Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 32


" rafka, kalian jangan menunda - nunda momongan ya," ucap bunda tiba - tiba seraya menatap lembut wajah anak nya.


deg...


jantung rafka berdegup kencang saat mendengar kalimat yang di ucap kan oleh sang bunda


momongan? yang benar saja bunda, aku dan annisa itu sama sekali belum pernah bersentuhan bagaimana bisa kami mempunyai momongan.


gumam rafka dalam hati.


" enggak kok bun, bunda tenang saja ya," ucap rafka lembut seraya memegangi tangan sang bunda.


" bunda sih berharap kalau kalian bisa secepat nya mendapatkan momongan," ucap bunda lagi.


" iya bunda, do'a kan saja ya," tutur rafka lembut.


" oya rafka, kalian kapan honeymoon nya?" tanya bunda


" honeymoon?" rafka mengerutkan dahi nya saat mendengar kalimat yang di ucapkan sang bunda.


" iya honeymoon, kalian kan menikah sudah hampir satu bulan tapi bunda lihat kalian belum pernah honeymoon," ucap bunda menjelaskan.


" untuk apa bunda?" rafka tampak kurang senang saat bunda mulai membahas tentang hubungan nya dengan annisa apalagi itu menyangkut masalah bulan madu.


" ya untuk mempererat hubungan kalian," ujar bunda menatap serius


" dan juga supaya kalian lebih cepat lagi dalam mendapatkan momongan." ucap bunda


rafka menyenderkan tubuh nya di sandaran sofa yang sekarang ia duduki seraya membentangkan sebelah tangan nya ke atas sofa. wajah nya mulai pias saat bunda terus menerus membahas masalah bulan madu.


" bunda, momongan itu semua nya allah yang ngatur bukan dari honeymoon." ucap rafka


" memang benar semua nya itu allah yang mengatur, tapi tidak ada salah nya kan kita sebagai manusia berusaha. karena tanpa ada nya usaha maka tidak akan ada hasil yang nyata, lagian ini juga kan untuk hubungan kalian rafka." tutur bunda panjang lebar menasehati anak semata wayang nya itu.


rafka mengangguk kan kepala nya karena ia tak ingin terlalu lama berdebat atau pun membantah apa yang di ucap bunda nya.


" iya deh bunda," ucap nya manut.


" tapi nggak sekarang ya bunda, karena belakangan ini rafka banyak sekali kerjaan di restoran, belum lagi rafka dan dedi lagi mengurus perijinan untuk membuka restoran baru di kota S." ucap rafkah yang berusaha mengelak secara halus.


" tapi jangan lama - lama ya," tegas bunda lagi.


" iya bunda," rafka tersenyum lembut


***


setelah selesai membersihkan peralatan makan dan menata nya dengan rapi di posisi nya semula, kini annisa bergegas berjalan menuju ruang keluarga dimana bunda beserta suami nya bercengkrama disana karena sebelum nya bunda sudah memberitahukan nya kepada annisa sebelum ia pergi kesana.


tap tap tap


annisa terus berjalan menyusuri ruang dimana rafka dan bunda nya sedang duduk santai sambil bercengkrama.


" eh nisa " ucap bunda saat melihat annisa yang sedang berjalan menuju ke arah nya.


annisa tersenyum seraya terus berjalan mendekati sang mertua.


" iya bunda," ucap nya yang kini sudah berada di hadapan sang bunda


" capek ya?" tanya bunda seraya tersenyum


" enggak kok bun udah biasa, di rumah juga nisa sering bantuin ibu di dapur. " ucap nya tersenyum manis


annisa tersipu malu saat mendengar kalimat pujian yang di lontarkan sang mertua kepada nya. kini wajah nya tampak memerah seraya sedikit menunduk menahan malu.


***


malam semakin larut dan tampak nya kini mata bunda mulai terasa agak berat karena rasa kantuk yang mulai mendera .


" rafka, bunda ngantuk nih, bunda tidur dulu ya." ucap bunda seraya berdiri dan berjalan melangkah menuju ke kamar nya yang berada di lantai satu tak jauh dari kamar annisa.


setelah melihat bunda nya pergi menuju kamar nya, kini rafka pun berjalan menuju anak tangga untuk kembali ke kamar nya dan beristirahat disana. begitu pun juga dengan annIsa yang mulai memilih menuju kamar nya setelah melihat kepergian ibu mertua serta suami nya yang kembali ke kamar masing - masing.


saat rafka mulai menaiki anak tangga nya dan annisa yang sudah hampir sampai di depan pintu kamar nya, tiba - tiba bunda membalikkan badan nya dan berniat mengambil ponsel nya yang ketinggalan di sofa.


bunda menatap ke arah rafka yang hampir sampai ke lantai dua berjalan sendirian dan kemudian bunda melihat annisa yang mulai membuka pintu kamar nya.


" rafka, annisa,!!" ucap bunda spontan secara bersamaan ketika melihat putra nya serta menantu nya yang pergi menuju ke arah kamar yang berbeda. saat mendengar nama mereka di panggil rafka dan juga annisa menoleh ke arah suara tersebut.


" ada apa bunda," ucap rafka dan juga annisa secara bersamaan.


" kalian mau kemana?" tanya bunda seraya melirik ke arah kedua nya.


" rafka mau tidur bunda," ucap rafka yang hampir sampai di lantai dua.


" nisa juga mau tidur bunda," ucap annisa yang sudah membuka pintu kamar nya.


bunda tertegun saat mendengar jawaban kedua nya, bagaimana bisa menurut nya putra dan juga menantu nya itu tidur secara terpisah di kamar yang berbeda.


" kalian beda kamar?" ucap bunda kepada kedua nya.


annisa terdiam tak menjawab, ia takut kalau jawaban nya akan memojokkan rafka suami nya. jadi ia pun menunggu agar rafka saja yang menjawab nya dan mengikuti semua keinginan suami nya tersebut.


mata bunda tampak menatap ke arah rafka dan juga annisa secara bergantian dengan raut wajah bingung.


apa mereka beda kamar?


gumam bunda


" nisa, cepat ambil perangkat alat sholat mu. aku akan menunggu mu di kamar." ucap rafka yang berusaha menepis kecurigaan yang mulai terlihat dari wajah bunda.


annisa hanya mengangguk dan kemudian masuk kedalam kamar nya dan tak lama setelah itu ia pun kembali keluar dengan membawa seperangkat alat sholat milik nya.


ia kemudian berjalan mendekati anak tangga.


" kenapa perangkat sholat mu ada di kamar itu nis? apa kalian bertengkar hingga kalian harus tidur terpisah seperti itu?" ucap bunda menatap ke arah annisa yang kini sudah berdiri di bawah anak tangga dan menatap ke arah sang mertua saat mendengar mertua nya berbicara kepada nya.


" biasa nya nisa kalau siang hari lebih suka shalat di kamar itu karena biar nggak capek kata nya bolak - balik menaiki anak tangga." ucap rafka yang kini sudah berdiri di lantai atas.


" apa itu benar nisa?" tanya sang mertua kepada nya.


" be.. benar bunda," ucap nya dengan nada terbata - bata.


bunda pun kemudian tersenyum ke arah annisa. ia merasa lega karena apa yang di takutkan nya tidak terjadi.


" ya sudah, sekarang naik lah ke atas dan istirahat lah ya," ucap bunda tersenyum lembut.


Bersambung


ig fakhiral@2013