Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 71


Ditengah kegelapan malam. Begitu banyak Lampu-lampu menyala di setiap sudut kota. Membuat pemandangan malam dikota tersebut begitu indah. Sehingga para masyarakat berdatangan menikmati pemandangan kota. Ada yang datang hanya untuk berjalan-jalan santai disana. Ada pula yang sengaja datang hanya untuk menikmati kuliner pinggir jalan, yang hanya buka jika sore menjelang dan juga malam.


Di pinggir jalan di dekat Taman Kota. Terlihat para penjual makanan sudah berjejer menjajakan dagangan mereka. Ada banyak aneka ragam makanan yang mereka jual. Ada yang dari lokal, ada juga yang dari luar daerah. Masing-masing penjual mempunyai ciri khas nya tersendiri. Melihat pemandangan itu sungguh membuat Annisa tak bisa menahan nya.


"Hmm, pasti nikmat sekali jika bisa mencicipi makanan-makanan yang mereka jual.


Annisa mulai menatap kearah para pedagang pinggir jalan dengan sedikit mengeluarkan lidah nya, karena tak tahan ingin segera mencicipinya.


"Ada apa dengan nya. Kenapa ia terlihat seperti seseorang yang menginginkan sesuatu.


Tanpa disadari oleh Annisa. Ternyata Rafka kini sedang memperhatikan nya.


Lalu ia juga melihat kearah pandangan mata istrinya itu. Mencoba mencari tahu sebenarnya apa yang membuat Annisa tertarik diluar sana.


"Oh.. ternyata dia menginginkan makanan yang ada di gerobak itu.


Mobil yang sedari tadi berjalan dengan sangat lamban itu kemudian ia hentikan dan memarkirkan nya di pinggir Taman.


"Nisa.. Ayo kita turun." Ajak nya sembari membuka pintu mobilnya.


Melihat Rafka yang sudah keluar dari dalam mobil. Membuat Annisa juga ikut turun mengikuti Rafka.


"Kita mau kemana Bang?" Tanya Annisa seraya memandangi kearah sekitar.


"Jika malam ini aku ngajak kamu makan malam di pinggir jalan. Kamu keberatan nggak?" Tanya Rafka sembari menggenggam tangan Annisa.


"Hah, makan malam disini.. ngak mungkin nolak. Mau banget..


Annisa begitu senang saat mendengar Rafka mengajak mereka untuk makan malam disana. Namun meskipun begitu senang, ia tetap menjaga sikapnya di hadapan Rafka.


"Boleh Bang.." Jawab nya singkat.


"Baiklah, jika begitu. Kamu yang pilih kita mau makan apa." Ujar Rafka seraya tersenyum simpul.


"Apakah itu benar? Jadi sekarang Nisa yang nentuin dimana kita makan?" Ucap Annisa seraya tersenyum riang.


"Ya.." Rafka membalas senyuman Annisa.


Dengan hati yang saat ini riang gembira. Annisa lalu menggandeng Rafka agar mengikuti dirinya. Mereka berjalan kaki menyusuri area Taman Kota bersama. Hingga akhirnya mereka tiba di depan salah satu warung makan dadakan yang didirikan dengan tenda serta kursi dan meja seadanya.


"Kita makan disini ya.." Ucap Annisa begitu sampai didepan warung makan dadakan tersebut.


"Disini? Apa kamu yakin?" Tanya Rafka.


Jujur sebenarnya ia tidak pernah sekalipun makan di tempat pinggir jalan seperti ini. Namun, karena tadi Annisa terlihat sangat menginginkan untuk turun disana. Makanya dengan sukarela ia mengajak Annisa hanya untuk menyenangkan hatinya.


"Yakin.. Yuk masuk." Ajak nya seraya menarik lembut tangan Rafka.


Deg..


"Baru kali ini aku melihat Annisa begitu riang nya saat bersamaku. Biasa nya dia memilih banyak diam serta menunduk malu jika berhadapan dengan ku.


Rafka terlihat begitu nyaman dengan sikap Annisa saat ini. Gerakan nya juga begitu lepas, sehingga kini ia sama sekali tidak terlihat menunjukkan ke canggungan nya.


Kini mereka sudah duduk di sebuah meja yang berukuran kecil menurut Rafka. Dengan posisi duduk saling berhadapan satu sama lain.


"Kang!! Sini!" Seru Annisa memanggil pelayan warung.


Melihat pengunjung yang datang pelayan warung tersebut kemudian datang dengan membawakan buku menu ala kadar nya. Serta secarik kertas dan sebuah pulpen ditangan nya.


"Mau pesan apa Mba, Mas?" Tanya nya seraya menyerahkan buku menu kepada Annisa dan Rafka.


"Abang pesan apa?" Tanya Annisa.


"Kalau kamu pesan apa?" Rafka kembali bertanya.


"Kalau Nisa sih, pesan Nasi uduk, Lele goreng, tempe penyet, sama jangan lupa pete nya. Terus sambal nya di buat dua porsi ya Kang." Annisa mulai memesan apa yang di inginkan nya.


Pelayan tersebut mulai menuliskan secara rinci pesanan Annisa di secarik kertas yang dibawa nya.


"Abang mau pesan apa?" Tanya Annisa.


Karena sedari tadi. Rafka hanya diam memperhatikan dirinya saat memesan makanan.


"Oh, samain aja sama kamu." Ucap nya reflek.


"Suami saya katanya samain aja Kang. Oya jangan lupa minuman nya dua gelas air putih hangat sama Es Teh dua." Ujar Annisa seraya menambahkan dua gelas Es Teh kedalam pesanan nya.


Setelah menulis semua yang diinginkan pelanggan nya. Pelayan warung kemudian kembali ke dapur dadakan yang ada di belakang tenda. Sedangkan sang juru masak kemudian mulai melakukan tugasnya begitu menerima pesanan Annisa.


"Kamu sering datang kesini Nis?" Tanya Rafka.


"Sering, tapi dulu." Jawab Annisa.


"Dulu?" Rafka


"Ya, dulu. Sebelum menikah, dulunya Nisa sering mampir kesini bersama Winda dan juga Ayah. Kita sering makan bersama disini. Setiap malam minggu atau malam senin pasti mampir. Jika Ayah tidak sempat Nisa makan berdua bersama Winda. Kalau Ibu sendiri, dia tidak terlalu suka sama makanan luar rumah. Maka dari itu, Ibu nggak pernah ikut kita makan disini." Annisa menceritakan momen-momen saat ia masih lajang.


"Ya tuhan.. Bahkan selama ini ia begitu sabar saat kebahagiaan nya ku rebut. Meskipun aku tidak pernah memperhatikan nya, namun ia tak pernah mengeluh dengan itu semua.


"Maaf ya Nis, jika selama ini aku tidak pernah punya kesempatan mengajak mu keluar. Bahkan semenjak pernikahan kita, ini kali pertama aku mengajak mu jalan-jalan keluar bersama." Ucap Rafka.


Ia merasa bersalah dengan dirinya sendiri.


"Enggak apa-apa Bang. Nisa ngerti kok, Abang pasti capek dengan kegiatan Abang di Resto." Timpal Annisa. Karena ia tak ingin membahas ini lebih lama.


"Makasih ya Nis.." Ucap Rafka sembari memegang tangan Annisa disertai senyum lembut darinya.


Deg..


Meskipun hari ini ia sudah berulang kali merasakan hal yang sama. Disentuh, bahkan dicium olehnya. Namun saat ini, jantung Annisa masih saja tak karuan, jika mendapatkan perlakuan yang begitu lembut dari Rafka.


"Semoga saja kelembutan ini bisa bertahan untuk selamanya.


Gumam Annisa.


Tak lama kemudian. Menu yang diinginkan akhirnya datang. Dengan kondisi meja yang di bilang tidak cukup besar, maka kini segala hidangan mulai memenuhi meja mereka.


"Silahkan Mba, Mas." Ujar pelayan tersebut.


"Makasih Kang." Sahut Annisa.


Setelah selesai menghidangkan makanan untuk Annisa dan juga Rafka. Kini Pelayan warung tersebut kembali melanjutkan aktivitas nya melayani pengunjung yang lainnya.


"Yuk Bang, kita mulai makan nya." Ujar Annisa.


Ia kemudian mencuci tangan nya di dalam wadah yang disediakan khusus untuk mencuci tangan nya. Lalu setelah itu ia pun mulai menyantap makanan. Melihat itu, Rafka yang sama sekali tak pernah makan di warung pinggir jalan itupun mulai mengikuti cara Annisa dan setelah itu, ia pun ikut juga menyantap makanan nya.


"Gimana Bang? Enak nggak?" Tanya Annisa.


Sedari tadi, ia terus memperhatikan gerak-gerik Rafka. Dan seperti nya Rafka sangat menikmati makanan nya.


"Hmm, enak." Ujar Rafka singkat. Saat ini ia sangat menikmati makanan tersebut. Sehingga kini ia tak ingin jika harus mengeluarkan begitu banyak kata.


Sedangkan Annisa. Ia kemudian kembali melanjutkan memakan makanan nya.


***


"Alhamdulillah.." Annisa akhirnya telah selesai menyantap makanan nya. Disusul Rafka berikutnya.


"Makanan disini nggak kalah enak nya kan Bang sama makanan di Resto." Ujar Annisa.


"Lumayan lah.." Sahut Rafka sembari menyapu bersih mulutnya. Kini ia juga mulai menyeruput kembali Es Teh yang ada di depan nya.


"Habis ini kamu mau kemana lagi?" Tanya Rafka setelah menghabiskan Es Teh miliknya.


"Memang boleh?"


"Ya boleh lah.. Kamu boleh pergi kemana saja. Asalkan itu dengan ku." Ujar Rafka sembari mengulas senyum.


"Abang bisa saja.." Annisa tersipu malu.


Sedangkan Rafka kembali tersenyum saat melihat wajah Annisa yang kembali merah karena ucapan nya.


Setelah membayar jumlah makanan yang mereka makan. Kini Annisa dan juga Rafka kembali berjalan menyusuri area Taman. Malam ini mereka terlihat akrab sekali bersama. Bahkan sesekali, Annisa sudah tak canggung lagi melemparkan candaan serta godaan kepada Rafka.


Sehingga membuat mereka tertawa lepas bersama.


Malam ini mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama. Layak nya pasangan pengantin baru lain nya. Bersenang-senang, bercanda ria, bahkan Rafka kerap sekali memakan makanan yang sudah di gigit oleh Annisa.


"Bagaimana, sudah puas bersenang-senang nya." Tanya Rafka sembari memandangi Annisa yang tengah sibuk dengan Ice Cream nya.


"Hmm," Annisa mengangguk kan kepala nya.


"Kalau begitu, sekarang kita sudah boleh pulang kan.." Ujar Rafka lagi.


Annisa kembali mengangguk kan kepalanya. Pertanda ia setuju dengan ucapan Rafka. Kini Rafka pun menggenggam lembut tangan Annisa dan berjalan berdampingan dengan nya.


Setibanya di mobil. Kini Rafka mulai mengambil kunci nya. Namun Annisa tiba-tiba saja berjalan kearah belakang mobil. Sehingga membuat Rafka mengikutinya dari belakang.


"Mau kemana dia.


Rafka terus mengikutinya dari belakang. Hingga akhirnya, terlihat Annisa berjongkok dihadapan seorang kakek yang tengah duduk bersama cucu lelaki nya yang sepertinya berusia delapan tahun.


Cucu kakek tesebut terlihat menangis sembari memegangi perut nya. Sepertinya perut nya sakit karena belum terisi makanan.


"Dik, kenapa kamu menangis?" Tanya Annisa lembut. Namun tak ada jawaban dari anak tersebut.


"Dia lapar Nak." Sahut Kakek.


"Ya tuhan, kasian sekali mereka. Disaat aku bersenang-senang menikmati berbagai macam makanan yang ada disini. Mereka hanya duduk di tempat sepi ini sembari menangis memegangi perut nya karena kelaparan.


Tanpa terasa air mata Annisa jatuh dengan sendiri nya. Ia merasa sedih saat melihat Kakek dan cucunya ternyata sedang kelaparan.


Annisa kemudian berdiri dari tempat nya. Sebuah tas kecil yang disandang nya, kemudian ia buka dan mengambil dompet milik nya. Lalu ia mengambil beberapa lembar uang yang ada disana dan berniat memberikan nya kepada Kakek beserta cucunya tersebut.


"Nis, pakai saja uang ku." Ucap Rafka yang sedari tadi memperhatikan Annisa.


Annisa menoleh kebelakang. Menatap Rafka lalu tersenyum.


"Abang ikhlas?" Tanya nya.


"Tentu saja aku ikhlas." Sahut Rafka.


"Kalau begitu sini uang Abang." Pinta Annisa.


Rafka lalu menyerahkan beberapa lembar uang miliknya kepada Annisa. Lalu Annisa menggabungkan nya dengan uang milik nya.


"Kakek, ini ada sedikit rezeki dari kami. Semoga bermanfaat untuk Kakek dan Cucunya." Ucap Annisa sembari menyerahkan uang tersebut kepada Kakek.


"Alhamdulillah. . terima kasih ya Nak. Kalian baik sekali, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan kebahagiaan dalam berumah tangga. Serta di karunia dengan anak-anak yang Shaleh/shaleha, amin." Ucap Kakek. Tak hentinya ia bersyukur saat mendapati rezeki yang tak terduga itu. Lalu dengan semangat ia bergegas pergi bersama cucunya untuk membeli makanan yang dijual di pinggir jalan.


Annisa tersenyum lembut. Ia merasa lega karena bisa membantu Kakek dan Cucunya. Begitu juga dengan Rafka. ia tersenyum sembari menatap kearah Annisa. Merasa beruntung karena telah dianugerahi sosok istri yang berhati malaikat sepertinya.


"Ya Allah.. Begitu bodohnya aku karena sempat mengingkari jodoh yang telah engkau garis kan untukku. Dia memang lembut dan baik hati.


Gumam Rafka.