Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BAB 128


Annisa kini terlihat berdiri di pembatas balkon. Menatap kelangit, menikmati indah nya cahaya bintang dan juga bulan. Dari arah kamar Rafka terlihat menlangkah menuju kearah Annisa yang saat ini terlihat begitu fokus menatap ke langit.


Dilingkarkannya tangan nya di kedua sisi pinggang Annisa dengan mesra seraya mengatakan.


“ Keindahan bunga akan hilang disaat telah layu. Keindahan bulan juga akan meredup disaat gumpalan awan hitam berjalan menutupinya. Namun keindahan dirimu di mataku tak akan pernah luput dimakan waktu.”


Mendengar kalimat itu membuat Annisa seketika tersenyum. Ini kali pertama baginya mendengar kalimat yang begitu puitis dari Rafka. Mengingat sebelumnya Rafka selalu bersikap dingin kepadanya. Annisa lalu mengerling kearah Rafka yang saat ini sudah menyandarkan dagunya di bahu


Annisa.


“ Abang makan apa hari ini? Tumben mulut itu bisa mengeluarkan kalimat yang begitu puitis.” Kata Annisa sembari tersenyum ringan.


“ Puitis? Tidak, kalimat tadi itu hanya menggambarkan isi hatiku padamu.” Ujar Rafka.


Annisa tersenyum. Lalu ia membelai lembut pipi Rafka.


“ Apakah benar seperti itu?” Tanya nya yang kini kembali menatap langit.


“ Ya, karena aku akan membuatnya selalu indah.” Kata Rafka.


Dicium nya pipi Annisa dengan sangat lembut sembari terus memeluk mesra tubuh istrinya dari belakang.


“ Ah, sudahlah. Nisa ngantuk, mau tidur.”


Annisa membalikkan badan.


“ Cepat banget ngantuk nya?”


“ Iya, karena setengah hari tadi Nisa begitu lelah di toko.”


“ Kenapa? Apa ada kendala disana?” Tanya Rafka.


“ Enggak ada kok, Cuma tadi itu Nisa ikut bantu-bantu diluar menghadapi pelanggan. Karena Nisa lihat mereka terlalu kewalahan mengahadapi begitu banyak pengunjung yang datang membeli kue di Toko Nisa.”


“ Hmm, itu berarti tanda nya kamu harus menambah lagi jumlah orang kerja disana. Agar para pegawaimu tidak terlalu keawalahan dan kamu juga tidak terlalu capek seperti ini. Jujur saja, aku merasa keberatan jika kamu


bekerja terlalu lelah diluar.” Kata Rafka.


Annisa terlihat diam memikirkan ucapan Rafka.


Mungkin apa yang dikatakan Abang ada benar nya. Aku harus menambah jumlah karyawan ku agar bisa mengatasi membludaknya pengunjung seperti tadi.


Pikirnya.


Annisa tersentak.


“ Eh, i-iya.” Sahut Annisa.


“ Iya apa?” Tanya Rafka.


“ Iya seperti kata Abang, sepertinya Nisa harus menambah jumlah karyawan yang bekerja disana.” Ujar Annisa. “ Makasih ya Bang sarannya.” Kata nya kemudian.


Rafka tersenyum, lalu kini ia mulai menggendong tubuh Annisa dan membawa nya masuk kedalam.


“ Bukankah kamu sudah mengantuk, sekarang mari kita tidur.” Katanya sembari terus membawa Annisa hingga tiba di ranjang. Lalu kini ia meletakkan tubuh istrinya itu secara perlahan disana membuat Annisa tersipu malu olehnya.


Kemudian Rafka pun beralih pergi kearah samping dan mulai menjatuhkan tubuhnya disana tepat disamping Annisa. Rafka kemudian menggeser tubuhnya agar bisa mendekat dengan istrinya. Setelah itu iapun kini mulai


melingkarkan tangan nya di pinggang istrinya dan memeluknya dengan erat.


“ Bang, jangan seperti ini.”


“ Loh, memang kenapa?”


“ Nisa sedang haid sekarang.” Kata Annisa mengingatkan.


“ Kenapa kamu berbicara seperti itu? Apa jangan-jangan kamu pikir aku ingin..”


Dengan cepat Annisa mengatup mulut Rafka dengan tangan nya.


“ Jangan dilanjutkan lagi.” Ucapnya seraya menunduk malu.


Perlahan Rafka mengankat tangan Annisa dari mulutnya.


“ Hehehe, iya.” Gelak nya. “ Sekarang tidurlah, aku tidak akan melakukan apapun terhadapmu. Hanya peluk saja.” Ucap Rafka seraya mengecup lembut kening istrinya.


Lalu kini Annisa pun membenamkan wajahnya didada suaminya seraya memejamkan matanya. Hingga akhirnya kedua insan itupun terlelap bersama.


BERSAMBUNG


Assalamu'alaikum kaka Readers semua. Jangan lupa mampir di Karya Ra yang satunyalagi ya👇



Terimkasih❤❤