Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 35


Annisa jatuh tepat di pinggir ranjang. rafka yang melihat nya dengan refleks langsung sigap menghampiri nya dan kemudian mengangkat nya dan membawa nya ke atas ranjang. dibaringkan nya tubuh annisa yang lemah itu dengan lembut dan kemudian ia menatapi wajah itu dengan perasaan kuatir dan campur aduk.


" wajah nya pucat sekali. apa jangan - jangan dia takut kepadaku atas kejadian tadi, ya tuhan.. apakah aku yang hina ini telah menakuti nya hingga membuat nya pingsan seperti ini.


rafka mulai bingung. kini ia tampak terlihat mondar - mandir di depan ranjang nya dengan tangan nya yang memegangi kepala nya sembari memikirkan sebuah ide agar annisa bisa sadar dari pingsan nya. ia melangkah ke arah pintu berniat keluar mencari bantuan kepada sang bunda namun sesaat kemudian ia kembali lagi dan mengurungkan niat nya.


bagaimana bisa aku meminta bantuan dari bunda, nanti bunda pasti akan menanyakan ku kenapa annisa bisa pingsan. aku harus jawab apa coba.


rafka kini memilih duduk di atas sofa dengan raut wajah cemas seraya menatap ke arah annisa yang terbaring di atas ranjang. ia masih memikirkan cara agar ia bisa menyadarkan annisa dari pingsan nya.


tak lama kemudian rafka kembali bangkit dari duduk nya dan melangkah perlahan menuju ranjang nya. ia kemudian meraih tangan annisa dan menggenggam nya dengan lembut. rafka merasakan tangan annisa dingin yang membuat nya semakin khawatir.


aku tidak bisa terus begini. kasian nisa wajah nya pucat sekali dan juga tangan nya terasa dingin, aku harus segera membawa nya kerumah sakit sekarang.


rafka pun kemudian menggendong tubuh annisa dan membawa nya keluar dari kamar.


rafka berjalan perlahan menuruni anak tangga sambil terus menggendong tubuh istri nya itu. saat sudah sampai di bawah ia kemudian mempercepat langkah nya hingga kini ia sudah sampai di depan mobil nya.


rafka membuka pintu mobil nya dan kemudian ia mendudukkan annisa di bangku depan. setelah itu ia pun tak lupa memakai kan sabuk pengaman kepada annisa sebelum ia mulai mengemudikan mobil nya.


huh... untunglah bunda tidak melihat kami, kalau sampai bunda tau, aku tidak bisa membayangkan hal apa yang akan terjadi selanjutnya.


rafka kemudian mulai melajukan mobil nya dan meninggalkan tempat tinggal nya. ia menjalankan mobil nya dengan kecepatan sedang pagi itu, mata sesekali menatap ke arah annisa yang kini duduk disamping nya.


rafka melajukan mobil nya menuju kerumah sakit terdekat yang berada di kota nya, saat hampir sampai tiba - tiba tangan annisa mulai bergerak menandakan bahwa ia akan sadar.


rafka mulai menepi lalu ia pun menghentikan laju mobil nya di pinggir jalan kota. annisa yang sudah sadar kini memegangi kepala nya karena masih merasakan pusing.


" auw," erang annisa seraya memegangi kepala nya.


dimana aku ini? kenapa aku bisa ada disini? apa yang telah terjadi dengan ku, kepala ku kenapa pusing sekali.


gumam annisa seraya memandangi sekeliling nya dengan raut wajah bingung.


" alhamdulillah, akhirnya kamu sudah sadar nis," ucap rafka seraya memeluk tubuh annisa dengan perasaan lega.


" abang," ucap annisa lirih


rafka kemudian melepaskan pelukan nya dan kini ia menggenggam erat tangan annisa.


" nisa, aku merasa lega akhir nya kamu sadar, tahukah kamu betapa aku sangat mengkhawatirkan dirimu tadi." ucap rafka seraya menatap lembut ke arah annisa yang membuat annisa merasa bingung dengan sikap suami nya itu.


" a..abang mengkhawatirkan nisa?" ucap nya seraya mengerutkan dahi.


" ya," jawab rafka lirih


annisa menatap tajam ke arah suami nya yang kini juga masih menggenggam tangan nya dengan erat.


kenapa tiba - tiba abang begitu lembut padaku


gumam nya seraya menatap ke arah tangan nya yang tergenggam erat oleh suami nya.


ada apa dengan ku? kenapa aku begitu mengkhawatirkan nya, seolah - olah aku tidak mau kehilangan nya. rafka.. sadarlah, jangan sampai kamu terjebak dengan perasaan bersalah mu padanya.


gumam rafka.


ia kemudian melepaskan genggaman tangan nya dan duduk kembali seperti biasa seolah - olah tidak terjadi apa - apa.


" kita akan kerumah sakit sekarang," ucap nya seraya menjalankan mobil nya kembali.


" kerumah sakit?" tanya annisa seraya mengerutkan dahi nya.


" ya," jawab rafka lirih


" siapa yang sakit bang?" tanya nya lagi.


" kamu, " jawab rafka


" aku," annisa merasa bingung


" tadi kamu pingsan di dalam kamar dan aku melihat wajah mu juga sangat pucat jadi aku memutuskan untuk membawa mu kerumah sakit sekarang agar dokter bisa tau apa penyakit mu." ucap rafka menjelaskan.


annisa mulai mengingat - ingat, iya memikirkan apa sebenar nya yang terjadi dengan nya hingga bisa membuat nya pingsan. sekitar lima menit annisa memikirkan nya dan akhir nya ia pun ingat.


" aaaa... kenapa aku bisa sampai pingsan segala sih, malu sekali.. coba aja tadi pagi aku nggak nyium kening abang pasti aku nggak bakalan segugup itu hingga membuat ku pingsan.


annisa mulai menunduk malu ketika membayangkan kejadian tadi pagi, ia terdiam sambil meremas kedua tangan nya.


***


mobil berhenti di parkiran rumah sakit.


rafka kemudian turun dab membukakan pintu mobil untuk annisa.


" turunlah," ucap nya lembut


annisa kemudian melangkahkan kaki nya dan turun dari dalam mobil.


" apa kamu bisa jalan sendiri? " tanya rafka


" bisa bang," jawab annisa lembut. ia pun kemudian mulai berjalan perlahan kearah pintu masuk rumah sakit namun sesaat kemudian ia kembali berhenti seraya memegangi sebelah kepala nya.


" kamu kenapa?" tanya rafka mulai khawatir


" kepala nisa sedikit pusing bang," ucap nya lirih


" ya sudah, mari jalan dengan ku." ucap rafka seraya memegangi bahu annisa dengan lembut.


kini mereka pun masuk kedalam bersama dan rafka mulai menggandeng tangan annisa dengan mesra.