Pengantin Yang Tak Dirindukan

Pengantin Yang Tak Dirindukan
BONUS PART (8)


Siang harinya.


Sesuai dengan yang di janjikan, Rafka mengantarkan Annisa ke Dokter kandungan. Memeriksakan Annisa yang pagi tadi muntah banyak hanya gara-gara masalah sepele. Meskipun setelah itu Annisa makan banyak, yang porsinya tak seperti biasanya. Namun tetap saja Rafka khawatir terhadap istrinya dan memutuskan membawanya ke Dokter kandung untuk memeriksakan kehamilannya.


“Giman Dok, istri saya?” tanya Rafka dengan wajah cemas.


“Nona Annisa baik-baik saja.” Kata Dokter.


“Baik-baik saja? Tapi, tadi pagi istri saya muntah hingga berulang kali loh Dok.” Jelas Rafka.


“Itu hal wajar yang kerap dialami pada usia kandungan yang masih muda. Perubahan hormon Estrogen yang terdapat pada tubuh wanita memicu rasa mual. Setiap Ibu hamil kebanyakan mengalami hal itu.” Jelas Dokter.


“Tapi ini tidak biasa Dok. Tadi pagi saat dia mencium bau parfum kesukaannya, istri saya langsung mual dan muntah.”


Dokter tersenyum.


“Memang seperti itu. Pada masa kehamilan, ada Ibu hamil yang tidak bisa mencium bau masakan, ada pula yang bisa. Ada yang tidak bisa mencium bau parfum atau wewangian lainnya, namun ada pula yang bisa. Setiap Ibu hamil berbeda-beda, ada pula yang di masa kehamilan tidak mempunyai keluhan apapun hingga pada saat proses persalinan.”jelas Dokter.


Rafka mengangguk mengerti.


Setelah berbicara panjang lebar dengan Dokter kandungan yang menangani Annisa. Kini keduanya pun melangkah pergi dari ruangan itu, setelah membayar semuanya, keduanya pun berniat segera pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.


Diluar.


Terlihat Maya dan Reno berjalan dengan sangat tergesa-gesa menuju kearah pintu masuk rumah sakit. Mata Maya terlihat sembab dengan air mata yang tak henti mengalir. Berulang kali Maya menyeka air matanya dengan tissue yang ada di tangannya. Namun berungkali juga air mata itu terus membanjiri wajahnya.


Reno terlihat begitu setia menemani Maya, memegangi bahunya seraya berusaha menenangkannya. Melihat kesedihan yang dialami Maya, membuat hati Reno ikut menangis. Pria itu terlihat amat-sangat mencintainya.


Saat hendak melangkah kearah pintu keluar. Tanpa sengaj Annisa melihat Maya yang tengah menangis. Langkahnya yang tergesa-gesa membuat Annisa penasaran sehingga menghentikan langkahnya.


“Bang.” Panggil Annisa.


Rafka pun menghentikan langkahnya, menoleh kearah Istrinya.


“Hmm, ada apa sayang?” tanya Rafka.


“Itu, tadi Nisa lihat Maya, Bang.” Ujar Annisa.


“Maya?” Rafka mengerutkan keningnya. “Udah deh sayang, ngapain sih kamu masih ngurusin dia. Nggak penting tau.” ujar Rafka kesal.


“Tapi Bang, tadi Nisa lihat Maya nangis. Dan Reno tampak nenangin dia disampingnya.” Kata Annisa.


“Ya wajar lah, lelaki itu kan kekasihnya.”


“Tapi Bang, tadi itu Nisa juga lihat jika mereka jalannya buru-buru gitu.” Ujar Annisa.


“Hmm, terus kamu mau ngapain sekarang?” Rafka menghembuskan kasar nafasnya, tak habis fikir dengan istrinya.


“Nisa mau kita ngikutin mereka. Bukankah Tante Retno juga dirawat dirumah sakit ini? Nisa takut jika itu ada hubungannya dengan Tante Retno, entah mengapa saat Nisa lihat Maya menangis seperti itu, perasaan Nisa


tiba-tiba saja jadi tidak enak Bang.” Wajah Annis menunjukkan rasa kekhawatirannya.


“Hufftt!” lagi, Rafka menghelas nafas panjang. “Yasudah, karena kamu udah ngomong gitu. Sekarang juga aku kita kesana, sekalian jenguk Tante Retno.” Mau tak mau Rafka kini menyetujui permintaan Istrinya.


Lagipula setelah di fikir-fikir, sudah lama juga mereka tidak mengunjugi Retno. Sehingga membuat Rafka memutuskan untuk mengikuti keinginan Annisa.


“Terimakasih ya Bang.” Annisa menyunggingkan senyumnya, membalas kebaikan Rafka yang telah bersedia menuruti keinginannya.


Annisa mengangguk, menyetujui permintaan Rafka. Sehingga kini, perlahan tapi pasti mereka melangkah pergi menuju kearah kamar rawat inap Retno.


Tak berapa lama kemudian.


Annisa dan Rafka tiba disana. Dilihatnya, beberapa perawat mendorong sebuah Brankar keluar dari sebuah kamar rawat Retno, dan disana mereka melihat sebuah tubuh yang telah terselimuti dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Annisa tertegun ditempatnya, terlebih saat melihat Maya yang menangis histeris disana. Sementara itu Reno yang ada disamping nya berusaha terus menenangkannya. Dokter pun tak bisa berkata apa-apa, hanya terdiam dengan


raut wajah kesedihan. Mereka sudah berusaha keras untuk kesembuhan Retno. Namun, Allah berkehendak lain, beliau lebih sayang kepada Retno dan kini memanggilnya.


Ya, Reto (Mama Maya) meninggal dunia.


“Inna lillahi wa innailaihi raji’un.” Serentak Rafka dan


Annisa mengucapkannya.


Brankar kini didorong oleh beberapa perawat yang ada disana. Sementara Maya, masih terisak disana, dan Reno dengan setia mendampinginya. Perlahan Annisa dan Rafka kini melangkahkan kaki menuju kearah mereka, mendekati Maya dan mengucapkan rasa belasungkawa.


“Maya, kamu yang sabar ya.” Annisa memegangi tangan Maya yang saat ini tengah duduk disana. Gadis itu tak bisa berdiri, kakinya serasa lemas sehingga mengharuskannya untuk duduk disana.


“Jangan sentuh aku!” kasar, Maya menepis tangan Annisa dengan kasar.


Melihat hal itu, membuat Rafka mengepalkan tangannya. Pria itu marah, melihat sikap kasar Maya terhadap istrinya. Jika saja hari itu bukan hari duka bagi Maya, mungkin saat ini Rafka tak akan segan untuk menamparnya.


“Sayang, sudahlah.” Rafka memegangi bahu Annisa.


“Rafka, Annisa, maafkan sikap kasar Maya. Saat ini dia sangat terpukul dengan kepergian Mamanya. Aku harap, kalian dapat memakluminya.” Dengan tulus Reno meminta maaf kepada keduanya.


“Tidak apa-apa, kami maklum. Siapapun pasti akan bersedih jika mengalami nasib yang sama seperti Maya. Apalagi Tante Retno adalah Orangtua satu-satunya yang Maya punya saat ini. Jadi aku juga bisa merasakan


bagaimana sedih, dan sakitnya perasaan Maya saat ini.” Ucap Annisa.


“Terimakasih.” Balas Reno menyunggingkan senyum hangat.


“May, aku juga turut berduka cita ya.” Rafka mendekati Maya.


Mendengar suara Rafka, membuat Maya mendongak keatas.


“Mas.” Tatapannya terlihat nanar. Lalu saat gadis itu ingin beranjak dan merengkuh tubuh Rafka, melepaskan segala kesedihannya. Maya melihat betapa eratnya genggaman tangan Rafka yang melingkar ditangan Annisa.


Membuat Maya mengurungkan niatnya.


Tidak, Rafka sudah bukan milikku. Mas Rafka sudah bukan milikku sekarang.


Maya kembali menundukkan pandangannya. Perlahan gadis itu menyadari, jika Rafka memang sudah bukan miliknya. Butiran air bening kian membanjiri wajahnya, dan Reno tak pernah bosan menyekanya. Pria itu tampak


begitu setia mendampingi Maya.


Meskipun tadi Reno juga menyadari, jika Maya menatap Rafka dengan penuh harapan. Namun pria itu sangat bisa mengendalikan dirinya, untuk tetap ada disamping Maya.


Maya, meskipun aku tau jika kau tak pernah bisa mencintaiku. Namun untuk saat ini aku akan tetap mendampingimu. Biarkan aku menemani rasa sedihmu, sakitmu, sepimu, hingga kau akhirnya bangkit dalam keterpurukanmu. Jika pun nantinya kau masih tetap tak bisa membuka hatimu untukku, maka aku sudah memantapkan hatiku untuk melepasmu.


Batin Reno.


Kini setelah Maya sudah mampu bangkit dari duduknya, mereka pun akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit tersebut.