
Rafka kemudian berjalan sedikit menjauh saat melihat sang bunda menelfon nya seraya mengangkat panggilan dari bunda.
" assalamu'alaikum bunda," ucap rafka lembut di balik ponsel
" wa'alaikum salam, rafka kamu dan annisa lagi dimana? bunda cari kalian tapi kok nggak ada?" ucap bunda dengan nada sedikit khawatir dari balik ponsel.
" maaf ya bunda, rafka tadi lupa ngasih tau bunda kalau tadi sehabis subuh rafka dan annisa berjalan - jalan ke sekitar taman dekat perumahan yang ada disini sambil menghirup udara pagi." ucap rafka dengan rasa bersalah karena telah membohongi bunda nya. itu semua karena ia tak mau kalau bunda nya sampai tahu annisa jatuh pingsan. apalagi jika bunda nya sampai tau kalau penyebab jatuh pingsan nya annisa akibat rasa takut yang berlebihan terhadap nya.
jika bunda tau, pasti akan ada banyak pertanyaan yang akan di tanyakan sang bunda kepada nya dan rafka juga tidak mungkin kan jika harus menjawab kalau itu semua karena nya.
" oh, ya sudah kalau gitu, kalian lanjutkan jalan - jalan nya ya, bunda mau masakin sarapan buat kalian berdua," ucap bunda seraya tersenyum ia pun kemudian mematikan ponsel nya dan pergi kedapur memasak sesuatu untuk anak dan juga menantu nya.
rafka kembali datang mendekati ranjang bu yuni seraya memasukkan ponsel kembali kedalam saku celana nya.
" tante, rafka pulang dulu ya. nanti kalau ada waktu rafka bakalan kesini lagi jenguk tante," ucap rafka dengan nada lembut.
" iya nak, terimakasih ya," ucap bu yuni lemah.
rafka kemudian membalikkan tubuh nya berniat hendak segera pergi dari sana namun langkah nya kembali tertahan saat bu yuni memanggil nya.
" nak rafka." panggil bu yuni dengan suara lemah
" iya tante," sahut rafka seraya menoleh ke arah bu yuni
" hubungan mu dengan maya baik - baik saja kan nak?" ucap bu yuni yang menanyakan hubungan nya dengan anak nya.
rafka tersenyum seraya mengangguk kan kepala nya.
" bagus lah nak," ucap bu yuni seraya tersenyum tipis.
" ya sudah sekarang rafka pamit ya," ucap nya lembut.
" maya, antar nak rafka keluar ya," ucap bu yuni kepada anak nya.
maya pun mengangguk setuju dan kemudian pergi mengantarkan rafka sampai di depan pintu kamar ruang rawat inap mama nya.
" mas," ucap nya begitu sampai di depan pintu kamar rumah sakit
" hmm, ya" ucap rafka
" tadi beneran kan seperti yang kamu bilang ke mama kalau hubungan kita sudah baik - baik saja." ucap maya berharap.
" ya," jawab rafka singkat.
" kamu serius?" tatap maya tajam
" hubungan kita sekarang sudah baik - baik saja dengan menjadi teman may, aku memang tersakiti oleh pengkhianatan mu tapi aku tidak bisa membenci mu karena kamu pernah menjadi sebagian dari hidup ku." ujar rafka tegas.
" tapi mas,"
" sudah lah may, aku pergi dulu kasian annisa yang sudah lama menunggu ku di luar sejak tadi." ujar rafka seraya memantapkan langkah nya pergi dari sana.
***
kepala nya sudah agak sedikit berat karena sudah terlalu lama menunggu. ia kini mulai memegangi kepala nya karena sudah mulai sedikit pusing.
" hai, ini minumlah." ucap seorang lelaki yang kini berdiri di hadapan annisa seraya menyerahkan sebotol air mineral berukuran sedang yang ada di tangan nya.
annisa tak langsung mengambil minuman itu karena ia tak mengenal pria yang kini ada di hadapan nya.
" maaf, saya tidak kenal dengan anda." ucap annisa lembut.
" kalau begitu perkenalkan nama ku feri," ucap lelaki tersebut seraya mengulurkan tangan nya.
" annisa " jawab annisa
lembut sambil mengatupkan kedua tangan nya.
feri tersenyum melihat reaksi annisa. ternyata wanita di hadapan nya ini unik juga pikir nya. karena baru kali ini ada seorang wanita yang menolak untuk berjabat tangan dengan nya.
feri adalah pria yang tampan, gagah, berkulit putih hidung nya yang mancung seperti aktor india hritik roshan dengan lesung pipi di kedua pipi nya.
" sekarang kita sudah saling kenal kan berarti kamu sudah bisa terima ini kan," ucap feri tersenyum manis seraya menyerah kan kembali botol air mineral yang ada di tangan nya.
annisa tak langsung menerima. kini ia menatap feri seraya mengerutkan dahi nya.
" sory - sory, aku nggak bermaksud jahat kok. tadi aku lagi duduk disana dan tanpa sengaja aku melihatmu sedang duduk sendiri disini seraya memegangi kepala mu, mungkin kamu sedang pusing maka dari aku berinisiatif untuk memberikan mu ini. " ucap nya seraya kembali menyodorkan air mineral nya.
" mungkin dengan sedikit minum akan membuat keadaan mu lebih baikan, ambillah." tambah feri dengan menggoyang kan sedikit botol air mineral yang di pegang nya.
annisa kemudian mengambil botol air mineral yang diberikan feri kepada nya.
" terima kasih karena sudah berbaik hati kepadaku," ucap annisa lembut dengan sedikit tersenyum seraya sedikit menundukkan pandangan nya.
" oya kamu lagi nungguin siapa?" ucap feri yang masih berdiri di hadapan annisa.
" maaf sebelum nya, bolehkah aku duduk disamping mu," ucap nya lagi
" silahkan duduk," ucap annisa seraya berdiri dari duduk nya.
" aku lagi menunggu suami saya yang sedang berada di dalam rumah sakit," tambah nya lagi.
" kenapa kamu menunggu nya disini? kenapa tidak menemani nya di dalam, dan kenapa juga kamu bangun setelah mempersilahkan ku duduk disini." ucap feri dengan berbagai pertanyaan nya yang membuat nya sedikit bingung dengan sikap annisa.
" suami saya sedang berbicara dengan teman wanita nya, dan saya memilih menunggu nya disini karena tidak mau mengganggu pembicaraan mereka, dan maaf sebelum nya karena saya berdiri ketika sudah mempersilahkan mu duduk, itu karena saya tidak mau suami saya sampai salah faham jika melihat saya duduk berdampingan dengan pria lain." ucap annisa lembut
feri terkesima mendengar penuturan annisa, ternyata gadis yang sekarang berdiri di hadapan nya ini bukan lah gadis biasa. ia sangat sopan dengan menjaga setiap tutur kata nya serta sikap nya terhadap orang lain dan terlebih lagi itu seorang pria.
" di zaman yang sudah modern begini ternyata masih ada gadis seperti nya, sungguh beruntung sekali lelaki yang telah berhasil menikahi gadis ini.
gumam feri seraya menatap lembut ke arah annisa.
" kamu tidak usah meminta maaf, justru seharusnya akulah yang meminta maaf kepadamu karena tidak bisa menjaga sikap ku di hadapan seorang wanita yang sudah bersuami," ucap feri seraya berdiri dari duduk nya
Bersambung