Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BONUS PART (9)


Di pemakaman. Terlihat Rafka, Annisa, Fery beserta keluarganya dan juga beberapa kerabat lainnya. Setelah acara pemakaman selesai. Para kerabat termasuk kedua Orangtua Fery juga ikut meninggalkan pemakaman. Sehingga kini yang tersisa hanyalah mereka berlima. Yaitu, Maya, Reno, Fery, Rafka dan Annisa.


Sementara itu Fery, sesaat setelah mendapatkan panggilan telefon. Pria itu meminta izin untuk pergi karena ada tugas penting yang harus ia selesaikan.


“May, aku pamit duluan ya. Perusahaanku membutuhkan aku sekarang.” kata Fery.


“Hmm, ya.” angguk Maya pelan.


Fery pun kemudian pergi meninggalkan pemakaman dan pergi menuju ke perusahaannya.


Sementara itu Annisa.


Wanita itu kini perlahan menghampiri Maya, yang masih berdiri didepan pusara Ibunya. Annisa hendak memegangi bahu Maya, berniat menguatkan hatinya, namun—


“Maaf Nis, tolong jangan sentuh aku. Aku hanya ingin sendiri.” Ucap Maya lembut.


Ya, ini pertama kalinya Maya berkata lembut kepada Annisa.


“Reno, antarkan aku pulang sekarang ya.” Maya menoleh kearah Reno.


“Hmm, ya.” angguk Reno.


Dengan setia pria itu terus mendampingi Maya. Bersikap lembut padanya, dan menuruti semua keinginannya.


“Kasihan Maya ya Bang.” Ujar Annisa sedih.


“Iya, semua ini sudah jalannya. Allah memberi kehidupan, dan Allah pula yang mengambil kehidupan. Semua makhluk hidup pasti akan kembali kepadanya.”


Rafka merangkul Annisa, mendekap erat istrinya.


Malam menjelang, setelah acara tahlilan selesai dilakukan di kediaman Orangtua Maya. Lantas kini Maya meminta Reno untuk membawanya pulang kerumahnya. Begitu banyak kenangan disana, sehingga membuat Maya tak mampu untuk tinggal walau hanya sebentar saja.


Reno kembali menurutinya. Pria itu kini membawa Maya pulang kerumahnya. Di sepanjang perjalanan, Maya sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun. Gadis itu hanya diam sembari memandang keluar jendela.


Reno membiarkannya. Mengingat saat ini suasana duka sedang menyelimuti Maya. Hingga tak lama kemudian mobil yang di tumpangi mereka pun tiba didepan pintu gerbang rumah Reno. Melihat mobil Reno telah tiba, penjaga


rumah kemudian dengan segera membuka pintu gerbang nya.


Reno kini memasuki halaman rumahnya. Di parkirkannya mobil mewah miliknya di pakiran khusus miliknya. Lalu kini, ia turun dari mobilnya dan berlari kecil untuk membukakan pintu mobil Maya. Pintu terbuka, lalu Maya segera turun dari sana.


“Terimakasih.” Ucap Maya lembut.


Ini pertama kalinya Reno mendengar ucapan itu (Terimakasih) dari Maya. Dan dari nada nya, dan juga tatapannya. Gadis itu terlihat tulus mengatakannya. Reno tersenyum mengangguk, mempersilahkan Maya berjalan didepannya.


Kini merekapun melangkah beriringan masuk kedalam rumahnya.


Setibanya didepan pintu kamar Maya.


“Reno, terimakasih ya. Selama ini kau terus bersamaku, menemaniku, menjagaku. Bahkan disaat di titik terendahku, kau merangkulku. Maafkan aku jika selama ini, bahkan detik ini aku tidak bisa membuka hatiku


untukmu.” Ujar Maya.  “Reno, kau pria baik. Selain aku, aku yakin, diluar sana masih banyak wanita lain yang lebih


baik, bahkan sangat-sangat baik. Yang lebih pantas bersandinh denganmu.” Tambah Maya lagi.


“Tapi May, saat ini aku hanya mencintaimu.”


“Bukankah kau pernah bilang, jika cinta itu tak harus memiliki.”


“Tapi May, aku—“


“Sudahlah, sekarang aku ingin segera masuk kedalam. Kau pertimbangkan saja perkataanku. Jalani kehidupanmu kedepannya dengan lebih baik lagi. Temukan wanita shaleha dan jadikan pendamping hidupmu.” Ucap Maya lembut, yang kemudian langsung melangkah masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya.


Reno berdiri termenung menatap kepergian Maya. Di balik pintu itu, ia memikirkan maksud dari perkataan Maya. Gadis itu tidak seperti biasanya berkata seperti itu, lembut dan penuh dengan ketenangan.


Sebenarnya ada apa dengan Maya. Mungkinkah kepergian Ibunya membuat sifatnya berubah?


Batin Reno yang bertanyaa dalam hatinya.


Berkutat dengan pertanyaan yang terus mengalir di kepalanya. Kini Reno pun memutuskan untuk pergi darisana. Membawa segenap pertanyaan akan sikap aneh yang ditunjukkan Maya.


Malam semakin larut, sepoi-sepoi angin berhembus memasuki kamar Maya. Gadis itu tak menutup pintu balkon nya, sehingga membuat udara luar bebas masuk kedalam kamarnya. Setelah selesai menulis sepucuk surat dan


meletakknya dengan baik diatas meja riasnya.


Maya kini berjalan menuju kearah pintu balkon kamarnya. Gadis itu kini berdiri disana, menyandarkan tubuhnya di dinding pembatas balkon sembari menikmati angin yang berhembus kearahnya.


“Angin, bawa aku pergi bertemu Mama dan Papa. Aku tak ingin hidup sendiri di dunia ini, apalagi menjadi beban untuk orang lain.” lirih Maya dengan air mata yang mengalir di pipinya. “Semua yang ku cinta telah pergi, Papa, Mama, dan juga Mas Rafka. Mereka semua meninggalkanku, bahkan untuk Mas Rafka, aku telah banyak menyakiti hatinya , berbuat salah kepadanya. Bahkan kepada Annisa, yang sama sekali tak bersalah kepadaku, aku telah jahat dan berulang kali menyakitinya.” Maya semakin terisak. “Sedangkan untukmu Reno, maaf jika selama ini aku telah banyak menyakitimu.”


Perlahan Maya kini menapaki kakinya, berdiri diatas dinding pembatas balkon. Menatap kebawah, lalu kini memejamkan mata.


Semuanya maafkan aku.


Perlahan Maya kini menjatuhkan tubuhnya kebawah. Melayang di udara, hingga akhirnya terhempas kebawah.


Bruuk!


“Maya!”


Seruan Reno menggema memenuhi isi kamar. Reno seketika terlonjak dari diam nya yang sedari tadi berdiri didepan jendela kamarnya. Kebetulan balkon kamar Maya bertepatan diatas jendela kamar Reno, sehingga kini


saat Maya menjatuhkan dirinya ke bawah, Reno yang tengah berdiri terpantung disana pun seketika terlonjak.


Tak bisa langsung keluar melalui jendelanya karena terhalang jerjak besi. Reno pun segera berlari kearah pintu keluar kamarnya dan segera pergi menuju ke halaman samping. Disana ia mendapati Maya sudah terbujur kaku


dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya.


Ya, Maya tewas di tempat. Gadis itu meninggal dengan cara mengakhiri hidupnya. Entah apa yang ada di benaknya, yang pasti saat itu Maya merasa jika ia telah menjadi orang yang kalah dan gagal dalam hidupnya.


Kehilangan kedua Orangtuanya, dan juga Rafka sosok yang ia cintai, membuatnya sangat putus asa. Hingga disaat ia mengingat akan kesalahannya yang telah banyak menyakiti Annisa, dan juga Reno yang terus memperjuangkannya, meskipun Reno tau jika Maya sama sekali tak mencintainya.


Ya, Maya memilih jalan pintas yang di anggapnya pantas untuk ini semua. Tidak memikirkan tentang bagaimana kedepannya, yang pasti saat itu di hembusan nafasnya yang terakhir Maya tersenyum karena akhirnya pergi dari


dunia dan tak lagi menyakiti atau menyusahkan lagi orang-orang yang berada di sekitarnya.


Reno menangis sekeras mungkin, mengangkat tubuh Maya yang sudah tidak lagi bernyawa. Dibawanya tubuh itu menaiki mobilnya, dan pergi menuju kerumah sakit. Didalam hati, Reno menyimpan asa. Berharap kekasih hati


yang selama ini amat-sangat dicintainya itu bisa kembali bernafas.


Namun asa tinggallah asa, harapan Reno ternyata sia-sia. Dokter hanyalah manusia, yang hanya bisa berusaha. Sementara yang menentukan adalah sang pencipta, yaitu Allah sang maha penguasa. Maya tak bisa lagi terselamatkan, gadis itu kini telah meninggalkan dunia, untuk selama-lamanya.