
Setelah selesai meletakkan air putih disamping suaminya. Annisa kemudian mengambilkan segelas susu yang ia buat tadi. Lalu ia sodorkan kearah Rafka.
"Di minum dulu Bang susu nya." Ucap Annisa lembut.
"Hmm, terima kasih." Sahut Rafka seraya mengambil susu yang disodorkan Annisa dan meminumnya sedikit. Setelah itu ia meletakkannya kembali disamping gelas air putih.
Sementari itu . .
Annisa dengan cekatan segera mengisi piring Rafka dengan nasi goreng yang di buat nya tadi. Tak lupa juga telur ceplok ia tambahkan sebagai lauk pendamping nasi goreng.
"Ini Bang, silahkan dicicipi." Ucap Annisa seraya meletakkan piring yang sudah terisi makanan di depan Rafka.
"Hmm, terima kasih." Ujar Rafka.
Annisa kemudian kembali duduk di kursi nya, setelah sebelum nya ia juga mengambil makanan nya.
"Dimakan Bang." Ucap Annisa kembali dengan lembut saat melihat Rafka yang tak kunjung melahap makanan nya.
"Hmm, ya. Kamu dimakan juga." Balas Rafka seraya tersenyum.
Annisa mengangguk pelan seraya tersenyum lembut. Lalu ia mulai menyantap makanan nya disusul Rafka kemudian.
Setelah sarapan pagi.
Rafka kemudian bergegas kembali ke kamar nya, untuk segera bersiap-siap pergi ke resto karena disana Dedi sudah menunggu nya.
Setelah siap berkemas-kemas, ia pun turun ke bawah dan berjalan dengan cepat ke arah luar. Melihat suaminya yang sudah turun, Annisa kemudian mengikuti nya dari belakang.
Sesampai nya di teras.
"Abang mau kerja?" Tanya annisa lembut.
"Iya.." Jawab Rafka singkat.
Mendengar itu, Annisa lalu meraih tangan rafka dan kemudian menyalim nya dengan lembut.
"Abang hati-hati ya.." Ucap Annisa seraya tersenyum lembut.
Sedangkan Rafka, ia tak terlalu menggubris itu dengan langsung masuk kedalam mobil nya tanpa membalas ucapan Annisa. Kemudian ia pun melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang meninggalkan Annisa di kediaman nya.
***
Cuaca mulai terik diluar sana. Matahari terlalu terang memantulkan cahaya nya pagi itu. Namun angin segar nya sayup-sayup berhembus sehingga bisa sedikit mengatasi kepanasan di pagi itu.
Rafka melajukan mobilnya kearah restoran miliknya. Hingga tak lama kemudian tibalah ia disana.
Setelah mobil ia parkir kan di tempat khusus milik nya. Kini ia bergegas masuk kedalam resto dan berjalan menuju ruangan nya. Setibanya ia disana, terlihat sosok Dedi sudah yang tengah menunggu nya sembari duduk diatas sofa.
"Cie . . Pengantin baru. Habis MP wajah nya jadi cerah gitu, hehehe." Goda Dedi sembari tertawa kecil.
Rafka menoleh kearah Dedi dengan raut wajah masam.
"Ngomong apa kamu barusan? Tidakkah kamu menyadari jika selama ini wajah ku selalu cerah ceria, sehingga banyak para wanita diluar sana mengagumi ketampanan ku. Haha," Sahut Rafka dengan mengubah ekspresi wajah nya menjadi narsis tak menentu.
Mereka sudah terbiasa seperti itu. Sehingga tak tabu bagi keduanya jika saling bercanda satu sama lain.
"Hmm, iya deh." Ujar Dedi yang merasa kalah jika sudah mulai beradu ketampanan dengan Rafka.
Rafka berjalan menuju kearah meja kerja nya. Lalu ia menarik kursinya dan duduk disana.
"Sudah lama kamu duduk disitu Ded?" Tanya nya.
"Baru kok, sekitar dua puluh menitan gitu. Aku sabar lah jika harus nunggu pengantin baru." Jawab Dedi seraya melebarkan tangan nya merangkul sofa.
"Apaan sih! Tadi itu aku kena macet dijalan." Sahut Rafka memberitahukan kondisi perjalanan nya.
"Meskipun macet dirumah juga nggak apa-apa kok. Aku tetap maklum, kan pengantin baru. Hehe." Goda Dedi kembali sehingga kini membuat raut wajah Rafka tampak memerah.
"Apaan sih! Bisa tidak kamu nggak usah bahas itu, bukankah tujuan mu kesini karena ingin membahas projek kita." Ucap Rafka seakan sungkan jika saat ini harus membahas tentang pernikahan nya.
Rafka semakin tak senang. Karena Dedi seolah sengaja membahas tentang pernikahan nya.
"Sudahlah Ded, jika kamu kesini hanya untuk membahas tentang pernikahan ku. Lebih baik pulang sana sekarang!" Ucap Rafka dengan raut wajah kesal.
Melihat kekesalan Rafka yang mulai terlihat. Dedi tertawa geli dibuatnya. Sehingga kini ia pun berhenti menggoda sahabat nya itu dan mulai membahas tentang pekerjaan mereka.
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa waktu makan siang pun tiba setelah berbagai obrolan yang mereka bicarakan bersama.
"Udah waktunya makan siang nih Ded, bagaiman kalau kita pergi makan siang sembari membahas obrolan selanjutnya." Ucap Rafka setelah melihat jam tangan miliknya.
"Okey." Sahut Dedi.
Merekapun kemudian keluar dari ruangan Rafka dan berjalan menuju kearah ruang VIP yang dikhususkan hanya untuk para tamu dari golongan atas.
Setibanya disana mereka pun langsung duduk disana. Sedangkan para pelayan yang mengikuti mereka sedari tadi di belakang pun kemudian menyerahkan buku menu yang dibawanya kepada Dedi dan juga Rafka.
"Mba, saya pesan ini sama ini ya." Tunjuk Rafka kearah menu yang di pilihnya.
Begitu juga dengan Dedi. Ia juga mulai menunjukkan makanan serta minuman yang diinginkan nya kepada pelayan restoran nya.
Sembari menunggu pesanan mereka tiba. Rafka dan Dedi kembali melanjutkan perbincangan mereka yang sempat terputus tadi. Sehingga tak lama kemudian para pelayan resto kembali datang dengan membawakan pesanan yang mereka inginkan tadi.
Dengan sigap dan lincah. Pelayan resto menyajikan hidangan untuk kedua bosnya. Lalu setelah itu mereka pun kembali melanjutkan tugas nya kembali.
Kini Rafka dan Dedi mulai menyantap makanan mereka. Namun disaat mereka tengah asik menikmati hidangan yang tersedia, tiba-tiba saja seseorang masuk kedalam dan menghampiri meja mereka.
"Mas." Ucap seseorang tersebut yang tak lain adalah Maya.
Maya sudah terbiasa dengan restoran itu. Sehingga para karyawan nya pun sudah sangat mengenal dirinya. Jadi dia pun dengan mudah serta leluasa masuk ke dalam restoran tersebut.
Saat melihat kedatangan Maya. Rafka kemudian menghentikan makan siangnya, lalu ia mulai menyapu mulut nya dengan tisu yang ada disana. Kini ia mulai menatap Maya dengan tatapan sinis.
"Hmm, ada apa?" Ketus Rafka.
"Mas, aku mau ngomong bentar." Ucap Maya penuh harap.
"Langsung saja bicarakan apa tujuan mu." Ketus Rafka lagi.
"Tapi Mas, aku ingin bicara hanya berdua dengan mu." Maya mulai mendekat kearah Rafka.
"Bicara saja. Jika tidak keluar lah!" Seru Rafka dengan tatapan dingin. Karena kini ia mulai kesal melihat sikap Maya.
"Tapi Mas," Rengek Maya sembari menatap kearah Dedi dengan sorotan mata yang seolah menyuruh nya pergi dari sana.
Melihat situasi tersebut. Dedi yang mengerti dengan posisinya serta menangkap maksud dan tujuan dari sorotan mata Maya kemudian bangkit dari duduk nya.
"Ekhm, Raf, aku duluan ya. Lanjutkan perbicangan mu dengan nya, dan ingat jika sekarang kamu sudah mempunyai istri." Ucap Dedi seraya berlalu pergi dari sana.
Sedangkan Rafka hanya duduk mematung terdiam di tempat nya.
Maya kemudian berjalan mendekati Rafka dan kini ia mulai duduk disamping nya
"Mas, apakah kamu masih marah kepadaku?" Ucap nya manja.
"Marah, untuk apa." Jawab Rafka singkat.
"Jika kamu tidak marah, terus kenapa kamu cuekin aku terus?" Tanya Maya seraya menatap lembut kearah Rafka.
"May, sudahlah. Aku sudah menikah, jadi hentikan sikap mu yang manja seperti ini dihadapan ku!" Seru Rafka seraya mengerutkan dahinya.
Maya terkejut melihat sikap Rafka yang kini berubah drastis kepadanya. Dari yang dulunya begitu hangat kini menjadi dingin layaknya es balok.
"Aku tau Mas, dan bukankah kamu sama sekali tidak mencintainya." Maya kini berusaha untuk tetap berbicara selembut mungkin kepada Rafka. Berharap Rafka bisa luluh dengan nya.
"Mencintai atau tidak itu sama sekali bukan urusan mu! Yang harus kamu tau sekarang adalah aku sudah menikah." Ucap Rafka seraya menatap Maya dengan tatapan kesal.
BERSAMBUNG