Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 58


Taksi berjalan meninggalkan restoran milik Rafka. Wajah Maya masih terlihat suram karena kekesalan nya. Sedangkan sopir taksi tampak melirik kearah Maya melalui kaca spion depan nya sembari menggelengkan kepala.


Maya kemudian merogoh tas kecil yang di sandang nya. Meraih ponsel canggih miliknya yang dulu di belikan Rafka ketika ulang tahun nya. Ia kemudian membuka galeri foto yang ada di ponselnya dan melihat foto-foto kenangan nya bersama Rafka dahulu.


Ditatap nya lekat-lekat gambar Rafka yang ada di ponselnya, seraya mengelus wajah Rafka yang ada disana.


"Mas, tidak bisakah kamu melihat ku sedikit saja. Aku ingin mengulang semua nya Mas, mengulang kisah cinta kita dan berjanji tidak akan pernah mengkhianati mu lagi.


Gumam Maya.


Saat ini, ia sungguh menyesali perbuatan nya yang telah berani bermain api di belakang Rafka. Andai saja ia bisa sedikit lebih sabar serta memahami kesibukan Rafka. Pasti saat ini yang ada disana adalah dirinya bukan Annisa.


Tanpa terasa air mata kini sudah memenuhi bagian pelupuk matanya. Sehingga kini mulai tumpah membasahi wajah cantik Maya. Ia tak sanggup membendung kesedihannya, apalagi saat mengingat perlakuan Rafka yang begitu lembut terhadap Annisa. Sungguh hatinya sangat terluka. Namun di tengah kesedihannya. Tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk, sehingga membuat lamunan nya terhadap Rafka buyar.


Maya menatap ke layar ponsel miliknya dan melihat "Reno" yang sedang memanggilnya.


Di gesek nya layar ponsel miliknya kearah kanan untuk menjawab panggilan Reno.


"Hallo." Sapa Maya setelah menjawab panggilan nya.


"Hai May, apa kabar?" Tanya Reno.


"Ada apa?" Ketus Maya.


"Kok gitu sih jawabnya? Kayak nggak senang gitu." Ucap Reno di balik ponsel.


"Sudah berapa kali aku bilang. Jangan pernah hubungi aku lagi!!" Seru Maya.


"Ada denganmu? Mengapa sikap mu tiba-tiba saja berubah denganku? Apa salahku May?" Ucap Reno dengan segudang pertanyaan nya.


"Tut . . tut . . tut . .


Maya memutuskan sambungan telpon nya tanpa menjawab pertanyaan dari Reno sebelumnya. Reno pun semakin dibuat penasaran olehnya, tentang atas dasar apa ia memutuskan hubungan mereka, apalagi Maya melakukan nya sebelah pihak. Padahal Reno mulai serius dalam menjalani hubungan nya dengan Maya.


Ia juga sudah memberi tahu kedua orang tuanya tentang hubungan mereka. Sehingga ia juga berencana untuk segera mengenalkan Maya kepada kedua orang tuanya.


Namun saat Reno ingin mengajak Maya menemui kedua orang tuanya. Tiba-tiba saja sikap Maya berubah drastis terhadapnya. Entah apa salah nya, Reno pun tak tahu. Hingga akhirnya Maya memutuskan hubungan mereka melalui sebuah pesan yang ia kirimkan melalui Watshaap.


"Ada apa sebenarnya denganmu May? Kenapa sikap mu tiba-tiba saja berubah, apa sebenarnya yang melatar belakangi ini semua?


Gumam Reno.


Kini hatinya mulai menerka-nerka tentang kesalahan apa yang ia perbuat sehingga membuat Maya pergi meninggalkan nya.


***


Siang berganti senja yang berlalu begitu saja. Kini, tanpa terasa diluar hari mulai gelap. Suara azan mulai sayup-sayup terdengar menandakan magrib sudah tiba. Seperti biasanya para pegawai menutup sementara restoran miliknya dan kembali membukanya saat magrib telah berlalu.


Rafka kemudian melangkahkan kakinya menuju kearah kamar mandi yang ada didalam ruang kerja nya. Disana ia membersihkan badan nya serta menyucikan tubuhnya dengan cara berwudhu. Setelah selesai ia pun kembali masuk kedalam ruangan nya dan berjalan menuju kearah tempat khusus, dimana ia selalu menunaikan serta menjalankan kewajiban nya sebagai seorang muslim.


Setelah selesai menjalankan ibadah nya. Kini Rafka bergegas keluar dari ruangan nya. Melangkahkan kaki menyusuri setiap sudut restoran agar bisa sampai ke pintu utama. Terlihat para pegawai yang mulai sibuk membuka kembali restoran nya karena diluar para tamu sudah mengantri untuk segera masuk.


Sesampainya di depan mobil. Rafka kemudian membuka kunci mobil lalu masuk kedalam nya. Dijalankan mobilnya dengan kecepatan sedang sehingga kini ia membelah jalanan kota yang gemerlap dengan cahaya.


Disepanjang perjalanan menuju kearah rumah nya. Rafka kembali memikirkan tentang kejadian tadi siang. Dimana ia menggenggam lembut tangan kiri milik Annisa. Betapa hangat nya saat itu sehingga kini terus tengiang-ngiang di dalam ingatan nya.


Hari semakin gelap. Tanpa terasa kini Rafka telah sampai di depan rumah nya. Pak Sofyan yang bertugas sebagai pembuka pintu gerbang kini mulai bangkit dari duduknya dan berjalan menunaikan tugas nya.


Rafka mengemudikan mobilnya secara perlahan saat mulai memasuki halaman rumah nya. Dimasukkan nya mobilnya dengan segera kedalam bagasi yang berada di samping rumah nya.


Rafka kemudian turun dari sana. Ia melangkah perlahan membuka pintu depan dan kemudian masuk kedalam rumah nya. Matanya tampak melirik kesana-kemari mencari keberadaan Annisa. Namun sayang, Annisa tak ada disana.


"Kemana kamu Nis? Kenapa kamu tak menyambutku malam ini seperti biasanya.


Gumam Rafka.


Sementara itu.


Annisa yang sedari tadi berada didalam kamar. Kemudian keluar dan berjalan menuju kearah dapur untuk segera menyiapkan makan malam untu suaminya Rafka.


Dilihatnya jam dinding yang ada disana. Waktu menunjukkan pukul 20:00 Wib.


"Tumben Abang belum pulang? Biasanya jam segini dia sudah ada disini untuk segera memulai makan malam nya. Namun saat ini ia sama sekali tak nampak, apa hari ini ia punya banyak urusan ya di restoran nya.


Gumam Annisa.


Ia kini tampak mondar-mandir di depan meja makan memikirkan Rafka yang tak kunjung datang. Hingga akhirnya ia teringat dengan kejadian tadi siang. Dimana saat Dedi meminta ponsel miliknya dan menuliskan nomor nya disana.


Diraihnya ponsel yang sedari tadi ia letakkan atas meja. Lalu ia tampak melihat-lihat setiap kontak yang ada.


"Ha, ini dia nomor ponselnya kak Dedi. Tapi, kok, ia mencantumkan nama nya disini sebagai Handsome sih! Ada-ada saja.


Gumam Annisa.


Namun ia tak mengubah nama ponsel tersebut. Lalu kini ia mulai menelfon sang pemilik nomor untuk segera mengetahui dimana keberadaan suaminya sekarang.


"Tut . . tut . . tut . .


Nada panggilan tersambung. Tak lama kemudian Dedi pun mengangkat panggilan telfon nya.


"Assalamu'alaikum Nisa." Sapa Dedi setelah mengangkat panggilan ponselnya.


"Wa'alaikum salam . . kak Dedi maaf ya ganggu." Ucap Annisa yang hendak memulai pembicaraan nya.


"Nggak apa-apa kok. Aku juga lagi santai nih!" Ujar Dedi.


"Oh, syukurlah. Berarti Nisa nggak ganggu dong! Oya, Nisa mau tanya tentang Abang nih." Ujarnya.


"Rafka maksudmu?" Tanya Dedi.


"Iya . ."


"Memang nya ada apa dengan nya?" Tanya Dedi kembali.


"Justru itu kak, Nisa mau tanya apa saat ini Abang ada masih di restoran bersama kakak?" Ucap Annisa yang memberikan pertanyaan nya kembali kepada Dedi.


"Aku sudah sedari tadi dirumah. Dan juga, aku rasa kita tidak punya urusan lain setelah pertemuan klien tadi siang." Ucap Dedi.


"Oh begitu ya kak." Sahut Annisa.


"Kenapa kamu menanyakan nya kepadaku? Apa jangan-jangan kamu sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan nya ya?" Goda Dedi.


"Kak Dedi apaan sih! Mana ada, Nisa itu cuma khawatir tau." Ucap Annisa sembari tersenyum malu.


"Haha, jujur saja Nis. Lagi pula jika memang benar, bukankah itu hal yang sangat wajar bagi setiap pasangan suami istri ya." Goda Dedi lagi.


"Kak Dedi!" Seru Annisa sembari melotot.


Ia tak tahan mendengar candaan yang di lontarkan Dedi, sehingga kini ia memilih mematikan ponselnya.


Sementara itu.


Dari arah depan, Rafka mulai menghentikan langkah nya saat ia mendengar percakapan Annisa dengan seseorang melalui ponselnya. Ia berdiri tepat di depan pintu masuk ruang makan. Namun yang ia dengar hanyalah sepenggal kata, dimana saat Annisa mengatakan "Kak Dedi apaan sih! Mana ada, Nisa cuma khawatir tau." yang ia deskripsikan sendiri menjadi sebuah perhatian yang ditujukan Annisa kepada Dedi.


Rafka mengepalkan tangan nya. Entah mengapa hatinya begitu sakit saat ia mendengar kalimat itu dari mulut Annisa.


BERSAMBUNG