
Di sepertiga malam. Suasana dingin menusuk kalbu. Rafka menarik selimutnya, sedangkan Annisa mulai terjaga. Annisa sudah terbiasa terjaga di sepertiga malam. Namun malam ini ada yang berbeda. Ia tidak tidur sendirian disana melainkan berdua bersama Rafka suaminya. Di balikkan tubuhnya, lalu, ia menatap wajah Rafka yang saat ini sudah berbalik menghadap ke arah nya. Annisa tersenyum melihat nya.
Betapa lucunya kamu Bang jika sedang tertidur seperti ini.
Gumam nya.
Setelah puas menatap Rafka yang sedang tertidur pulas. Annisa lalu bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia berniat membuang air kecil seraya menyucikan diri.
Setelah selesai dari kamar mandi. Annisa kemudian melangkah mendekati meja kecil yang ada di samping ranjang nya. Lalu ia mengambil perlengkapan shalat nya dan memakainya. Setelah selesai ia pun menunaikan shalat di sepertiga malam itu. Ini sudah menjadi kebiasaan Annisa, ia hampir tak pernah melewatkan untuk menghadap sang khalik di sepertiga malam.
Setelah selesai menunaikan shalat. Annisa kemudian berdzikir hingga akhirnya adzan berkumandang.
"Allahu akbar Allahu akbar. Allahu akbar Allahu akbar.
Annisa kemudian berdiri. Ia membalikkan badan lalu berjalan ke arah ranjang berniat ingin membangunkan suaminya untuk menjalankan shalat subuh bersama.
Setibanya disana. Di tatapnya wajah suami nya yang masih tertidur pulas. Lalu ia kembali tersenyum.
"Maha kaya Allah, yang membuatmu terlihat begitu tampan Bang.
Gumam nya.
Ia lalu memberanikan diri dengan sedikit menggoyangkan tubuh Rafka agar terjaga.
"Bangun Bang, sudah subuh." Ucap nya sembari menggoyangkan tubuh Rafka secara perlahan. Namun tak ada reaksi sama sekali karena Rafka tidur dengan pulasnya.
"Bang, bangun. Sudah subuh." Ujarnya lagi mencoba terus membangunkan suaminya. Namun sepertinya kali ini usahanya mulai berhasil, karena Rafka mulai membuka matanya.
"Hmm, sudah subuh ya?" Ucap Rafka dengan suara agak sedikit serak.
"Iya Bang, bangunlah agar kita bisa kembali shalat berjama'ah." Ucap Annisa lembut.
"Kamu duluan saja. Kepalaku masih pusing" Ujar Rafka sembari menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu kamar yang menyala.
"Nggak Bang, karena kita sekarang suami istri. Maka ada baiknya jika kita bisa berjama'ah." Ucap nya lembut.
Saat mendengar ucapan Annisa. Mau tak mau ia harus segera bangun dari tidurnya. Namun Rafka tak segera berlalu kekamar mandi, melainkan saat ini ia duduk di atas ranjang sembari menatap kearah Annisa sehingga membuat Annisa merasa tak nyaman berada disana.
"Kenapa Abang menatapku seperti itu? Apa jangan-jangan ia marah padaku.
Gumam Annisa.
Tak berapa lama. Rafka kemudian berdiri, lalu ia melangkahkan kaki nya menuju kearah kamar mandi yang tak jauh dari sana.
Beberapa menit kemudian. Rafka keluar dengan wajah yang terlihat lebih segar karena sudah mengambil air wudhunya. Lalu ia berjalan mendekati arah meja dimana ia meletakkan perlengkapan shalat nya tadi malam.
***
Subuh telah berlalu menyambut datang nya pagi. Diluar suasana masih terlihat gelap, namun Annisa sudah membuka tirai beserta jendela kamarnya. Udara dingin yang segar seketika masuk menusuk kedalam tulang.
Meskipun diluar masih terlihat gelap. Namun para burung kecil sudah berkicau dengan riang nya. tupai-tupai juga terlihat melompat mengitari pohon, dari satu dahan kedahan yang lainnya.
Annisa sudah bersiap dengan setelan gamis rumahan nya. Tak lupa juga ia menutup kepala seperti biasanya dengan kerudung instan miliknya.
"Bang . . Nisa keluar dulu ya. Nisa ingin membantu Ibu membuat sarapan." Ujar kepada Rafka yang saat ini sedang duduk di atas ranjang seraya memainkan ponselnya.
"Hmm." Jawab Rafka singkat tanpa menoleh kearah Annisa.
Mendengar jawaban itu. Annisa pun bergegas keluar dari kamar dan berjalan menuju arah dapur rumahnya.
Suara langkah kaki Annisa saat masuk kedalam dapur.
Dilihat nya sekeliling dapur mencari sosok yang biasanya ada disana. Namun ia tak menemukan nya.
"Ibu kemana? Kok nggak ada ya.
Gumam nya sembari terus menatap sekeliling dapur. Namun tak juga menemukan sosok yang dicari nya.
Meskipun Ibu tidak ada. Annisa tetap melanjutkan langkah nya menyusuri dapur dan melihat-lihat bahan makanan yang ada disana.
"Hmm, masak apa ya pagi ini. Bikin sandwich atau nasi goreng? Dua-dua nya praktis sih, tapi disini rotinya udah habis. Bikin Nasi goreng aja deh.
Gumam nya.
Annisa lalu menanak nasi di dalam magic com. Setelah itu ia mulai mengupas bawang beserta bumbu dapur lainnya sembari menunggu nasinya matang.
Diambil nya beberapa telur yang ada disana, lalu ia mulai menggoreng nya. Setelah selesai, ia pun melanjutkan untuk menghaluskan bumbu yang sudah diraciknya dan tak lama kemudian nasi pun matang.
"Tap . . tap . . tap . .
Terdengar langkah kaki seseorang menuju kearah dapur. Annisa menoleh kearah tersebut dan ternyata itu Ibu.
"Pengantin baru ngapain di dapur." Ucap Ibu seraya mendekati Annisa yang mulai menumis bumbu halus nya.
"Nisa lagi masak Bu." Ujar Annisa seraya terus mengaduk-aduk secara perlahan bumbu yang sedang ia masak.
"Masak apa sih? Kok harum sekali." Seru Ibu seraya melirik ke arah wajan.
"Nisa masak nasi goreng Bu, yang praktis. Hehehe" Jawab Annisa sembari tertawa kecil.
"Hmm, pasti enak nih. Bau nya aja udah bikin ngiler." Puji Ibu sembari melihat-lihat sekeliling dapurnya.
"Hehehe," Annisa kembali tertawa kecil saat mendengar pujian Ibunya.
"Ibu lagi nyari apa sih?" Ujar nya kemudian saat menyadari Ibunya memperhatikan sekeliling nya.
"Oh, Ibu lagi lihat, kira-kira apa ya yang bisa ibu kerjakan sekarang." Ucap Ibu sembari terus memperhatikan sekitar.
"Ibu duduk aja disini. Biar Nisa yang beresin semuanya." Ucap Annisa sembari menarik kursi yang tak jauh darinya.
"Ah, nggak enak donk. Kamu sibuk masak, sedangkan Ibu cuma duduk sambil lihat doank. Kan nggak seru." Ujar Ibu yang tak ingin cuma duduk tanpa mengerjakan sesuatu.
"Nggak apa-apa Bu. Santai aja." Timpal Annisa.
"Tetap. Tangan Ibu gatel mau ngerjain sesuatu." Seru Ibu sembari menggaruk kecil telapak tangan nya.
"Hmm, yasudah. Nisa akan ngasih tugas untuk Ibu. Tapi apa ya?" Ucap Annisa seraya memikirkan apa yang harus dilakukan Ibunya. Mengingat semuanya telah ia kerjakan sendiri dari tadi.
"Aha.!!! Ibu buatin susu aja ya buat kita semua. Soalnya cuma itu yang belum Nisa kerjain. Hehehe." Seru Annisa saat mendapati ingatan tentang susu yang belum ia buat.
"Cuma susu? Nggak ada yang lain?" Tanya Ibu yang merasa bahwa membuatkan susu adalah pekerjaan yang sangat mudah dan cepat.
"Iya Bu. Udah sana kerjain." Timpal Annisa sembari mendorong kecil tubuh Ibunya agar segera menjalankan pekerjaan nya.
BERSAMBUNG