-cepat. “ Yang benar
saja! Mana berani Nisa mikirin hal itu, malu tau!” Tambahnya kemudian.
“ Kamu malu dengan siapa? Denganku?” Tanya Rafka kembali.
Kali ini ia berniat menggoda Annisa dengan mengingatkan nya tentang kejadian
tadi malam.
“ Aaaa, sudahlah, jangan bicarakan hal itu lagi. Bukankah tadi
didalam kamar Abang mengatakan jika saat ini Abang sangat lapar. Jadi makanlah
sekarang, dan jangan banyak bicara. Karena jika kita bicara selagi makan, maka
setan akan ikut masuk kedalam mulut kita. Begitu yang dikatakan orang tua zaman
dahulu kan.” Ucap Annisa panjang lebar.
Ia lalu mulai mengambil makanan nya sendiri dan kemudian
duduk disebelah Rafka.
“ Hmm, baiklah orang tua zaman dahulu.” Balas Rafka seraya menyentil
kecil hidung Annisa. Lalu setelah itu, ia mulai memasukan makanan kedalam
mulutnya.
***
Pagi itu, setelah selesai menyantap sarapan nya. Annisa
kemudian memita izin kepada Rafka untuk mengurus tanaman nya yang ada di
halaman belakang. Tentu saja dengan senang hati Rafka mengizinkan nya.
“ Pergilah, tapi ingat! Kamu jangan terlalu capek ya, kan
kamu ingin memiliki anak. Jadi kamu harus bisa menjaga tubuhmu untuk tidak
melakukan pekerjaan yang terlalu melelahkan.” Ucapnya meperigatkan istrinya.
“ Iya Bang, Nisa ingat kok. Jadi Abang nggak perlu khawatir
ya.” Jawab Annisa.
“ Hmm, baguslah jika kamu mengerti.” Ujar Rafka seraya
tersenyum.
“ Ya sudah, kalau gitu Nisa pergi dulu ya mengurusi tanaman
Nisa. Abang nggak apa-apakan Nisa tinggal sendirian?”
“ Iya, nggak apa-apa. Aku akan duduk disini sambil menonton televisi,
dan jika aku bosan. Maka aku akan menyusulmu kesana.” Ujar Rafka .
“ Baiklah.” Annisa menganggukkan kepalanya. Ia kemudian
beranjak pergi darisana, namun baru saja ia melangkah. Rafka sudah menarik tangan
nya dan berjalan kearahnya.
Cup.
Sebuah kecupan lembut berhasil mendarat di kening nya.
Ternyata Rafka sengaja menghentikan langkahnya hanya untuk memberikan kecupan
itu untuk nya. Lalu kini, ia kembali duduk disofa seraya menyalakan televisi
nya.
“ Biasakan jika sebelum pergi tinggalkan sebuah kecupan
untukku, atau aku yang akan mengecup mu.” Ucap Rafka.
“ Baiklah, tapi Nisa lebih senang jika itu Abang yang
melakukan nya.” Jawab Annisa tanpa ragu. Lalu dengan segera ia lari darisana.
Mendengar jawaban Annisa, sontak saja membuat Rafka kembali
bangkit dari duduknya. Namun saat ia menoleh kearah kebelakang, dilihat nya
Annisa sedang berlari meninggalkan nya disana. Yang membuat Rafka tertawa sendiri karena nya. Sungguh, ini adalah sisi
Annisa yang sama sekali tak terlihat olehnya.