
Dimeja makan. Sepeninggal Rafka dan Annisa membuat Maya mengeram kesal. Meskipun wajah nya tersenyum manis namun hatinya merasa sakit saat mendengar kalimat yang diucapkan Rafka.
Fikar masih setia disana. Menghabiskan sisa-sisa makanan yang ada di mulut nya. Matanya juga tak lepas melirik kearah Maya yang tampak dengan jelas sekali menunjukkan jika saat ini dia sedang uring-uringan. Itu semakin menambah keyakinan Fikar jika saat ini diantara mereka ada sesuatu. Mungkin saja itu cinta segitiga atau bisa jadi cinta yang tak terbalas kan.
Makanan masih tersisa banyak diatas piring Maya. Namun kini ia sudah menyudahi makan nya. Diraih nya gelas air putih yang ada didepan nya lalu ia meminum nya. Setelah itu Maya kemudian berdiri dari duduk nya.
" Loh May, kamu udahan makan nya?" Tanya Fikar.
" Eh iya Fik, nafsu makan ku lagi berkurang." Sahut nya.
" Ooh," Fikar mengangguk pelan. " Oya, habis ini kita ngobrol-ngobrol ya." Ajak nya.
Maya terdiam. Ia berfikir keras bagaimana caranya menolak ajakan Fikar. Karena saat ini ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengacaukan bulan madu Rafka dan Annisa. Sehingga mereka tidak jadi melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.
" Hooaam!" Maya menguap, " Kayaknya lain kali saja deh Fik, soalnya aku ngantuk sekali." Ucap nya.
" Oh, ya sudah kalau begitu. Next time kamu jangan nolak ya." Balas Fikar.
" Pasti." Balas Maya. " Ya udah, aku balik ke kamar dulu ya. Bye!" Tambah nya.
" Hmm."
Fikar tersenyum simpul. Ia lalu kembali melanjutkan makan nya. Sedangkan Maya beranjak pergi dari sana kembali ke kamar nya.
" Dasar Maya, dari dulu sikap nya tidak pernah berubah. Selalu saja menginginkan hal yang tak mungkin ia dapatkan." Lirih Fikar, ia kemudian menghabiskan makanan nya dan setelah itu ia pun juga kembali ke kamar nya.
Didepan pintu kamar.
Maya berdiri sembari menatap kearah ujung ruangan. Diujung sana adalah letak kamar Rafka dan Annisa. Ia lalu berjalan perlahan menghampiri kamar tersebut. Berencana memanggil Rafka dan membicarakan tentang kesehatan Ibunya. Karena selama inikan Rafka selalu perduli kepada Ibu Maya, apalagi itu menyangkut tentang kesehatan nya. Rafka pasti tidak akan menolak jika ia menangis didepan nya agar Rafka mau berbicara berdua dengan nya untuk sekedar berkeluh kesah.
Langkah kaki Maya kini telah berhenti tepat didepan pintu kamar Rafka. Ia mendekatkan dirinya ingin mendaratkan tangan nya mengetuk pintu nya. Namun tangan nya seketika terhenti saat ia mendengar suara jeritan kecil dari dalam. " Aaah..mmm." Maya tertegun, tangan nya tak jadi menempel di pintu. Raut wajah nya juga seketika berubah, perlahan Maya menempelkan telinga nya disana. Ingin memastikan apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Saat mendengar suara desa-han yang ia pastikan adalah suara Annisa. Tangan nya mengepal dengan sendirinya. Ia seolah tak percaya dan ingin memastikan sendiri apakah itu benar seperti yang di bayangkan nya. Namun jika ia memaksa untuk masuk dan melihat sendiri apa yang terjadi itu adalah benar. Maka ia takut jika ia tidak bisa menahan dirinya disana bahkan itu bisa mempermalukan dirinya sendiri didepan Rafka.
Perlahan Maya mundur beberapa langkah ke belakang. Bulir-bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia tak dapat menahan kesedihan nya karena saat ini Rafka pria yang sangat di cintai nya itu telah melalukan kewajiban nya sebagai suami. Maya menghapus air matanya, ia lalu berlari kearah kamar nya yang berjarak dua puluh meter dengan kamar Rafka. Ia membuka pintu kamar nya lalu masuk kedalam dan mengunci diri disana.
" Tidak! Tidak! I-ini tidak mungkin! Mas Rafka tidak mungkin melakukan nya dengan Annisa. Dia mencintaiku! Hanya mencintaiku!"
Jeritan Maya memenuhi isi kamar nya. Ia masih tak percaya bahkan menyangkal jika saat ini Rafka lebih memilih Annisa dibandingkan diri nya. Perjalanan cinta yang pernah mereka rajut selama kurang lebih dua tahun, kini pupus sudah hanya karena kesalahan yang menurut nya sangat kecil. Ia hanya ingin bersenang-senang dengan Reno, karena waktu itu Rafka tidak memberi cukup perhatian untuk nya karena kesibukan nya. Sehingga Maya mencari pelarian serta perhatian dari pria lain untuk mengisi kekosongan nya. Tapi hatinya hanya mencintai Rafka seorang! Hanya Rafka seorang! Hanya Rafka!
Bulir-bulir air mata kemudian kembali jatuh membasahi wajah mulus nya. Yang selama ini selalu ia rawat agar Rafka tak berpaling darinya. Maya kembali menangis hingga sesenggukan. Kain seprei yang ada diatas ranjang ia tarik dan ia lemparkan sembarangan. Bantal-bantal juga ia buang kesana-kemari, melampiaskan segala amarah yang ada didalam dirinya. Amarah yang sma sekali tak bisa ia kontrol sehingga kini membuat nya brutal seperti orang gila. Rambut lurus yang tadinya ia cepol ke belakang kini ia tarik dan mengacak nya hingga berantakan. Lalu setelah itu ia kemudian berdiri dan berjalan kearah meja hiasnya menjatuhkan semua skincare miliknya kelantai.
Prankk!
Semuanya kini telah berserakan dilantai.
Ya,cinta memang gila. Sehingga bisa membuat seseorang gelap mata jika ia merasa telah tersakiti. Seperti kiranya Maya saat ini gila karena cintanya kepada Rafka.
" Aku harus kuat! Aku harus kuat! Walau bagaimanapun, aku harus bisa mendapatkan kembali Mas Rafka. Meskipun itu dengan cara kotor!"
Maya tak ingin patah arang. Sehingga kini ia menyemangati dirinya sendiri agar tak terlalu jauh larut dalam kesedihan.
Diluar kamar.
Fikar sudah berdiri seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Rencananya ia bermaksud ingin meminta nomor ponsel Maya. Agar lebih mudah menghubunginya, namun sepertinya kedatangan nya kurang tepat. Sehingga kini ia malah mendengar hal yang seharusnya tak di dengar.
***
Pagi ini cuaca sangat lah cerah diluar sana. Namun hawa dingin masih terasa menusuk hingga ke tulang. Mungkin itu dikarenakan alam disana masih lah asri dan juga di sekitar rumah banyak terdapat pepohonan yang rindang. Masyarakat disini sangatlah menjaga keindahan pulau nya. Ditambah lagi dari dengan tetap menjaga pulau tersebut maka mereka juga dapat tetap menjaga penghasilan mereka. Karena sebagian besar masyarat yang ada disini memiliki penghasilan dari sumber daya alam yang ada disana.
Annisa turun kelantai bawah dengan memakai gamis berwarna kunyit. Pagi ini ia mengenakan jilbab instan miliknya. Annisa berjalan kearah dapur karena ia berniat membuat dua gelas teh hangat untuk nya dan juga Rafka.
Lorong demi lorong ia telusuri hingga akhirnya Annisa tiba didapur. Setibanya disana ia melihat Maya yang juga sedang membuatkan segelas susu untuk dirinya sendiri. Matanya terlihat sembab dengan raut wajah yang terlihat sama sekali tidak sehat. Mungkin itu semua karena tadi malam Maya tidak tidur dengan nyenyak memikirkan apa yang telah dilakukan Rafka kepada Annisa.
" Hai May." Sapa Annisa dengan nada lembut, namun sayang nya Maya sama sekali tidak menjawab. Ia terus melakukan kesibukan nya membuat segelas susu miliknya.
" Tidak menjawab, ya sudahlah.
Annsa tak ingin ambil pusing dengan sikap Maya yang saat ini terlihat acuh kepadanya. Ia lalu berjalan mendekat kearah dapur untuk segera menyelesaikan keinginan nya.
Saat berjalan mendekati dapur. Terlihat gerakan Annisa berjalan agak pelan seperti menahan sesuatu. Wajahnya juga terlihat kurang sehat, layaknya seseorang yang tengah kelelahan karena tidak cukup tidur semalaman.
Melihat itu membuat fikiran Maya terbang entah kemana. Didalam benak nya kini terlintas hal-hal aneh yang dilakukan Rafka terhadap Annisa. Sungguh sakit saat ia membayangkan nya, karena baginya yang berada di posisi itu seharusnya dirinya bukan Annisa.
" Kamu kenapa?" Tanya Maya memecah keheningan yang ia ciptakan sendiri pagi itu.
Sehingga membuat Annisa menoleh kearah nya.
" Nggak tau May, entah mengapa rasanya seluruh tubuhku pagi ini seperti remuk semua." Jawab Annisa polos.
Deg
" Cih, sengaja ingin pamer!
Maya melirik dengan ujung matanya. Tatapan nya sungguh sangat tidak senang kali ini terhadap Annisa. Sedangkan Annisa mulai melakukan aktivitas nya menyeduh teh.
" Ups! Sorry!" Maya sengaja berjalan menumpahkan susu yang ada di gelas nya kepada Annisa sehingga kini jilbab instan yang dipakai nya kotor terkena susu.
" Ah! Tidak apa-apa May." Seru Annisa seraya membersihkan jilbab nya. Ia lalu berjalan kearah Wastafel untuk membersihkan nya dengan air. Karena jilbab yang Annisa kenakan pagi ini lumayan besar hingga menutupi bagian dadanya. Sehingga susu yang tumpah pun lumayan banyak mengotori jilbab nya.
" Sini aku bantu." Ucap Maya sembari berjalan kearah Annisa.
" Nggak apa-apa May, aku bisa sendiri." Tolak Annisa. Namun sayang nya Maya tidak ingin mendengar. Sehingga kini dengan gerakan cepat ia sengaja menarik jilbab yang di kenakan Annisa hingga terlepas dari kepalanya.
Maya mengambil kesempatan itu untuk melirik kearah leher Annisa. Kebetulan saat ini Annisa hanya memakai siput yang cuma menutupi bagian rambutnya. Sehingga Maya dapat dengan mudah mengekspos leher Annisa. Disana Maya melihat tanda-tanda kemesraan Rafka terlihat jelas membekas di leher Annisa. Bukan hanya satu, namun ada begitu banyak sehingga memenuhi leher Annisa.
" Maya! Ada apa denganmu!" Seru Annisa sembari mengerutkan dahinya.
Annisa juga terlihat kesal karena saat ini Maya telah menanggalkan jilbab nya.
" Leher mu kenapa? Apa itu karena Mas Rafka menggigit mu?" Pertanyaan Maya terdengar sinis.
" Apa maksud mu May?" Annisa terlihat semakin tak mengerti dengan ucapan Maya.
" Heh, dasar ******!"
Seru Maya kembali sembari melemparkan jilbab yang ada ditangan nya ke wajah Annisa. Lalu setelah itu Maya pergi meninggalkan dapur.
" Ada apa dengannya. Kenapa ia bersikap seperti itu kepadaku, bahkan sampai mengataiku dengan kata kasar seperti tadi. Memang nya apa salahku?
Annisa masih bingung. Bertanya-tanya didalam hatinya sendiri tentang sikap Maya yang amat kasar pagi ini terhadapnya.
" Ah, sudahlah, lebih baik aku segera menuntaskan pekerjaan ku dan kembali ke kamar.
****
Pagi itu suasana terlihat sepi. Tak ada tampak seorang pun pelayan ada disana. Entah pergi kemana mereka semua. Namun yang pasti santapan pagi sudah tertata rapi diatas meja makan.
Setelah selesai membuat dua gelas teh. Annisa lalu kembali ke kamar nya. Dengan sebuah nampan kecil ia membawa teh nya beserta beberapa buah biskuit yang ia taruh diatas piring kecil sebagai camilan saat menikmati teh nya.
Tak lama berselang kini Annisa sudah berada kembali dikamar nya. Tak terlihat Rafka disana, mungkin saat ini ia sedang berada di kamar mandi. Begitu pikir Annisa.
Ia lalu berjalan menuju kearah balkon dan meletakkan nampan nya disana. Setelah itu ia pun membalikkan badan untuk kembali masuk kedalam mengganti jilbab nya.
" Sayang . . kamu dari mana aja?" Sapa Rafka seraya memeluk tubuh Annisa secara tiba-tiba. Sontak saja Annisa terkejut dibuat nya.
" Abang!"
" Kenapa? Kamu kaget?" Rafka semakin mempererat dekapannya.
" Jelas saja Nisa kaget. Bahkan Nisa hampir jantungan tau nggak!" Annisa mengerutkan dahinya. Namun nada suaranya terdengar manja saat ini.
" Yang benar?" Tanya Rafka sembari tersenyum.
Annisa tak menjawab. Ia begitu gugup saat Rafka menatapnya dengan jarak yang begitu dekat. Sehingga membuat wajahnya memerah.
" Nisa-nisa . . bahkan sudah sampai sejauh ini kamu masih saja begitu gugup jika berdekatan dengan ku. Sungguh kamu memang wanita yang istimewa.
Rafka kini semakin mengembangkan senyum nya. Baginya kegugupan Annisa ditambah lagi rona merah yang terlihat di pipinya. Membuatnya begitu menggemaskan bagi Rafka. Sehingga kini secara perlahan ia semakin mendekatkan wajahnya kearah Annisa. Berniat mencium bibirnya. Namun saat Rafka hampir mendaratkan ciuman nya. Tiba-tiba saja..
" Bang, Nisa kebelet pipis!" Seru Annisa seraya menutup matanya. Sontak saja Rafka menghentikan tindakan nya dan melepas Annisa sehingga membuat nya merasa sedikit lega.
" Kamu kebelet pipis? Yaudah sana, tapi jangan lupa dicuci bersih ya." Ucap Rafka seraya tersenyum penuh makna.
Apa maksud dari kalimat Abang tadi. Apa jangan-jangan dia ingin, aaaaa... aku tidak mau!
Wajah Annisa semakin merona saat mendengar kalimat yang diucapkan Rafka. Ucapan dan senyuman yang sarat akan makna. Tanpa membalas kalimat Rafka. Annisa segera berlalu dari sana menuju kearah kamar mandi.
" Baru saja aku merasa lega karena bisa bebas, tapi sekarang aku malah terjebak sendiri dengan ucapan Abang.
Annisa lalu masuk kedalam kamar mandi.
Rafka duduk disebuah kursi yang ad di balkon. Pemandangan pantai terpampang jelas saat ini dihadapan nya. Semilir angin juga berhembus lembut dan sejuk. Rafka menyeruput segelas teh hangat buatan tangan istrinya.
" Hmm, sungguh nikmat." Annisa memang cukup mahir dalam menyajikan teh. Takaran gula yang pas serta warna teh yang tak terlalu pekat membuat rasa teh tersebut menjadi nikmat. " Sungguh, Abi dan Bunda memang tidak salah memilihkan istri untukku." Rafka tersenyum sendiri mengucapkan nya.
" Annisa, kamu sungguh luar biasa." Tambah nya.
BERSAMBUNG