
" Bang, Ni..Nisa ingin se..segera mempunyai ba..bayi.." Ucap Annisa. Suara nya terdengar sedikit serak saat mengucapkan kalimat nya. Sehingga membuat nya menjadi terbata-bata.
Sedangkan Rafka seketika mengerutkan dahinya. Mata nya kini juga menatap lekat-lekat wajah Annisa. Menelisik setiap kalimat yang diucapkan nya. Benar atau tidak nya.
" Kamu nggak salah ngomong Nis?" Tanya nya dengan sedikit ragu.
" Nisa serius Bang." Balas Annisa.
Rafka semakin memperdalam tatapan nya. Dilihatnya wajah Annisa, tersirat begitu banyak ketulusan disetiap kalimat nya. Matanya yang bening juga menunjukkan. Jika saat ini ia berkata jujur, bukan sedang berbohong.
Ya tuhan.. bagaimana bisa aku berfikir jika Annisa benar-benar melakukan nya.
Ucap nya dalam hati.
Aku yakin! pasti ada sesuatu yang salah dengan ini semua.
Pikir nya lagi.
" Bang, Abang kenapa? Kok diam?" Tanya Annisa sehingga membuat Rafka tersadar dari lamunan nya. " Apa Abang tidak keberatan jika kita segera memiliki Bayi?" Tambah Annisa lagi.
" Eh, oh, mana mungkin!" Rafka menjawab dengan cepat. " Tadi itu, aku lagi ngebayangin betapa indahnya rumah kita nanti jika kita sudah memiliki anak. Di tambah lagi jika kita bisa mempunyai banyak anak. Pasti rumah kita akan selalu ramai dengan canda tawa mereka." Ujar Rafka. Ia berusaha menutupi sebisa mungkin apa yang di dengar nya dari Dokter Siera. Karena ia tak ingin jika itu akan menjadi beban fikiran Annisa. Karena saat ini Rafka semakin yakin jika Annisa tidak mungkin sama sekali meminum obat itu.
Mendengar ucapan Rafka membuat Annisa tersenyum malu. Saat ini ia lagi membahas untuk memiliki satu anak, tapi Rafka bahkan sudah berkhayal ingin memiliki banyak anak darinya.
" Nisa, kamu kenapa? Malu lagi?" Tanya Rafka seraya memegangi dagu Annisa. Karena sedari tadi ia terus memperhatikan wajah Annisa. Sehingga sedikit rona saja tak luput dari perhatian nya.
" Eng..enggak kok." Annisa gugup. " Mana mungkin." Ujarnya kemudian. Kini ia lantas membenamkan wajahnya di dalam dada Rafka, berusaha menyembunyikan rona yang terpancar diwajahnya. Tentu saja gerakan nya itu di sambut hangat oleh Rafka yang kini semakin memeluk nya dengan erat seraya berbisik..
" Mari kita mulai usaha kita. Agar bisa segera mempunyai anak." Rafka mengucapkan nya dengan sangat lembut tepat didaun telinga Annisa. Sehingga membuat bulu kuduk Annisa seketika merinding saat mendengar nya.
Annisa mengangguk kan kepalanya. Pertanda ia bersedia berusaha bersama Rafka. Bagaimana tidak, bukankah ini keinginan nya. Lagi pula, keinginan tanpa usaha bukankah itu akan berakhir dengan sia-sia. Ya, seperti biasanya. Malam ini Rafka dan Annisa kembali melabuhkan cinta mereka. Memadukan perasaan kasih dan sayang serta gejolak yang ada pada diri mereka masing-masing.
***
Di kota S.
Jarum jam menunjukkan pukul 15:00 WIB. Meskipun sudah terbilang sore. Namun, matahari tampak masih kokoh menyinari kota. Seperti biasanya, setelah menjalani rutinitas perkuliahan nya di salah satu kampus ternama di kota nya. Winda kini menaiki sepeda motor nya dan mengendarai nya kearah toko kue milik kakak nya Annisa yang berjarak hanya beberapa meter dari kampusnya.
Sore itu, setibanya disana. Terlihat sesosok pria yang tak asing baginya sedang berdiri diluar toko. Pria itu berbadan tegap, berkulit putih dan juga berwajah tampan. Ia tampak seperti sedang menunggu kekasih nya disana dengan seikat mawar merah di tangan nya.
Winda kemudian memalingkan wajahnya lalu memarkirkan sepeda motor nya. Setelah itu, ia kemudian berjalan menuju kearah pintu masuk toko. Dilihatnya lagi, pria itu kini semakin mantap menatap kearah nya sembari mengulas senyum yang sangat menawan.
" Selamat sore Winda.." Sapa pria tersebut yang tak lain adalah Fery sepupu Maya.
Fery sudah mengenal Winda selama satu tahun ini. Mereka saling mengenal satu sama lain karena Fery adalah pelanggan tetap toko kue tersebut. Setiap hari ia sering datang kesana untuk menikmati kue yang di jual di toko tersebut. Kadang ia datang sendiri, namun tak jarang pula Fery datang dengan menggandeng para wanita untuk menemani dirinya disana. Yang membuat Winda justru ilfeel dengan dirinya.
Hari itu Fery sengaja membawa seikat mawar merah untuk Winda yang di belinya di sebuah toko bunga ternama yang tak jauh dari kantornya. Bukan hanya tampan, namun Fery juga di kenal sebagai pengusaha muda yang terbilang cukup sukses di kotanya. Sehingga tak sulit baginya untuk mendapatkan wanita manapun yang di inginkan nya kecuali Winda.
" Assalamu'alaikum.." Ucap Winda seraya mengatupkan kedua tangan nya dan juga berusaha menjaga jarak dari Fery.
" Wa'alaikum salam.." Balas Fery.
" Maaf, saya mau lewat." Ujar Winda tanpa ingin menatap kearah Fery. Namun, Fery tak menggubris perkataan nya. Malah kini ia semakin menghalangi jalan Winda agar gadis tersebut tak bisa masuk kedalam toko.
Tentu saja itu membuat Winda kesal dan naik darah. Ia lantas menatap wajah Fery dengan tatapan kesal seolah sedang menantang pria tersebut.
" Awas! Aku mau lewat!" Ketus nya.
" Tapi aku enggak mau!" Fery semakin memancing amarah yang ada pada diri Winda. " Tapi, kalau kamu mau nerima bunga ini mungkin aku akan berubah fikiran." Ucapnya Lagi.
" Heh, jangan mimpi!" Gadis itu kini mulai menatap sinis kearah Fery. Ia lalu melangkahkan kakinya berusaha menerobos pintu masuk dengan mendorong tubuh kekar Fery kearah samping dengan kasar. Namun, saat ia hampir meraih gagang pintu toko tersebut. Langkah nya terhenti karena kini tangan nya di tarik secara paksa oleh Fery.
" Fery lepas!" Winda menghentakkan tangan nya dengan kasar agar bisa terlepas dari genggaman tangan Fery.
Namun, sepertinya itu tidak mudah. Karena kini Fery semakin mencengkram kuat tangan mungil tersebut dan menarik nya secara paksa kearah samping toko.
" Fery! kamu gila ya!" Seru Winda dengan nada yang mulai meninggi.
" Aku nggak akan bersikap seperti ini jika kamu mau menerima bunga yang kubawa ini." Ucapnya seraya melirik kearah seikat mawar merah yang ada di tangan nya.
BERSAMBUNG
Assalamu'alaikum..
Hi guys . . Minal aidzin walfaizin ya, mohon maaf lahi dan bathin.