Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 79


Setelah selesai menikmati makan siang di meja makan. Rafka dan Annisa kini menghabiskan waktu di belakang Vila. Jika didepan Vila terdapat pemandangan pantai yang indah. Lain hal nya dibelakang, disana terlihat jauh berbeda. Bunga-bunga tertanam indah di halaman belakang. Banyak sekali jenis nya, berhubung halaman belakang cukup luas. Jadi beraneka ragam bunga sengaja di tanam disana. Semua nya terlihat indah dan cantik karena perawatan khusus yang di berikan sang pemilik. Ya, sang pemilik Vila. Siapa kira-kira sang pemilik Vila ini masih menjadi misteri. Rafka dan Annisa hanya datang kesana karena semuanya sudah diatur oleh Bunda nya.


Annisa tampak mengitari halaman belakang. Ia menghampiri setiap bunga-bunga indah yang ada disana. Ia menyentuh nya bahkan tak segan untuk mencium aroma nya. Sungguh mengasyikan baginya.


Rafka duduk disebuah kursi rotan dengan secarik koran di tangan nya. Lalu seorang pelayan datang membawakan dua gelas teh dan makanan pendamping minuman. Unik nya, semua pelayan yang ada disana mengenakan hijab. Mungkin mereka sudah terbiasa karena peraturan di pulau tersebut mengharuskan untuk wanita mengenakan hijab nya. Jadi rata-rata komunitas yang ada disana semuanya muslim. Ada juga wisatawan yang non muslim berkunjung ke pulau itu. Namun mereka tetap mengenakan hijab sebagai bentuk hormat kepada masyarakat yang ada disana.


"Silahkan di nikmati minuman nya Tuan," Ucap pelayan yang entah siapa nama nya. Karena memang Rafka dan Annisa belum menanyakan secara langsung nama mereka. Annisa dan Rafka hanyalah tamu yang datang melancong ke pulau tersebut. Bunda nya membayar cukup mahal untuk kenyamanan mereka saat ada disana termasuk pelayanan khusus yang disediakan di Vila.


"Terima kasih Mba," Rafka berucap sopan.


"Sama-sama Tuan," Balas pelayan seraya menundukkan pandangan nya. Lalu pelayan itu pergi kembali masuk kedalam.


Annisa terlihat cukup senang dengan bunga-bunga nya. Di sepanjang mereka ada disana, ia terlihat sibuk bermain dengan bunga-bunga itu tanpa memperdulikan Rafka yang terus mengamati nya.


"Senang sekali bisa melihat nya seperti itu. Ternyata dia penyuka tanaman, khusus bunga sih sepertinya.


Rafka tersenyum, lal kemudian ia menyeruput teh nya. Ia juga mengambil sebuah kue khas pulau yang di sajikan pelayan. Kue itu berbalut daun pisang, entah apa campuran nya yang pasti sangat nikmat jika disantap dengan teh hangat.


"Hmm, enak sekali," Rafka melihat isian kue. Sederhana menurut nya. Tapi kenapa terasa begitu nikmat di lidah nya.


"Sayang!" Panggil nya.


Annisa menoleh. Kali ini ia tidak lagi berpura-pura tak mendengar saat Rafka memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Iya Bang, ada apa?" Tanya nya seraya melihat kearah Rafka.


"Sini, nikmati dulu teh nya, nanti keburu dingin." Ujar nya. Rafka juga menunjuk kearah gelas teh yang ada diatas meja kecil disamping nya.


"Baiklah,"


Annisa lalu berjalan menghampiri Rafka yang duduk di kursi rotan.


"Siapa yang membuat nya Bang?" Tanya nya begitu tiba disana.


"Tadi pelayan Vila yang membawakan nya kesini. Mungkin karena mereka melihat kita ada disini. Jadi membawakan ini untuk kita. Kue nya enak loh Nis," Ujar Rafka seraya menunjukkan kue yang di pegang nya.


"Oya, ternyata para pelayan disini cukup perhatian ya dengan kita. Tanpa diminta pun tetap melayani kita," Annisa berdecak kagum.


"Hmm," Rafka mengangguk, "Jangan lupa kue nya dicoba. Aku yakin kamu pasti suka," Ujar nya.


Annisa kemudian mengambil kue yang diada diatas meja. Lalu ia memakan nya.


"Hmm, Abang benar. Kuenya enak, pas sekali untuk teman ngeteh." Ujar nya.


"Ya," Ucap Rafka.


Ditengah-tengah pembahasan mereka tentang kue tradisional yang dimakan nya. Tiba-tiba saja Fikar datang menghampiri mereka. Kini ia sudah berdiri di samping Rafka seraya melemparkan senyum hangat nya.


"Gimana Tuan, apa anda dan Nona Annisa nyaman berada di tempat ini," Tanya nya.


"Lumayan," Sahut Rafka.


"Wah, kelihatan nya Tuan dan Nona sangat menikmati kue tradisional pulau ini." Fikar memperhatikan kearah meja yang ada disamping Rafka.


"Syukurlah jika Tuan dan Nona menyukai nya." Fikar terlihat lega, "Oya, sore ini saya berencana untuk mengajak Tuan dan Nona berjalan-jalan di sekitar desa ini." Ujar nya.


Rafka kemudian melirik kearah Annisa.


"Bagaimana Nis, Kamu udah enakan?" Tanya nya. Namun sorot matanya sarat akan makna. Senyum nya tiba-tiba saja terlihat aneh menurut Annisa.


"Bang, bisakah jangan memulai didepan Fikar


Gumam nya.


" Nisa udah agak mendingan kok. Jadi Nisa setuju untuk jalan-jalan sore ini," Ujar nya.


"Nona Annisa sedang sakit? Kenapa tidak bilang? Saya tau klinik terdekat sini loh," Fikar menatap Annisa.


" Dia sakit karena kemauan nya. Jadi tidak perlu ke klinik, nanti akan baikan sendiri." Ucapan Rafka penuh makna.


" Haha, saya mengerti. Ya sudah, silahkan Tuan dan Nona melanjutkan bersenang-senang selama disini. Saya pamit keluar dulu, nanti sore selesai shalat ashar kita berkumpul di teras depan." Ucap Fikar. Ia seolah mengerti dengan maksud dari kata-kata Rafka tadi. Sehingga membuat nya tertawa saat membayangkan nya. Kini ia pun pamit pergi agar Rafka dan Annisa bisa dengan bebas menikmati waktunya.


Sore hari sesuai yang di janjikan. Setelah melaksanakan Shalat ashar,


Annisa dan Rafka kini bersiap-siap untuk pergi mengitari desa bersama Fikar. Setelah bersiap kini mereka turun bersama-sama. Sore ini Annisa memakai gamis berwarna lila yang di padu padankan dengan hijab abu-abu miliknya. Hati Rafka dibuat tak karuan olehnya, didalam hatinya ia tak hentinya bersyukur karena dianugerahi wanita secantik Annisa.


Setibanya di teras depan Vila. Disana Fikar tampak sedang menunggu mereka. Ia terlihat sangat tampan saat itu dengan kemeja warna garis abu-abu yang dikenakan nya.


" Wah Fikar! Sore ini kamu tampan sekali,"


Puji Annisa. Sehingga membuat Fikar tersipu karena nya.


" Nona bisa saja," Sahut nya. Ia merasa tersanjung saat ini. Namun tidak dengan seseorang yang ada disana. Sepertinya ia tidak senang saat mendengar Annisa memujinya.


" Ekhm, jika dibanding kan denganku menurutmu siapa yang lebih tampan?" Tanya Rafka. Saat ini ia menatap kearah Annisa dengan tatapan tajam. Sehingga membuat Annisa bingung karena nya.


"Ada dengan Abang, kenapa dia menatapku seperti itu. Apa dia marah padaku, tapi karena apa, mungkinkah dia cemburu


Annisa menebak-nebak didalam hati.


"Kenapa tidak jawab?" Rafka kembali bertanya, " Jika dibandingkan dengan ku siapa yang lebih tampan," Ucapnya lagi. Namun kali ini tatapan nya berubah mematikan.


"Tuh kan benar, Abang cemburu


Annisa lalu memegang tangan Rafka.


" Jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain, bagi karena bagi Nisa, didunia ini Abang pria tertampan nomor dua di hati Nisa." Ujar nya.


" Apa! Kenapa aku nomor dua? Terus siapa yang menjadi nomor satu?" Rafka terdengar protes.


" Abang yakin ingin Tahu," Annisa tersenyum


" Ya," Nada Rafka terdengar kesal


" Pria tertampan nomor satu ya Ayah Nisa. Haha," Annisa tergelak. Ia terlihat sangat puas karena bisa melihat wajah kesal Rafka karenanya. Sedangkan Fikar memilih menghindar tak ingin terlibat lebih jauh dengan perdebatan antara sepasang suami istri tersebut.