
" Eh nisa," ucap dedi ramah saat melihat nisa yang kini berada di hadapan nya.
" kak, abang rafka ada di dalam?" tanya nisa lembut
" ada nis, tuh lagi baring di atas kasur." ucap dedi yang menunjuk dengan mata nya ke dalam kamar.
" oh, kalau gitu kakak tolong bilangin ya sama abang makan malam sudah nisa siapkan. segeralah turun untuk makan," ujar nisa mengutarakan maksud nya datang ke kamar itu.
" rafka aja nih yang di suruh turun, aku enggak?" tanya dedi dengan menaikkan sedikit alis nya sembari tersenyum
" kakak juga, nisa juga udah siapin piring untuk kakak di meja makan," ujar nisa
" segera turun ya, nisa tunggu di bawah." ujar nya lagi seraya pergi dari sana.
dedi kemudian beralih mendekati ranjang, dan kemudian membangun kan rafka yang mulai memejam kan mata nya.
" eh raf bangun.!!" ucap nya saat melihat rafka yang sudah memejamkan mata nya
" apaan si," sahut rafka yang seolah tak senang saat dedi membangun kan nya.
" tadi nisa datang dan kata nya dia nyuruh kamu segera turun untuk makan malam, dia juga lagi nunggu kamu di bawah tuh sekarang." ucap dedi kepada sahabat nya itu.
rafka yang sedang berbaring tiba - tiba bangun dengan semangat nya. ia kemudian berjalan menuju ke arah kaca sembari berdiri menatap wajah nya.
ia meraih sisir yang ada di meja kecil di samping kaca nya dan kemudian menyisir rambut nya dan tak lupa juga ia merapikan sedikit baju yang di kenakan nya.
dedi menatap bingung ke arah sahabat nya itu yang tingkah nya berubah seketika saat ia mengatakan bahwa annisa sedang menunggu nya.
" hmm, kata nya nggak suka. tapi begitu dengan annisa lagi nunggu di bawah eh.. semangat nya nggak ketulungan. rafka .. rafka..
gumam dedi seraya menggeleng - geleng kan kepala nya saat menatap tingkah sahabat nya itu.
" raf, emang mesti ya mau makan aja pake acara sisiran sama ngerapihin baju?" ucap dedi yang ingin melihat apa reaksi sahabat nya saat ia menggoda nya.
" enggak sih, tapi lagi pengen aja." jawab rafka santai sembari memegangi rambut nya.
" kayak nya kamu mulai suka sama nisa deh raf," ujar dedi yang kini sudah berdiri tepat di samping rafka
" kalau enggak, terus kenapa sekarang kamu sok bergaya begini di depan cermin begini, padahal ini kita sekarang mau makan loh, terus makan nya juga di rumah bukan di di restoran sama pacar." ujar dedi yang membuat rafka tertegun menatap diri nya di depan kaca.
" benar juga ya kata dedi, kenapa aku jadi ingin terlihat rapi begini hanya untuk makan malam saja, dan itu juga makan nya di rumah sama dedi dan juga nisa. dan kenapa juga aku jadi begitu bersemangat saat mendengar nisa sedang sedang menunggu ku di bawah.
gumam rafka di dalam hati dan kini ia pun sedang terdiam menatap diri nya sendiri di depan kaca.
" woi, lagi ngelamunin apa sih? pasti nisa nih.." ujar dedi yang semakin membuat rafka salah tingkah.
" apaan sih, udah - udah yuk turun." ucap rafka yang kini berlalu pergi meninggalkan sahabat nya itu sendiri di dalam kamar nya.
dedi menggeleng - geleng kan kepala nya sembari terkekeh sendiri saat melihat aksi sahabat nya itu yang kini mulai salah tingkah saat ia menyebut nama annisa di hadapan nya.
***
suasana di meja makan yang cukup terang membuat siapa pun yang masuk kesana akan dengan jelas melihat pemandangan di sekitar.
annisa sudah duduk dengan rapi saat rafka dan dedi sampai disana. annisa yang memakai setelan gamis berwarna hijau serta di baluti hijab berwarna creme tampak begitu anggun malam itu meskipun tanpa polesan make up.
" kenapa dia begitu cantik malam ini, padahal penampilan nya biasa saja. tapi kenapa aku merasa kalau dia berbeda. deg...
jantung ku juga kenapa jadi deg - degan gini sih.
gumam rafka yang terus melangkah menghampiri meja makan.
" wah - wah..!! kelihatan nya enak nih" celetuk dedi saat tiba di meja makan.
" ya sudah, silahkan di coba kak jangan cuma di lihat." ucap nisa yang mempersilahkan dedi untuk duduk di kursi nya.
sementara itu annisa sendiri bangkit dari duduk nya dan kini malah mendekat ke arah rafka. yah.. seperti biasa annisa mulai melakukan kewajiban nya dengan melayani rafka di meja makan, meskipun kini ia masih kecewa dengan pernyataan rafka kepada feri tadi pagi di rumah sakit. ia tetap melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri karena ia tak mau jika harus berdosa dan di sebut sebagai istri yang menelantarkan suami nya.
namun kini annisa mulai menutup hati nya dengan tak ingin berharap lebih untuk rafka bisa mencintai nya.
bersambung