
"Nis, yuk turun kebawah makan siang. Aku udah nyiapin semuanya diatas meja." Ucap Rafka sembari berjalan menghampiri Annisa yang masih duduk diatas ranjang. Dilihatnya disana Annisa sedang memijat-mijat kedua kakinya.
"Kaki mu kenapa? Pegel?" Tanya nya begitu sampai disana, dan sekarang Rafka pun sudah duduk disamping Annisa.
"Cuma kebas Bang, seperti mati rasa." Sahut Annisa.
"Ini pasti karena tadi aku terlalu lama tidur di pangkuan mu ya Nis?" Tanya nya.
"Enggak kok Bang." Annisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah Nis nggak usah bohong. Sejak kapan kamu mulai merasa kakimu kebas?" Tanya Rafka sembari menatap wajah Annisa.
"Sebenar nya sudah dari jam sebelas tadi Bang." Akhirnya Annisa berkata jujur.
"Apa! Kenapa kamu nggak bilang?" Rafka kini tampak mengerutkan dahinya.
"Tadi Nisa udah berusaha ngasih tau Abang. Tapi, setiap kali Nisa ingin bicara. Abang nggak pernah ngasih kesempatan Nisa untuk menyelesaikan kalimat yang ingin Nisa ucapkan." Ujar Annisa.
Rafka seketika terdiam. Ia kemudian berusaha mengingat dimana saat-saat Annisa berbicara kepadanya. Namun berulang kali disela nya.
"Ya ampun Nis, semua ini salahku. Padahal sudah berulang kali kamu coba menjelaskan. Tapi aku selalu menyela nya. Maafkan aku ya Nis." Rafka kemudian memegang kedua tangan Annisa dengan lembut.
"Ya tuhan.. andai saja Abang dari awal bisa selembut ini dengan ku.
Gumam nya.
Kini Annisa tersenyum sembari mengangguk kan kepalanya.
"Ya sudah. Kalau gitu biar aku yang memijat kaki kamu." Ucap Rafka.
Kini tangan nya mulai beralih kearah kaki Annisa dan mulai memijat nya.
Rafka ternyata mahir sekali dalam memijat. Sehingga membuat Annisa merasa lebih rileks dari sebelumnya. Namun di tengah-tengah pijatan nya. Ponselnya tiba-tiba saja berdering.
"Nis, bentar ya. Ada yang nelfon nih." Ujar nya sembari mengambil ponsel yang ada didalam saku celana nya.
Dilihat nya ke layar ponsel. Ternyata Dedi yang sedang menghubungi nya.
"Dasar Dedi! Menggangu saja bisanya.
Gumam nya.
"Ada apa Ded?" Tanya Rafka langsung ke intinya.
"Kamu kenapa lama sekali sih manggil Nisa doang. Apa jangan-jangan kalian sedang.." Belum sempat Dedi menghabiskan kalimat nya. Kini Rafka langsung menutup telfon nya.
Tut ..tut.. tut..
"Yah.. Dimatiin. Emang dasar si Rafka, nggak tau sikon banget sih. Membuat ku kelaparan saja menunggu mereka." Gerutu nya di meja makan.
Sementara itu.
"Nis, gimana kakimu. udah mulai terasa?" Tanya nya sembari menyentuh kembali kaki Annisa.
"Udah kok Bang. Ntar di pake jalan juga bakalan baikan." Ujar Annisa.
"Hmm, ya sudah. Kalau gitu kita langsung turun kebawah yuk." Ucap Rafka sembari memegang tangan Annisa untuk berjalan nya.
Annisa pun bangkit dari duduknya. Kini ia sudah berdiri tepat di samping Rafka, dan kemudian mereka berjalan dengan bergandengan tangan.
.
.
.
Setiba nya di depan ruang makan. Dedi yang melihat mereka berjalan dengan berpegangan tangan, tak tahan jika tak langsung menggodanya.
"Ciee, ciee.. ada yang lagi mesra nih." Uca Dedi sembari menaik-turunkan kedua alis nya.
Annisa tersipu malu. Sedangkan Rafka menatap nya dengan tatapan kesal.
"Ngapain kamu masih disini Ded? Kenapa nggak pulang aja sih!" Ketus Rafka.
"Bang, nggak boleh ngomong gitu. Kak Dedi kan udah ngantarin kita makanan. Masak disuruh pulang gitu aja. Setidaknya ajaklah dia untuk makan siang bersama kita." Timpal Annisa.
"Makasih ya Nis, kamu memang baik. Nggak kayak yang onoh." Seru Dedi sembari melirikkan matanya kearah Rafka yang kini melotot kearah kearahnya.
"Sudah-sudah.. yuk kita mulai makan nya." Annisa berusaha menyudahi perselisihan itu.
***
"Nis, makasih ya jamuan makan siang nya." Ucap Dedi.
"Sama-sama kak. Makasih juga karena sudah mau repot-repot bawain makanan untuk kami." Ucap Annisa.
"Sama-sama Nis, yaudah aku pamit balik ke Resto dulu ya. Daa..." Dedi kemudian melangkah kan kakinya menuju kearah mobil. Sedangkan Annisa tersenyum ditempat nya menatapi kepergian Dedi.
Saat mobil Dedi menghilang dari pandangan nya. Annisa yang saat ini berdiri di teras kemudian membalikkan badan berniat masuk kedalam rumah nya. Namun baru saja berjalan dua langkah dari tempatnya. Tiba-tiba saja saja sebuah mobil kembali masuk sebelum Pak Sofyan menutup pagar nya.
Dilihat nya kearah mobil tersebut. Dan sepertinya itu sangat familiar, Annisa kembali berdiri di depan teras menunggu siapa yang keluar dari sana. Sehingga tak berapa lama kemudian sang penumpang turun dan ternyata itu adalah.
"Bunda, ibu.." Lirih nya saat melihat jika sosok yang ada disana adalah Ibu dan juga mertuanya.
"Tumben Bunda dan Ibu kompakan datang kemari.
Gumam nya.
Ia kemudian berjalan menghampiri Ibu dan juga mertuanya dengan senyum sumringah.
"Ibu.. Bunda.." Annisa memeluk Ibu dan juga bunda secara bergantian.
"Kamu apa kabar nak?" Tanya Ibu.
"Alhamdulillah Nisa baik Bu, ya seperti yang Ibu lihat sekarang." Ujar nya lembut.
"Rafka ada dirumah Nis?" Tanya Bunda.
"Ada Bunda, Abang sekarang lagi di kamar mandi. Bunda dan juga Ibu masuklah." Ujar nya sembari mempersilahkan kedua orang tua itu masuk kedalam.
Di ruang keluarga.
"Silahkan duduk Bu, Bunda." Ucap Annisa.
Mereka pun kemudian duduk berdampingan.
Sedangkan Annisa bergegas ke dapur untuk membuat kan teh dan juga membawa sedikit camilan untuk kedua orang tuanya.
Sesampainya di dapur. Annisa melihat Rafka yang sedang mengisi gelas nya dengan minuman dingin. Lalu ia pun menyapa nya.
"Bang, di depan ada Ibu sama Bunda. Mereka datang bersama tadi." Ujar nya.
"Oya, apa mereka berdua saja? Abi sama Ayah mu nggak ikut?" Tanya Rafka.
"Enggak Bang, Sekarang Abang pergilah ke depan karena Nisa mau buatin minuman dulu untuk Ibu dan juga Bunda." Annisa kini mulai mengambil teh celup dan juga gula.
"Hmm, ya sudah. Tapi jangan lupa buatkan juga untukku satu." Rafka tersenyum lembut.
"Hmm," Sahut Annisa membalas senyuman Rafka.
Kini Rafka pun berjalan menuju kearah depan untuk segera menemui Bunda dan Ibu mertuanya. Sedangkan Annisa kini melanjutkan membuatkan Teh untuk mereka.
Tak berapa lama kemudian. Annisa datang dengan membawakan nampan yang berisi teh dan juga satu piring kue kering yang ada. Ia kemudian menyajikan nya untuk semua orang yang ada disana dengan hati-hati.
"Silahkan di minum Ibu, Bunda, dan juga Abang." Ucapnya lembut.
"Makasih ya Nis, mestinya kamu nggak usah repot-repot gini. Bunda dan Ibu kan bisa mengambilnya sendiri di dapur." Ujar Bunda.
"Bunda bisa aja. Nisa nggak merasa di repotin kok. Lagian ini kan cuma teh sama kue kering, hehe." Annisa tersenyum lembut.
"Lagi pula, ini kan udah kewajiban Nisa untuk melayani Bunda dan Juga Ibu sebagai orang tua Nisa." Annisa kembali berkata lembut.
"Kamu wanita yang baik Nis, Rafka pasti sangat bahagia mempunyai istri yang baik serta penurut seperti kamu." Ucap Bunda lembut.
"Nisa itu memang anak yang patuh Bunda. Dari dulu dia selalu penurut dan nggak pernah membantah apapun ucapan orang tuanya. Yah.. paling sesekali suka ngeles aja kalau udah salah. Hihi," Timpal Ibu sembari tertawa kecil.
"Ibu.. Apaan sih! Nisa kan jadi malu." Wajah Annisa seketika memerah.
"Kenapa mesti malu sih Nis, Rafka juga gitu kok. Dia itu sudah Bunda juluki Raja nya ngeles. Yah, itu semua karena kepintaran nya yang suka mencari alasan jika di tanyain sama Abi nya." Ucap Bunda.
"Bunda.. bisa nggak sih nggak usah bahas itu. Kita bahas yang lain saja ya." Ujar Rafka yang wajah nya kini juga mulai memerah merasa malu di hadapan Annisa.
BERSAMBUNG