
Malam ini bulan bersinar penuh menerangi gelapnya malam. Di sepanjang perjalanan yang berkelok, serta jalanan yang sedikit rusak dan menuruni bukit. Membuat Fikar mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Suara jangkrik mulai terdengar saat mereka melewati jalanan yang dipenuhi banyak nya pepohonan rindang. Tak ada lampu jalan disana, namun terang nya bulan membuat suasana malam tak terlalu gelap.
" Fikar, apakah tidak ada jalan lain selain ini?"
Maya mulai merasa bulu kuduk nya bergidik saat menatap kearah luar.
" Ini jalan satu-satunya." Sahut Fikar. " Memang nya kenapa? Kok tiba-tiba kamu nanya nya gitu." Tanya nya.
" Nggak kenapa-napa sih, cuma aku ngerasa serem aja kita melewati jalan ini." Ujarnya.
Fikar tersenyum.
" Kamu takut?" Tanya nya. Namun Maya tak menjawab, kini ia malah asyik memegangi pundaknya sehingga membuat Fikar tergelak dalam keseriusan nya. " Hahahahah."
Maya menoleh.
" Kamu ngetawain aku?"
" Enggak." Fikar mengelak.
" Terus tadi itu apa? Jelas-jelas kamu tadi tertawakan." Ujar nya berusaha mendakwa.
" Hehe," Fikar tertawa kecil. " Kamu itu ya, ternyata dari dulu sifat penakutmu itu nggak pernah berubah." Ujar Fikar.
Dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA. Maya bukan hanya terkenal dengan kecantikan nya. Ia juga terkenal dengan sikap penakutnya. Mau kekamar mandi saja, dulunya Maya selalu meminta teman wanitanya untuk menemaninya.
" Itu dulu, jika sekarang sudah enggak." Sanggah Maya. Meskipun saat ini Maya mulai merasakan ketakutan yang amat luar biasa saat menatap kearah pepohonan rindang itu. Namun ia berusaha menjaga mimik wajah nya agar Fikar tidak mengetahui nya.
Di kursi belakang. Terlihat Annisa tertidur pulas di pangkuan Rafka.
Rafka menjaga nya dengan lembut, merangkul tubuhnya bahkan mengusap pucuk kepalanya agar Annisa merasa nyaman dan tak terjaga. Sedangkan Maya merasa ketakutan ditempatnya. Sungguh ia merasa iri dengan Annisa yang mendapatkan perlakuan khusus dari Rafka. Sedangkan dirinya malah ditertawakan oleh Fikar.
Perlahan rintik-rintik hujan mulai turun membasahi jalan. Jalanan yang sunyi membuat suasana semakin mencekam. Maya berusaha tetap kuat tak ingin menunjukkan jika saat ini ia hampir mati ketakutan. Hingga akhirnya tak berapa lama kemudian mobil mereka mulai memasuki jalan pedesaan. Kini sudah tampak pemukiman warga disekitar sana. Sehingga bisa membuat Maya bernafas dengan lega.
Setibanya di Vila.
Petugas jaga pintu gerbang membukakan gerbang nya. Fikar lalu memasukkan mobilnya dan memarkirkan nya didepan garasi. Fikar turun didikiuti Maya selanjutnya. Sedangkan Rafka dan Annisa masih berada disana. Entah apa yang mereka lakukan, namun tak berapa lama kemudian Rafka muncul dengan menggendong Annisa bersamanya.
Fikar tersenyum menyaksikan pemandangan indah yang ada dihadapan nya. Namun seolah tak ingin larut dalam keromantisan yang tercipta antara Rafka dan Annisa, ia lalu segera pergi dari sana masuk kedalam dan menuju kearah kamarnya. Maya masih disana, berdiri didepan pintu. Dengan setia ia menonton pertunjukan yang ada dihadapan nya.
Layaknya seorang pangeran yang gagah, Rafka melewati Maya tanpa menoleh. Ia terus menggendong sang putri berlalu menuju kearah kamarnya.
Sungguh, ini adegan yang romantis bukan. Setelah pertunjukan berakhir karena pangeran telah berlalu pergi kekamarnya. Maya kembali mengepalkan tangan nya, menyipitkan matanya bahkan menggertakkan giginya. Setelah itu ia pun berlalu pergi masuk dan menuju kekamar nya.
***
Didalam kamar..
Setelah membaringkan tubuh Annisa. Rafka kemudian menanggalkan bajunya, ia lalu berjalan kearah sebuah keranjang yang terletak di sudut kamar untuk meletakkan pakaian kotornya disana. Setelah itu, dengan bertelanjang dada Rafka melangkah pergi dan masuk kedalam kamar mandi.
Sekitar dua puluh menit telah berlalu. Annisa yang awalnya tertidur pulas lalu terjaga.
" Hooaam!!" Annisa mengatup mulutnya dengan sebelah tangan kirinya. Ia lantas menatap kesekitar ruangan kamarnya dan merasa ada yang berbeda.
Hah! Dimana aku ini? Bukankah tadi aku masih berada didalam mobil
Ingat nya.
Astagfirullah . . bukankah ini adalah kamar ku? Bisa-bisanya aku melupakan tempat peristirahatanku sendiri
Gumam nya
Tapi, dimana Abang? Apa Abang keluar lagi?
Lagi-lagi Annisa bertanya didalam hatinya. Pertanyaan nya kemudian terjawab, saat Rafka mulai membuka pintu kamar mandi dan melangkah masuk kedalam.
Deg..
Lagi dan lagi, jantung Annisa berdebar kencang dengan sendirinya. Ia merasa takjub namun sedikit malu saat mendapati pemandangan indah yang ada dihadapan nya. Ya, saat ini Rafka hanya mengenakan handuk yang melilit di area pinggang nya. Sehingga kini tubuh tegap putih bersih miliknya terpampang nyata didepan Annisa.
Ya tuhan.. Baru saja aku membuka mata. Namun sudah disuguhkan dengan pemandangan seperti ini saja. Sungguh ini hampir saja membuatku gila!
Awalnya Annisa mem-belalakkan mata saat mendapati suaminya yang bertelanjang dada. Namun ia kembali menundukkan pandangan nya saat Rafka kian mendekatinya. Kini Rafka sudah berdiri dihadapan nya.
" Kenapa kamu jadi menunduk malu seperti ini saat aku telah berada di depanmu?"
Rafka merundukkan pandangan nya berusaha menatap wajah istrinya.
" Hah, ma-mana ada." Suara Annisa terdengar terbata-bata.
" Kamu itu nggak bisa bohong, jadi nggak usah bohong." Rafka tersenyum. Ia lalu mengangkat bahu Annisa agar gadis itu bisa duduk tegak menghadap kearahnya. Namun Annisa berusaha bangkit dari duduk nya. " Kamu mau kemana?" Tanya Rafka, sembari menahan tubuh Annisa.
" Nisa mau ke kamar mandi Bang." Wajah Annisa terlihat gugup. Rafka lalu melepaskan tangan nya, membiarkan Annisa berlalu dari hadapan nya.
" Ya sudah, pergilah." Ujar nya.
Dengan segera Annisa bangkit dan berlari menuju kearah kamar mandi. Lalu, setibanya disana ia berlari menuju kearah cermin dan menatap dirinya seraya tersenyum.
Aaaaaa.. Aku ini kenapa sih! Bukankah ini yang selama ini aku impikan! Menjadi istri yang sesungguhnya, dicintai dan dikasihi oleh Abang. Tapi kenapa aku jadi malu begini sih setiap kali Abang menatap ku! Bahkan jantung ku kerap sekali berdegup kencang saat Abang mulai di saat Abang mulai mesra dengan ku..
Sungguh cinta ini membuat ku gila
Annisa lalu berjalan kearah shower setelah berhasil menanggalkan pakaian nya.
Puluhan menit telah berlalu.
Dibawah shower yang mengeluarkan air hangat, Annisa masih beria-ria disana. Setelah merasa cukup, ia lalu mengambil jubah handuk nya, memakainya dan berlalu pergi dari sana. Kini Annisa sudah berada tepat didepan pintu kamar. Ia lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam tempat peristirahatan nya.
Tanpa melirik kesana-kemari, Annisa melangkahkan kakinya menuju kearah lemari. Setibanya disana ia lalu membuka pintu lemarinya dan mengambil pakaian tidurnya. Yaitu piyama celana panjang dan juga lengan panjang kesukaan nya.
" Ehm, Nis." Panggil Rafka.
Annisa lalu menoleh dan menatap kearah Rafka.
" Ada apa Bang?" Tanya nya.
" Itu, apa kamu melihat pakaian yang ada di sudut lemari?" Rafka menunjuk kearah sudut tersebut.
" Sudut lemari? Yang mana?" Annisa mulai memeriksa.
"Itu, yang paling ujung di sebelah kanan." Rafka mencoba menggerakkan tangan nya. Menunjuk kearah tempat dimana ia meletakkan pakaian itu. Sedangkan Annisa terus memeriksa pakaian yang di maksud Rafka.
Beberapa menit kemudian.
" Ketemu!" Seru Annisa, Ia lalu mengambil pakaian yang di maksud suaminya itu.
" Kalau sudah ketemu sekarang pakailah." Ujar Rafka.
Annisa mengangguk pelan. Ia lalu membuka pakaian tersebut untuk segera memakainnya.
Deg . .
Jantung Annisa kembali berdegup kencang saat melihat pakaian yang akan di kenakan nya.
Apa! ini lagi!
Pekik Annisa.
Ya tuhan.. haruskah aku memakai nya lagi?
Merasa ragu dengan apa yang ada di tangan nya.
" Kenapa? Apa kamu tidak suka?"
Tampak nya seseorang terus memperhatikan nya dari sana.
" Eh, nggak, Nisa hanya.."
" Kalau begitu pakailah." Mengutarakan keinginan nya.
" Ha, baiklah.."
Annisa lalu berjalan kearah ruang ganti dan memakainya. Setelah selesai mengenakannya, ia lalu kembali masuk kedalam kamarnya.
Lingerie berwarna merah hati itu terlihat begitu pas melekat di tubuh Annisa. Dengan rambut lurus yang ia gerai hingga menjuntai kebawah, membuat penampilan Annisa malam itu terlihat begitu mempesona mata.
Dengan debaran jantung yang berpacu cepat, Annisa berjalan perlahan-lahan. Sungguh, gayanya saat itu begitu menggemaskan dimata Rafka. Tak ingin menunggu Annisa yang berjalan terlalu lama. Rafka kemudian bangkit dari tidurnya dan berjalan kearah Annisa.
Eh, Abang mau kemana?
Bertanya-tanya didalam hatinya sendiri. Sementara Rafka kian mendekat.
Apa Abang sengaja mengahampiriku?
Masih bertanya didalam fikiran nya sendiri.
Sedangkan Rafka yang saat ini sudah berdiri tepa dihadapan nya, tanpa banyak bicara langsung menggendong tubuh Annisa dan membawa nya kearah ranjang.
Aaaa... dia sengaja menghampiriku hanya karena ingin menggendongku
Seketika wajah Annisa memerah. Ia tak sanggup lagi menahan semuanya. Sehingga kini ia memilih membenamkan wajah nya di dada Rafka.
Kini mereka telah tiba diranjang. Rafka mulai membaring Annisa dengan sangat lembut. Lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Annisa seraya berbisik.
" Sayang, malam ini kita main bajak laut ya. Kamu tahanan nya aku perompak nya, maka dari itu aku akan mengajakmu melabuhkan kapal ini di pelabuhan cinta." Bisik Rafka dengan mesra.
Malam kian larut..
Rintik-rintik hujan kembali turun diluar sana. Entah mengapa pikiran Maya melayang entah kemana, lalu tanpa ia sadari kaki Maya kembali membawanya menghampiri kamar Rafka kala itu. Sehingga kini ia kembali mendengar suara erangan demi erangan yang berasal dari kamar itu. Sungguh membuatnya sangat sakit hati.
Dasar bodoh! Kenapa kau begitu nekat mampir lagi kekamar ini! Kenapa!
Maya meronta didalam hatinya. Lalu ia berlari kembali masuk kedalam kamar nya sembari dengan air mata yang kembali meleleh di pipinya.
BERSAMBUNG