
Dua minggu kemudian.
Hari ini Annisa dan Rafka kembali ke tanah air dari perjalanan bulan madu nya. Rona bahagia terpancar jelas diwajah nya. Terlihat kemesraan yang begitu erat, membuat siapa saja yang memperhatikan kemesraan itu dibuat iri olehnya.
Hari itu Winda dan Dedi kembali menyambut kedatangan mereka di bandara. Melihat kemesraan yang kian erat terjalin sungguh membuat Dedi sedikit cemburu. Walau bagaimana pun Dedi pernah menaruh hati kepada Annisa. Hingga saat ini rasa itu masih tersimpan jauh didalam lubuk hatinya.
Winda yang berada didekat Dedi terlihat menatap kearahnya. Memperhatikan mimik wajah yang saat ini sedang di tunjukkan Dedi. Mana kala melihat kemesraan antara Annisa dan kakak iparnya Rafka, disitu Winda dapat menyimpulkan jika Dedi seolah tak rela dengan hal itu.
Kak Dedi kenapa? Seperti tidak rela saja melihat Kakak dan Kakak ipar mesra begitu.
Gumam nya.
Namun sesaat kemudian begitu Annisa dan Rafka sudah berjalan mendekat kearah mereka, seketika itu juga wajah Dedi terlihat berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Winda yang melihat hal itupun kian penasaran di buatnya.
Ada apa dengan kak Dedi ini? Tadi wajahnya terlihat murung, namun sekarang dengan gampang nya ia mengubahnya menjadi ceria seperti itu. Sepertinya ada yang salah dengannya.
Pikir Winda dalam hati.
“ Hai Annisa.” Sapa Dedi sembari mengembangkan senyum hangat nya.
“ Ehm, Nis aja nih yang disapa?” Rafka mengerutkan dahinya tak senang melihat Dedi yang menatap kearah istrinya layaknya seorang kekasih yang tengah merindukannya.
“ Hai Raf, gimana bulan madu kali ini? Pasti berjalan dengan lancar kan tanpa hambatan.” Kata Dedi. “ Hmm, pasti sebentar lagi aku bakalan punya keponakan nih dari kalian.” Tambahnya lagi.
“ Tentu saja, aku dan istriku sangat menikmati perjalanan bulan madu kami disana. Bukankah kamu juga melihatnya, Annisa kini kian menempel didekat ku.” Kata Rafka dengan nada sombong, seolah menunjukkan betapa harmonisnya hubungan mereka sekarang didepan Dedi.
Sementara itu Annisa mengerutkan dahinya.
Kapan aku menempel dengan Abang? Bukankah selama kita berada disana, justru Abang yang selalu ingin berada didekatku. Bahkan mau mandi pun dia selalu ingin bersamaku, tak ingin di tinggal sedikitpun.
Gumam nya.
Annisa menggeleng kepalanya pelan saat mengingat momen-momen saat mereka berada disana. Apalagi Rafka yang ingin selalu di perhatikan bahkan di manja. Sungguh membuat nya terkadang serasa sedang mengurusi seorang bocah yang bertubuh besar.
“ Sayang, benarkan? Disana kamu terus menempel kepadaku, tak tau itu mau kemana. Bahkan kekamar mandi pun kamu selalu mengikutiku tak ingin terpisah sebentar pun dariku.” Kata Rafka lagi yang membuat Annisa geli sendiri mendengar nya.
Winda yang mendengar hal itupun tertawa dibuatnya, disusul gelak tawa Dedi berikutnya. Ya, meskipun hati Dedi sedikit sakit melihat kemesraan mereka berdua. Namun, Dedi merasa sangat bahagia apabila melihat Annisa bahagia dengan kehidupan nya. Ditambah lagi perkataan yang baru saja diucapkan Rafka tentang Annisa, Dedi yakin sekali jika itu semua berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan nya. Ia yakin jika Rafka lah yang selalu ingin dekat dengan Annisa tak ingi berpisah sedikitpun darinya.
Sementara Annisa hanya tersenyum mendengar nya.
“ Kakak ipar! Jujur Winda itu jadi iri melihat kemesraan Kakak dan Kakak ipar, jadi pengen punya suami yang bisa manjain Winda.” Renung Winda.
“ Ada?” Winda terlihat kebingungan.
“ Ya, ada, tuh disamping kamu.” Ujar Rafka sembari melirik kearah Dedi yang saat ini berdiri tepat disamping Winda.
Winda melirik kearah Dedi, wajahnya kini tersipu malu manakala mendengar ucapan kakak ipar nya itu.
Yang benar saja, meskipun aku tidak merasa keberatan dengan itu. Tapi Kak Dedi, apa mungkin bisa menerima ku? Jika dilihat dari sorot matanya, sepertinya Kak Dedi….
Pikir Winda.
Namun diputuskan nya pemikiran itu, tak berani melanjutkan karena takut jika itu hanya prasangkanya saja.
“ Apaan sih Raf! Sudahlah, yuk kita pulang. Dirumah mu sudah ada Bunda dan juga Ibunya Annisa yang sedang menunggu.” Tungkas Dedi yang tak ingin melanjutkan lagi pembicaraan itu.
“ Hmm, yasudahlah. Sayang… yuk kita pulang.” Kata Rafka sembari menoleh kearah Annisa.
Annisa menatap.
“ Tapi Bang, Nisa kebelet nih. Mau ke toilet sebentar.” Sambutnya sembari meminta izin kepada suaminya.
“ Oya, yasudah, kalau gitu aku akan mengantarkan mu pergi kesana yuk!” Ajaknya sembari meraih tangan Annisa. Sedangkan barang-barang bawaannya kini ia serahkan semua kepada Dedi dan juga Winda.
“ Nggak usah Bang, Nisa bisa pergi sendiri kok.” Ujar Annisa.
“ Sudahlah, jangan banyak bicara. Sekarang juga aku akan mengantarkanmu ke toilet, jika kamu tidak mau maka jangan pernah harap kamu bisa pergi kesana.” Tegas Rafka.
Annisa pun mengangguk.
“ Ehm, kelihatannya ceritamu tadi menggambarkan dirimu sendiri ya Raf. Katanya Annisa yang nggak ingin jauh, tapi nyatanya kamu yang selalu ingin nempel kayak perangko disamping nya.” Sindir Dedi sembari cekikikan kecil.
Rafka menoleh kearah Dedi, tatapan nya juga terlihat menandakan jika dia tidak senang dengan sindiran Dedi.
“ Diam kau! Orang jomblo dilarang bicara jika itu menyangkut tentang kemesraan. Karena walau bagaimanapun, kau tidak akan paham dengan itu.” Tukas Rafka sembari membawa Annisa berlalu pergi dari sana.
Sementara Winda tertawa kecil dibuatnya.
“ Heheheh, Kak Dedi selalu kalah telak dari Kakak ipar.”
BERSAMBUNG