
Annisa memasuki rumah nya, ia berjalan menelusuri ruangan rumah yang begitu indah dengan interior nya. Ia lalu melangkah menuju dapur dan menyusun beberapa makanan di dalam lemari pendingin, sisa nya ia simpan dengan rapi di dalam lemari gantung yang ada di dapur nya.
Annisa juga telah menyisihkan beberapa bahan makanan yang ingin dia masak. Ada beberapa sayuran disana dan juga ada ikan beserta udang.
"Hmm, bikin menu apa ya hari ini
Annisa kini mengambil sebuah pisau yang ada di dapur. Lalu ia memotong sayuran yang baru saja di belinya. Namun seketika bayangan Rafka yang sedang berjalan dengan kekasih nya itu hadir di benak nya.
"Apakah Abang akan pulang nanti, jelas sekali tadi Abang begitu bahagia saat jalan bersama kekasih nya. Mungkin saja saat ini mereka makan malam bersama kan.
Annisa meletakkan kembali pisau nya, ia jadi tak bersemangat untuk memasak makan malam untuk suami nya, namun sesaat ia pun tersadar.
"Tapi, aku inikan istrinya. Walau bagaimana pun aku harus tetap melayani nya meskipun aku tau jika dia sama sekali tidak mencintaiku. Aku yakin sebentar lagi dia juga akan segera pulang, aku nggak mau jika dia sampai kelaparan karena aku tidak memasak. Sehingga dia harus keluar lagi untuk mencari makan malam nya.
Tanpa pikir panjang lagi, Annisa kemudian kembali meraih pisau yang sempat ia letakkan tadi, keinginan memasak nya mulai kembali, ia ingin menyenangkan hati suami nya meskipun itu cuma lewat makanan.
Tanpa terasa diluar sana hari sudah semakin gelap. Adzan magrib juga telah usai berkumandang. Annisa sudah selesai dengan pekerjaan dapur nya, perkakas memasak nya yang ia pakai tadi sekarang sudah bersih dan tertata rapi di tempat nya.
Makan malam sederhana pun sudah siap ia sajika di atas meja makan. Setelah itu Annisa pun melangkah pergi masuk kedalam kamar nya, ia lalu bergegas menuju ke kamar mandi yang ada disana dan segera membersihkan diri serta bersuci untuk menjalankan perintah sang pencipta.
Tak berapa lama berselang.
Kini Annisa telah selesai menjalankan ibadah nya. Ia keluar dari kamar nya dan melihat Rafka yang baru saja masuk dan berjalan menaiki tangga.
" Abang sudah pulang?" Sapa Annisa begitu melihat Rafka yang tengah menaiki anak tangga.
Mendengar suara Annisa.
Rafka kemudian menghentikan langkah nya dan menoleh ke belakang.
" Iya, ada apa?" Tanya nya dengan raut wajah datar.
" Heh, eh, eng-enggak ada apa-apa Bang! cuma mau bilang jangan lupa shalat maghrib ya," Ujar Annisa sedikit gugup.
" Hmm, ya " Balas nya.
Rafka kemudian berjalan menaiki anak tangga dan bergerak cepat melangkah menuju ke dalam kamar nya.
***
Annisa kini sudah duduk di kursi meja makan. Lilin-lilin kecil putih sengaja ia hidup kan agar menciptakan kesan romantis saat di meja makan. Begitu juga dengan bunga mawar putih yang sengaja ia letakkan di atas meja dalam balutan Vas bunga kecil.
Annisa sudah rapi dengan gamis nya di tambah lagi balutan pashmina berwarna creme yang membuat penampilan Annisa semakin terlihat anggun malam itu. Tak lupa sedikit riasan juga ia pakai saat melihat kepulangan suami nya. Mungkin dengan seperti itu Rafka akan sedikit menoleh terhadapnya. Ia sangat ingin jika Rafka sedikit menatapi nya dengan penuh kasih malam itu.
Sudah hampir dua jam Annisa menunggu dan duduk di meja makan. Namun rafka tak kunjung turun dari kamar nya. Dilhat nya kearah cahaya lilin yang mulai pendar. mungkin sebentar lagi akan padam pikirnya.
Sedangkan makanan yang yang tertata rapi di meja makan kini mulai dingin tak tersentuh. Annisa bangkit dari duduk nya, ia berjalan menuju ruang depan dan kemudian menaiki anak tangga satu persatu. Niat hati ia ingin pergi ke kamar suami nya. Memanggil nya untuk sekedar turun makan malam dengan nya.
Tok tok tok
Suara ketukan terdengar dari luar pintu.
" Abang.." Panggil Annisa dengan lembut.
Ceklek
Pintu kamar mulai terbuka.
" Qda apa?" Tanya Rafka yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar nya.
" Tadi sore aku sudah makan di luar dan sekarang belum lapar. Mungkin sebentar lagi, kamu makan aja duluan." Ujar Rafka santai.
" Oh, ya sudah kalau begitu, " Annisa tersenyum lembut.
Rafka lalu berpaling dan kemudian menutup pintu kamar nya tanpa mempersilahkan Annisa untuk masuk kedalam nya.
Deg
"Tega sekali kamu Bang, mempersilahkan masuk ke dalam kamar mu saja kamu tak sudi
Di depan pintu Annisa berusaha tersenyum. Menahan air mata agar tak tumpah disana. Annisa berpaling dan berlari kecil menuruni anak tangga dan kemudian segera masuk kedalam kamar nya.
Didalam kamar.
Bulir-bulir air mata yang sedari tadi ditahan nya akhirnya tumpah dengan sendirinya. Membasahi wajah cantiknya. Ia sungguh tak dapat lagi menahan kesedihan nya saat itu.
Tetes-tetes bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Ia lalu kembali tersenyum seraya menyapu air matanya dengan lembut. Berusaha sekuat tenaga bersabar dalam menjalani biduk rumah tangga nya.
"Nisa, semangat! Kamu nggak boleh sedih, meskipun saat ini kamu tau jika suami mu masih menjalani kasih diluar sana. Yakinlah perjodohan ini adalah takdir tuhan untuk mempersatukan kalian. Berusahalah sekuat tenaga untuk mendapatkan perhatian, cinta serta kasih sayang nya.
Tanpa terasa malam kian larut. Jam dinding telah menunjukkan pukul 21:00 Wib. Rafka kemudian keluar dari kamar nya. Ia berjalan menyusuri anak tangga dan kemudian bergegas pergi kearah dapur.
Saat melewati meja makan.
Dilihat nya lilin-lilin telah mati karena kegabisa sumbunya. Ia pun berjalan mendekati meja makan dan kemudian meraih setangkai mawar putih yang berada di atas meja.
"Apa Nisa sengaja menunggu ku?
Rafka pun kemudian membuka tudung saji yang ada di atas meja makan. Dilihat nya beberapa menu makanan telah dingin tak tersentuh sedikit pun.
"Makanan nya masih utuh, apa Nisa belum makan?
Dengan segera Rafka pun pergi menunu kearah kamar Annisa untuk memastikan. Hingga tak lama berselang kini Rafja pun telah tiba didepan pintu Annisa.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu dari luar. Karena sama sekali belum tertidur. Annisa pun dengan segera membukakan pintu kamarnya.
" Ada apa Bang?" Tanya nya begitu melihat Rafka yang kini sedang berdiri dihadapan nya.
" Kamu belum makan Nis?" Tanya Rafka langsung pada intinya.
" Abang mau makan? ya sudah kalau begitu Nisa panasin dulu ya lauk nya." Ucap nya lembut.
Tanpa menjawab pertnyaan dari Rafka. Ia lalu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju arah dapur.
"Apa kamu tau Bang, betapa senang nya aku saat melihatmu datang kepada ku
Annisa tersenyum. Lalu setelah selesai memanaskan semuanya, kini ia kembali makanan nya diatas meja.
setelah selesai ia pun kembali menata nya di atas meja makan seperti semula.
tampak disana rafka sudah terduduk di kursi nya menatap ke arah nisa yang sedang menyiapkan makanan untuk nya.
BERSAMBUNG