
Sementara itu di kediaman Rafka.
“ Sayang, kamu sudah siap?” Tanya Rafka begitu memasuki kamarnya.
“ Belum Bang, sebentar lagi.” Sahut Annisa sembari berusaha menaikkan resleting baju bagian belakang nya. “ Uh, kenapa susah sekali sih!” Keluhnya.
Annisa kini berdiri didepan cermin sembari berusaha menaikkan resleting bajunya. Ia terlihat kesusahan dengan itu karena tersangkut dengan ujung benang yang berada di sekitar resleting.
“ Susah banget, sini aku bantuin.” Kata Rafka sembari merapat kearah Annisa lalu seketika itu pula ia meraih pundak Annisa.
“ Hmm.”
Annisa pun melepaskan tangan nya dari sana dan membiarkan suaminya yang melakukannya.
Perlahan Rafka kini mulai menaikkan resletingnya. Namun tersendat, dilihatnya kearah resleting itu dan Rafka menemukan jika itu karena benang yang menyangkut disana. Rafka melepaskan nya secara perlahan.
“ Kenapa Bang? Apa yang terjadi? Resleting nya nggak bisa naikkan kah?” Beberapa pertanyaan terdengar di lontarkan Annisa tatkala merasakan jika Rafka sama sekali tak melanjutkan aktifitasnya.
Rafka hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Annisa. Tangan nya kini malah naik meraba punggung Annisa dengan lembut.
“ Ah, Bang! Jangan seperti itu.”
Annisa merasa geli dengan sentuhan itu.
Mendengar suara Annisa yang kegelian membuat Rafka kian menambah susupan tangan nya yang kini malah menyelinap kesana-kemari.
“ Abang! Apa-apaan sih!” Tegas Annisa yang merasa kesal karena di permainkan.
Mendengar suara Annisa yang sedikit keras membuat Rafka tersadar.
“ Eh, iya. Maaf ya sayang.” Jawab nya sembari menarik kembali tangan nya. Lalu setelah itu dengan segera ia menaikkan resleting baju Annisa dengan rapi.
Hufft! Hampir saja aku terbuai dengan kehalusan kulitnya. Melihat nya seperti ini saja membuat gairah ku seketika meningkat.
Gumam Rafka.
Diseka nya keringat dingin yang mulai terlihat di kening nya dengan telapak tangan nya.
“ Abang kenapa?” Annisa terlihat kebingungan saat melihat wajah Rafka yang terlihat seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.
“ Hah, eng-enggak. Enggak kenapa-napa kok.” Jawab Rafka sembari memalingkan wajahnya.
“ Abang sakit?” Tanya Annisa yang saat ini masih berusaha melihat wajah suaminya. “ Tadi Nisa lihat Abang berkeringat.” Kata nya kemudian.
Berhubung saat itu ruangan yang sedang tertutup dan juga ac yang menyala. Jadi membuat Annisa berpikir bagaimana bisa Rafka mengeluarkan keringat seperti itu disaat ruangan disana terasa sejuk.
“ Kalau Abang sakit, lebih baik Abang tidak usah masuk restoran hari ini. Beristirahatlah dirumah, nanti biar Nisa kabari Kak Dedi ya.” Tukas Annisa sembari terus menatap wajah suaminya.
“ Aku tidak apa-apa, lanjutkan pakai hijab mu. Kita akan berangkat bersama dan aku akan mengantarkan mu ke Tokomu.” Ujar Rafka.
“ Tapi Bang, apa Abang yakin akan masuk kerja? Nisa melihat tadi Abang mengeluarkan keringat loh, padahalkan udara didalam kamar kita terasa sejuk." Kata Annisa yang terlontar dengan polosnya.
Gumam Rafka.
Ia lalu tersenyum menatap kearah istrinya itu.
Sedangkan Annisa dengan polosnya bertanya.
“ Kenapa sekarang Abang jadi senyam-senyum begini?” Terlihat jika saat ini ia mulai mengerutkan dahinya.
“ Kamu benar mau tahu?” Telisik Rafka.
Annisa menganggukkan kepalanya.
“ Aku bisa mengeluarkan keringat seperti ini itu karena kamu.” Ucap Rafka dengan lembut.
“ Apa? Karena Nisa?” Saat ini tersirat kebingungan di wajah Annisa.
“ Ya.”
“ Kok bisa?” Annisa semakin bingung dengan jawaban Rafka.
Rafka lalu mendekatkan dirinya kearah Annisa.
“ Karena aku sungguh tak bisa menahan diri saat melihat tubuhmu. Apalagi sampai menyentuh nya seperti tadi, sungguh membuat gejolak yang ada didalam diri ini terasa ingin di salurkan.” Bisik Rafka lembut.
Deg.
Seketika bulu kuduk Annisa merinding. Jantung nya seketika berdegup kencang tatkala mendengar ucapan yang baru saja di lontarkan Rafka.
Aaaa… apakah mungkin bisa sampai seperti itu. Tapi tadi aku tidak memintanya, dia sendiri yang menawarkan diri untuk menaikkan resleting bajuku. Jadi, itu bukan salahku ku kan?
Gumam nya.
Ia lalu bergegas menuju kearah meja rias nya. Mengambil hijabnya yang ia letakkan disana setelah memoles sedikit wajahnya dengan riasan make up sekena nya.
Sungguh ucapan Rafka tadi membuat nya malu dan sedikit salah tingkah. Sehingga kini ia sama sekali tak berani lagi menatap wajah suaminya.
“ Kamu sudah siap?” Tanya Rafka sembari tersenyum melihat wajah Annisa yang jelas sekali merah. ditambah lagi riasan make up yang ia pakai terlalu tipis, sehingga membuat Rafka dengan jelas melihat jika saat ini wajah nya merona karena ucapan nya.
“ Ya.” Sahut Annisa singkat, sembari melangkah lebih maju didepan. Tak ingin membiarkan Rafka yang terus-terusan menatap nya.
BERSAMBUNG
Sambil nunggu Annisa dan Rafka up jangan lupa mampir kerumah Joe dan Tania ya👇
Ditunggu kehadiran nya.😉😘