Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 46


" nisa, aku pamit dulu ya besok - besok aku akan sengaja mampir kesini lagi untuk mencicipi makanan mu." ujar dedi yang kini sudah duduk di kursi kemudi nya sembari melambaikan tangan nya ke arah annisa.


" iya kak, " sahut annisa sembari tersenyum lembut namun itu semua berbanding terbalik dengan rafka yang kini sedang berdiri di samping annisa. wajah nya terlihat sangat kesal saat memandang ke arah sahabat nya tatapan nya sinis dengan raut muka tak senang.


" udah sana pulang, dah kenyang juga kan." ketus rafka kepada sahabat nya.


" nisa, seperti nya ada bau - bau kecemburuan di rumah ini, kamu hati - hati di rumah ya, aku pergi dulu assalamu'alaikum." ucap dedi sembari mengucapkan salam dan kemudian ia pun menjalankan mesin mobil nya dan pergi meninggalkan tempat itu.


setelah melihat kepergian dedi. kini annisa pun memilih berbalik dan kemudian melangkahkan kaki nya meninggalkan rafka sendirian di teras rumah tanpa berkata apa - apa ataupun menatap wajah nya.


" kenapa sikap nya berubah drastis saat kepergian dedi, kini dia begitu dingin kepadaku tidak seperti biasa nya.


gumam rafka.


ia pun kemudian ikut masuk kedalam rumah tanpa lupa mengunci pintu rumah nya dari dalam. rafka melangkah perlahan masuk kedalam, ia berniat pergi ke dapur untuk mengambil sebotol air minum dan membawa nya masuk kedalam kamar nya.


saat tiba disana tanpa sengaja rafka menabrak bahu annisa yang sedang jalan dengan terburu - buru nya.


" Auww..!!" bahu annisa yang sebelah kiri sedikit sakit saat bertabrakan dengan bahu rafka yang bidang.


" maaf, kamu tidak apa - apa kan." rafka refleks memegangi bahu annisa yang kesakitan namun tangan nya di tepis oleh annisa agar tak mendekat.


" tidak apa - apa." jawab annisa sembari ingin berlalu pergi namun kaki nya tertahan saat rafka menarik lengan nya yang sakit.


" kamu kenapa?" tanya rafka yang sedari bingung dengan tingkah annisa yang seolah seperti menghindari nya. meskipun ia menjalankan tugas nya sebagai seorang istri namun sifat nya terkesan dingin sedari tadi.


" sakit..!! " ucap annisa sembari berusaha melepaskan pegangan tangan rafka dari lengan nya namun rafka sama sekali tak menghiraukan nya.


" abang lepaskan, tangan abang menyakiti nisa." ucap nya lagi sembari berusaha melepaskan tangan nya.


" nis, kamu kenapa?" tanya rafka lagi dengan tatapan sayu.


" nisa tidak apa - apa bang." jawab annisa sembari sedikit menundukkan pandangan nya.


" kalau tidak apa - apa kenapa sikap mu hari ini berbeda dengan ku," ucap rafka sembari menatap annisa tajam


" bukankah lebih baik seperti ini bang, abang akan merasa nyaman jika nisa bisa menjaga sikap nisa di hadapan abang." jawab annisa


" tapi nis," ucap rafka


" sudahlah bang, malam semakin larut nisa mau kembali ke kamar nisa untuk istirahat." ucap nisa lembut memotong kalimat rafka sembari melangkah hendak meninggalkan rafka disana namun langkah nya kembali terhenti saat rafka menarik tangan nya dan kemudian memeluk nya dengan erat dari belakang.


" bang lepaskan.!!" annisa mendorong dengan keras tubuh rafka hingga kini pelukan rafka terlepas dan menjauh dari nya.


" kenapa? kenapa kamu mendorong ku nis?" ucap rafka sembari mengerutkan dahi nya.


" bukankah kamu istriku, dan aku berhak untuk memeluk mu." ucap rafka lagi.


" abang sebelum nya maaf, kita memang sudah menikah, tapi apa abang awal nya berniat menikahi nisa? bukankah abang sendiri yang bilang bahwa abang menikahi nisa hanya untuk membalas kan sakit hati abang kepada maya kekasih abang yang telah menyakiti hati abang." ucap annisa lembut namun tegas hingga membuat rafka terdiam tanpa kata - kata. itu semua karena setiap perkataan yang keluar dari mulut nisa adalah benar. ya benar bahwa dia awal nya menikahi nisa karena rasa sakit hati nya terhadap maya yang telah tega mengkhianati cinta tulus nya.


" sekali lagi maafkan nisa, nisa memang mulai mencintai abang dan terus berusaha untuk mencintai abang, tapi nisa tidak mau jika abang menyentuh nisa tanpa rasa cinta sedikitpun di hati abang." ucap nisa lagi sembari memalingkan wajah nya. hati nya mulai terasa sakit saat ia mengatakan itu dan kembali harus membayang kan kejadian tadi pagi hingga membuat mata nya mulai memancarkan cairan bening di pelupuk nya.


rafka tidak menjawab. lidah nya seperti kelu saat mendengar semua perkataan nisa yang memang benar ada nya. rafka kemudian menatap wajah nisa dengan tatapan nanar saat mulai membayangkan betapa egois nya dia yang melimpahkan semua kekesalan nya kepada nisa. dan sekarang karena keegoisan nya pula kini seorang gadis yang tak berdosa di hadapan nya telah tersakiti hatinya oleh sikap nya.


" Nisa maaf " untuk sekarang mungkin hanya kata - kata itu saja yang bisa ia ucapkan sebagai pembuktian rasa penyesalan nya atas sikap keegoisan nya selama ini. ia tak tau harus berkata apa lagi karena sekarang rafka seperti terpojok dengan rasa bersalah nya sendiri kepada nisa.


bersambung