
“ Apa aku pernah bilang seperti itu?”
Rafka tampak mengerutkan dahinya. Ia kini juga mulai mengedarkan tatapan tidak senang nya kearah Maya. Sehingga membuat Maya merasa tak nyaman berada disana.
Kenapa perasaan ku menjadi tidak enak seperti ini ya? Sikap
Mas Rafka terlihat begitu aneh. Bukankah seharusnya ketika melihat ku ia akan
merasa sangat bahagia, karena akhirnya aku bersedia datang kesini untuk
menemuinya?
Maya bertanya-tanya didalam hatinya sendiri.
Rasa was-was mulai berkecamuk didalam dirinya mengingat bagaimana sikap Rafka saat ini kepadanya.
Namun, ia berusaha rileks sedemikian mungkin dalam menghadapi itu semua. Mungkin saja saat ini Rafka merasa sangat kesal kepadanya karena ia datang lebih lambat dari waktu yang ditentukan Rafka. Karena Maya sangat tahu dengan peringai Rafka yang amat sangat tidak suka menunggu. Ditambah lagi hari ini Maya terlambat hingga satu jam dari waktu yang diinginkan Rafka.
“ Mas, maaf. Tadi itu dijalan macet parah jadi aku terpaksa..”
“ Tontonlah ini, setelah menontonnya baru kamu bicara.”
Ketus Rafka. Ia lalu menekan remote yang ada ditangannya. Sehingga kini mulailah pertunjukkan yang ingin dipersembahkan Rafka.
Maya duduk dengan manis disofa berukuran besar yang ada disana. Ia juga menyilakan kakinya seperti biasa, menunjukkan kesan elegan yang ada pada dirinya.
Saat ini Maya mengira jika Rafka tengah memutar sebuah film romantis disana, dan ia ingin mendengar pendapat nya tentang film romantis tersebut. Namun tak disangka, saat film telah dimulai. Maya melihat jika sosok wanita yang ada disana ternyata adalah dirinya sendiri.
Deg
Jantung Maya berdebar kencang menyaksikan tayangan tersebut. Matanya juga tampak memelototi televisi saat melihat sosok pemeran wanita yang ada disana. Sehingga membuat nya tertegun ditempat nya.
Apa! Bukankah itu aku, Sial! Bagaimana bisa aku tak tahu jika diruangan itu ternyata ada cctv nya. Jika aku tau sebelumnya maka aku pasti akan merusaknya.
Gumam Maya.
Tapi, bagaimana bisa Mas Rafka mendapatkan ini semua. Apa jangan-jangan sebelumnya ia sudah mencurigaiku? Ah, tidak-tidak! Jika Mas Rafka memang sudah curiga kepadaku, pasti dia tidak akan membiarkanku pulang dengan mudah. Bahkan dia tidak akan membiarkan Annisa meminum-minuman itu kan? Hmm, aku yakin pasti ada seseorang dari penghuni Villa yang memberitahukan hal ini semua kepadanya. Tapi siapa? Apa mungkin Fikar? Tapi bukankah dia tidak sempat melihat apapun saat itu? Tapi, kala itu yang ada disana cuma dia..
Maya tapak berfikir keras didalam hatinya. Namun belum lagi sempat ia menemukan jawaban nya Rafka kini mulai mengeluarkan suara.
“ Apa penjelasanmu dengan ini semua?” Tanya Rafka menatap dingin kearah Maya.
Glek!
Maya menelan ludahnya.
Keringat dingin kini mulai mengucur deras didahinya. Tangan nya terlihat gemetar sembari menggenggam erat rantai tali tas miliknya. Wajahnya juga terlihat begitu pucat saat ini. Jujur saja ia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya hari ini. Mengingat sikap Rafka terhadap Annisa yang kini mulai teramat dekat. Terlebih lagi Maya sendiri juga telah memastikan dan mendengar sendiri bagaimana indahnya desahan mereka saat sedang bercinta ketika masih berada di Villa.
Namun, bukan Maya namanya jika ia tidak berusaha mengatasi hal tersebut. Kini walaupun dirinya telah jelas-jelas tertangkap basah telah melakukan kesalahan. Maya mulai mencari cara agar ia bisa keluar dari masalah tersebut.
“ Apakah kamu yakin jika itu aku?” Tanya nya dengan nada tenang.
“ Aku sangat mengenalmu.” Tekan Rafka.
“ Aku tahu jika kamu memang mengenalku. Tapi, apakah kamu percaya kepadaku?” Lirihnya.
Sementara Rafka terlihat diam mendengar itu semua.
“ Hah! Bukankah kamu tidak percaya kepadaku maka dari itu kamu memanggilku kesini untuk menginterogasiku kan!” Serunya kemudian. Ia semakin percaya diri saat Rafka tak menyela sedikitpun ucapan nya. Sehingga membuatnya berada diatas angin sekarang.
“ Tidak usah berbelit-belit! Katakan saja jika itu memang
benar dirimu!” Tegas Rafka. “ Kamu tau kan, jika aku tidak suka orang yang
begitu bertele-tele.” Rafka semakin menekan diujung kalimatnya.
Glek!
Maya kembali menelan ludahnya. Kali ini ia melihat
kesungguhan diwajah Rafka. Dari bola matanya Maya juga dapat melihat. Jika saat
ini kobaran api tengah menyala dengan dahsyatnya sehingga hampir membuat nyali
Maya menciut karenanya.
Maya masih terlihat teguh ditengah kobaran api yang menyala.
Baginya saat ini rasa takut terbakar oleh api tersebut hilanglah sudah. Karena
“ Ya, itu memang benar aku.” Ucapnya santai. “ Tapi, apa
kamu tahu kenapa aku melakukan itu semua?” Tanya nya dengan suara lantang. “
Itu semua karena kamu Mas! Karena kamu!” Pekiknya tanpa ingin mendengar jawaban
dari Rafka. “ Kamu tau, jika saja kamu mau memaafkan ku dan mau memulai kembali
hubungan yang terjalin selama dua tahun ini. Maka aku tidak akan melakukan hal
seperti ini!” Maya semakin menambah intonasi suranya. Sehingga kini suaranya
begitu menggelegar memenuhi ruangan itu.
Mendengar apa yang diucapkan Maya membuat Rafka mulai
kehilangan kendali. Kini ia kembali bangkit dari duduknya dan berjalan menuju
kearah Maya yang saat ini duduk disofa. Terlihat sekali raut wajahnya kini di
penuhi kemurkaan. Kini ia sama sekali sungguh tak bisa lagi menahan kemurkaan
nya terhadap Maya. Sehingga kini didalam hatinya Rafka ingin sekali mencekik
gadis yang saat ini sedang duduk dihadapan nya.
Maya terlihat semakin gemetaran saat melihat ekspresi yang
ditunjukkan Rafka. Wajahnya juga kian memucat tatkala melihat Rafka yang kini
hampir tiba dihadapan nya. Saat Rafka telah tiba dan mulai mengangkat tangan
nya. Seketika saja Maya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan nya. Ia
takut bahkan sangat takut sekali melihat ekspresi Rafka saat ini. Yang bagaikan
serigala yang siap mencabik-cabik mangsanya.
Prang!!
Terdengar suara Vas bunga terjatuh ke lantai yang membuat
jantung Maya semakin berdebar kencang menahan rasa takut yang hampir memenuhi
hatinya.
Apa yang jatuh? Tidakkah aku jadi dipukul olehnya?
Maya bertanya-tanya didalam hatinya.
Lalu secara perlahan ketika ia mulai merasa sunyi Maya
kemudian membuka kedua telapak tangannya yang menutupi wajah cantiknya.
“ Kenapa? Tidak jadi pukul? Apa kamu takut?” Tantang Maya
dengan suara lantang.
Namun, Rafka sama sekali tak menggubris. Sehingga membuat
Maya besar kepala dan kembali lagi mengulang kalimatnya.
“ Pukul aku Mas! Bukankah itu yang Mas inginkan!” Teriaknya.
“ Hiks, hiks, hiks.” Pertahanan Maya akhirnya runtuh seketika.
Bulir-bulir cairan bening perlahan keluar darimatanya, yang
kini jatuh membasahi wajahnya. Maya menangis. Disepanjang hidupnya ia sama
sekali tak menyangka jika akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari Rafka.
Sosok pria yang amat sangat dicintainya.
“ Kali ini aku sudah tidak bisa lagi mentolerir semua
kejahatan kamu. Jadi aku sudah memutuskan untuk membawa masalah ini ke pihak
yang berwajib agar kamu bisa mempertanggung jawabkan ini semua.” Suara Rafka
terdengar rendah. Namun, ada ketegasan disetiap kalimatnya.
“ Apa kamu bilang Mas?” Maya kemudian bangkit dari duduknya.
“ Kamu ingin membawa masalah ini kepada pihak yang berwajib?” Ia kini sudah
berdiri dihadapan Rafka. “ Apa yang telah kulakukan sehingga kamu harus membawa
masalah ini kesana!” Teriaknya tanpa mengerti akan kesalahan fatal yang telah
ia perbuat.
BERSAMBUNG