
Annisa tak kunjung sadarkan diri, membuat Rafka yang saat ini tengah mengemudikan mobilnya tak berhenti mencemaskan nya. Sesekali diliriknya kearah belakang melihat Annisa yang saat ini masih terkulai lemas di pangkuan Bik Yam.
Sementara Bik Yam dengan telaten terus menjaganya, sesekali ia juga menghirupkan minyak angina kearah hidung Annisa. Berharap Nona nya itu bisa segera siuman. Namun itu sama sekali tak terjadi, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sakit terbesar di kota nya.
Rafka turun dari mobilnya, lalu kemudian ia berjalan menuju kearah pintu belakang dan membuka pintunya. Di raihnya tubuh Annisa lalu kini di gendong olehnya, sementara Bik Yam mengikuti mereka dari belakang.
Setibanya didalam rumah sakit, dengan tergesa-gesa Rafka menanyakan ruangan dokter yang bisa menangani kondisi istrinya yang tiba-tiba saja pingsan kepada salah satu perawat yang berdiri disana. Perawat itu pun dengan sabar melayani mereka.
Kini Annisa sudah ditangani dibawa masuk keruang pemeriksaan yang ada dirumah sakit itu. Sementara Rafka dengan cemas menemaninya disana. Setelah dokter selesai memeriksa kondisi Annisa, kini Rafka mendekatkan diri kearah istrinya.
Dibelainya lembut pucuk kepala Annisa sembari menatap nya penuh kekhawatiran.
“ Ya Tuhan, kenapa istriku bisa seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi?” Lirihnya.
“ Maaf, Pak Rafka, bisakah anda ikut dengan saya sebentar?” Panggil Dokter.
Rafka dengan segera menoleh sekaligus menjawab.
“ Baik Dok!”
Kini ia berdiri dari duduknya dan membalikkan badan berjalan menjauh pergi meninggalkan Annisa yang maih tak sadarkan diri disana.
Diruangan Dokter.
“ Sebenarnya istri saya kenapa Dok?” Tanya nya yang dirundung rasa penasaran.
“ Nona Annisa tidak sakit, dia baik-baik saja.” Kata Dokter menyampaikan analisanya.
“ Tidak sakit? Jika tidak sakit terus kenapa dia bisa pingsan?” Tanya Rafka.
“ Itu karena sekarang Nona Annisa sedang hamil.” Kata Dokter.
Rafka begitu terkejut, matanya tiba-tiba saja terbelalak kearah Dokter. Beberapa detik kemudian ia kembali sadar dan mengatupkan kedua telapak tangan nya di wajahnya. Lalu setelah itu dengan senyum sumringah ia kembali membuka kedua telapak tangan nya itu sambil berucap.
“ Alhamdulillah… akhirnya Allah mempercaiyai kami untuk bisa menjadi orang tua.” Ucapnya penuh syukur.
Dokter sendiri ikut tersenyum saat melihat kebahagiaan yang dirasakan Rafka saat ini.
“ Terus sekarang apa yang harus saya lakukan Dok, agar istri saya bisa kembali sadar?” Tanya Rafka yang kembali mengingat kondisi Annisa yang masih tak sadarkan diri.
“ Ehm, ehm, baik Dok!” seru Rafka sambil menunduk malu.
Setelah berbicara panjang lebar dengan Dokter diruangan nya. Kini Rafka berjalan menuju kearah bagian Apoteker untuk menebus resep obat yang dituliskan dokter kepadanya. Setelah selesai menebus obat ia lalu kembali berjalan menuju kearah ruangan Annisa dirawat. Tadi sebelum pergi keruangan Dokter Rafka sudah menyuruh Bik Yam untuk menemaninya disana.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, Rafka masuk sambil menenteng bungkus obat di tangan nya. Dilihatnya kearah ranjang Annisa sudah sadar, sehingga kini raut wajah yang awalnya datar berubah menjadi senyum kebahagiaan.
“ Sayang! Kamu sudah sadar.” Katanya sembari mempercepat gerakan langkah nya menuju kearah ranjang rawat Annisa.
“ Hmm.” Annisa mengangguk pelan. “ Abang habis dari mana?” Tanya nya dengan suara lemah.
“ Habis nebus obat buat kamu, nih!” Rafka menunjukkan bungkusan plastic obat yang dibawanya.
“ Memang nya Nisa sakit apa Bang?” Tanya Annisa dengan wajah murung.
“ Kamu tidak sakit, tapi sekarang kamu lagi hamil dua minggu.” Rafka dengan bangga menyampaikan apa yang dikatakan Dokter kepadanya.
Annisa terdiam begitu mendengar apa yang diucapkan Rafka. Dengan sebelah tangan nya ia menutup mulutnya, sementara buliran air bening jatuh dengan sendiri nya. Rasa haru yang tak bisa di lukiskan dengan kata-kata.
Terimakasih ya Allah, akhirnya engkau mempercayakan hamba untuk menjadi seorag Ibu.
Gumam nya penuh haru.
Dipeluknya Rafka yang saat ini duduk disamping nya. Dibenamkannya wajah nya yang tengah menangis haru didada Rafka, sementara Rafka mengelus pundaknya dengan lembut. Rafka tau saat ini Annisa tengah menangis
bahagia karena kehamilan nya. Karena itu Rafka sendiri tak ingin mengganggu tangis bahagia itu, dan memilih untuk menemaninya. Sementara Bik Yam yang melihat momen itu juga tak luput menitikkan air mata.
End?
Akhirnya setelah sekian lama nya Ra telah selesai menamatkan cerita ini. Jika ada yang belum puas dengan ending nya ini, tenang saja. Ra akan menambahkan ceritanya nanti di Bonus Chapter. Terimakasih sebesar-besarnya untuk semua pembaca yang telah setia mengikuti kisah Annisa dan Rafka dari awal hingga akhir. Sungguh dengan dukungan kalian semualah Ra akhirnya bisa menyelasaikan cerita ini. Sekali lagi Ra ucapkan terimakasih untuk kalian semua. Jangan lupa mampir juga di Novel Ra yang lainnya.
CEO PLAYBOY JATUH CINTA. ( On Going)
TERNYATA INI CINTA ( Masih tahap revisi)