Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 74


Setelah meletakkan semua barang-barang yang dibawa Annisa dan Rafka. Tanpa menunggu lama Dedi kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan berjalan meninggalkan kediaman Rafka. Pak Sofyan yang bertugas berjaga kemudian kembali menutup pagar rumah. Namun tak lama berselang sebuah mobil datang dan berhenti tepat didepan pagar rumah Rafka. Dari sana keluarlah seorang gadis yang tak lain adalah Maya. Ia kemudian berjalan menghampiri pagar.


"Pak, tolong buka pintu gerbang nya." Ucap nya kepada Pak Sofyan.


"Maaf neng, Den Rafka sama Non Annisa sudah pergi." Ucap Pak Sofyan.


"Pergi?" Maya mengerutkan dahinya.


"Iya neng," Ujar Pak Sofyan.


"Kalau boleh tau mereka pergi kemana Pak?" Maya penasaran.


"Katanya Den Rafka sih mau bulan madu ke pulau XX," Pak Sofyan memberitahukan.


"Oh, gitu ya Pak. Ya sudah kalau begitu saya pulang saja." Maya kemudian undur diri dari sana dan kembali masuk kedalam mobilnya.


"Sial! Apa benar mereka pergi berbulan madu. Kenapa Rafka tidak memberitahuku sama sekali. Ini nggak bisa di biarin, aku masih nggak rela jika melihat Rafka bermesraan dengan wanita lain. Pokok nya bagaimanapun caranya aku harus segera menyusul mereka.


Maya mulai merencakan sesuatu agar ia bisa menyusul Rafka dan Annisa ke Pulau XX yang di maksud.


Sementara itu.


Setibanya di Bandara. Terlihat disana sudah berkumpul kedua keluarga Annisa dan juga Rafka. Abi, Bunda, Ayah dan Ibu sudah ada disana. Sedangkan Winda tidak ikut karena harus mengurus cabang utama toko kue Annisa. Mereka terlihat gembira saat melihat kedatangan Rafka dan juga Annisa.


"Ayah, Ibu," Annisa berlari kecil kearah kedua orang tuanya lalu memeluknya secara bergantian.


"Ayah, Ibu, kok bisa ada disini?" Annisa menatapi kedua orang tuanya secara bergantian.


"Kenapa? Kamu nggak senang?" Tanya Ayah seraya menatap hangat putrinya.


"Bukan seperti itu Yah, Nisa senang sekali malah saat melihat Ayah dan Ibu juga ada disini" Ucap Annisa.


"Iya Nis, kami sengaja datang kesini hanya untuk melihat mu terbang bersama Rafka untuk berbulan madu." Timpal Ibu.


"Iya Nis Ibumu benar. Tapi kenapa kalian lama sekali sampai kesini? Ini sepuluh menit lagi pesawat nya akan terbang loh." Ujar Bunda.


"Iya Bun, tadi di jalan agak sedikit macet. Maka dari itu kami telat tiba disini." Sahut Rafka.


"Hmm, ya sudah. Sekarang kalian langsung bersiap-siap naik ke pesawat ya. Supaya nggak ketinggalan." Ujar Bunda.


Kini mereka pun menyalami kedua orang tua masing-masing dan juga mertua secara bergantian. Setelah itu mereka pun bergegas untuk segera naik kedalam pesawat.


***


Setelah menempuh perjalanan sekitar 2,5 Jam. Akhirnya mereka tiba di Bandara XX. Disana Berdiri seorang pria yang berperawakan tegap dan tampan. Pria itu adalah Sopir sekaligus Tour Guide yang di pesan khusus oleh sang Bunda. Ia telah di bayar untuk menemani serta membawa Rafka dan Annisa kemana pun mereka mau.


"Tuan Rafka," Ucap Sopir sekaligus Tour guide itu. Ia mengenali Rafka karena sebelumnya Bunda telah mengirimi foto anaknya kepada pria tersebut, agar ia tak salah orang saat menjemputnya.


"Ya, anda siapa?" Tanya Rafka karena memang ia sama sekali tidak mengenal sosok pria itu.


"Perkenalkan saya Fikar, sopir sekaligus tour guide yang akan menemani kemana pun anda pergi selama disini." Ucap Fikar sekaligus mengulurkan tangan nya.


"Rafka, dan ini Annisa istri saya." Rafka memperkenalkan dirinya dan juga Annisa.


"Baiklah Tuan Rafka dan Nona Annisa. Silahkan ikuti saya karena mobilnya saya parkirkan di sebelah sana." Fikar membentangkan tangan nya mempersilahkan Annisa dan Rafka untuk mengikutinya.


Kini mereka pun sudah berada di dalam mobil. Karena lokasi pulau yang masih jauh. Maka setelah pergi meninggalkan Bandara. Kini mereka langsung menuju kearah pelabuhan.


"Tuan, apakah mau mampir dulu ke sebuah cafe untuk melepaskan penat selama di perjalanan?" Tanya Fikar sopan.


"Boleh," Sahut Rafka.


Sedangkan Annisa hanya menurut saja.


Kini Fikar pun mulai meluncur kearah Cafe favorit para pelancong yang datang ke kotanya.


Setibanya disana.


"Tuan, kita sudah sampai. Mari turun," Ajak nya seraya keluar dari dalam mobil. Lalu dengan sigap ia membuka pintu untuk Rafka dan Annisa.


"Terima kasih," Ucap Rafka.


Kini mereka pun masuk kedalam Cafe tersebut.


"Hmm, lumayan juga tempatnya." Rafka menatap sekeliling.


"Anda harus mencoba kopi disini. Saya yakin tuan akan suka, karena kopi di daerah saya ini terkenal sekali dengan cita rasa nya." Ucap Fikar penuh keyakinan.


"Baiklah, karena mataku juga sudah lelah. Maka aku mau mencoba segelas kopi yang kamu agung kan itu." Ujar Rafka. "Kamu mau Nis?" Tanya nya kearah Annisa.


"Eh, boleh." Mengangguk setuju.


Sebenarnya Annisa jarang sekali minum kopi. Namun kali ini ia ingin mencobanya karena penasaran dengan apa yang diceritakan Fikar tadi.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Tiga gelas kopi beserta kue-kue yang berbalut daun pisang khas kota itupun datang tersajikan.


"Silahkan dinikmati Tuan kopinya. Saya yakin pasti anda suka," Ucap Fikar sembari meraih gelas miliknya.


Begitu juga dengan Rafka. Ia pun kemudian meraih gagang gelas tersebut dan mulai menikmati kopi khas daerah itu.


"Hmm," Rafka tak bisa berkata apa-apa. Ternyata apa yang diucapkan Fikar itu benar. Kopi disana benar-benar nikmat. Aroma nya yang pas, rasa dari takaran yang pas membuatnya serasa ingin langsung menghabiskan kopi tersebut.


"Bagaimana Tuan? Apakah anda suka?" Fikar kembali bertanya.


"Hmm, kamu benar Fikar. Kopi disini benar-benar nikmat." Ujar Rafka.


Sedangkan Annisa hanya duduk diam sembari menikmati kopinya.


Setelah beberapa menit berlalu. Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke pelabuhan. Ternyata sudah ada sebuah kapal yang sedang bersandar. Sehingga mereka tak perlu lagi menunggu dan kini langsung naik ke kapal tersebut.


Setibanya mereka didalam kapal tersebut. Tak lama kemudian kapal mulai berlabuh berjalan meninggalkan dermaga. Angin laut mulai berhembus kencang sehingga membuat Annisa yang berdiri menyaksikan pemandangan laut siang itu tiba-tiba saja mual dan muntah.


"Hooek!!"


"Kamu kenapa Nis?" Rafka seketika panik saat melihat Annisa yang tiba-tiba saja merasa mual dan muntah.


"Kepala Nisa pusing Bang," Annisa memegangi kepala dan juga perutnya.


"Mungkin Nona sedang mabuk laut Tuan," Seru Fikar.


Ia kemudian mengeluarkan minyak angin aromatherapi yang ada didalam tas kecil nya.


"Pakai ini, mungkin bisa membantu." Ucap Fikar seraya menyerahkan botol minyak angin aromatherapi kepada Rafka.


"Terima kasih," Ucap Rafka.


Ia lalu membuka tutup nya dan memberikan nya kepada Annisa.


"Bagaimana? Apa kamu sudah merasa nyaman?" Tanya Rafka sembari memperhatikan wajah Annisa.


"Lumayan," Sahut Annisa.


"Bagaimana jika kita istirahat saja didalam kamar. Sembari menunggu kapal nya tiba di pulau XX." Ajak Rafka.


Tanpa berpikir panjang Annisa pun mengangguk setuju. Karena merasa mungkin istirahat adalah satu-satunya obat yang paling efektif agar ia bisa terbebas dari mabuk laut nya itu. Kini merekapun berjalan menuju kearah salah satu kamar yang ada dikapal itu dengan diantar oleh Fikar sang Tour guide.


Setibanya di depan pintu kamar. Fikar yang mengantarkan mereka kemudian pamit undur diri untuk kembali menikmati pemandangan laut. Sedangkan Rafka dan juga Annisa mulai masuk kedalam kamar yang telah di pesan khusus untuk mereka berdua.


"Nis, apa kamu masih pusing?" Tanya Rafka sembari mengusap lembut kepala Annisa.


"Sedikit Bang," Annisa sedikit terhuyung lemah.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahatlah. Aku akan ada disini untuk menjagamu." Ucap Rafka seraya membaringkan tubuh Annisa keatas ranjang. Sedangkan kini ia memilih duduk disamping nya.


"Abang kenapa duduk disitu?" Annisa mengerutkan dahinya. Sementara keadaan nya masih lemah.


"Jagain kamu," Ucap Rafka menatap hangat.


"Abang begitu perhatian dengan ku. Seharian ini dia terus menjaga ku. Aku jadi tak tega melihatnya seperti itu.


Dengan mata sendu Annisa menatap kearah Rafka.


"Bang,"


"Ya," Tatapan penuh perhatian.


"Abang naiklah kesini," Annisa menepuk kasur di sebelahnya.


"Kesana?" Tanya Rafka sembari Menaikkan kedua alisnya.


"Ya," Sahut Annisa.


Rafka pun kemudian naik keatas ranjang dan duduk disamping Annisa.


"Abang baring ya," Pinta Annisa.


"Baiklah,"


Rafka pun akhirnya tidur disamping Annisa. Melihat Rafka yang kini telah berbaring disamping nya. Membuat Annisa langsung memeluknya dan tidur dalam pelukan nya.


"Jangan dilepas ya Bang, Nisa ingin tidur." Suara Annisa terdengar sangat lembut.


Sehingga membuat Rafka tak mampu menolak. Kini ia mengusap lembut kepala Annisa seraya mendekap nya untuk lebih dekat dengan nya.