
Setibanya di meja makan. Ayah dan juga Ibu sudah ada disana. Sedangkan Winda sudah lebih dulu pergi ke kampua dengan membawa bekal didalam tasnya. Hari ini Winda ada mata kuliah pagi, jadi ia buru-buru pergi karena tak ingin terlambat sampai kesana. Maklum saja belakangan ini jalanan sering macet karena sedang ada perbaikan.
"Eh, nak Rafka. Sini duduk di samping Ayah." Sapa Ayah saat melihat menantunya berjalan menuju kearah meja makan.
Rafka tersenyum mendengar sapaan Ayah mertua. Ia menggangguk pelan mengiyakan permintaan Ayah untuk duduk disamping nya.
Setibanya disana Rafka pun menarik kursi yang berada disamping Ayah mertua dan kini mereka duduk bersebelahan.
Sedangkan Annisa memilih duduk disamping Ibunya.
"Nisa, kok kamu duduk sih." Ucap Ibu saat melihat putrinya yang kini duduk disamping nya.
"Lah, Bu. Kalau enggak duduk terus Nisa harus berdiri gitu." Ucap Annisa.
"Enggak gitu juga. Maksud Ibu kamu jangan langsung duduk, layani dulu suamimu." Ucap Ibu mengajari putrinya agar lebih memprioritaskan suaminya terlebih dahulu baru setelah itu dirinya.
"Oh, iya." Ucap Annisa yang langsung mengerti dengan maksud Ibunya yang mengingatkan nya untuk melayani suaminya.
Ayah menggelengkan kepala, melihat sikap putrinya yang masih belum menyadari bahwa sekarang ia sudah memiliki seorang suami yang harus dilayani.
"Maafkan Nisa ya nak Rafka. Maklum saja dia belum terbiasa." Ucap Ayah kepada Rafka yang di balas senyum oleh Rafka.
Annisa kemudian melangkah berjalan menuju kearah kursi yang di duduki Rafka. Lalu ia meraih piring yang ada diatas meja dan mulai mengambilkan makanan untuk suaminya.
"Abang mau lauk yang mana?" Tanya Annisa karena disana ada telur ceplok dan juga ayam goreng.
"Yang ini saja." Ucap Rafka seraya menunjuk telur ceplok yang ada di depan nya.
Annisa pun mengambilnya dan kemudian menyerahkan nya kepada Rafka. Tak lupa juga ia menuangi air putih di dalam gelas kosong milik Rafka, meskipun disana sudah ada segelas susu.
Setelah selesai melayani suaminya, Annisa kemudian kembali ke kursinya.
"Nah gitu donk Nis. Yang namanya istri itu harus bisa melayani suami dengan sepenuh hati." Ucap Ibu seraya tersenyum
"Iya Bu . ." Ujar Annisa seraya menggangguk.
"Ayo nak Rafka silahkan dimakan, jangan sungkan. Ini semua Nisa sendiri yang masak loh." Ucap Ibu yang mempersilahkan menantunya untuk segera makan.
"Iya Bu." Jawab Rafka sembari melahap makanan nya.
"Hmm, Meskipun cuma nasi goreng tapi rasanya cukup enak seperti di restoran ternama.
Gumam Rafka seraya terus memakan makanan nya.
***
Setelah semuanya selesai menyantap sarapan. Rafka kini memantapkan hatinya untuk segera berbicara tentang keinginannya pindah dari sana.
"Ayah, Ibu." Ucap Rafka lembut memulai pembicaraan nya.
"Ya nak, ada apa?" Tanya Ayah seraya menatap Rafka.
"Ada yang mau Rafka bicarakan dengan Ayah dan juga Ibu." Ujar Rafka sembari menyusun kata-kata yang tepat di kepalanya.
"Mau bicara apa? Katakanlah." Ucap Ayah mendengarkan.
"Rafka ingin mengajak Annisa untuk tinggal bersama Rafka, Bu, Yah." Ujar Rafka menyampaikan maksud nya.
"Tinggal bersama, maksudnya kalian akan pindah dari sini?" Tanya Ayah.
"Ya," Jawab Rafka.
"Nak, kenapa harus pindah? Tinggalah disini bersama kami." Ucap Ibu yang tampak tak setuju dengan keinginan Rafka.
"Tapi nak, kalian akan tinggal dimana? Dirumah orang tuamu?" Tanya Ibu.
"Bukan. Kami akan tinggal di perumahan elit yang ada di pusat kota, nggak jauh kok dari sini. Rafka membeli rumah itu tiga bulan yang lalu dan juga sudah siap huni." Ucap Rafka.
"Ibu dan Ayah boleh kok setiap hari datang kerumah, dan Rafka juga mengizinkan jika Annisa lebih sering berkunjung kesini." Timpal nya lagi.
"Tapi Apakah Annisa setuju?" Tanya Ayah.
"Nisa setuju yah, meskipun agak berat." Ujar Annisa seraya menunduk.
"Baiklah, jika Annisa telah setuju. Memang nya kapan kalian akan pindah?" Tanya Ayah lagi kepada keduanya.
"Sore ini Ayah." Sahut Rafka.
"Secepat itu? Kenapa tidak menunggu beberapa hari lagi."
Ujar Ayah yang terlihat keberatan dengan keputusan mendadak ini.
"Ayah, hari ini, besok ataupun lusa bukankah sama saja. Annisa akan tetap pergi dari sini menuju rumah baru kami. Ayah, sebenarnya Nisa juga nggak tega jika harus berpisah secepat ini dengan kalian. Nisa masih ingin tetap disini bersama Ayah dan juga Ibu. Tapi Nisa juga harus menyadari kalau sekarang Nisa sudah punya suami. Bukankah Ibu sendiri yang bilang bahwa sekarang Nisa harus mengutamakan suami Nisa terlebih dulu agar ia bisa nyaman bersama Nisa. Lagipula, jika kami tinggal dirumah sendiri maka akan lebih mudah untuk kami mengenal sifat dan karakter masing-masing, Yah, Bu." Ujar Annisa panjang lebar.
"Anak kita sudah besar Bu, dan apa yang diucapkan nya juga ada benar nya. Biarlah mereka hidup mandiri, toh nggak jauh juga kan rumah nya masih ada di dalam kota." Timpal Ayah yang mulai menyetujui keinginan keduanya.
"Terserah kalian saja deh, Ibu nurut aja gimana baiknya." Ucap Ibu. Meskipun tak rela, kini ia pasrah terhadap keputusan Annisa dan juga Rafka.
Sore hari.
Annisa yang sudah mengemasi barang-barang nya kemudian keluar dari kamar dengan membawa kopernya. Begitupula dengan Rafka, ia juga mengeluarkan koper miliknya yang dibawakan sang mertua tadi malam.
Mereka kemudian berjalan menuju ruang tamu karena disana Ayah da Ibu sudah menunggu kedatangan mereka.
"Ayah, Ibu. Nisa pamit ya." Ucap Annisa seraya menyalim kedua tangan orang tuanya.
Ibu yang tak kuasa melepas kepergian putrinya kemudian menangis mengurai air mata.
"Hati-hati ya nak, jaga dirimu baik-baik disana. Hiks." Ucap Ibu seraya menangis.
"Bu, jangan nangis. Nisa jadi sedih nih." Annisa juga tak sanggup menahan air matanya hingga akhirnya ikut tumpah membasahi pipinya. Ia lalu memeluk erat Ibunya.
"Bu, sudah jangan nangis lagi. Nisa janji akan sering datang menjenguk Ibu." Ucap nya menenangkan Ibunya.
"Iya Bu, sudahlah. jika Ibu seperti ini terus Nisa bakalan kepikiran terus sama Ibu dan nggak akan fokus sama rumah tangganya." Ucap Ayah yang ikut menenangkan dan kemudian menyeka air mata istrinya.
"Ayah . . Ibu kan jadi malu. Masak Ayah menyeka air mata Ibu sih, seperti Ibu anak kecil saja." Ucap Ibu yang merasa malu karena disana ada Annisa dan juga Rafka yang menyaksikan sikap romantis mereka.
"Kenapa mesti malu, inikan sudah kewajiban Ayah menemani Ibu didalam suka dan duka." Ujar Ayah sembari tersenyum.
Annisa yang tadinya menangis kemudian ikut tersenyum saat melihat Ayah dan Ibunya yang tampak romantis meskipun kini usia mereka tak lagi muda.
"Bu, jangan khawatir ya, Rafka janji akan jaga Nisa dengan baik." Ujar Rafka kembali meyakinkan Ibu.
"Iya nak. Ibu dan Ayah percaya kepadamu. Sekarang pergilah agar kalian bisa lebih cepat beristirahat." Ucap Ibu yang sudah merelakan kepergian putrinya.
"Yasudah, Rafka dan Nisa pamit ya Bu, Yah." Ucap Rafka seraya menyalim kedua tangan mertuanya.
"Ya, Hati-hati ya." Ucap Ayah dan Ibu secara bersamaan.
Merekapun akhirnya pergi meninggalkan kediaman kedua orang tua Annisa menuju kearah kota. Dimana Rafka membeli rumah barunya. Dan disanalah kisah baru akan dimulai.
BERSAMBUNG