Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 54


Pagi ini mentari bersinar terang. Sehingga pantulan cahaya nya memasuki kamar Rafka. Rafka sedang bersiap dengan mengenakan pakaian nya. Celana jeans yang berwarna hitam ia padukan dengan atasan kemeja berwarna dongker. Tak lupa juga ia padankan jas berwarna hitam miliknya, sehingga kini semakin menambah kesan wibawanya.


Setelah selesai berkemas-kemas. Rafka kemudian bergegas keluar. Anak tangga ia susuri hingga kini tibalah Rafka di lantai satu rumahnya. Matanya melirik kesana kemari seolah sedang mencari sesuatu.


"Dimana Annisa?


Gumamnya seraya melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut.


Matanya masih mencari kesana kemari namun tak juga berhasil menemukan sosok istrinya. Entah mengapa saat ini ia ingin sekali melihat Annisa sebelum berangkat ke restorannya. Namun sosok yang dicari tak kunjung menampakkan diri, atau bahkan mungkin dengan sengaja tidak ingin menampakkan diri di depan Rafka.


Rafka kini sudah sampai di depan teras rumah. Namun Annisa tak kunjung datang. Biasanya jika Rafka akan berangkat kerja. Annisa dengan setia menunggunya di bawah anak tangga dengan wajah yang berseri.


"Apa Nisa masih dikamar ya? Tumben, biasanya jam segini dia nunggui aku di bawah tangga dan menyapaku dengan senyum lembut nya. Namun hari ini dia sama sekali tak menampakkan dirinya.


Gumam Rafka.


Rafka kini berjalan kearah mobilnya. Dan sesampainya disana ia pun kembali menoleh kearah pintu masuk, berharap Annisa kini sudah berdiri disana dan tersenyum padanya. Namun ternyata harapan nya sia-sia.


Rafka meraih gagang pintu mobilnya kemudian membukanya. Lalu ia pun masuk kedalam mobil dan kembali menutup pintunya. Dilihatnya kembali kearah pintu masuk, namun masih tak ada orang disana.


Ia kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Lalu pergi meninggalkan rumah tersebut menuju ke restoran miliknya.


Di halaman belakang. Annisa duduk dengan memangku laptop nya. Kini ia sudah hampir selesai memeriksa setiap laporan keuangan dari toko-toko kue miliknya yang di kirim langsung oleh Fatimah melalui e-mail nya.


Setelah selesai dengan pekerjaan nya. Annisa kemudian menutup laptop nya lalu menaruh nya di atas meja kecil yang ada di samping nya. Disana juga ada secangkir teh yang sengaja ia sediakan untuk menemani nya mengerjakan tugasnya. Diraihnya gelas teh itu lalu Annisa pun meminum nya.


"Hmm, enak sekali." Ujarnya sembari tersenyum.


Setelah itu. Annisa pun bangkit dari duduk nya dan berjalan masuk kedalam rumah. Ketika hendak memasuki kamarnya tiba-tiba saja langkahnya terhenti dan kemudian kepalanya mendongak menatap keatas.


"Apa Abang sudah berangkat kerja ya?


Gumam nya.


Kini langkah nya pun beralih menuju kearah tangga. Namun sesaat kemudian langkah nya kembali terhenti. Ia kemudian menatap jam dinding yang ada didepan ruang keluarga.


"Biasanya sih jam segini Abang berangkat ke restoran. Ya sudah lah, aku kembali ke kamar ku saja.


Gumam nya lagi sembari memutar balik langkah nya dan kini kembali berjalan menuju ke pintu kamar nya. Setelah sampai disana, Annisa kemudian masuk kedalam. Ia berjalan menuju lemari untuk mengambil setelan gamis dan juga hijab nya. Setelah itu ia pun membawa pakaian itu dan meletakkan nya di atas ranjang dan kemudian beralih menuju kamar mandi untuk segera menyegarkan badan nya.


Setelah selesai membersihkan tubuhnya. Annisa pun kembali masuk kedalam kamar dan menuju kearah ranjang. Diambil nya gamis yang ada disana lalu ia pun mengenakan nya. Ia kemudia beralih menuju meja rias nya dan duduk disana. Hijan yang tadi diambil nya kemudian ia kenakan dan rapikan sembari duduk di depan kaca.


Hari ini entah mengapa Annisa ingin memakai sedikit riasan make up diwajah nya. Sehingga membuat tampilan nya kini semakin cantik. Ia bersiap-siap untuk segera pergi.


Hari ini ia berencana mengunjungi toko kue pusat nya yang ada di dekat kampus. Annisa kemudian keluar dari kamar nya menuju kearah depan. Setelah sampai disana matanya melirik kearah pintu gerbang, melihat apakah taksi yang ia pesan secara online tadi sudah datang. Namun ternyata belum.


Annisa kemudian melangkahkan kaki nya menuju kearah pintu gerbang. Disana ada Pak Sofyan yang sedang duduk berjaga sembari menikmati kopi yang di beli nya di warung depan komplek. Annisa pun kemudian menyapa Pak Sofyan dengan ramah.


"Lagi ngopi nih Pak?" Ucap nya sembari tersenyum.


Pak Sofyan menoleh. Lalu dengan cepat meletakkan kembali cangkir kopi yang di pegang nya.


"Eh, non. Ada apa ya? Apa ada yang perlu saya bantu?" Tanya Pak Sofyan saat menyadari Annisa yang telah menyapa nya.


"Enggak ada kok Pak, saya cuma lagi nunggu taksi yang sudah saya pesan melalui online tadi." Jawab Annisa sembari duduk di bangku kecil yang ada di depan gardu.


Pak Sofyan mengangguk kan kepala nya seolah sudah mengerti dengan apa yang diucapkan Annisa.


"Silahkan dilanjut ngopi nya Pak. Nggak usah sungkan dengan saya." Ucap Annisa sopan sembari tersenyum hangat.


"Oh iya, makasih ya Non." Ucap Pak Sofyan sembari menggaruk kecil kepalanya.


"Nggak usah terima kasih sama saya Pak. Kan tadi Pak Sofyan beli kopi nya di warung bukan saya yang buat, hehehe." Seru Annisa seraya tertawa kecil.


Pak Sofyan kembali menggaruk kepalanya saat mendengar ucapan Annisa. Sejujurnya ia merasa malu serta canggung kepada Annisa. Karena ini pertama kalinya Annisa dan ia berbicara, dan ternyata Annisa adalah sosok majikan yang hangat serta cukup sopan dalam berbicara terhadap pelayan nya.


Taksi kemudian muncul dan berhenti tepat didepan rumah Annisa. Melihat taksi yang di pesan olehnya akhirnya datang. Annisa pun kemudian bangkit dari duduk nya.


"Pak, taksi nya sudah datang. Saya pergi dulu ya." Ucap Annisa.


"Baik Non." Sahut Pak Sofyan.


Annisa pun kemudian keluar dan ia langsung menaiki taksi tersebut.


"Mau kemana mba?" Tanya supir taksi.


"Ke jalan xx pak." Ucap Annisa memberitahukan tujuan nya.


Sang supir taksi menganggukkan kepala nya. Ia kemudian mulai melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang meninggalkan komplek perumahan menuju kejalan yang ditujukan Annisa.


***


Tak lama kemudian taksi tersebut berhenti di depan toko kue miliknya. Annisa pun kemudian segera turun dari sana dan membayar ongkos taksi nya.


"Ini pak uang nya. Kembalian nya ambil saja." Ujar Annisa seraya menyerahkan uang kertas yang berjumlah seratus ribu.


"Alhamdulillah. Terima kasih Non." Sahut supir taksi dengan wajah sumringah.


Annisa tersenyum. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah pintu masuk toko nya.


Dari luar saja sudah terlihat sepeda motor yang begitu banyak nya sudah berjajar di tempat khusus parkir yang tersedia di toko kue nya. Melihat itu Annisa pun tersenyum.


"Alhamdulillah ya Allah. Semakin hari usaha ku ini semakin lancar . . Amin.


Gumam nya sembari melangkah masuk kedalam.


"Tap . . tap . . tap . .


Annisa berjalan menuju kearah ruangan nya.


"Eh mba Nisa." Sapa salah satu pegawai nya.


Annisa menoleh dan tersenyum.


"Hai Mia." Balas nya sembari tersenyum.


Meskipun Annisa jarang mengunjungi toko kue nya. Namun ia terkenal cukup ramah dan baik kepada seluruh pegawai nya. Sehingga para pegawai yang ada disana tak sungkan jika langsung menyapa nya.


"Akhirnya mba main kesini juga, hihi." Ucap Mia seraya tersenyum.


"Ah, kamu Mia bisa aja. Bukankah kalian lebih senang jika mba nggak datang." Ucap Annisa dengan sedikit gurauan.


"Eh, si mba. Kita tuh lebih senang dan juga lebih bersemangat jika mba bisa setiap hari datang kesini." Seru Mia.


"Bisa aja kamu Mia. Oh ya, Fatimah kemana?" Ujar Annisa seraya menanyakan keberadaan Fatimah salah satu karyawan kepercayaan nya.


"Mba Fatimah ada di ujung sana Mba." Ujar Mia seraya menunjuk kearah dimana Fatimah sedang melayani para pengunjung.


"Oh, ya sudah. Nanti jika dia sudah selesai tolong suruh masuk ke ruangan mba ya." Ujar nya kepada Mia.


"Baik mba." Sahut Mia seraya mengangguk kecil.


"Hmm, ya sudah. Sekarang kamu balik kerja ya." Timpal Annisa.


Ia pun kemudian melangkah masuk kedalam ruangan nya. Sementara itu Mia juga kembali melanjutkan pekerjaan nya.


Didalam ruangan kerja nya. Annisa kemudian meletakkan tas berukuran sedang nya diatas meja kerja nya. Lalu ia melangkah duduk di sofa yang berada disisi sebelah kiri meja kerja nya untuk sekedar beristirahat disana.


"Hmm, akhirnya setelah sekian lama aku bisa berkunjung kembali dan berada di ruangan yang sangat ku senangi ini.


Gumam nya sembari memperhatikan seisi ruangan nya yang memang sengaja ia dekor seperti sebuah kamar. Namun tak ada ranjang disana melainkan hanyalah sebuah sofa besar dan juga meja kerja nya. Didalam ruangan nya juga banyak terdapat bunga-bunga hidup dan segar, yang sengaja ia letakkan untuk membuat suasana ruangan itu lebih fresh. Setiap kali bunga hampir layu maka Fatimah dengan segera menggantikan nya dengan yang baru agar suasana ruangan tersebut tetap segar.


Saat Annisa tengah asik bersandar ria di sofa nya. Tiba-tiba saja seseorang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ceklek"


Annisa menoleh kearah pintu dan melihat Winda adiknya masuk kedalam seraya tersenyum menatap kearah nya.


"Kakak.!!" Sapa Winda saat melihat Annisa yang kini sedang duduk diatas sofa sembari menyenderkan badan nya.


Ia pun kemudian berlari kecil menuju kearah Annisa dan kini ia sudah sampai dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Annisa yang tengah asik bersandar ria.


"Kakak . . Kangen." Ucap Winda dengan gaya lebay nya sembari memeluk erat Annisa.


"Winda lepas, kakak hampir nggak bisa nafas nih." Ujar Annisa seraya berusaha melepaskan pelukan Winda.


"Nggak mau. Winda masih kangen kakak tau." Sahut Winda tanpa mau melepaskan pelukan nya.


"Win, kamu mau lihat kakak mati disini ya." Nafas Annisa semakin tersengal-sengal saat mengucapkan kalimat nya.


"Kakak apaan sih. Winda kan cuma kangen sama kakak." Akhir nya Winda pun melepaskan pelukan nya.


Kini Annisa bisa bernafas dengan lega saat Winda perlahan mulai mengangkat tubuhnya dan kini memilih duduk disamping nya.


"Fiuhh..!! Kamu semakin gendutan ya sekarang. Tubuh kamu itu berat sekali loh, hufft." Ujar Annisa seraya menghela nafas panjang.


"Kakak apaan sih. Winda kan lagi kangen kakak, tapi sekarang kakak malah ngatain Winda gendut, kan jadi males." Ucap Winda sembari mengerutkan dahinya.


"Ih, gitu aja ngambek. Tapi kakak seneng kok lihat nya kalau kamu seperti ini. Karena semakin lucu." Annisa mencubit kecil kedua pipi Winda saking gemes nya.


Ya, itu karena mereka berdua adalah kakak beradik yang cukup dekat satu sama lain. Semenjak Annisa menikah dan pergi dari rumah orang tuanya. Winda merasa sangat sepi, tak ada lagi baginya tempat bercanda ria ataupun sekedar ingin berbagi bercerita tentang keseharian nya di kampus.


Ia sudah terbiasa menceritakan segala hal kepada kakak nya. Maka dari itu Winda sangat merasa kehilangan saat kepergian kakak nya.


"Kakak.!! Sakit tau." Ringis Winda yang merasa kesakitan saat kedua tangan Annisa mencubit gemes pipi mulus nya.


"Hehehe, habisnya kamu gemesin kalau sedang ngambek gitu." Ujar Annisa sembari tersenyum.


Mereka pun kemudian saling melepas rindu satu sama lain dengan cara berbagi cerita suka-duka masing-masing


***


Tanpa terasa kini jam menunjukkan pukul 12:45 Wib. Selesai shalat zuhur kedua nya kini keluar dari ruangan. Winda mengajak Annisa untuk makan siang di restoran milik kakak ipar nya, Rafka. Awal nya Annisa sempat menolak, namun karena Winda terus mendesak nya. Mau tak mau akhirnya ia pun terpaksa menyetujui ajakan adik nya tersebut.


Kini mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Namun setibanya di depan kasir seorang lelaki menyapa Annisa.


"Nisa.!!" Ucap laki-laki tersebut yang tak lain adalah Feri.


Annisa menoleh kearah tersebut.


"Feri.." Sahut nya saat melihat sosok yang menyapa nya adalah Feri sepupu Maya.


Winda mengerutkan dahinya saat melihat Feri yang ternyata mengenali kakak nya, bahkan kelihatan nya mereka cukup akrab.


"Sedang apa kamu disini?" Tanya Feri.


"Oh, aku hanya sedang mampir saja kesini." Jawab Annisa singkat tanpa ingin memberitahukan bahwa sebenarnya toko kue yang merangkap menjadi Cafe itu adalah milik nya.


"Oh . ." Feri mengangguk kecil.


"Udah selesai kan bicaranya. Sekarang kita mau permisi okey." Ketus Winda yang tak senang saat melihat Feri yang berbicara begitu akrab dengan kakak nya.


"Loh, kok kamu yang sibuk sih Win? Emang nya kalian mau kemana?" Tanya Feri sembari mengerutkan dahinya.


"Bukan urusan mu!! Nggak usah kepo deh." Seru Winda sembari menarik tangan Annisa untuk segera pergi dari sana.


"Winda, nggak boleh gitu. Feri itu sopan nanya nya loh. Jadi kita juga harus baik-baik menjawab nya." Ucap Annisa yang merasa keberatan dengan sikap ketua adiknya.


"Nggak perlu sopan sama orang seperti dia kak, dia itu bukan pria yang baik." Ujar Winda sembari menatap sinis kearah Feri.


Sedangkan Feri membalas nya dengan senyuman. Sehingga kini Winda mengubah tatapan sinis nya menjadi melotot kearah nya.


Annisa ternyata memperhatikan itu. Sehingga membuatnya tertawa kecil saat melihat tingkah kedua orang yang kini berada di hadapan nya, dan seperti nya mereka juga saling mengenal satu sama lain.


"Kalian saling kenal yah?" Ucap nya sembari menatap kearah keduanya.


"Iya Nis, aku dulu pernah menyatakan cinta sama dia namun ditolak, hehe." Ujar Feri tanpa sungkan.


"Nggak kak, dia bohong." Sanggah Winda yang membuat Annisa mengerutkan dahinya.


"Dia yang bohong Nis, aku jujur." Timpal Feri yang tak ingin di cap pembohong oleh Annisa.


"Aku percaya kamu Fer," Sahut Annisa yang membuat tatapan Winda semakin kesal.


"Winda, kamu nggak boleh gitu dong. Feri ini orang nya baik loh." Annisa.


"Baik dari hongkong. Dia itu playboy kelas kakap kak, darimana baik nya coba." Protes Winda yang tak senang saat mendengar Feri mendapatkan predikat baik dimata kakak nya.


Sedangkan Feri tersenyum puas saat melihat Winda yang semakin kesal.


"Ya setau kakak begitu. Terlepas dari segala latar belakang nya itu, sikap dia sama kakak selalu baik kok." Timpal Annisa.


"Ya . . ya . . ya . . Terserah kakak deh. Sekarang Winda lapar dan ingin segera makan, yuk ah." Ujar Winda sembari menarik tangan Annisa kembali untuk segera pergi dari sana bersama nya.


"Fer, kami pergi dulu ya. Assalamu'alaukum." Ucap Annisa seraya pamit dari hadapan Feri.


"Wa'alaikum salam. Hati-hati ya.." Balas Feri sembari tersenyum hangat.


Annisa pun kini pergi dengan Winda dan meninggalkan Feri disana.


***


Di restoran.


Suasana begitu ramai. Para pengunjung mulai berdatangan karena sekarang sudah waktunya makan siang. Para bos-bos serta pegawai perusahaan besar mulai tampak masuk mengisi meja-meja yang kosong. Anak muda serta para keluarga yang sengaja datang kesana untuk menikmati makan siang nya pun ikut memenuhi ruangan restoran sehingga kini restoran tersebut tampak begitu ramai pengunjung.


Para karyawan terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan nya. Begitu pula koki-koki ternama yang ada di dapur. Mereka hampir saja kewalahan menghadapi setiap pesanan yang datang saat jam makan siang telah tiba.


Sebuah taksi berhenti tepat didepan restoran Rafka. Annisa dan Winda kemudian turun dari sana setelah membayar ongkos nya terlebih dahulu.


"Waah . . Besar sekali restoran kakak ipar." Ucap Winda takjub saat pertama kali melihat restoran milik Rafka.


Annisa hanya tersenyum saat melihat tingkah adik nya.


"Biasa aja dek, jangan sampe terlihat norak sama orang-orang yang berada di sekitar sini." Ujar Annisa seraya menggandeng tangan Winda untuk segera masuk kedalam.


Winda pun mengangguk setuju tanpa membantah. Ia kemudian mengikuti langkah kakak nya yang kini berjalan menuju kearah pintu masuk restoran.


Setibanya disana. Annisa kemudian mendorong pintu tersebut, lalu mereka pun masuk kedalam nya.


Sekali lagi Winda takjub saat melihat begitu ramai para pelanggan restoran yang datang hanya untuk makan siang disana. Sedangkan Annisa, ia tampak melirik kesana dan kemari hanya untuk mendapatkan meja kosong untuk nya dan juga Winda.


"Kak, pengunjung nya ramai sekali. Kita mau duduk dimana nih?" Ujar Winda pelan.


Ia ternyata juga cukup memperhatikan sekitar sehingga tau berkata seperti itu kepada Annisa.


"Entahlah, mungkin kita keluar saja dan mencari tempat makan yang lain nya." Ucap Annisa seraya ingin membalikkan badan nya namun di tahan oleh Winda.


" Nggak usah kak, sekarang kakak telpon kak Rafka saja. Mungkin dia bisa menyuruh salah satu pegawai nya untuk segera menyiapkan tempat kepada kita." Saran Winda.


Annisa kemudian terdiam saat mendengar ucapan Winda.


"Apa!! Telpon Abang? Yang benar saja Win, gimana mau nelfon. Nomor ponsel nya saja aku tidak punya.


Gumam Annisa.


Ia merasa bingung harus menjawab apa. Karena saat ini Annisa sendiri tidak mempunyai nomor ponsel Rafka. Haruskah ia mengatakan yang sejujurnya kepada Winda. tidak mungkin pikirnya. Ia takut jika Winda sampai tau maka ia akan dengan cepat menginterogasi dirinya hingga akhirnya tau yang sesungguh nya.


"Win, sebaiknya kita cari tempat lain aja deh. Kakak nggak berani nelpon Abang, takutnya dia sedang sibuk sekarang." Kelit nya karena tak ingin Winda tau yang sesungguh nya.


Tiba-tiba. Dari arah depan seseorang memanggil Annisa.


"Nisa!!" Sapa seorang pria yang tak lain adalah Dedi.


Annisa kemudian menoleh kearah tersebut.


"Kak Dedi . .


Gumam Annisa.


BERSAMBUNG