
Hari itu, setelah menyelesaikan sarapan nya bersama Annisa, Rafka dan juga Fikar. Senyum licik kembali terlihat dari sudut bibir Maya. Bagaimana tidak, air berisikan obat yang di campur oleh nya habis diminum oleh Annisa. Rencana nya berjalan dengan mulus hari ini.
Kini, Maya telah bersiap-siap untuk segera berangkat pulang ke kota S. Koper yang terletak disudut pintu kemudian diraih nya saat hendak keluar dari dalam ruangan itu. Senyum nya kembali bersinar layaknya mentari yang menyinari pagi hari ini. Ia berjalan dengan gaya khas nya berlenggak-lenggok layak nya model yang berada diatas chatwalk.
Di bawah, tepatnya dilantai dasar. Tak terlihat satu orang pun disana. Maya berencana pamit kepada semua orang yang ada sebelum benar-benar meninggalkan Vila itu. Dari arah dapur terlihat seorang pelayan berjalan melewatinya. Tak ingin membuang kesempatan, Maya kemudian memanggil sang pelayan tersebut.
" Mba!" Serunya.
Pelayan pun menoleh. Karena posisinya yang sudah agak jauh melewati Maya. Maka pelayan tersebut berbalik kembali untuk menghampiri Maya.
" Nona memanggil saya? Ada apa?"
Suara sang pelayan terdengar sopan.
" Hmm, ya. Saya mau tanya, Rafka, Annisa dan juga Fikar kemana ya? Apa mereka sudah keluar?" Tanya Maya.
" Oh, kalau Tuan dan Nona Rafka, mereka ada diruang tengah sedang menikmati acara televisi. Kalau Den Fikar, beliau sedang berada di taman belakang." Ucap sang pelayan.
" Makasih ya Mba. Oya,hari ini saya akana pulang ke kota. Tolong sampaikan ucapan terima kasih saya kepada seluruh pelayan yang ada disini ya."
Suara Maya terdengar sangat lembut.
" Baik Non, pasti akan saya sampaikan. Nona sendiri hati-hati ya di perjalanan."
" Hmm, ya, pasti!" Ujar Maya. " Ya sudah, kalau gitu Mba lanjut kerja ya." Tambahnya lagi.
Pelayan itu pun mengundurkan diri seraya membungkukkan badan nya, berusaha bersikap sesopan mungkin didepan Maya. Ia lalu kembali melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda sebelumnya, karena di panggil oleh Maya.
Sementara Maya, kini ia bergegas menuju kearah belakang sebelumnya. Untuk menemui Fikar.
Tak berapa lama kemudian. Maya akhrinya tiba di halaman belakang. Disana terlihat Fikar sedang duduk disebuah kursi yang berbahan rotan. Serta mnyeruput segelas teh yang ada ditangan nya. Terlihat juga sepiring kue menemani gelas teh nya.
" Hai Fikar." Sapanya sembari menepuk bahu Fikar dari belakang.
Setelah meletakkan gelas teh nya diatas meja, Fikar yang setengah terkejut itu lalu menoleh kearah Maya.
" Eh Maya!" Sahutnya.
Dilihat nya Maya berdandan sangat rapi hari ini. Lalu Fikar juga melihat sebuah koper yang ada ditangan Maya. Sehingga membuat nya di rundung rasa penasaran dan tak mungkin melewatkan kesepatan untuk bertanya.
" Kamu mau kemana May?" Fikar melirik dari atas hingga ke ujung kaki Maya. Dan sepertinya gadis itu akan segera pergi darisana. Begitu pikirnya.
" Oh, ini.. Aku akan segera kembali ke kota S hari ini."
" Kembali ke kota?" Fikar mengerutkan dahinya.
" Ya.." Jawab Maya.
" Kenapa mendadak? Bukankah masih ada banyak tempat yang belum kamu kunjungi?" Tanya Fikar.
" Ya, kamu benar. Tapi, saat ini Mama ku sedang sakit. Jadi aku harus segera kembali kesana." Jelas Maya.
" Mama mu sakit? Sakit apa?" Tanya Fikar penasaran.
" Ya, biasalah penyakit orang tua. Ada beberapa penyakit yang kini telah komplikasi ditubuhnya."
" Hmm, kamu yang sabar ya, semoga Mama mu lekas sembuh.' Ujar Fikar. " Oya, kamu nggak mau duduk dulu nih?" Tanya nya kemudian.
" Nggak apa-apa kok, aku maklum. Oya, dengan siapa kamu akan pergi ke pelabuhan? Bagaimana jika aku saja yang mengantarmu, yah hitung-hitung sebagai perjalanan terakhir. Toh setelah ini entah kapan kita akan bertemu lagi." Tawar Fikar.
" Enggak deh, aku ke bandara nya sendiri aja. Lagi pula aku sudah memesan taksi sebelumnya. Mungkin sebentar lagi datang!" Seru Maya.
" Hmm, ya sudah. Kalau begitu aku antarin kamu sampai depan aja ya." Pinta Fikar.
" Hmm, ya sudah.." Maya mengangguk setuju.
Maya mengizinkan Fikar untuk mengantarkan nya hingga ke depan. Kini mereka berjalan berbarengan menuju arah depan. Namun di perjalanan, Maya tak lupa untuk menghampiri Rafka dan Annisa yang sedang bersantai diruang tengah.
Disana terlihat Rafka yang sedang merebahkan tubuhnya diatas sofa. Dengan posisi kepala yang menopang di kedua paha Annisa. Membuat pemandangan itu terlihat romantis, bahkan terkesan sangat mesra. Jujur saja, melihat pemandangan itu membuat Maya sangat iri serta di bakar api cemburu. Hatinya begitu tersiksa, mana kala melihat sang pujaan hati begitu mesra dengan yang lain. Namun, bukan Maya namanya jika ia tak dapat menyembunyikan segala isi hatinya dari balik wajah nya. Kini, ia kembali memasang wajah bahagianya saat melihat kedua insan yang tengah di mabuk asmara itu.
" Mas.." Sapa nya lembut.
Rafka menoleh kearah suara, dan terlihat kini Maya telah berdiri dihadapan mereka.
" Maya.." Rafka mengerutkan dahinya. Ia lalu segera bangkit dari pangkuan Annisa dan kembali duduk dengan rapi diatas sofa.
" Hai Nis..!" Seru Maya kemudian seraya menatap wajah Annisa dengan wajah yang bahagia (ini hanya akting didepan Rafka)
" Hai Maya.." Balas Annisa. Ia juga memperhatikan penampilan Maya hari itu yang berdandan cukup rapi. Serta sebuah koper yang berada di dekat nya, sehingga membuat Annisa dirundung rasa penasaran dan membuat nya langsung ingin bertanya. " Kamu mau kemana?" Tanya Annisa.
" Hari ini aku akan balik kekota S. Maka dari itu aku mencari kalian kesini karena ingin pamit terlebih dahulu sebelum aku benar-benar pergi dari sini." Ujar nya dengan nada lembut.
" Tapi, kenapa mendadak sekali? Bukankah masih banyak tempat yang masih belum kamu kunjungi disini?"Tanya Annisa. Jujur ia tak bisa menerima begitu saja kepergian Maya. Perasaan nya mulai merasa tidak enak, mungkin ada sesutau di balik ini. Alasan yang kuat tentang rencana kepulangan nya. Annisa berpikir keras tentang itu.
" Kondisi Mama semakin memburuk. Tadi pagi Fery menelponku secara langsung mengabari tentang kondisi Mama. Jadi aku harus segera kembali kesana untuk melihat Mama. Aku khawatir.." Suara Maya berubah sendu. Ia berbicara dengan nada yang terdengar menyedihkan. Sehingga membuat siapa saja yang mendengar nya akan menaruh perasaan iba terhadap nya.
" Kamu yang sabr ya May, disini aku dan Abang akan selalu berdo'a untuk kesembuhan Tante Retno. Dan juga setelah kepulangan kami nanti, aku dan Abang pasti akan segera menjenguk Tante.." Support Annisa.
Terlepas dari sikap Maya yang kadang terkesan aroga kepadanya. Namun, jauh didalam lubuk hati Nisa tak ada sedikit pun tersimpan rasa dendam disana. Ia sangat tulus dengan ucapan nya.
" Nisa benar, setelah pulang nanti kami akan segera mengunjugi Tante. Sekarang kamu pulanglah, hati-hati dijalan." Timpal Rafka.
Maya kemudian menempatkan tatapan nya kearah Rafka. Disaat mendengar sedikit perhatian yang ditunjukkan Rafka kepadanya. Membuat hatinya semakin yakin, jika perasaan itu masih tersisa untuk nya. Kini Maya pun tersenyum.
" Terima kasih Mas, aku berjanji akan sangat hati-hati dan menjaga diriku dengan sangat baik di perjalanan." Ujar nya lembut.
" Hmm, bagus." Rafka tersenyum tipis. " Fikar, tolong kamu antar Maya ke pelabuhan." Perintah Rafka seraya menatap kearah Fikar.
" Tidak usah Mas, aku sudah memesan taksi secara online tadi." Sahut Maya.
" Oh.. ya sudah. Kalau begitu, kamu hati-hati ya.." Rafka kembali mewanti-wanti.
" Ya.." Maya kembali tersenyum. Ia lalu berjalan menghampiri Rafka. Meraih tangan nya untuk menyalim nya. Sedangkan Rafka dengan rasa iba nya, ia mengusapa lembut kepala Maya. Sehingga membuat gadis tersebut semakin yakin dengan perasaan nya jika jauh didalam lubuk hati Rafka masih tersimpa sedikit rasa untuk dirinya.
" Maya pamit Mas.." Ujar nya.. " Aku pamit ya Nis.." Liriknya kearah Annisa seraya melemparkan senyuman yang dibuat selembut mungkin saat itu.
" Ya May, hati-hati dijalan ya.." Balas Annisa yang juga membalas senyuman Maya.
BERSAMBUNG
Hi guys . .
Jangan lupa dukung terus karya Ra dengan cara Like dan juga Vote ya. Terima kasih.. Happy readyng๐๐๐๐