Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 43


Wajah rafka semakin memerah saat melihat candaan dedi terhadap istri nya. tangan nya mengepal seakan ingin menonjok orang yang sedang berada di hadapan nya ini. ia sangat kesal mendengar dedi yang begitu tidak tau diri nya menggoda seorang wanita yang sudah bersuami di hadapan suami nya sendiri.


" sial.!! kenapa hati ku jadi panas sendiri sih saat mendengar gombalan nya yang menjijikkan itu. ngapain juga dia gombalin nisa di hadapan ku. nisa juga, bukan kah ia tau status nya yang sudah menikah dan mempunyai suami, tapi masih mau saja meladeni gombalin dedi. dan dia seperti nya sangat senang dengan semua itu.


gerutu rafka dalam hati.


rafka kemudian bangkit dari duduk nya. ia sudah tidak tahan melihat dedi dengan senyum riang nya, terlihat sekali kebahagiaan dari raut wajah nya saat melihat nisa membalas setiap perkataan nya dengan lembut. sedangkan untuk nya, annisa sama sekali tidak melirik ke arah nya melainkan mata nya hanya fokus ke arah dedi yang ada di samping nya.


" raf, mau kemana?" tanya dedi yang melihat rafka berdiri dan hendak melangkahkan kaki nya.


" bukan urusan mu." ketus rafka.


" kamu marah?" tanya dedi yang melihat dengan jelas raut wajah rafka yang memerah.


" ngapain marah? jika kamu suka pada nya aku akan melepaskan nya untuk mu." ucap rafka dengan mata melotot


" kamu cemburu raf?" tanya dedi seraya menyilakan kedua tangan nya di dada nya sembari menaikkan sedikit sebelah alis nya.


" cemburu, hah, ngapain cemburu.. aku sama sekali tidak mencintai nya." sanggah rafka sembari memalingkan muka.


" tapi aku lihat tidak begitu," ujar dedi seraya tersenyum.


" sudahlah, aku mau naik ke kamar ku. kalau kamu masih mau duduk disini ya duduk lah." ujar rafka sembari melangkah kan kaki nya berjalan menuju anak tangga.


ia kemudian menyusuri anak tangga tersebut satu - persatu hingga akhir nya sampai di depan pintu kamar nya dan dedi pun kini juga telah sampai disana mengikuti rafka dari belakang.


" loh, kamu ngikut juga, nggak mau duduk di sana nungguin nisa keluar?" ketus rafka sembari mengerutkan kening nya saat melihat dedi yang kini juga ada di depan kamar nya.


" nggak deh raf, masak aku nungguin istri orang keluar dari dalam kamar sih," ujar dedi seraya tersenyum.


" oh, jadi cerita nya kamu masih ingat dia sudah memiliki suami. hah," ucap rafka seraya menaikkan alis nya.


" ya, dan sekarang suami nya tampak kesal kepada ku dan seperti nya ingin menonjok ku, hehehehe." ucap dedi di susul gelak tawa dari nya.


rafka memalingkan wajah dan kini ia membuka pintu kamar nya dan ia pun melangkah masuk kedalam di susul dedi dari belakang.


***


di meja makan annisa sudah menyusun peralatan makan pada tempat masing - masing. air minum pun sudah ia isi pada setiap gelas dan makanan juga sudah tertata rapi di atas meja.


" hmm, sudah siap," ucap nya seusai menyiap kan semua nya.


di dalam kamar rafka.


dedi duduk dengan santai nya di atas ranjang milik sahabat nya itu. ia melihat serta memandangi isi kamar tersebut.


" hmm, sayang sekali ya raf," ujar dedi di sela - sela duduk nya.


rafka yang sedang merapikan perangkat shalat nya menatap dedi bingung.


" sayang kenapa? apa maksud mu?" ucap rafka yang tak mengerti apa maksud dari ucapan sahabat nya itu.


" kamu sudah mempunyai istri yang cantik sholeha lagi, tapi kamu tidak pernah menatap nya. seharusnya kan sekarang nisa ada disini bersamamu." ucap dedi menjelaskan maksud dari perkataan nya.


rafka yang sudah selesai merapikan perangkat shalat nya kemudian menaruh nya di dalam lemari dan kemudian ia pun berjalan mendekati ranjang nya dan duduk di sana.


" ya begitulah, karena aku belum bisa mencintai nya." ujar rafka seraya menghela nafas nya


" apa ini semua masih karena maya?" tanya dedi dengan raut wajah serius.


rafka kemudian membaringkan badan nya dan meletakkan kedua telapak tangan nya yang saling berkaitan di bawah kepala nya sebagai sandaran pengganti bantal untuk nya.


" bukan, aku hanya belum bisa mencintai nya saja. kalau untuk maya sendiri meski pun aku sudah memaafkan nya tapi aku belum bisa melupakan kejadian saat dia mengkhianati ku." ujar rafka


" tapi kamu masih mencintai nya kan?" tanya dedi menatap tajam


" cinta, rasa itu memang masih ada, tapi seperti tenggelam saat aku mengingat pengkhianatan yang ia lakukan kepada ku." ujar rafka


tok tok tok


suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka.


rafka yang masih berbaring di atas ranjang kemudian menatap ke arah dedi seolah mengisyaratkan agar dedi bangkit dan membuka pintu nya.


dedi yang seolah mengerti dengan isyarat yang di berikan rafka pun kemudian bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju pintu kamar dan kemudian membuka nya.


" kreek "


suara pintu terbuka dan disana nisa sudah berdiri menghadap ke arah nya seraya melemparkan senyum manis nya.